
Tiga hari setelah resepsi.
Di kediaman Pak Randy.
Malam ini di kamar Nasya dan Reza. Sekitar pukul 20:00 waktu setempat, Nasya baru saja ke luar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Dia berjalan menghampiri Reza yang sedang duduk di tepi ranjang. Saat ini Nasya hanya mengenakan jubah mandi saja dengan rambut basah yang dililit oleh handuk kecil.
Dia berdiri di depan suaminya, sebuah senyuman terukir di bibirnya dan tangannya meraih pipi Reza dan mengusapnya dengan lembut. Dia asyik membelai pipi, leher hingga dada Reza yang tertutup baju tidurnya.
"Sya, jangan menggodaku," ucap Reza sembari meraih tangan Nasya agar menghentikan gerakan tangannya karena dapat membangunkan dia yang sedang tenang beristirahat.
Nasya tersenyum lalu membuka tali jubah mandinya. "Aku sudah selesai datang bulan. Aku ingin menawarkan diri pada suami yang sudah sangat sabar menungguku," jelas Nasya yang sudah menampakkan bagian depan tubuhnya.
Reza segera bangkit dari duduknya dengan senyum sumringah. Melihat penampakan tubuh sang istri membuatnya bergairah tinggi.
"Serius, kamu siap?" tanya Reza sembari meraih salah satu gunung kembar milik Nasya.
"Setelah mengulur waktu begitu lama, aku tahu aku tidak bisa lari lagi. Aku siap tapi pelan-pelan ya, El bilang rasanya sakit," jelas Nasya.
Reza hanya tersenyum sembari memainkan benda kenyal itu. Dia terus menatap mata Nasya dengan tatapan dalam. Dia melihat ketakutan di sana tapi sedikit pun tak ada niatan untuk mengampuni istrinya malam malam ini.
Sementara itu, Nasya mulai merasakan sesuatu yang berbeda yang dia rasakan. Merasakan sentuhan Reza yang awalnya menegangkan kini mulai berubah menjadi kenikmatan, perlahan dia meletakkan tangannya di pundak Reza dan sebuah desa**n halus pun terdengar dari mulut Nasya.
Reza tersenyum kembali. Merasa istrinya itu sudah tak lagi ketakutan, dia mulai melahap bibir yang selalu menggodanya itu dengan lembut. Perlahan dia membuka jubah mandi yang dikenakan oleh Nasya lalu tangannya mulai menyusuri tempat-tempat yang belum pernah terjamah oleh orang lain selain sang empunya.
Reza membawa istrinya itu ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Serangan demi serangan terus saja dilakukannya, dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan malam indah ini.
Saat ulekan batu itu menghantam diding pertahanannya, gadis itu memekik kesakitan, tangannya mencengkeram kuat bahu suaminya. Kuku-kukunya yang tajam menusuk kuat di bahu Reza tapi rasa sakit itu tak dihiraukan oleh Reza. Dia terus saja berusaha menerobos masuk meski jalan masuknya terlalu sempit baginya.
Hampir satu jam melakukan permainan baru itu. Akhirnya mereka selesai, lemah dan tak berdaya, itulah yang dirasakan oleh mereka berdua. Reza mengecup pipi Nasya sebelum akhirnya dia tertidur pulas. Karena lelah, Nasya juga ikut tertidur dalam pelukan sang istri.
********
Satu bulan kemudian.
Di kediaman Abymana.
Pagi ini sekitar pukul delapan pagi. Aby sudah meminta Mawar untuk bersiap untuk pergi karena hari ini dirinya akan mengajak Mawar pergi ke suatu tempat. Mawar sudah siap untuk pergi, dia sudah merias wajahnya dan sudah memakai dress yang baru dibelikan Aby dua hari sebelumnya.
"Mas, kita mau ke mana? Kenapa Aditya dan Maira gak diajak?" tanya Mawar.
"Rahasia. Nanti juga kamu tahu," ucap Aby.
"Sejak kapan ada rahasia diantara kita?" tanya Mawar lagi.
"Diam ah, bawel. Ayo kita pergi sekarang!" Aby mencubit pipi Mawar lalu meraih tangannya dan membawanya pergi dari rumahnya.
Joe membukakan gerbang rumah mewah itu untuk mobil Aby lewat setelah mereka ke luar, Joe langsung menutup gerbang itu dan langsung berlari memasuki rumah.
"Mereka sudah pergi. Pak, Bu! Tuan Muda sudah pergi," ucap Joe pada Bu Marisa dan Pak Mahendra yang sedang berada di belakang rumah.
"Kalau gitu cepat kalian ganti pakaian! Kita cuma punya waktu 40 menit sebelum Aby membawa Mawar ke tempat itu," jelas Bu Marisa.
"Mereka udah pergi?" tanya Jingga.
__ADS_1
"Udah. Kamu ganti pakaian Aditya dan Maira ya! Mama mau siap-siap dulu," ucap Bu Marisa.
"Oke," ucap Jingga sembari mengacungkan jempolnya.
"Ayo!" Frans menarik tangan Jingga dan membawanya masuk ke dalam kamar dua bayi itu.
Frans dan Jingga memang sudah siap sedari tadi pagi kini mereka tinggal mengurus dua bayi lucu itu dan segera bergegas pergi ke suatu tempat.
Ya. Seperti yang pernah dibicarakan olahraga Bu Haris dan Fredy, bahwasanya mereka akan mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan hari ulang tahun Mawar. Semua keluarga sudah berunding untuk rencana ini dan hari ini adalah hari ulang tahun Mawar.
*******
Di kediaman Bu Mitha.
"Aby sudah menuju perjalanan tapi dia akan mengajak Mawar berkeliling sebentar untuk mengukur waktu. Semua sudah siap? Kita pergi sekarang!" ucap Dirga.
"Mama Athalia udah berangkat belum?" tanya Michelle.
"Udah dari tadi. Mereka semua sudah berangkat termasuk Pak Randy dan keluarganya," jelas Dirga yang sudah memegang kunci mobilnya.
"Ya udah, ayo kita pergi! Tunggu apa lagi?" ucap Roger yang juga sudah siap.
Keluarga Mawar mengundang banyak orang dalam acara ini. Tidak hanya keluarga dekat saja tapi tetangga dan kolega-koleganya Aby dan Pak Mahendra dan tentunya orang-orang yang memiliki hubungan pekerjaan dengan Fredy dan semua jajarannya.
Pesta ini digelar dengan meriah, ini kali pertamanya pesta ulang tahun Mawar dirayakan sampai mengundang ratusan orang dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas. Mereka juga mengundang adik-adiknya Michelle dari panti asuhan dan tentunya Bu Jena juga hadir di sana.
******
Di sebuah jalan.
"Kenapa, Mas?" tanya Mawar sembari menatap Aby.
"Aku akan mengajak kamu ke tempat spesial. Kamu tutup mata dulu dan baru boleh dibuka setelah tiba di tempat itu," jelas Aby.
"Kenapa harus tutup mata? Ada-ada aja kamu," ucap Mawar.
"Ayo! Nurut apa kata suami ya," ucap Aby sembari menutup mata Mawar dengan kain penutup mata yang sudah dia siapkan sedari rumah.
Mawar menurut saja apa kata Aby. Sebenarnya dia juga penasaran suaminya itu akan membawanya ke tempat seperti apa. Setelah menutup mata Mawar, Aby mulai melajukan mobilnya lagi ke tempat tujuannya.
Tak sampai sepuluh menit. Akhirnya Aby tiba di sebuah lahan terbuka yang sudah dihias sedemikian rupa. Tempat itu terlihat indah dengan hiasan-hiasan yang tersusun rapi di tambah dengan pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh subur di sekitar sana semakin menambah keindahan tempat itu.
Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Semua keluarga sudah berkumpul di sana dan para tamu undangan pun sudah berada di tempat itu.
Aby segera membawa Mawar ke tengah-tengah tempat itu tapi tidak membuka penutup matanya. Dia menuntun Mawar dengan sangat hati-hati karena tak ingin ada sedikit pun cacat dalam rencananya ini.
Melihat Mawar dan Aby sudah tiba di sana. Bu Marisa, Pak Mahendra, Bu Ratna, Pak Ija, Fredy dan Bu Haris berdiri di jajaran paling depan untuk menyambut kedatangan Mawar sedangkan yang lainnya. Orang-orang terdekat Mawar seperti Pak Randy dan istrinya, Bu Mitha dan keluarganya berada di barisan ke dua dan fi belakang mereka baru orang-orang yang sengaja mereka undangan untuk menghindari acara hari ini.
"Mas, udah sampai belum?" tanya Mawar.
"Iya, udah. Aku buka ya tapi jangan buka mata dulu biar penglihatan kamu gak buram," ucap Aby.
"Iya. Aku penasaran tempat apa yang kamu katakan spesial ini," ucap Mawar.
__ADS_1
Aby pun membuka penutup mata itu dengan perlahan tak lupa dia mengisyaratkan agar semua mengucapkan happy birthday pada Mawar.
"Udah? Udah boleh buka mata ya, ini?" tanya Mawar setelah Aby selesai membuka penutup matanya.
"Udah. Silakan," ucap Aby.
"Happy birthday Mawar!" Seru semua orang saat Mawar membuka matanya.
Seketika Mawar terkejut dan terharu mendapat kejutan dari keluarga besarnya. Mawar tersenyum dengan air kebahagiaan yang mulai menetes dari sudut matanya.
"Kalian?" ucap Mawar.
"Selamat ulang tahun, Sayang." Aby mengecup kening Mawar dihadapan semua orang. Setelah Aby mengucapkan selamat barulah para orang tua Mawar yang mengucapkan selamat padanya.
"Selamat ya, Adikku yang manis," ucap Fredy sembari memberikan sebuah kotak kado yang ukurannya tidak besar tapi juga tidak kecil. Fredy memeluk Mawar dengan penuh kehangatan, dia bahagia bisa melihat adiknya bahagia di hari ulang tahunnya ini.
"Baik semuanya. Karena orang yang kita tunggu sudah tiba, mari kita mulai acara hari ini!" seru seorang pembawa acara. Tatapan semua orang pun beralih pada panggung besar yang ada di belakang mereka.
"Sebelum semua acaranya dimulai, saya persilakan pada Mbak Mawar untuk naik ke atas panggung untuk memberi sambutan atau ucapan yang ingin diungkapkan kepada orang-orang tercinta," ucap pembawa acara itu lagi.
"Mas," ucap Mawar.
"Mama dan kak Fredy yang merencanakan ini semua," ucap Aby.
"Temani aku!" pinta Mawar yang hanya dibalas anggukan oleh Aby. Mereka berdua pun langsung menaiki panggung itu.
"Silakan, Sayang," ucap Aby sembari memberikan mic pada Mawar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi menjelang siang, semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan kita dan semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat. Saya tidak tahu harus berkata apa pada keluarga yang sudah menyiapkan ini semua ...." Mawar menghentikan ucapannya karena tak tahan dengan air mata yang terus mengalir deras.
Aby mengelus punggung Mawar dengan lembut agar Mawar dapat melanjutkan kembali ucapannya.
"Terima kasih pada mama Haris dan kak Fredy. Terima kasih untuk Mama Marisa dan Papa Mahendra. Terima kasih untuk Ibu Ratna dan Bapak Sudirja. Terima kasih untuk kalian semua yang sudah sangat menyayangi aku, terima kasih Papa Randy dan Mama Ratu dan terima kasih untuk semuanya. Saya bahagia sekali hari ini sampai saya tidak mengungkapkannya dengan kata-kata," ucap Mawar lagi dengan suara yang sedikit terbata-bata.
"Sepertinya kita lanjutkan saja acara selanjutnya. Istri saya terlalu cengeng jadinya tidak dapat mengatakan apa-apa lagi tapi yang pasti, kami sangat berterima kasih pada semua keluarga kerabat dan semua yang hadir di acara pesta ulang tahun istri saya yang ke dua puluh empat. Semoga istri saya sehat selalu, panjang umur murah rezeki dan selalu berada dalam kebahagiaan. Waassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Aby lalu segera mengajak Mawar turun dari panggung itu.
Di bawah panggung tepatnya di depan panggung yang sedang mementaskan artis-artis papan atas yang berasal dari dalam dan luar negeri. Mawar dan Aby berdiri di sana dengan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
"Kamu bahagia?" tanya Aby.
Mawar mengangguk. Dia tersenyum pada Aby dan semua keluarganya di sana. Betapa dirinya bahagia hari ini, dia tak menyangka mereka akan mengadakan pesta ulang tahun semeriah ini.
"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Bu Haris untuk yang kesekian kalinya.
"Terima kasih, Ma." Mawar memeluk Bu Haris dengan penuh kehangatan.
Mereka semua berbahagia di hari ini. Melihat Mawar yang menangis bahagia, orang-orang terdekatnya pun ikut terharu.
"Kamu sering mengatakan bahwa Tuhan tidak adil, Tuhan tidak menyayangimu. Sekarang kamu sudah tiba di hari yang kamu nanti. Kamu lebih sempurna dari apa yang kamu bayangkan dan kamu inginkan sebelumnya. Kami semua hanya mempunyai satu ayah dan satu ibu tapi lihatlah, kamu ... kamu mempunyai tiga ibu dan dua ayah karena satu ayahmu sudah tenang di sana dan kamu juga punya satu kakak perempuan dan satu kakak laki-laki dan tentunya kamu punya kakak ipar yang cantik dan tampan. Mereka semua selalu menyayangi kamu. Inilah waktu yang selama ini kamu pertanyakan, dimana kamu mempunyai keluarga yang lengkap dan utuh. Setelah semua cobaan yang kamu terima, inilah buah manis yang kamu panen setelah lama menanam kesabaran," ucap Aby panjang lebar.
Mawar memeluk Aby. Dia sangat bahagia hari ini bahkan dia merasa ini semua bagai dalam mimpi.
*********~TAMAT~********
__ADS_1