Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 206


__ADS_3

Di kediaman Mitha.


"Sayang, kamu mau ikut gak?" tanya Dirga pada Michelle.


"Kamu mau kemana?" tanya Michelle balik bertanya pada sang suami.


"Mawar sudah melahirkan. Aku ingin melihat keadaannya terakhir yang aku tahu dua kehabisan banyak darah dan membutuhkan donor darah," jelas Dirga.


"Astaghfirullah, ya udah aku ikut. Kamu yakin mau langsung pergi? Kamu baru aja tiba lho," ucap Michelle.


Ya, saat itu Dirga baru saja tiba di rumahnya setelah seharian bekerja tapi Dirga langsung ingin pergi ke rumah sakit untuk menengok Mawar di rumah sakit.


"Kita pergi sekarang," ucap Dirga.


Michelle bangkit dari duduknya dan langsung melangkah ke luar rumahnya!


"Mas, kalau boleh tahu sudah ada yang mendonorkan darah belum untuk Mawar?" tanya Michelle setelah mereka sudah berkendara.


"Aku yakin sudah. Tadi Tuan Muda sempat menelpon ku dan menyuruh semua karyawan untuk memeriksa golongan darah dan siapa pun yang cocok dengan golongan daerah Mawar maka Tuan Muda akan memberikan mereka uang asalkan mereka bersedia mendonorkan darahnya untuk Mawar," jelas Dirga.


"Memangnya apa golongan darah Mawar?"


"A," sahut Dirga singkat.


"Apa? Kenapa kamu tidak menelpon ku? Aku juga A," ucap Michelle.


"Kamu juga A? Ya ampun kenapa tadi aku gak ingat sama kamu ya."


"Semoga saja sudah ada yang menolong dia sekarang."


"Sepertinya sudah, tadi Tuan Muda memintaku untuk membatalkan mengecek golongan darah semua karyawan."


"Syukurlah."


**********


Di sebuah tempat.


Kini Reza dan Nasya sedang berada di sebuah tempat terbuka yang luas dan dihiasi pepohonan yang tinggi dan rerumputan yang hijau yang tumbuh subur di sana.


Di tepi danau tepatnya di bawah pohon besar yang rindang, mereka duduk berdampingan.


"Kamu suka dengan tempat ini?" tanya Reza.


"Suka banget. Kamu kok bisa tahu tempat seindah ini?" ucap Nasya.


"Aku datang ke sini saat pelatih dan sejak saat itu aku jadi sering ke sini karena di sini tempatnya nyaman dan sejuk," ucap Reza.


"Hmmm, suasana di sini sangat menenangkan," ucap Nasya.


"Nasya."


"Hmm, ada apa?"


Reza meraih tangan Nasya lalu menggenggamnya, mereka berdua saling bertatapan dalam waktu yang lumayan lama.


"Aku tahu kita belum lama kenal tapi bagiku tidak butuh waktu lama untuk mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, aku mohon terimalah cintaku ini. Aku mencintaimu dengan setulus hati."

__ADS_1


Nasya tak menyahut, dia terus terdiam dengan mata yang terus menatap wajah Reza.


"Kamu mau kan jadi pacar aku? Kamu mau kan jadi istri aku?" ucap Reza lagi karena Nasya hanya terdiam.


Nasya tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Kamu serius? Kamu mau?" ucap Reza.


"Tapi ada syaratnya," ucap Nasya.


"Apa? Katakan. Apa pun yang kamu mau akan aku turuti."


"Tidak ada berciuman apa lagi sama raba meraba."


"Hanya permintaan kecil. Aku sanggup melakukannya."


"Kamu bilang hanya ... lalu yang waktu itu kamu lakukan. Kamu pikir itu hal sepele?" ucap Nasya.


"Memangnya aku melakukan apa?"


"Waktu itu kamu mencium ku. Dasar polisi mesum."


"Waktu itu aku khilaf."


"Khilaf? Khilaf sampai dua kali gitu, sampai tangan nakal kamu itu menjamah benda berhargaku."


"Jangan marah, Nasya. Maafkan aku ya, aku akan bertanggungjawab atas perbuatan ku itu kalau kamu merasa begitu tersakiti aku akan segera menikahi dirimu," ucap Reza.


"Jelas aku sangat tersakiti. Tidak pernah ada seorang pun yang berbuat seperti itu padaku sebelumnya."


"Itu kan gara-gara kamu." Nasya cemberut.


"Maaf. Maaf ya, cinta." Reza mengelus-elus punggung tangan Nasya dengan lembut.


"Aku mau pulang," ucap Nasya.


"Ya udah, kita pulang kalau kamu memang udah bosan di sini tapi setelah kita pulang kita tetap pacaran kan?" ucap Reza.


"Iya, kita tetap pacaran. Selama kamu gak nakal, aku selalu cinta sama kamu," ucap Nasya.


"Boleh tanya sesuatu?"


"Tanya saja."


"Kemarin-kemarin kamu sangat membenci aku, kenapa sekarang kamu mau menjadi pacar aku dan kamu bersedia menikah denganku? Bahkan baru tadi ksmu kamu mengatakan bahwa ksmu kamu tidak mau menjadi pacar seorang polisi," ucap Reza.


"Gimana lagi, kamu sudah terlanjur mencium bibirku dan sudah menyentuh harta berharga milikku dan lagi ...." Nasya menghentikan perkataannya.


"Apa? Ada lagi kesalahanku yang membuat kamu berubah menjadi mencintaiku," ucap Reza sembari menatap Nasya penuh tanya. Seingatnya dirinya tidak pernah melakukan kesalahan selain dua hal yang Nasya sebutkan barusan.


"Kamu seksi," ucap Nasya dengan tatapan dalam.


"A_apa, kamu tidak salah bicara kan?" ucap Reza.


"Lupakan itu. Ayo kita pulang." Nasya beranjak dari duduknya lalu mulai berjalan!


Reza tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. "Ternyata dia cukup nakal untuk seorang gadis terhormat yang terlahir dari keluarga terpandang," batin Reza.

__ADS_1


*******


Di rumah sakit.


"Selamat sore, Pak, Bu, " ucap Dirga pada Bu Ratu dan Pak Randy.


"Dirga, terima kasih sudah datang," ucap Bu Ratu.


"Bagaimana kondisi Mawar?" tanya Dirga.


"Sudah membaik," ucap Pak Randy.


"Boleh kami melihatnya?" ucap Michelle.


"Tentu saja. Di dalam ada Aby, msuk saja," ucap Bu Ratu.


Dirga dan Michelle pun langsung memasuki ruangan tempat Mawar dirawat!


"Dirga, Michelle," ucap Aby saat melihat mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu.


"Maaf saya baru bisa datang," ucap Dirga.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah datang," ucap Mawar dengan suara pelan.


Setelah mendapat donor darah dari Roger, Mawar langsung menampakkan kemajuan kondisi kesehatannya bahkan kini ia sudah bisa berbicara meski belum dapat bergerak seperti biasanya.


Meski begitu Mawar tetap bersyukur karena masih bisa melihat bayinya yang baru ia lahirkan.


Dirga dan Michelle mendekati Mawar yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit!


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Michelle pada Mawar.


"Aku sudah membaik, berkat kakak mu, aku masih bisa melihat dunia ini," ucap Mawar.


"Kakakku?" Michelle menatap Mawar penuh tanya.


"Roger adalah orang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Mawar. Aku gak tau apa yang terjadi pada Mawar kalau gak ada Roger," ucap Aby.


"Alhamdulillah semua sudah baik-baik saja. Seandainya aku tahu, aku pasti akan membantumu," ucap Michelle.


"Dimana bayinya? Boleh aku melihatnya?" tanya Dirga.


"Ada di ruangan NICU," jelas Aby.


"Apa boleh ditemui? Aku janji hanya akan melihatnya saja," ucap Dirga.


"Tentu saja. Mau aku antar?" ucap Aby.


"Tidak usah. Kalau kamu pergi tidak ada yang menjaga Mawar di sini biar aku saja yang mengantar mereka," ucap Jingga yang baru masuk ke dalam ruangan itu dan tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka.


"Ya udah, kita sama Jingga aja," ucap Michelle.


Mereka pun langsung berjalan keluar dari ruangan itu untuk melihat Bayi Mawar dan Aby.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2