
Setelah memastikan Mawar tidak memerlukan penanganan lebih lanjut lagi dari tim medis, Aby langsung membawanya pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Setibanya di rumahnya Aby tak membiarkan Mawar berjalan sendiri dari mobil sampai tiba di kamarnya.
Seolah takut istri dan bayinya celaka, Aby memangku tubuh Mawar sampai tiba di dalam kamarnya.
"Istirahat ya sayang," ucap Aby sembari membaringkan tubuh Mawar di atas tempat tidurnya.
Saat Aby hendak beranjak dari sana Mawar malah mengalungkan tangannya di leher Aby dan menahan suaminya agar tetap pada posisi seperti itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Mawar dengan gaya manjanya.
"Aku mau ambil makan buat kamu, kamu harus minum obat dari Dokter," ucap Aby sembari menatap tubuhnya agar tak sampai menindih tubuh Mawar.
"Aku tidak butuh obat dari Dokter, aku butuh kamu," ucap Mawar lagi.
"Aku ada di sini untuk kamu."
"Bayi ini ingin dimanja, peluk aku," ucap Mawar sembari menekan tangannya yang melingkar di leher Aby agar Aby mendekat padanya.
Aby tersenyum lalu memeluk Mawar!
"Sudah dipeluk, sekarang apa lagi hmm?"
"Cium." Mawar memanyunkan bibirnya ke arah bibir Aby.
Aby tertawa kecil melihat tingkah Mawar yang tak seperti biasanya.
"Ayo cium aku, Mas," ucap Mawar dengan sedikit merengek.
Aby pun tak bisa menolak permintaan sang istri selain karena sebenarnya dirinya juga ingin melakukan ciuman itu dirinya juga takut itu memang benar-benar keinginan bayi.
"Udah dicium, sekarang aku boleh pergi?" ucap Aby.
"Boleh tapi jangan lama. Lima detik aja."
"Lima detik cuma cukup buat aku bangkit dari sini. Sepuluh menit ya," ucap Aby.
"Masa sepuluh menit? Lama banget," ucap Mawar cemberut.
"Iya deh aku lari dari sini ke dapur paling lima menit."
__ADS_1
Mawar mengerahkan pegangannya pada Aby seolah tak rela melepaskan sang suami.
**********
Di kediaman Randy.
"Papa lagi ngapain tumben jam segini belum masuk kamar?" ucap Naysa yang melihat Randy masih wara-wiri di ruang keluarga.
"Nasya, kamu bikin kaget aja," ucap Randy.
"Lagi ngapain? Papa mencurigakan tahu gak," ucap Nasya lagi.
"Besok hari ulang tahun Mama, ini Papa lagi menyiapkan kejutan untuk Mama."
"Kejutan apa?" Nasya menatap Randy dengan tatapan matanya yang tak berkecip sekalipun.
"Papa lagi menghubungi orang-orang yang terlibat dalam rencana ini. Besok akan ada kejutan pesta untuk Mama."
"Pesta dimana?"
"Di restoran favorit Mama."
"Ada tapi bagian kamu besok aja. Tidur sana karena Papa lagi sibuk," ucap Randy.
Nasya tersenyum lalu mencium pipi Papa tercintanya itu. "Papa emang suami yang baik untuk Mama dan Papa yang hebat untuk aku dan kakak. Selamat malam Pa, aku tidur duluan."
Gadis yang masih duduk di kelas dua belas itu pun langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu, Randy langsung melanjutkan urusannya. Ia sedang memantau orang-orang yang kini sedang menyiapkan tempat akan diadakannya pesta ulang tahun sang istri.
*********
Di kediaman Dirga.
Malam ini Dirga sudah bersiap untuk pergi, dia handak menemui Michelle di suatu tempat.
Di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya.
Dirga menyisir rambutnya lalu metalik bajunya.
"Udah gini aja deh, udah ganteng belum ya?" batin Dirga.
__ADS_1
Pemuda itu mengusap rambut yang menjuntai di keningnya agar bersatu dengan berambut lainnya yang sudah rapi.
Setelah merasa penampilannya sudah oke, ia pun langsung bergegas pergi!
*********
"Udah," ucap Mawar.
"Sedikit lagi saja masa kamu makan sedikit banget nanti bayi kita kurus," ucap Aby mencoba merayu Mawar.
"Udah, aku gak bisa lagi menelan nasi ini," ucap Mawar dan tak lama dia merasakan mual.
Ueek!
Ueek!
Mawar merasa ada yang mengocok perutnya hingga ingin memuntahkan semua isi perutnya.
"Sayang," ucap Aby sembari mengelus punggung Mawar.
"Aku gak mau makan lagi," ucap Mawar.
"Iya-iya kamu udah segitu aja makannya ya." Aby menyodorkan minum kepada Mawar.
"Obatnya mana?" ucap Mawar setelah minum.
"Iya, sebentar ya akan aku ambilkan," ucap Aby sembari meraih obat yang terletak di atas meja.
Aby pun langsung memberikannya Mawar obat agar tak merasakan mulal lagi.
Setelah itu Mawar yang merasa lemas memilih menyandarkan kepalanya tepat di dada sang suami dengan sebelah tangannya yang melingkar di perut sang suami.
"Aku rasa aku tidak memiliki tulang, lemas banget," ucap Mawar.
"Serius? Sayang aku harus apa? Kamu jangan sakit, aku gak bisa liat kamu seperti ini," ucap Aby.
Aby mengeluh kepala Mawar dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mawar membuka kancing baju Aby dan mencium aroma wangi tubuh Aby yang belum mandi. Meski laki-laki itu belum mandi setelah seharian bekerja tapi tubuhnya masih wangi hingga Mawar nyaman mencium aroma tubuh sang suami.
Bersambung
__ADS_1