
Sepuluh hari kemudian, di rumah sakit tempat mereka melakukan tes DNA.
Di ruangan dokter.
"Dari tiga sample yang kalian bawa, sample darah milik Haris lah yang paling cocok dengan DNA Mawar," jelas dokter itu.
"Dokter, apa ini ...." Pak Mahendra menghentikan ucapannya. Ia masih tidak percaya bahwa Mawar bukanlah anak kandungnya.
"Berarti Haris adalah ayah kandung Mawar?" ucap Michelle.
"Benar sekali," sahut dokter itu.
"Baik, Dokter terima kasih atas bantuannya," ucap Michelle.
"Saya masih belum percaya bahwa Mawar adalah–"
"Maafkan Mama, Pa," ucap Bu Marisa memotong perkataan Pak Mahendra.
"Ini bukan salah Anda, Bu Marisa," ucap Michelle.
"Dokter, semuanya sudah selesai ya? Kami mohon undur diri," ucap Michelle pada dokter itu.
"Silahkan, Michelle. Hati-hati ya," ucap dokter itu yang memang sudah akrab dengan Michelle.
"Terima kasih, Dok. Kami permisi," ucap Pak Mahendra.
Dokter itu tersenyum lalu mempersilahkan mereka untuk keluar dari ruangannya.
Pak Mahendra, Bu Marisa dan Michelle pun langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu.
*******
Di sebuah kafe.
"Jangan siksa aku seperti ini, El. Aku rindu sekali padamu," ucap Fredy yang saat itu berdiri di belakang El.
El masih terdiam, dia masih merasa ragu untuk bicara dengan Fredy. Semenjak kejadian itu, ini kali pertamanya mereka bertemu berdua.
"Aku rela meninggalkan Papaku demi kamu asal jangan minta aku untuk meninggalkan Mama karena Mama satu-satunya orang yang aku miliki saat ini," ucap Fredy lagi.
"Kamu bicara seperti itu karena Papa kamu sudah dipenjara kalau pun kamu tidak meninggalkannya, kamu tidak akan bisa menemuinya," ucap El dengan tanpa menoleh pada Fredy sedikit pun.
"El, yang Papa ku lakukan itu memang sebuah kesalahan besar tapi di sini aku dan mamaku adalah korbannya. Mamaku tidak pernah tahu bahwa dulu papa pernah melakukan kejahatan ini begitu juga dengan aku. Kami hanya korban, tolong mengertilah, Eliandra, demi Allah aku sayang sama kamu, aku tidak akan pernah menyakiti kamu semua yang papaku lakukan tidak akan pernah aku lakukan. Percayalah Eliandra," ucap Fredy panjang lebar.
"Apa salah kalau aku merasakan ketakutan yang begitu besar? Apa salah jika aku mencegah kehancuran sejak saat ini?" ucap El.
"Aku tahu kamu masih sangat mencintai aku. Sorot matamu masih memancarkan cinta untukku," ucap Fredy.
Fredy berjalan mendekati El dan meraih tangannya lalu menggenggamnya dengan lembut!
"Kita sudah merencanakan pernikahan, kita sudah membicarakan kehidupan kita dimasa depan, kenapa kamu mencoba menghancurkan semua harapan kita?" ucap Fredy lagi.
El hanya diam dengan air mata yang terus menetes membawahi pipinya. Tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dirinya masih sangat-sangat mencintai Fredy.
"Katakan bahwa kamu masih mencintai aku. Tolong, sekali saja," ucap Fredy dengan suara lirih.
Grep!
__ADS_1
El memeluk Fredy dengan sangat erat! "Aku cinta sama kamu, aku cinta sama kamu, aku cinta sama kamu. Kenapa, Fredy, kenapa aku bisa sesayang ini sama kamu? Apa yang sudah kamu lakukan padaku sehingga aku masih mencintai kamu meski aku tahu bisa saja kamu mengikuti jejak papamu dan menyisakan luka dalam hatiku," ucap El disela tangisnya.
El masih memeluk erat tubuh Fredy. Melampiaskan rasa rindu yang selama ini dipendamnya, begitu pula dengan Fredy yang memeluk erat Eliandra sambil sesekali mencium kepala El.
Di tempat yang lumayan jauh dari mereka.
"Dah baikan da tuh," ucap Ussy.
"Ikut senang melihat mereka," ucap Nasya.
"Aku bilang juga apa, cinta pasti akan menyatukan mereka," ucap Reza.
"Alhamdulillah mereka sudah baikan. Semoga tidak ada lagi kisah sedih dalam cerita cinta mereka," ucap Joe.
"Tentunya dalam kisah cinta kita juga," ucap Ussy.
Joe tersenyum lalu melingkarkan tangannya di pinggang Ussy.
"Hati-hati tuh tangan!" Tiba-tiba Dirga datang dan mencubit tangan Joe yang melenggang nyaman di pinggang Ussy.
Seketika Joe langsung melepaskan tangannya dan sedikit memberi jarak antara dirinya dan Ussy, begitu juga dengan Reza yang saat itu sedang asyik memeluk Nasya dari belakang, ia langsung mendorong Nasya agar menjauh dari dirinya.
"Sebentar lagi mereka akan menikah, wajar kalau pun mereka berpelukan seperti itu," ucap Dirga sembari menunjukan ke arah El dan Fredy.
"Kalian jangan macam-macam. Ussy kuliah kamu masih lama dan Nasya awas kalau berani melakukan ini lagi," ucap Dirga lagi pada Ussy dan El.
"Kalian berdua! Jadi laki-laki bisa bersikap baik gak? Ini depan umum masih pacaran berani dekat-dekatan," ucap Dirga pada Reza dan Joe.
"kamu lagi." Dirga menunjuk ke arah Reza. "Kamu ini seorang polisi, masa pacarannya begitu," sambung Dirga.
"Maaf, tidak akan terulang lagi," ucap Reza.
"Apa buktinya? Tadi saya melihat kamu dengan gampangnya merangkul pinggang Ussy," ucap Dirga.
"Udahlah, Bang Dirga besok saya bawa Nasya ke KUA buat dihalakan," ucap Reza.
"Ussy juga kayaknya kudu dibawa ke KUA biar sah," ucap Joe.
"Lakukan! Lakukan apa yang menurut kalian benar, pada nikah aja langsung gak usah pikirin cita-cita kalian yang katanya pengen jadi dokter dan yang satu pengen jadi CEO di perusahaan milik orang tuanya," ucap Dirga.
Di tempat El dan Fredy.
"Aku cinta sama kamu. Percayalah, Eliandra sampai kapan pun aku akan tetap mencintai kamu," ucap Fredy.
"Aku tahu," lirih El.
*********
Di restoran milik Roger.
Roger masuk ke dalam ruangan pribadinya yang di dalamnya sudah ada sang istri yang sudah setengah jam lalu menunggunya di sana!
"Hey, Sayang tumben kamu ngajak aku ketemu di sini," ucap Roger sembari berjalan mendekati Michaela lalu mencium keningnya.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu yang gak mungkin aku bicarakan di rumah," ucap Michaela dengan suara tenang.
"Apa itu? Katakan," ucap Roger sembari duduk di samping sang istri.
__ADS_1
"Nanti dulu, aku sedang menunggu seseorang," ucap Michaela lagi.
"Siapa?" tanya Roger penasaran.
"Nanti juga kamu tahu sendiri," sahut Michaela.
Tok!
Tok!
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu dan langsung membuka pintu itu!
"Bu orang yang Anda tunggu sudah tiba," ucap salah satu pegawai di restoran itu.
"Suruh dia masuk," ucap Michaela.
Perempuan itu mengangguk pelan dan sedetik kemudian muncul Jingga dari belakang perempuan itu.
"Terima kasih, Mbak," ucap Jingga pada karyawan perempuan itu dan ia langsung memasuki ruangan itu!
"Jingga," gumam Roger.
"Iya, dia Jingga," ucap Michaela.
"Hai Jingga, mari duduk," ucap Michaela dengan ramah.
Jingga tersenyum kaku, ia tidak menyangka bahwa akan ada Roger juga di sana.
Sebelumnya Michaela memang mengajaknya bertemu hanya untuk makan siang bersama dan membiarkan kerja sama mereka, dirinya tidak tahu bahwa akan ada Roger juga di tempat itu.
"Michaela, kamu bilang kamu akan membicarakan kerja sama kita tapi kenapa ada suami kamu?" tanya Jingga.
"Kerja sama apa?" tanya Roger.
"Istri kamu akan menyediakan makanan untuk semua karyawan Papaku dengan menu berbeda dengan harga terjangkau. Tentunya aku sangat tertarik karena makanan di restoran kalian rasanya enak dan beragam menu makanan," ucap Jingga yang saat itu sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Michaela.
"Sebenarnya bukan hanya itu, ada yang lain yang lebih penting dari kerja sama itu," ucap Michaela.
"Apa itu?" tanya Jingga lagi sedangkan Roger memilih diam karena tidak ingin ikut campur urusan istrinya.
"Aku mau kalian menikah," ucap Michaela yang seketika mengejutkan Roger dan Jingga.
"Apa kamu bilang?" ucap Roger.
"Maaf saya tidak bisa," ucap Jingga tanpa pikir panjang.
"Kalau aku memaksa?" ucap Michaela.
"Sayang, jangan bercanda. Aku gak suka," ucap Roger.
"Aku serius," ucap Michaela lagi.
"Maaf Michaela, sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja. Permisi," ucap Jingga sembari bangkit dari duduknya.
"Lihat ini!" Michaela memutar video dalam laptopnya lalu memperlihatkan video itu pada Jingga dan Roger.
Seketika dua insan yang pernah saling mencinta itu terkejut dan Roger langsung menjeda video yang sudah diputar oleh Michaela.
__ADS_1
Bersambung