Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 127


__ADS_3

"Bu Mawar, saya hanya ingin mengantarkan makanan untuk Bu Mawar makan siang. Saya lihat, Ibu sering makan telat karena mungkin sibuk jadi saya bawakan makanan ini untuk Ibu makan siang," ucap Mahendra.


Ternyata Mahendra lah yang mengetuk pintu ruangan Mawar.


"Letakkan saja di meja, terima kasih," ucap Mawar.


"Kalau gitu saya permisi." Mahendra pun segera keluar dari ruangan Mawar!


Sementara itu Mawar hanya diam dan membiarkan Mahendra pergi.


Mawar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya! Ia menutup matanya lalu menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan.


Setelah beberapa menit, Mawar membuka matanya dan menatap layar laptopnya yang masih menyala, ia pun kembali duduk dengan posisi tegak lalu mengusap keyboard laptopnya.


"Sekarang bukan waktunya memikirkan masalah Mas Aby dan Jingga, sekarang waktunya mengerjakan tugasku untuk menuju tujuanku. Awas aja kamu Mas, kalau terbukti kamu mengkhianati aku ... jangan salahkan aku jika aku menghancurkan dirimu," batin Mawar.


Saat ini Mawar masih belum sampai pada titik yang ia tuju, apapun yang terjadi padanya ia harus bisa melewatinya dan mencapai tujuannya secepat mungkin.


**********


Di kantor Aby.


"Kamu udah kembali, gimana keadaan Jingga?" tanya Aby pada Dirga.


"Dia baik-baik aja, sekarang udah pulang dan tidak sempat diperiksa oleh Dokter," jelas Dirga.


"Yakin gak bakalan mati tuh Jingga?" tanya Aby.


"Semoga aja nggak tapi kalau pun mati juga gak masalah buat saya toh saya ngeliatnya juga jijik," ucap Dirga.


"Jangan sembarangan kamu bicara, kamu lupa kalau dia itu mantan kekasih saya dan sekarang jadi kakak ipar saya?"


"Gak lupa sih tapi emang Tuan Muda gak jijik ya sama perempuan yang sana sini mau? Iiih kalau saya sih ogah udah bekas orang lagi," ucap Dirga sembari bergidik ngeri.


"Jangan bahas itu, takutnya saya khilaf dan masukin Jingga ke kandang buaya yang buayanya belum dikasih makan selama sebulan," ucap Aby.


"Khilaf aja gak apa-apa kok. Malah saya senang."


**********


Roger dan Michaela sudah tiba di rumah sakit tempat Mitha dirawat, mereka datang untuk menjemput Mitha dan membawanya tinggal bersama mereka.


"Kakak sudah datang," ucap Michelle sembari mengarahkannya jari telunjuknya pada Roger dan Michaela.


Mitha tersenyum bahagia dengan tangannya yang terus menggenggam tangan kiri Michelle.

__ADS_1


"Selamat siang Ma, maaf ya aku datang terlambat karena tadi ada urusan dulu," ucap Roger.


"Ma," ucap Michaela sembari mencium punggung tangan Mitha lalu memeluk wanita yang sudah mulai menua itu.


"Kamu sudah ditunggu oleh Dokter, cepat temui Dokter di ruangannya," ucap Mitha pada Roger.


"Oh gitu, baiklah kalau gitu aku temui Dokter dulu ya," ucap Roger.


"Sayang, kamu di sini aja ya sama Mama dan Mimi," ucap Roger pada Michaela.


Michaela tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Kalau dia tahu bahwa kakak pernah selingkuh, apa dia masih bisa memaafkan kakak sedangkan aku saja merasa jijik dan tak suka," batin Michelle.


"Akhirnya Mama bisa pulang," ucap Michaela pada Mitha.


"Semua berkat kamu dan Roger," ucap Mitha.


"Bukan aku tapi Mas Roger saja. Aku tidak tahu tentang Mama yang seperti ini aku baru tahu beberapa bulan belakangan ini," ucap Michaela.


"Kamu gak malu punya ibu mertua gila seperti Mama?" tanya Mitha.


"Mama gak gila, Mama sehat, Mama normal lagipula aku cinta sama Mas Roger itu tulus apa adanya bagaimanapun keadaannya dan keluarganya aku pasti akan menerima," ucap Michaela.


"Sekarang keluarga kita sudah berkumpul, putri Mama yang dulu hilang sudah ditemukan dan sekarang Roger sudah mempunyai istri yang baik dan penyayang seperti kamu. Mama rasa kebahagiaan Mama sudah lengkap sekarang," ucap Mitha.


Tak disadari Michelle menjatuhkan air matanya hingga air matanya mendarat di punggung tangan Mitha.


Merasa ada yang jatuh di atas tangannya, Mitha menatap apakah yang jatuh di tangannya dan dia langsung menatap Michelle saat tahu air berwarna bening yang menetes ke tangannya.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Mitha.


"Seperti yang Mama katakan, kebahagiaan keluarga kita sudah sempurna sekarang," ucap Michelle.


Tak lama, Roger datang dan langsung membawa Mitha pergi dari tempat itu.


"Aku bawa motor jadi aku ngikutin kalian dari belakang," ucap Michelle.


"Kamu bisa bawa motor?" tanya Mitha.


"Ya, itu motorku," ucap Michelle sembari mengarahkan jari telunjuknya pada motor sport berwarna merah yang terparkir tak jauh dari mereka.


"Moto itu? Anak gadis bisa bawa motor sport?"


"Mama akan tahu semua yang bisa Mimi lakukan nanti setelah kita tinggal bersama," ucap Roger.

__ADS_1


**********


"Pak Mahendra, saya ada keperluan sebentar tolong handle kantor dulu ya," ucap Mawar pada Mahendra.


"Baik, Bu," ucap Mahendra.


Mawar langsung pergi tanpa mengucapkan sesuatu apapun lagi pada Mahendra!


"Setidaknya aku masih bisa melihat anakku baik-baik saja meski dia tak pernah menganggap aku sebagai Papanya tapi aku bersyukur dia masih mau menemuiku dan berbicara padaku meski sekedar pembicaraan seputar pekerjaan," batin Mahendra.


Mahendra yang sebenarnya dari dulu sudah merasa bersalah pada Mawar pun tak menghiraukan sikap Mawar yang dingin padanya.


"Mungkin ini hukuman untuk aku karena sudah tega membuang Mawar yang tak berdosa," batin Mahendra.


Mawar terus melajukan motornya hingga setelah berkendara selama hampir dua puluh menit, Mawar tiba di depan sebuah rumah yang mewah dan luas.


Dia seger turun dari motornya lalu berjalan memasuki rumah itu!


"Mau ngapain kamu ke sini, anak sial?" ucap Marisa saat melihat Mawar berjalan dan memasuki rumahnya.


"Dimana anak kesayangan Anda itu?" tanya Mawar dengan nada biasa saja tanpa ada kenarahan sedikitpun.


"Untuk apa kamu menanyakan dia?" tanya Marisa.


"Dia sudah berani menemui suamiku, aku ingin bicara dengannya," ucap Mawar.


"Berani sekali kamu datang ke sini." Jingga berjalan menuruni anak tangga sembari membawa gelas berisi jus jeruk.


"Aku tegaskan sama kamu Jingga, jangan pernah temui suamiku atau kamu akan tahu akibatnya," ucap Mawar.


Jingga tertawa mendengar peringatan dari Mawar.


"Lo pikir lo siapa mengatur hidup gue." Jingga melayangkan gelas yang dipegangnya ke arah Mawar.


Dengan sigap Mawar menangkap gelas itu dengan tangannya lalu merem**nya sampai pecah.


"Jika kamu tidak menuruti perintahku, nasibmu akan sama dengan gelas ini," ucap Mawar.


Saat itu telapak tangan Mawar sudah berceceran darah karena luka terkena pecahan gelas itu tapi is tak mengindahkan sakit ditangannya itu.


"Brani sekali kamu mengancam Jingga," ucap Marisa.


Jingga menatap Marisa dan memberi kode rahasia dan setelah beberapa detik Marisa menjambak rambut Mawar dari belakang!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2