
Saat Marisa sudah menjambak rambut Mawar dia menariknya kebelakang hingga Mawar melangkah mundur mengikuti kemana arah Marisa menarik rambutnya.
"Jangan macam-macam lo sama kita," ucap Jingga yang berjalan santai didepan Mawar!
Tak lama Mawar mencengkram tangan Marisa dan menariknya hingga tubuh Marisa terpental ke atas sofa yang ada di ruangan itu!
Sontak Jingga terkejut melihat tubuh Mamanya melayang di hadapannya dia terdiam mematung sembari menatap ke arah Mawar dan Mamanya, seluruh tubuhnya terasa kaku hingga sulit untuk digerakan.
Sementara itu Marisa yang merasa kesakitan hanya bisa meringis sembari memegangi punggungnya. Antara terkejut dan ketakutan Marisa menatap Mawar dengan mata yang terbuka lebar.
Mawar berjalan mendekati Marisa lalu membungkukkan tubuhnya mensejajarkan wajahnya dengan wajah Marisa.
"Jangan pernah sentuh saya dengan tangan Anda, Bu Marisa," ucap Mawar lalu segera melangkah pergi!
"Dan kamu Jingga, aku ingatkan sekali lagi. Jangan pernah dekati suami aku lagi," ucap Mawar lalu melanjutkan langkahnya.
Dengan tangannya yang terasa sakit Marisa mengambil pot bunga kecil yang terdapat di atas meja di depannya lalu melemparkannya pada Mawar dan berhasil mendarat tepat pada betis Mawar hingga dia langsung terjatuh.
"Rasain kamu, beraninya mengancam saya," ucap Marisa.
Mawar yang kini terduduk di lantai, menatap Marisa dengan tangannya yang memegangi kakinya. Terlihat dengan jelas di wajahnya, saat itu Mawar tengah menahan rasa sakit yang dideritanya.
"Sekarang aku yakin kalau Anda tidak pantas untuk dimaafkan. Lihat saja Bu Marisa, Anda akan menerima semua yang pernah Anda berikan padaku, ternyata Anda memang tidak pantas untuk menjadi ibu kandung aku," batin Mawar sembari terus menatap Marisa.
"Jangan menatap saya seperti itu Mawar karena sedikitpun saya tidak takut," ucap Marisa.
"Pergi lo dari rumah gue, dasar anak kampung. Lo tuh gak pantas ada di kota apalagi menjadi istrinya Aby," ucap Jingga.
Perlahan Mawar bangkit lalu berjalan dengan langkahnya yang pincang karena sebelah kakinya terasa sakit!
Marisa dan Jingga menatap kepergian Mawar dengan senyuman penuh kemenangan yang tak pernah pudar dari bibirnya.
*********
Mitha dan anak-anaknya baru tiba di rumah mereka yang lama, rumah yang pernah ditempati bersama dengan Arman~suaminya Mitha yang sudah lama meninggal dunia.
"Rumah ini masih seperti yang dulu," ucap Mitha sembari menatap rumahnya.
"Tidak ada yang berubah di sini, luar dan dalamnya tidak ada yang aku ubah," ucap Roger.
__ADS_1
"Apa gak sebaiknya Mama tinggal bersama kami saja di rumah kami?" ucap Michaela pada Mitha.
"Mama ingin mengenang masa lalu di sini di rumah ini lagipula ada banyak yang Michelle tidak ketahui tentang keluarganya, lewat rumah ini dia akan mengetahui segalanya," ucap Mitha yang benar-benar sudah mengingat semua kehidupan masa lalunya.
"Ya, ada banyak yang harus aku ketahui termasuk tentang Papa dan Pak Randy," ucap Michelle.
Mitha menatap Michelle, dalam hatinya muncul pertanyaan dari mana Michelle tahu dan kenal pada Randy.
"Kita masuk dulu ya, ngobrolnya nanti aja," ucap Roger sembari merangkul Mitha dari belakang.
Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah penuh kenangan itu!
Michelle mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, ini adalah yang kedua kalinya dirinya datang ke rumah itu setelah yang pertama ia datang untuk memata-matai Roger.
"Sepertinya kamu sudah mengenal tempat ini," ucap Mitha pada Michelle.
"Ya, sepertinya aku pernah ke sini tapi aku sendiri tidak tahu kapan," ucap Michelle berbohong padahal ia tahu kapan dan untuk apa ia datang ke rumah itu.
"Rumah ini lama kosong tapi aku membayar orang untuk merawat rumah ini bisanya orang itu datang di pagi hari untuk membersihkan rumah dan mematikan semua lampu dan dia akan datang lagi sore hari untuk menutup gorden dan menyalakan lampu," jelas Roger.
"Pantas rumah ini terlihat terawat," ucap Mitha.
"Kakak benar," ucap Michelle.
"Michaela. Namaku Michaela panggil saja panggil saja Micha," ucap Michaela memperkenalkan dirinya pada Michelle.
Michelle tersenyum lalu mengangguk sambil berkata, "baik kak Micha."
"Mari Ma, aku antar Mama ke kamar," ucap Roger.
"Biar aku saja Mas, tunjukkan saja kamarnya di mana," ucap Michaela.
**********
Di kantor Mawar.
Mawar baru tiba di kantornya, dia berjalan dengan langkah pincang karena sebelah kakinya masih terasa sakit akibat terkena pot bunga yang sengaja dilemparkan oleh Marisa.
Semua karyawan yang melihat Mawar hanya menatapnya dengan hati yang bertanya-tanya mengapa dan ada apa pada bos baru mereka.
__ADS_1
"Maaf, Bu boleh saya membantu," tanya seorang karyawan laki-laki.
Bukan apa-apa, mereka tidak berani terlalu dekat pada Mawar karena mereka merasa canggung apalagi mereka tahu siapa Mawar yang sebenarnya.
Mereka sangat menghormati Abymana dan keluarganya begitupun dengan Mawar yang kini menyandang status sebagai istri dari Abymana.
"Boleh, tolong antar saya ke ruangan saya," ucap Mawar.
Karyawan itu memegang sebelah tangan Mawar dan mulai memapah Mawar menuju ruangan Mawar.
"Mawar! Mawar kamu kenapa?" ucap Mahendra sembari berlari menghampiri Mawar.
Sontak semua karyawan di sana menatap Mahendra karena Mahendra menyebutkan nama Mawar langsung tanpa memakai kata Bu sebagai tanda hormat pada atasan mereka itu.
Mawar menatap Mahendra dengan tatapan tajamnya dengan mulut yang bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"M_maaf. M_maksud saya Bu Mawar. Kenapa Ibu seperti ini? Apa yang terjadi pada Ibu?" ucap Mahendra.
"Saya baik," sahut Mawar dengan nada bicaranya yang ketus.
Setibanya di ruangan Mawar, karyawan yang membantu Mawar langsung pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Mawar dan Mahendra di dalam ruangan itu!
"Boleh Papa periksa kakimu? takutnya ada cedera," ucap Mahendra.
Mawar hanya diam dan menganggukkan kepalanya pelan tanda mengiyakan perkataan Mahendra.
Mahendra segera meraih kaki Mawar dan langsung meneliti betis Mawar dari atas sampai bawah.
"Kakimu memar, sebentar ya Papa akan mengambilkan obatnya kebetulan Papa punya obatnya," ucap Mahendra setelah melihat kondisi kaki Mawar.
Mawar hanya diam dan tak mengatakan sesuatu.
Saat Mahendra sudah pergi dari ruangannya tiba-tiba air mata Mawar menetes begitu saja dari sudut matanya, dengan sigap Mawar langsung mengusap air matanya agar tak terlihat oleh Mahendra.
Setelah dua puluh tahun lebih dirinya terlahir ke dunia baru kali ini dirinya merasakan sentuhan halus dan penuh kasih dari seorang Ayah.
Hal itu tentu saja membuat Mawar sedih sekaligus bahagia, tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dirinya sangat menginginkan belaian kasih sayang dari seorang Ayah kandungnya.
Bersambung
__ADS_1