Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 174


__ADS_3

Sore hari di kediaman Mitha.


Michelle duduk di kamarnya sembari merenung.


"Michelle!" dari luar tiba-tiba terdengar suara Roger memanggilnya.


Seketika lamunan Michelle buyar entah kemana bersamaan dengan suara Roger yang mengganggu pendengarannya.


"Ada apa, Kak? Masuk saja," ucap Michelle.


Roger pun membuka pintu kamar Michelle dan mulai memasuki kamar itu!


"Sedang apa?" tanya Roger.


'Tidak ada. Kenapa memangnya?" ucap Michelle sembari menatap Roger.


"Boleh kakak duduk?" tanya Roger.


Michelle mengangguk sambil berucap. "Silahkan."


Roger segera duduk di samping Michelle lalu menatap gadis itu.


"Bentar lagi mau nikah tapi masih santai aja. Gak mau cari gaun pengantin atau apa gitu? Kebutuhan pernikahan kan banyak banget," ucap Roger.


"Semua sudah diurus Mama dan Mamanya Dirga," sahut Michelle.


"Tapi untuk mas kawinnya kamu yang harus pilih tapi ingat yang bayar harus Dirga."


"Mungkin besok atau lusa aku dan Dirga baru sempat untuk pergi ke toko perhiasan dan mengunjungi salah satu desainer, mungkin," ucap Michelle ragu.


"Mau kakak antar atau diantar sama kak Michaela?" tanya Roger.


"Tidak perlu, kak. Aku bisa kok lagian aku gak mau mengganggu aktivitas kalian."


"Michelle, pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan hanya akan terjadi sekali seumur hidup kita jadi, semuanya harus dipersiapkan dan harus dilaksanakan sesempurna mungkin agar tidak ada penyesalan di akhir nanti," ucap Roger.


"Bajingan aja ngerti dengan hal seperti itu apalagi aku."


"Kamu masih benci dengan kakak?" tanya Roger.


"Ya. Jujur aku masih benci sama kakak tapi mau gimana lagi, kamu adalah kakakku yang ternyata memiliki hati yang baik dan penyayang. Jawab pertanyaan aku, kenapa kakak memacari Jingga dan sampai meniduri dia? Oh astaga mengingatnya membuat aku geli sendiri," ucap Michelle.


"Tolong jangan bicarakan ini di sini nanti Mama mendengarnya lagipula kata siapa aku sampai meniduri Jingga hah? Sampai sekarang kamu sendiri tidak tahu kebenarannya bagaimana, aku yakin kamu tahu tentang itu dari orang lain," ucap Roger.

__ADS_1


Di depan Michelle dan keluarganya Roger selalu berusaha menyembunyikan perbuatannya itu.


"Npampaknya, kakak lupa siapa aku. Kakak pikir siapa yang mengirim laporan pada Aby dan Dirga saat kalian di luar negeri?"


"Maksud kamu apa?" tanya Roger.


"Aku yang mencari kakak sampai ke luar negeri dan aku yang memberitahu Aby tentang semua kebohongan Jingga dan satu lagi, aku melihat kalian di kamar hotel itu ... menjijikkan," ucap Michelle.


Dengan cepet Roger membekap mulut Michelle agar tak melanjutkan perkataannya!


"Diam Michelle, diam. Aku melakukan itu karena aku dendam pada Om Randy," ucap Roger.


"Udahlah, lupakan dendam itu. Pak Randy jelas tidak bersalah dalam hal itu sekarang pikirkan Jingga. Bagaimana nasibnya dia nantinya?" ucap Michelle.


"Jangan pikirkan gadis itu, lagipula kami melakukan itu atas dasar sama-sama mau dan sama-sama suka. Biarkan dia," ucap Roger.


"Siapa laki-laki yang mau menerima gadis tidak perawan seperti Jingga hah? Aku kasihan sama dia," ucap Michelle.


Sebagai seorang perempua, Michelle merasa iba dengan Jingga, ia merasa takut. Takut saat ada laki-laki yang dicintai dengan tulus oleh Jingga tapi tiba-tiba harus pergi setelah tahu Jingga sudah tak asli lagi.


********


Di kediaman Dirga.


"Kamu bicara sama saya?" ucap Dirga.


"Yaelah pakek nanya. Ya iyalah Ussy bicara sama, Bapak emang siapa lagi di rumah ini yang mau nikah? Bu Athalia?" ucap Ussy.


Athalia dan Eliandra yang sedang berdiri di dekat meja makan itu saling menatap dan saling melempar senyuman.


Pantas saja Dirga betah tinggal di rumah ternyata asisten rumah tangganya selain dia pintar masak dan mengurus rumah, dia juga punya pribadi yang riang dan apa adanya.


"Oh saya. Iya abisnya bos saya yang kata kamu ganteng itu gak bisa masuk kantor soalnya istrinya sakit," ucap Dirga.


"Oh sakit. Sakit apa? Eh gak usah dijawab, gak penting juga." Ussy nyengir kuda sembari melanjutkan pekerjaannya.


"Tumben gak kepo," ucap Dirga.


"Kerjaan Ussy masih banyak, takut pulang kemalaman. Udah Pak, Bapak pergi aja sana."


"Kamu ngusir saya?"


"Nggak, Pak mana mungkin Ussy ngusir pemilik rumah ini. Maksud Ussy, Bapak masuk sana mandi kek, apa kek," ucap Ussy.

__ADS_1


Tak tahan mendengar perkataan Ussy. Athalia dan Eliandra pun tertawa terbahak-bahak.


Dirga menatap mamanya dan adiknya itu lalu melangkah menghampiri mereka sedangkan Ussy melanjutkan pekerjaannya yang sedang menyapu lantai.


"Kenapa tertawa?" ucap Dirga.


"Pantas selama ini kamu betah hidup sendiri ternyata di rumah ada sosok yang selalu berhasil membuat kamu tertawa, kesal sampai jengkel," ucap Athalia.


"Ussy memang seperti itu, dia ceria dan kadang konyol. Aku suka padanya," ucap Dirga.


"Awas jangan sampai Ussy itu menjadi duri dalam rumah tangga kakak," ucap El.


"Kamu bicara apa? Ussy itu adiknya Michelle," ucap Dirga.


"Apa!" seru Athalia dan El secara bersamaan.


Dua wanita beda usia itu menatap Dirga dengan tatapan tak percaya.


Bagaimana mungkin dua gadis yang terdiri dari adik dan kakak bisa memiliki kepribadian yang berbeda. Ussy terbilang humoris dan sangat polos sdangkan Michelle termasuk perempuan yang cuek dan selalu serius dan lagi Michelle adalah satu-satunya anak perempuan yang dimiliki oleh sahabat Athalia.


"Adik dari mana? Jangan bilang kalau Ussy anak dari ...." Athalia menghentikan ucapannya.


"Ma-Ma udahlah. Ussy itu adiknya Michelle di panti asuhan bukan adik kandung. Udahlah, aku mau mandi habis itu mau ketemu sama Michelle." Dirga berjalan menuju kamarnya.


Athalia dan Eliandra hanya diam sambil menatap kepergian Dirga.


******


Di kediaman Mahendra.


Seperti biasa, saat sore hari Mahendra akan menyiram tanaman sayuran di kebun depan rumahnya.


"Pa, sayuran kita tumbuh subur ya," ucap Marisa.


"Alhamdulillah, Ma biarpun ini pertama kalinya kita berkebun tapi berkat bimbingan Mawar kebun kita tumbuh subur," sahut Mahendra.


"Mawar menang hebat, Pakde dan Bude juga hebat karena dapat merawat dan memberikan pendidikan yang layak untuk Mawar. Aku malu pada Mawar juga pada orang tua angkatnya, aku sebagai ibu kandungnya sama sekali tidak pernah tahu bagaimana anakku tumbuh," ucap Marisa. Perlahan air mata mulai menggenang dan meluncur dari pelupuknya.


"Ma, udahlah Mawar sudah memaafkan kita sekarang kita harus berbuat yang terbaik untuk Mawar, kita harus bersyukur karena Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk menyayangi Mawar.


"Iya, Pa mulai sekarang Mama akan mengubah sikap Mama pada Mawar. Mama akan melakukan yang terbaik untuk Mawar."


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Ma, karena Mama mau berubah," ucap Mahendra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2