
Michelle bangkit dari duduknya lalu tersenyum ke arah Mawar!
"Nanti aku ceritakan, lima menit lagi kelas mu dimulai aku akan pergi semoga kita bisa bertemu lagi dilain waktu," ucap Michelle.
Mawar melihat jam ditangannya dan ternyata perkataan Michelle memang benar.
"Aku tunggu waktu bertemu kita yang kedua kalinya, ingat kamu sudah merusak bunga ku jadi, kamu harus membayarnya," ucap Mawar.
"Aku akan bertanggungjawab, tenang saja. Selamat tinggal." Michelle berbalik badan hendak pergi meninggalkan Mawar di sana tapi setelah ia sudah melangkah sebanyak dua langkah, ia menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik badan menjadi menghadap Mawar lagi.
"Salam kenal namaku Michelle," ucap Michelle sembari menjulurkan tangannya pada Mawar.
Mawar menjabat tangan Michelle lalu mengucapkan namanya, "Mawar."
Michelle tersenyum lagi lalu segera pergi karena tak ingn mengganggu aktivitas Mawar!
*******
Di kediaman Mahendra.
Jingga sudah bersiap untuk pergi, didepan cermin besar yang terpampang pada meja rias nya, ia berdiri sembari meneliti tubuhnya dari atas sampai bawah.
"Cantik," gumam Jingga sembari mengibas-ngibaskan roknya!
"Aby pasti tergoda dengan penampilan ku yang cantik dan seksi ini," sambung Jingga.
Jingga meraih tasnya yang terletak di atas meja rias nya lalu memakainya, ia pun langsung pergi untuk segera menemui Abymana di kantornya!
"Mam, aku pergi dulu ya," ucap Jingga pada Marisa.
"Mau kemana?" tanya Marisa.
"Mau ngasih anak kampung itu kejutan," sahut Jingga.
"Maksud kamu apa? Jangan macam-macam kamu," ucap Marisa.
"Gak akan, kali ini aku yakin rencanaku berhasil." Jingga tak menghiraukan lagi perkataan Marisa padanya, ia langsung pergi meninggalkan rumahnya!
"Mau ngapain dia?" batin Marisa lalu menggelengkan kepalanya.
**********
"Hai Michelle," ucapan Roger yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan adiknya itu.
"Sudah lama menunggumu?" tanya Michelle sembari menghempaskan bokongnya di kursi yang posisinya berhadapan dengan Roger.
"Lumayan. Mau pesan makan?"
"Tidak usah, pesan kan jus jeruk saja," ucap Michelle.
"Oke."
"Bagaimana kabar Mama?" tanya Michelle setelah dua hari tak menjenguk Mitha di rumah sakit.
__ADS_1
"Kondisi Mama semakin membaik, kamu tidak usah khawatir," sahut Roger.
"Maaf aku belum bisa datang ke sana kemarin aku sibuk."
"Tidak apa yang penting hari ini kamu bisa kan menemui Mama?" tanya Roger.
"Aku akan datang."
"Datanglah bersama calon suamimu," ucap Michelle.
"Aku belum ada calon suami," ucap Michelle berbohong.
Sebenarnya Michelle baru saja jadian dengan Dirga tapi ia tak ingin terburu-buru untuk mengenalkan Dirga pada Mamanya apalagi saat kondisi Mita masih seprti sekarang ini. Bukan dirinya merasa malu hanya saja dirinya ingin Mita turut merasakan kebahagiaan saat tahu dirinya sudah mempunyai seorang laki-laki yang akan dijadikannya imam dalam keluarganya.
"Kenapa? Tidak mungkin tidak ada laki-laki yang tidak mau padamu," ucap Roger.
"Aku harus memilih laki-laki yang benar-benar mencintaiku, aku takut salah memilih, aku takut pilihanku jatuh pada laki-laki bejat seperti dirimu," ucap Michelle.
"Maksud kamu apa hah?" Roger menatap Michelle dengan tatapan tak suka.
"Aku tahu tentang kamu dan Jingga dan aku tahu tentang semua yang kamu lakukan pada keluarga Pak Randy, aku tahu semua keburukan kamu," ucap Michelle.
"Tahu dari mana kamu? Jangan bicara sembarangan," ucap Roger yang mulai terpancing emosi.
"Aku adalah orang yang menggagalkan semua rencana kamu saat di kampung dan aku juga yang sudah menggagalkan rencana kamu saat kamu ingin menculik Nasya," jelas Michelle.
"Siapa kamu?" Roger kembali menatap Michelle dengan tatapan tajamnya.
"Lihat ini." Michelle memperlihatkan luka bekas goresan senjata tajam yang terdapat pada lengan kirinya.
"Ini luka bekas sayatan pisau milikmu. Aku adalah mata-mata yang bekerja untuk Pak Randy."
"Pengkhianat kamu. Jadi, sekarang Om Randy sudah tahu semuanya tentangku?"
"Ya terkecuali kamu yang sudah tidur bersama dengan Jingga."
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Aku tidak tahu kalau kamu adalah kakakku dan sekarang setelah aku tahu aku masih menjaga mata-mata Pak Randy."
"Michelle."
"Apa. Coba pikirkan dengan kepala dingin, aku sudah melaporkan semua tentang kamu pada Pak Randy tapi apa yang Pak Randy lakukan pada kamu, apa dia sudah melakukan serangan balik? Tidak kan? Tidak," ucap Michelle.
Roger terdiam, memang selama ini Randy tidak menyerangnya balik bahkan setelah dirinya hampir menghilangkan nyawa Randy, Randy tetap tidak menyerangnya balik apalagi sampai melaporkan dirinya pada kepolisian.
**********
Di kantor Aby.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Dirga.
"Tolong panggilkan Aby untukku," titah Jingga pada Dirga.
__ADS_1
"Gak sudi," ucap Dirga dengan nada sinis.
"Kalau gitu aku masuk sendiri," ucap Jingga.
"Ada apa ini?" tanya Aby yang kebetulan berada di sana.
"Aby, aku mau bicara padamu," ucap Jingga.
"Bicara apa? Aku pikir tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," ucap Aby.
"Sebentar saja, ini tentang Mawar," ucap Jingga.
"Baiklah, sepuluh menit," ucap Aby.
"Tapi Tuan Muda?" ucap Dirga.
"Kamu tenang aja," ucap Aby.
Aby dan Jingga berjalan berdampingan keluar dari kantornya!
Sementara itu di balik pohon besar di tempat yang tidak jauh dari sana seseorang suruhannya Jingga sudah memotret mereka beberapa kali.
Setibanya di tempat parkir, Jingga berpura-pura pingsan dan menjatuhkan dirinya pada tubuh Abymana sementara itu orang suruhan Jingga sudah memotret mereka dengan berbagai macam gaya termasuk saat Aby memangku Jingga dan memasukkan tubuh Mawar ke dalam mobilnya.
"Dirga!" teriak Aby saat sudah memasukkan Jingga ke dalam mobilnya.
"Ada apa Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu," ucap Dirga setelah tiba di tempat itu.
"Tiba-tiba Jingga pingsan. Bawa dia ke rumah sakit," ucap Aby.
"Baik, Tuan," ucap Dirga sembari berjalan memasuki mobil Abymana!
Di dalam mobil, Jingga sedikit mengintip keadaan disekitar sana sekalian ia juga ingin melihat reaksi Abymana saat dirinya tengah pingsan dengan tubuhnya yang menggunakan pakaian terbuka.
"Seneng banget bisa dipeluk-peluk Aby lagi masa bodo gue mau dibawa kemana yang penting gue berduaan sama Aby," batin Jingga yang tak tahu bahwa yang mengemudikan mobil itu adalah Dirga.
Sementara itu karena sedang sibuk, Abymana langsung kembali masuk ke dalam kantornya tanpa rasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Jingga tentang Mawar padanya!
*********
Di kediaman Randy.
"Sekarang setelah kak Mawar jadi CEO di kantornya Pak Mahendra, kak Mawar jadi susah ditemui, dia terus sibuk dengan urusannya," ucap Nasya.
"Kamu harus ngerti. Kak Mawar sedang mengejar cita-citanya," ucap Ratu.
"Cita-citanya ingin menjadi Dokter kenapa kak Mawar harus kerja juga apa kak Aby gak sanggup buat membiayai kuliah kak Mawar?" ucap Nasya lagi.
"Ya bisa, bisa banget malah. Seperti yang kamu tahu, kak Mawar itu orangnya keras dia selalu ingin melakukan dan menguasai apa yang tidak bisa dilakukan oleh para wanita pada umumnya entah apa yang sedang dia tuju tapi Mama pikir yang dia lakukan itu bagus agar dia tidak terus bergantung pada orang lain," jelas Ratu.
"Aku pikir dia sudah cukup sempurna untuk ukuran seorang perempuan, dia sudah lebih dari sempurna dibanding dengan wanita lain yang seusianya," ucap Nasya.
"Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memaksakan kehendak selma Mawar masih bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri tidak ada alasan untuk kita melarang Mawar untuk melakukan apa yang dia mau," ucap Ratu.
__ADS_1
Bersambung