Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 150


__ADS_3

Saat makan siang tanpa sengaja Dirga bertemu dengan Michelle dan Mitha yang juga sedang makan siang di restoran yang sama dengannya.


Di restoran tersebut saat Dirga baru memasuki tempat itu, ia melihat Michelle duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Michelle," gumam Dirga.


Dirga pun berjalan menghampiri Michelle!


"Michelle," ucap Dirga setelah tiba di samping kekasihnya itu.


Michelle dan Mitha menoleh menatap Dirga yang kini berdiri di sampingnya.


"Dirga, kamu di sini juga?" ucap Michelle.


"Siapa pemuda ini, Nak?" tanya Mitha.


Dirga dan Michelle menatap Mitha secara bersama-sama. Dirga tersenyum ke arah Mitha lalu mengalami wanita paruh baya itu.


"Duduklah di sini," ucap Michelle pada Dirga.


Tanpa berkata lagi Dirga duduk di kursi itu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Mama," ucap Mitha lagi setelah Dirga duduk bergabung bersamanya.


"Dia orang yang selalu Mama tanyakan," ucap Michelle dengan senyuman tipis di bibirnya.


Mitha menatap Dirga dan meneliti dari atas hingga bawah.


"Pemuda yang tampan dan sepertinya baik. Kamu pintar mencari calon suami," ucap Mitha.


"Tante terlalu memuji saya. Eumm, ini pertemuan yang tidak disengaja dan tante langsung membuat saya serba salah," ucap Dirga.


"Mau pesan apa?" tanya Michelle pada Dirga.


"Apa aja yang penting enak dimakan dan tidak ada racunnya," ucap Dirga.


"Aku dan Mama sudah memesan makanan, tinggal kamu saja," ucap Michelle.


"Sepertinya kalian cocok," ucap Mitha.


"Tante mumpung kita bertemu, saya di sini sebagai pacar Michelle ingin meminta restu dari tante. Saya ingin menikahi Michelle dalam waktu dekat jika memang tante mengizinkan," ucap Dirga.

__ADS_1


Michelle tersedak minuman yang sedang ia minum sesaat setelah mendengar perkataan Dirga.


"Michelle." Dirga bangkit lalu menepuk-nepuk punggung Michelle.


"Pelan-pelan kalau minum," sambung Dirga.


"Michelle, ya ampun sayang, kamu gak apa-apa, Nak?" ucap Mitha dengan tangannya yang mengelus lengan atas Michelle.


"Tidak, tidak apa," ucap Michelle.


"Ya ampun, kamu membuat Mama khawatir," ucap Mitha lagi.


"Semua gara-gara kamu," ucap Michelle menyalahkan Dirga.


Dirga menatap Michelle dengan matanya yang terbuka lebar. "Apa! Kenapa kamu menyalahkan aku?"


"Keterlaluan, kamu tidak menyadari kesalahan kamu," ucap Michelle lagi.


"Apa? Memang apa yang salah dari diriku?" Dirga tak mengerti dengan tuduhan Michelle, ia merasa tak berbuat salah saat itu.


"Kamu melamar ku dengan cara seperti ini. Ah aku tidak menyangka kamu tidak bisa berbuat romantis," ucap Michelle dengan nada kesal.


Mitha menatap Michelle lalu menatap Dirga yang ternyata tatapannya ditanggapi oleh Dirga.


"Oh calon menantu Mama yang tampan ini rupanya belum mengerti akan keinginan putri Mama. Gimana kalau besok kita ulangi lagi acara lamaran ini? Gimana kalau kalian berdua berlibur ke tempat romantis lalu Dirga akan melamar Michelle di sana," ucap Mitha menggoda putrinya.


*******


Di kediaman Mahendra.


Siang itu sekitar pukul empat belas. Mawar datang ke rumah orang tuanya, dengan langkah penuh percaya diri ia berjalan memasuki rumah itu!


"Selamat siang Papaku, Mamaku tersayang oh ya kakakku tercinta juga ada di sini," ucap Mawar saat tiba di sebuah ruangan yang ternyata ada semua keluarganya sedang berkumpul.


"Mau apa kamu ke sini Mawar? Puas kamu karena sudah berhasil memecat Papa kamu dari perusahaan kami sendiri," ucap Marisa.


"Mama ... kenapa Mama marah-marah seperti ini? Diusia Mama sekarang tidak boleh sering marah karena rawan kena serangan jantung," ucap Mawar.


"Mawar, ada keperluan apa kamu ke sini?" tanya Mahendra tanpa ada sedikitpun kemarahan di wajahnya.


"Aku datang untuk mengusir kalian dari rumah ini karena sekarang rumah ini sudah menjadi milikku dan aku tidak sudi rumah aku ditempati oleh orang-orang seperti kalian," ucap Mawar.

__ADS_1


"Apa! Kurang ajar kamu Mawar. Kamu sudah mengambil perusahaan Papa dan sekarang masih menginginkan rumah ini?" ucap Jingga.


"Maafkan aku Jingga. Aku memang menginginkan semua yang kalian miliki jadi, sekarang aku minta agar kalian segera mengosongkan rumah ini," ucap Mawar.


"Mawar tolong jangan usir kami dari sini. Papa tidak punya uang simpan untuk membeli rumah baru," ucap Mahendra memohon pada Mawar.


"Kamu keterlaluan Mawar!" Marisa yang sudah diselimuti amarah, melangkah mendekati Mawar dan hendak menampar Mawar.


Dengan sigap Mawar menangkis tangan Marisa lalu membantingnya hingga Marisa terhuyung dan hampir terjatuh.


"Dasar anak durhaka, berandalan. Sifat kamu tak lebih dari seorang preman jalanan yang tak tahu pendidikan. Sifatmu melebihi anak perempuan pada umumnya, kamu tak lebih dari seorang anak laki-laki yang sifatnya brutal!" Marisa terus mengoceh dengan suara keras.


"Bukannya ini yang Anda inginkan? Bukankah Anda menginginkan sosok seorang laki-laki dalam diri saya? Sekarang saya sudah membuktikan dan sudah memenuhi keinginan Anda, saya sudah menjelma sebagai anak laki-laki yang dapat melakukan apapun meski dalam tubuh seorang pertempuran. Apa kalian tahu? ... dia puluh tahun saya menyiapkan diri untuk menyambut kalian dan sekarang lihatlah, aku sudah menjadi seorang anak seperti yang kalian inginkan."


Marisa dan semua yang ada di sana terdiam saat Mawar membalikkan perkataannya tempo dulu.


"Kenapa, Bu Marisa? Kenapa Pak Mahendra? Kenapa kalian diam saja? Saya sudah datang dan sudah membawa apa yang kalian inginkan lalu apa yang harus aku lakukan lagi? Kalian butuh bukti apa lagi dariku? Apa perlu aku melempar putri kesayangan kalian ini ke kampung agar hanya aku yang kalian sayangi?" sambung Mawar lagi.


"Dengan kamu berbuat seperti ini semakin kami membenci dirimu," ucap Marisa.


"Sayangnya saya sudah tidak butuh kasih sayang dari kalian lagi. Saya beri waktu tiga hari untuk kalian mengosongkan rumah ini jika tidak ... kalian akan menerima akibatnya!" Mawar berucap sembari menunjuk wajah Marisa lalu mulai berlalu dari tempat itu setelah selesai bicara.


Saat dirinya melewati Jingga tiba-tiba Jingga menjambak rambutnya hingga ia terhenti dari langkahnya.


"Jangan harap aku akan melepaskan kamu sebelum mengembalikan sertifikat rumah dan perusahaan Papa," ucap Jingga dengan tangannya yang mencengkram rambut Mawar dengan keras.


Tanpa berucap Mawar mulai mengeluarkan kemampuannya dan melempar tubuh Jingga pada kursi yang ada di dekatnya!


"Jangan pernah sentuh aku lagi. Sekali lagi kamu menyentuh aku dengan tangan kamu itu, aku tidak segan untuk mematahkan tangan kamu," ucap Mawar pada Jingga yang kini duduk di kursi itu.


Mahendra dan Marisa terdiam mematung saat melihat tubuh Jingga yang terhempas didepan matanya. Mereka terkejut melihat kemampuan Mawar yang tidak pernah meremeka ketahui.


Dengan tanpa berucap lagi Mawar segera pergi meninggalkan rumah itu!


Jingga yang masih syok belum dapat bicara, dia hanya terdiam dengan tubuhnya yang bergetar ketakutan.


Marisa dan Mahendra segera bergegas menghampiri Jingga yang masih terdiam mematung!


"Sayang, sayang kamu tidak apa-apa, Nak?" ucap Marisa sembari menggoyahkan wajah Jingga beberapa kali.


Mahendra segera meraih air minum yang ada di atas meja lalu memberi Jingga minum agar putrinya itu merasa sedikit tenang!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2