
Sore hari setelah pulang bekerja Dirga menjemput Michelle ke rumahnya karena akan mengenalkan Michelle pada Mamanya.
"Tante, aku izin bawa Michelle dulu," ucap Dirga pada Mitha.
"Mau kemana? Bukannya tante terlalu ikut campur atau terlalu ingin tahu tapi sebagai orang tua tante harus tahu Michelle akan pergi kemana bersama kekasihnya ini," ucap Mitha.
"Tidak apa, Tante. Aku mau bawa Michelle ke rumah," ucap Dirga.
"Gak boleh. Kamu bilang kamu tinggal sendirian di rumah, tidak baik seolah laki-laki dan perempuan berada dalam satu rumah apalagi di dalam rumah itu kosong," ucap Mitha.
"Nggak kosong, Tan. Tadi pagi orang tua saya baru tiba dari kampung jadi aku mau mengenalkan Michelle pada orang tua aku," ucap Mitha.
"Yakin ya kamu lagi gak berbohong?" Mitha menatap Dirga dengan tatapan aneh yang penuh curiga.
"Tidak akan, aku tidak akan berbohong," ucap Dirga.
"Mama, Mama apaan sih. Mama kan tahu aku dan Dirga sudah serius untuk menikah," ucap Michelle.
Mitha menatap Michelle lalu tersenyum ke arahnya.
"Pergilah, hati-hati ya," ucap Mitha.
Michelle dan Dirga tersenyum pada Mitha lalu mereka langsung berpamitan.
**********
Di rumah Mahendra.
Sore itu Mahendra masih asyik mencangkul tanah yang akan ia tanami sayuran sedangkan Jingga sedang asyik membaca buku tentang pertanian yang diberikan oleh Mawar.
Di dalam rumah. Marisa duduk di ruang keluarga dengan televisi yang menyala namun, ia sama sekali tak menghiraukan acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi itu.
Marisa duduk sambil melamun, pikirannya terus mengembara pada masa lalu yang telah ia lewati.
"Semua ini gara-gara orang gila itu, semua gara-gara dia. Aku tidak akan memaafkan orang gila itu," batin Marisa.
Tanpa disadari Marisa sudah menangis deras bahkan bajunya saja sudah basah oleh air matanya.
"Aaaaaaa! Aaaaaaaa!" teriak Marisa sembari mrngacak lalu mencengkram rambutnya.
__ADS_1
Wanita dua anak itu menangis histeris bahkan dia sampai berteriak sekeras suaranya.
Mendengar suara Marisa yang menjerit Mahendra dan Jingga langsung berlarian memasuki rumahnya!
Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Marisa.
"Ma, Mama kenapa?" ucap Mahendra setelah tiba di dalam rumah.
"Mama. Ada apa, apa ada tikus lagi, dimana tikusnya? biar aku usir," ucap Jingga yang juga merasa khawatir pada Marisa.
"Papa." Marisa langsung memeluk Mahendra dengan sangat erat.
"Tenang, Ma ada Papa. Mama kenapa?" ucap Mahendra sembari memeluk dan mengusap punggung Marisa.
"Papa gak akan ninggalin Mama kan meski apa pun yang terjadi? Papa udah janji kalau selamanya kita akan bersama," ucap Marisa disela tangisnya.
Mahendra terdiam karena tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu.
"Ma, Mama baik-baik saja kan?" tanya Jingga yang mulai curiga. Dalam pikirnya ia berprasangka mungkinkah Mamanya itu mengalami depresi?
"Ada apa ini? Anda berisik sekali Bu Marisa," ucap Mawar.
"Tidak apa-apa, mungkin Mama kecapekan," ucap Jingga.
"Tapi kenapa harus berteriak? Suaranya mengagetkan Mawar. Mawar sedang hamil tidak baik kalau dia terus saja memikirkan kalian," ucap Aby.
Bukan mengkhawatirkan keluarga Mahendra tapi Aby lebih mengkhawatirkan keadaan Mawar yang kini sedang mengandung.
"Maaf, ini tidak akan terjadi lagi," ucap Marisa.
"Mawar, maaf ya kalau teriakan Mama mengganggu waktu istirahat kamu. Kamu masuk saja ke rumah dan istirahatlah, di sini banyak nyamuk jangan sampai kamu dan calon bayi kamu kenapa-kenapa," ucap Jingga.
Aby dan Mawar menatap Jingga. Mereka berdua tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jingga.
Dalam hatinya mereka bertanya-tanya, bagaimana kuntilanak itu bisa seperhatian itu pada Mawar?
"Jingga benar. Lebih baik kalian masuk saja, udah mau maghrib nyamuk mulai banyak," ucap Mahendra.
********
__ADS_1
Di kediaman Dirga.
"Assalamualaikum!" seru Dirga sembari berjalan memasuki rumahnya dengan tangan kirinya yang terus menggenggam tangan Michelle.
"Waalaikumsalam," ucap Athalia sembari berjalan menghampiri Dirga dan Michelle.
Sebuah senyuman merekah di bibirnya kala menatap gadis yang saat itu tangannya masih digenggam oleh Dirga.
"Wah, ini pasti calon menantu Mama," ucap Athalia.
"Ma, kenalin ini Michelle," ucap Dirga pada Athalia.
"Michelle kenalin ini mama aku," ucap Dirga pada Michelle.
"Halo, Tante," ucap Michelle sembari mengulurkan tangannya pada Athalia.
"Hai sayang. Nama kamu cantik sama kayak orangnya," ucap Athalia.
"Tante bisa aja," ucap Michelle dengan senyum canggung.
"Oh, mari duduk." Athalia merangkul punggung Michelle dan membawanya duduk fi kursi yang berada tak jauh dari mereka!
"Anak orang dibaik-baikin giliran anak sendiri dibiarin gitu aja," ucap Dirga.
"Ya ampun kakak, gitu aja kok cemburu. Mama memang harus bersikap baik pada calon kakak ipar kalau tidak bisa saja kakak iparku bisa lari nanti," ucap Eliandra yang tiba-tiba muncul dari dapur sembari membawa beberapa gelas minuman untuk mereka.
Rupanya gadis itu sudah tahu bahwa Dirga datang bersama seseorang hingga tanpa disuruh ia sudah menyiapkan minum untuk mereka.
"Adikku." Dirga memeluk erat Eliandra.
Mereka berdua saling melepas rindu setelah lama tak bertemu.
"Dia adiknya Dirga namanya Eliandra," ucap Athalia karena Michelle terus menatap Dirga dan Eliandra.
"Ya, Mas Dirga pernah cerita kalau dia punya adik perempuan," ucap Michelle.
"Aduh kakak, udah peluknya. Aku juga mau kenalan sama calon kakak iparku," ucap Eliandra.
Bersambung
__ADS_1