Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 153


__ADS_3

Mawar menyandarkan kepalanya di dada Aby dengan tangannya yang melingkar memeluk sang suami.


"Kamu benar tapi ini semua atas permintaan istrinya Roger sendiri," ucap Mawar.


"Yang aku tahu, gak ada istri yang sudi diduakan apalagi sampai dimadu. Kamu saja cemburu pas waktu itu aku dipeluk sama Jingga," ucap Aby sembari balik memeluk Mawar.


"Itu kan ceritanya beda." Mawar menatap Aby lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Sama saja, intinya tidak ada satu orang pun perempuan yang rela membagi suami dengan perempuan lain. Selam ini Frans dekat sama kamu, nanti pelan-pelan kamu bicara sama dia tanyakan apa dia mencintai Jingga. Kalau misalnya Frans memang mencintai Jingga, kita batalkan pernikahan Jingga dengan Roger dan kita nikahkan Jingga dengan Frans," jelas Aby.


"Tapi kita tidak tahu apakah Jingga mencintai Frans atau tidak," ucap Mawar.


"Kamu tanya dia juga kalau gak, aku aja deh yang tanya sama dia. Semoga dia mau jujur sama aku," ucap Aby.


"Ingat ya, nikahkan Jingga dengan Frans bukan kamu yang menikahinya," ucap Mawar."


"Kamu bicara apa hmm? Cemburu?" tanya Aby.


"Aku hanya mengingatkan. Begitu banyak pengorbanan kamu untuk Jingga tapi akhirnya kalian tidak bersama, aku takut saja kamu malah main gila," ucap Mawar.


"Tidak, Sayang. Kamu lebih dari segalanya di mataku Jingga bukanlah badinganmu. Bahkan model ternama pun tidak akan bisa menggantikan posisi kamu di hatiku," ucap Aby sembari mengelus kepala Mawar.


"Gombalnya keluar," ucap Mawar dengan tawa kecilnya.


"Gak gombal, aku serius. Jika yang sempurna sudah ada dalam genggaman kenapa harus meraih yang belum tentu lebih dari kamu. Aku dan Jingga hanyalah masa lalu, kami berdua sudah sama-sama melupakan masa-masa itu. Percayalah, Bidadari surgaku, kamulah yang akan menjadi pendamping ku selamanya sampai aku tua dan sampai aku mati, aku selalu berdoa agar dia sang maha kuasa mempertemukan kita di surga tapi kalau aku harus pergi ke neraka, cukup aku saja yang ke sana, kamu jangan," ucap Aby dengan suara halus.


"Kalau kamu pergi ke neraka, pasti aku ikut. Aku ini istrimu dan kamu yang membimbing ku kalau pembimbingnya dibakar ya pastinya yang dibimbing pun turut serta," ucap Mawar.


"Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku gak bisa melihat kamu tersiksa lagi. Udah ah jangan bicarain yang menakutkan gini, lihat tuh Jingga dan Frans lagi ngapain," ucap Aby sembari menatap ke luar jendela kamarnya.


Mawar menatap dua orang yang entah sedang membicarakan apa, dia mengernyit saat melihat Frans dan Jingga duduk bersebelahan dengan posisi Jingga yang menyandarkan kepalanya di bahu Frans.


"Apa mereka sudah jadian?" gumam Mawar.


"Manaku tahu," ucap Aby.


********


Di kantor polisi.


Haris duduk di pojokan ruangan yang sempit yang dilindungi oleh besi kokoh yang mengelilingi ruangan itu, dia menangis merasakan siksa hidup di balik jeruji besi, dinginnya malam, panasnya siang tak begitu membuatnya menderita tapi penyesalan masa lalu yang kini sangat-sangat menyiksanya.

__ADS_1


Dirinya tahu penyesalan itu tidak akan berarti apa-apa bagi orang-orang yang sudah disakitinya dan tidak akan dapat mengubah semua yang telah terjadi dan tentunya tidak akan dapat mengembalikannya pada waktu itu. Kini dirinya harus menanggung semua penderitaan ini sendiri, isteri tercintanya jarang menemuinya karena kondisi kesehatannya yang terus menurun dan Fredy, anak satu-satunya juga tidak pernah menyambangi dirinya, ia tahu bahwa anaknya itu sekarang sangat membencinya tapi sedikit pun ia tidak menyalahkan sang putra karena ia tahu dirinyalah yang bersalah dan dirinya pantas menerima hukuman ini.


"Ris, sudahlah jangan terlalu menyesali semua ini. Dulu kita melakukannya dengan penuh kesenangan jadi, anggap saja kita sedang dalam hukuman. Kondisi kesehatanmu mulai menurun kalau begini terus kamu bisa sakit parah," ucap Adi yang satu ruang tahanan dengan Haris.


"Kamu tidak tahu rasanya menjadi aku, istriku, anakku, mereka sangat tersakiti belum lagi anak yang terlahir dari rahim Bu Marisa yang ternyata adalah anakku, aku sudah menyebabkan luka dalam di hati mereka," ucap Haris dengan air mata penyesalan yang tak pernah surut.


"Aku tidak menyangka Bu Marisa sampai hamil," ucap Fian.


"Aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf padanya tapi perempuan itu tidak mengizinkan," ucap Haris.


"Perempuan itu maut untuk kita," ucap Adi.


Michelle memang kejam pada Adi dan Fian hingga sampai saat ini mereka masih merasakan takut yang luar biasa pada Michelle.


"Mautku adalah anakku yang terlahir dari Bu Marisa tapi aku tidak takut, aku siap meski dia membunuhku hari ini juga kalau saja waktu itu keluarganya tidak datang, mungkin sekarang aku sudah berada di neraka dan sudah dipanggang dalam kobaran api yang begitu panas. Aku ingin bertaubat, aku ingin memohon maaf pada orang-orang yang sudah aku sakiti dan aku ingin bertaubat, memohon ampunan pada Tuhanku," ucap Haris.


"Sebelum terlambat, shalatlah kalian dan meminta ampunlah pada Tuhan kalian," ucap Michelle yang ternyata ada di sana.


"Kamu, sejak kapan kamu di sini?" ucap Haris.


"Sejak beberapa menit lalu," sahut Michelle.


"Tolong pertemukan aku dengan Bu Marisa dan Pak Mahendra," ucap Haris.


"Aku tidak bisa janji, Bu Marisa masih takut pada kalian semua dan Pak Mahendra ... dia tidak bisa memaafkan perbuatan kalian semua. Kemungkinan kalian akan mendekam selamanya di sini," ucap Michelle menakut-nakuti mereka.


"Tolong, tolong aku. Aku ingin meminta maaf pada mereka," ucap Haris lagi.


"Istri dan anakmu sudah meminta maaf atas kesalahan kamu. Aku pergi, permisi." Michelle langsung pergi meninggalkan mereka di sana.


"Michelle! Michelle!" seru Haris yang tidak dihiraukan oleh Michelle.


"Sudah?" tanya Dirga yang menunggu Michelle di depan kantor polisi.


"Sudah, mereka baik-baik saja," sahut Michelle.


"Syukurlah. Sekarang kita ke mana?" tanya Dirga lagi.


"Aku mau ketemu sama kak Michaela. Kamu mau ikut?"


"Ada kak Roger juga?"

__ADS_1


"Ada. Aku mau membicarakan tentang keinginan kakak yang ingin menikahkan kak Roger dengan Jingga," jawab Michelle.


"Kalau gitu aku ikut. Aku tidak setuju dengan keinginan kak Michaela itu," ucap Dirga.


"Ya udah, kita langsung ke restoran mereka saja," ucap Michelle sembari berjalan menghampiri mobil mereka.


********


Joe baru kembali setelah setengah hari bersenang-senang bersama sang kekasih, dia berjalan dengan riang menghampiri Salman yang sedang duduk di depan pos penjagaan.


"Udah nunggu giliran ya?" tanya Joe sambil cengar-cengir.


"Lama banget, telat satu jam, kamu," ketus Salman yang kesal karena sedari tadi berjaga sendirian sedangkan Joe dan Frans asyik bersama pacarnya.


"Frans mana?" tanya Joe.


"Tuh lagi bernegosiasi." Salman menunjuk ke arah Jingga dan Frans.


"Itulah akibatnya kalau cinta dipendam akhirnya luka sendiri pas si doi dilamar orang," sambung Salman.


"Emang siapa yang mau nikah?" tanya Joe.


"Mbak Jingga dilamar Pak Roger auto ancur hati teman kita itu," jelas Salman sembari memakai kemejanya.


"Tapi mereka kayak udah pacaran, deket banget sampai bahunya dijadiin sandaran," ucap Joe sambil menatap Jingga dan Frans.


"Udahlah, aku mau pergi dulu. Udah ditunggu si cinta," ucap Salman sembari melangkah pergi.


"Yah kasian banget kamu Frans. Sad banget cerita cinta yang kamu alami," gumam Joe sambil terus menatap ke arah Frans dan Jingga sedangkan Salman sudah pergi entah kemana.


Di taman itu.


"Mbak, tolong pikirkan lagi keputusan, Mbak untuk menikah dengan dia," ucap Frans.


Jingga mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Frans lalu sedikit menggeser duduknya untuk memberi jarak diantara mereka.


"Aku sudah tidak suci lagi. Kesucian ku sudah diambil oleh Roger, mau tidak mau aku harus menikah dengannya," ucap Jingga dengan tatapan sendu.


Frans terkejut dengan pernyataan Jingga, dia terdiam sembari menatap Jingga dengan tatapan mata yang tidak berkedip satu kali pun.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2