
Beberapa minggu kemudian.
Kini tibalah saatnya hari yang sudah dinantikan oleh Dirga dan juga Michelle. Ya, hari ini adalah hari pernikahan mereka.
Di kediaman Mitha.
Keluarga Dirga sudah tiba di rumah Mitha. Pak penghulu dan para saksi pun sudah berkumpul di sana.
Mereka akan segera melaksanakan ijab qobul pagi ini.
Di tempat yang sudah disediakan, Pak penghulu duduk bersebelahan dengan Roger sedangkan di sebrang mereka sudah ada Dirga dan Michelle yang duduk bersebelahan.
"Sudah lengkap semua ini ya? Wali nikahnya dan para saksi?" tanya Pak Penghulu.
"Sudah, Pak. Kita bisa mulai saja acaranya sekarang," ucap Roger.
Karena Michelle sudah tak mempunyai ayah kandung maka Roger selaku kakak kandungnya yang akan menjadi wali nikah untuk Michelle.
"Alhamdulillah kalau begitu. Bismillahirrahmanirrahim, kita mulai sekarang ya," ucap Penghulu itu.
Semua orang yang berada di sana mengangguk mengiyakan perkataan penghulu itu.
"Saudara Dirga, siap ya menikah dengan gadis pilihan kamu yang bernama Michelle?" tanya Pak Penghulu pada Dirga.
"Siap," ucap Dirga singkat dan tegas.
"Sepertinya sudah mantap ya dan sepertinya juga sudah tidak tahan ingin mencari sayang untuk burungnya," ucap Pak Penghulu itu dengan sedikit tertawa.
Karena Dirga terlihat tegang Penghulu itu mencoba untuk mencairkan suasana hati pemuda yang akan dinikahkannya.
Dirga tersenyum kecil mendengar perkataan penghulu itu dan semua orang yang di sana pun ikut tertawa terkecuali Michelle. Nampaknya ada rasa kekhawatiran yang mengganggu hatinya kala mendengar candaan sang Penghulu.
"Jangan tegang, anggap saja para saksi ini tidak ada. Kita mulai, silahkan berjabat tangan," ucap penghulu pada Dirga dan Roger.
Setelah itu penghulu itu pun mulai menuntun Roger untuk mengucapkan kalimat ijab yang nantinya akan dijawab oleh kalimat qobul oleh Dirga.
"Sah?" ucap penghulu pada para saksi.
Tak sampai Sepuluh menit, akhirnya mereka pun sah menjadi suami istri setelah Dirga berhasil mengucapkan kalimat ijab qobul dengan hanya satu kali tarikan nafas.
"Sah!"
"Sah!"
Para saksi pun mengatakan bahwa mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di sana.
Michelle mencium punggung tangan Dirga lalu mereka mencium punggung orang tuanya secara bergantian.
"Alhamdulillah ya, rupanya, Mas Dirga ini memang sudah mantap untuk menikahi Mbak Michelle," ucap penghulu itu.
__ADS_1
"Jangan takut, Mbak. Kalau nanti malam ada ular darat, jangan kaget ya karena memang sekarang Mbak sudah memilih untuk bertemu dengannya," Sambung Pak Penghulu.
Michelle hanya diam dengan kepalanya yang tertunduk kebawah mencoba menyembunyikan rasa malunya.
Pak Penghulu itu mulai memberikan arahan pada kedua mempelai bagaimana cara membangun rumah tangga yang berhasil dan menjadi suami yang baik untuk istri dan menjadi istri yang baik untuk suami.
Di sudut ruangan itu.
Aby dan Mawar duduk bersebelahan sembari menatap dan terus menyimak semua perkataan penghulu itu.
"Perasaan waktu kita nikah dulu Pak Penghulunya gak ceramah kayak gini deh," ucap Aby.
"Itu karena kamu langsung pergi dari tempat ijab qobul," ucap Mawar kesal.
"Oh iya, lupa. Maaf ya waktu itu aku sedang dalam emosi yang meningkat," ucap Aby.
"Lupakan itu. Semua sudah berlalu, untung aku orangnya sabar kalau gak dari dulu udah aku gantung kamu di pohon tauge," ucap Mawar.
Aby meraih tangan Mawar dengan tangan kirinya dan tangan kanan yang merangkul punggung Mawar!
"Sekali lagi maafkan aku ya. Aku menyesal sudah berbuat seperti itu," ucap Aby lagi.
"Iya, Mas lagipula aku sudah memaafkan kamu dari dulu."
Kini para saksi mulai meninggalkan tempat itu dan Pak Penghulu juga sudah mulai melangkah pergi dari tempatnya, kini Michelle dan Dirga hendak melakukan acara selanjutnya yaitu resepsi pernikahan mereka.
Resepsi diadakan di rumah Mitha. Pelataran yang luas membuat mereka tak perlu repot-repot menyewa gedung untuk melaksanakan resepsi pernikahan itu.
Michelle menatap Mamanya lalu mengangguk.
"Dimana ruang gantinya?" tanya Dirga.
"Di sini, ikuti aku," ucap Michelle sembari berjalan ke arah kamar yang terletak di lantai dua rumahnya!
Dirga mengekor di belakang Michelle dan tak lama mereka pun tiba di kamar itu.
Michelle mencari-cari seseorang yang bertugas merias dirinya tadi pagi.
"Nyari siapa?" tanya Dirga.
"Mbak itu, Mbak perias," sahut Michelle.
"Oh, aku pikir nyari aku," ucap Dirga.
"Ngapain aku nyari kamu. Kamu kan udah ada di depan mataku. Aku gak bisa ganti pakaian kalau dia gak ada," ucap Michelle.
"Kenapa? Memang sehari-hari kamu ganti pakaian dibantu oleh orang lain?"
"Gak gitu. Kamu gak tahu apa yang aku rasakan."
"Memang apa yang kamu rasakan?"
__ADS_1
"Memakai kebaya ini ribet banget," ucap Michelle.
"Aku lihat membukanya gampang, tinggal turunin resletingnya aja kan," ucap Dirga.
"Bukannya gampang, pakainya lagi yang susah."
"Ya udahlah sambil nunggu orangnya datang, aku boleh ...." Dirga menghentikan perkataannya.
"Apa?" tanya Michelle.
"Aku mau pegang ini. Sebentar ya," ucap Dirga sembari meraih sesuatu benda yang menonjol di dada Michelle.
Michelle terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Dirga, hampir saja ia akan teriak untunglah ia langsung ingat kalau mereka sudah menikah.
"Aku udah mengincar ini dari dulu," ucap Dirga sembari me****s benda kenyal milik Michelle itu.
"Ahh, lepasin!" Michelle menarik tangan Dirga agar menyingkir dari dadanya.
"Kenapa?" ucap Dirga.
"Kamu ini gimana sih, nanti ada orang yang masuk," ucap Michelle padahal sebenarnya dirinya sedang berada dalam ketakutan.
"Kamu pelit banget. Kita kan udah nikah," ucap Dirga.
"Aku tahu. Nanti aja main-mainnya, resepsinya belum selesai kan, nanti kalau make-up aku acak-acakan gimana?"
"Aku cuma memegang bagian ini aja gak akan sampai merusak make-up kamu."
"Mas, lepasin ih." Michelle kembali menarik tangan Dirga yang nakal itu.
"Kamu membuat aku takut," ucap Michelle.
Dirga tertawa kecil mendengar perkataan Michelle.
"Takut katanya. Gak ingat waktu itu kamu pernah bilang kalau kamu bisa lebih nakal dari melakukan ciuman?" ucap Dirga.
Michelle terdiam, sebenarnya waktu itu ia hanya menggoda saja, ia tak menyangka bahwa Dirga akan mengingatnya sampai sekarang.
Dirga melingkarkan tangannya di perut Michelle lalu mengeratkannya hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain!
"Aku sudah tidak tahan. Kenapa hari ini berjalan lambat?" ucap Dirga dengan berbisik.
Mendengar perkataan Dirga membuat bulu-bulu halus Michelle berdiri, mendengarnya saja sudah membuat gadis itu merinding.
"Maaf membuat kalian menunggu. Saya baru dari kamar mandi," ucap seorang perias pengantin.
Suaranya mengejutkan Dirga dan Michelle hingga dengan cepat Dirga melepaskan tubuh Michelle dari pelukannya!
"Tidak usah malu. Saya mengerti dengan keadaan barusan. Saya juga pernah seperti itu saat baru menikah dulu," ucap perempuan itu sembari meraih pakaian yang akan dipakai oleh Michelle dan Dirga.
Bersambung
__ADS_1