
Aby membersihkan sisa makanan yang menempel disisi bibir Mawar dengan tissue! Perlahan dia mengelap bibir itu dengan tatapan yang terus tertuju pada netra Mawar.
Mawar membalas tatapan Aby l, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Diraihnya tangan Aby yang masih asyik mengelus bibirnya!
"Terimakasih," ucapnya.
"Aku senang melakukan ini. Jangan berterimakasih," ucap Aby.
"Aku beruntung juga ya nikah sama kamu, diawal pernikahan kita, aku pikir aku tidak akan bertahan lama dalam pernikahan ini tapi ternyata aku salah, ternyata kamu adalah laki-laki yang sempurna yang mungkin saja sengaja Tuhan ciptakan hanya untukku," ucap Mawar yang masih menggenggam tangan Aby.
Aby menurunkan tangannya yang masih mengelus bibir Mawar lalu menggenggam erat tangan Mawar!
"Aku yang beruntung karena sudah dijodohkan dengan perempuan seperti kamu. Kamu baik, cantik dan kamu juga bisa menjaga kesucian diri kamu dari sentuhan orang lain, aku gak tahu apa yang akan terjadi kalau aku nikah sama Jingga."
"Kalau kamu menikah sama Jingga, kita tidak akan saling kenal, mungkin aku masih berjuang di kampung," ucap Mawar.
"Aku cinta sama kamu meski kamu wanita yang baru aku kenal setelah pernikahan kita terjadi tapi rasa cinta ini sangatlah besar melebihi cinta aku pada Jingga."
"Dah lah, jangan gombal," ucap Mawar sembari menarik tangannya.
"Aku serius, kamu jangan sedih lagi ya lagian mereka menyentuhmu cuma sedikit kan."
Mawar menatap Aby lalu mengangkat tangannya dan meraih dadanya. "Mereka terlalu menyakitiku, kalau aku melihat mereka lagi, aku ingin mematahkan tangannya."
Tiba-tiba mata Mawar berkaca-kaca, sedihnya kembali menghampirinya saat mengingat kelakuan para preman itu padanya.
"Jangan, biarkan Tuhan yang membalas mereka." Aby kembali memeluk Mawar dengan penuh kasih sayang.
Setelah kejadian yang menimpa Mawar, Aby menjadi begitu sayang pada istrinya karena ia tahu seperti apa kepribadian Mawar yang asli.
**********
Di kantor.
"Permisi, Pak," ucap Michelle setelah mengetuk pintu ruangan Pak Randy.
"Michelle, masuklah," ucap Randy yang melihat Michelle dari pintu yang hanya terbuka sedikit.
Michelle berjalan menghampiri Randy! Tak lupa ia menutup pintunya lagi saat akan melangkah menghampiri Pak Randy.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap Michelle.
"Ada yang menculik Mawar, saya berpikir penculikan ini ada hubungannya dengan Roger," ucap Randy.
"Saya akan mencari tahu. Sebenarnya tadi saya dari rumah Roger tapi saya tidak menemukan bukti apapun di sana, saya pikir saya harus menyelidiki laki-laki itu lebih lanjut lagi, akan membutuhkan waktu yang sedikit panjang karena di rumahnya tidak ada bukti apapun jadi, saya harus menyelidiki dia di luar," jelas Michelle.
"Terserah kamu yang penting semua terungkap. Saya tidak mau ada orang yang terus mengancam keselamatan keluarga saya," ucap Randy.
"Baik, Pak. Tugas ini akan saya kerjakan secepat mungkin."
Randy mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan Michelle.
"Pak, kalau begitu saya permisi," ucap Michelle.
"Silahkan," ucap Randy.
__ADS_1
Michelle bangkit dari duduknya dan mulai melangkah pergi!
"Tunggu Michelle!" ucap Randy berusaha menghentikan langkah gadis itu.
"Iya, Pak ada apa?" ucap Michelle setelah menghentikan langkahnya.
"Ini." Randy menyodorkan sebuah amplop berisi uang! "Ambilah, ini untuk keperluan kamu," ucapannya lagi.
"Tapi Pak, pekerjaan saya belum selesai saya tidak mungkin menerima bayaran lagi tanpa hasil maksimal," ucap Michelle.
"Ambil saja, anggap saja ini uang tambahan untuk kamu beli bensin. Kamu kemana-mana pakai kendaraan kan dan kendaraan butuh bensin agar dia bisa jalan."
Michelle tersenyum lalu menerima uang itu. "Terimakasih, Pak."
"Ya, sama-sama."
Michelle pun segera melanjutkan langkahnya lagi pergi dari ruangan itu!
Saat ia berjalan melewati pintu ruangan Dirga, Dirga keluar dari sana dan berdiri di depan pintu itu.
Michelle tersenyum ramah tapi tak berucap padanya.
"Michelle," ucap Dirga karena gadis itu terus berjalan melewatinya.
"Ya, ada apa?" sahut Michelle.
"Kamu mau kemana?"
"Mau pulang. Aku baru saja bertemu dengan Pak Randy," jelas Michelle.
"Silahkan, mau bicara apa?"
"Kita bicara di sana saja." Dirga menunjuk pada sebuah kursi yang ada di depan pintu masuk Kantornya.
"Boleh," ucap Michelle sembari berjalan ke arah kursi itu.
**********
Di rumah Yura.
"Yura, kamu kenapa berantakan seperti itu?" ucap Mamanya Yura.
"Tadi abis lomba lari," sahut Yura berbohong.
"Ya ampun Yura, kamu ini gimana kalau mau lomba lari pakai baju olahraga dong, jangan pakai dress kayak gini."
"Iya Ma, tadi aku gak ada rencana dari awal. Ya udah ya Ma, aku capek mau istirahat dulu." Yura berjalan memasuki kamarnya.
**********
"Aku boleh manggil kamu dengan sebutan Mas gak?" tanya Mawar.
"Terserah kamu asal jangan panggil Pak aja," sahut Aby.
Mawar tersenyum lalu berkata. "Terimakasih."
__ADS_1
"Kerjaannya berterimakasih terus, gak ada yang lain apa."
"Hari ini aku sangat lelah, mungkin besok akan sangat lelah karena aku akan ditendang dari kampus," ucap Mawar.
Aby menatap Mawar karena tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Mawar.
"Sebenarnya yang tadi menculik aku itu orang suruhannya Yura," ucap Mawar tanpa ditanya oleh Aby.
"Maksud kamu?" tanya Aby yang masih belum mengerti dengan perkataan Mawar.
Mawar mulai menceritakannya permasalahan antara Yura dan dirinya dari awal ia masuk ke kampus itu sampai hari ini.
"Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kamu punya masalah dengan mahasiswa di sana?" ucap Aby yang merasa marah karena Mawar tak mendapatkan perlakuan baik dari teman barunya.
"Aku pikir dia gak akan senekat ini padahal aku juga gak pernah merespon Galaxi."
"Besok aku akan datang ke kampus."
"Mau ngapain?"
"Mau meluruskan permasalahan diantara kalian. Kemarin teman kamu sudah ditelanjangi, dia pasti bawa orang tuanya dan kuasa hukumnya untuk menuntut kamu," ucap Aby.
"Nah itu dia yang aku takut tapi aku masih memegang bukti kalau dia yang mulai duluan. Mereka merekam kelakuannya yang gila saat menindasku dan sekarang video itu ada padaku," ucap Mawar.
"Serius? Aku penasaran apa yang mereka lakukan padamu. Boleh aku melihatnya?"
"Boleh tapi nanti."
**********
Michelle duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Dirga!
Saat Dirga berjalan ke arah Michelle tiba-tiba dia bertabrakan dengan salah seorang karyawan di sana hingga lukanya yang masih basah berdarah lagi.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja," ucap seseorang yang menabraknya.
"Tidak apa-apa, tenang saja," ucap Dirga, tanpa ia sadari darah sudah membasahi bajunya.
"Pak, Anda berdarah," ucap karyawan itu. Karena ia tak merasa membawa senjata tajam, ia langsung panik dan ketakutan.
Dirga menatap dadanya lalu segera menutupnya dengan telapak tangannya.
"Ah, Michelle kita bicaranya nanti saja. Aku pergi dulu," ucap Dirga lalu segera pergi memasuki ruangannya karena tak ingin membuat kehebohan di sana.
"Astaga lukanya lama sekali sembuhnya. Udah berapa hari dari kejadian itu," batin Michelle.
Karena khawatir, Michelle pun berjalan cepat menyusul Dirga.
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi pada Pak Dirga?"
"Apa yang kamu lakukan padanya sampai Pak Dirga berdarah gitu?"
Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang karyawan di sana ucapkan pada seorang karyawan yang bertabrakan dengan Dirga.
__ADS_1