
Selama berada di villa Sentul, Gilang, sering menelpon Cilla, ataupun melakukan video call, untuk bisa mengetahui kabar dan juga mengobrol dengannya, juga dengan Aji, anaknya.
"Ma. Tumben hari ini papa belum telpon ya?"
Aji, yang hapal jam-jam tertentu saat Gilang menelpon, bertanya pada mamanya.
"Mungkin papa sekarang lagi sibuk, atau ada meeting dengan karyawannya, atau bisa juga dengan rekan kerja lainnya."
Cilla memberikan penjelasan pada Aji, agar Aji bisa paham dengan kesibukan papanya.
"Papa pasti capek ya Ma, kerja terus, mikir terus," kata Aji membayangkan papanya, Gilang, yang sedang bekerja sehari-hari.
"Semua orang yang bekerja pasti capek Sayang. Bibi mengurus dan menyiapkan makanan juga capek. Makanya, kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang disediakan oleh bibi. Aji juga capek gak, sewaktu mengurus jualan online kemarin itu?"
Cilla memberiakan beberapa contoh pada Aji, tentang capeknya orang yang sedang bekerja.
"Iya. Capek juga Ma. Bahkan Aji sempat masuk ke rumah sakit kan dulu?" kata Aji mengingatkan mamanya.
"Iya bener itu. Makanya, selain bekerja, Kita juga harus menjaga kesehatan, dengan beristirahat yang cukup."
Cilla kembali memberikan penjelasan pada anaknya, agar dia paham dan mengerti, bagaimana susahnya orang-orang yang bekerja seharian.
"Mama juga capek ya, dulu sewaktu masih kerja di toko?" tanya Aji lagi.
"Ya tentu saja Sayang. Tapi Mama seneng kalau sudah sampai di rumah. Bisa lihat Aji sehat, tersenyum, itu sudah bisa membuat mama tidak lagi merasa capek," jawab Cilla, kemudian memeluk anaknya, Aji.
Agak siangnya, ada beberapa pembantu rumah datang. Mereka membawa beberapa peralatan dan hiasan untuk di gunakan sebagai hiasan untuk pesta ulang tahun Aji nanti malam.
"Papa mana Om?" tanya Aji pada salah satu orang yang ikut datang.
"Tuan muda, Papanya den Aji, masih kerja. Mungkin nanti sore baru datang."
Orang yang dipanggil oleh Aji dengan sebutan Om, adalah supir rumah, yang kemarin itu membawa mobil, untuk barang-barang yang dibawa ke panti asuhan.
"Oma?" tanya Aji lagi. Dia menanyakan keberadaan mami Rossa.
"Nyonya pergi sedari pagi. Mungkin kalau urusannya sudah selesai, segera datang. Atau bisa jadi sekarang sudah ada di perjalanan menuju ke sini."
"Hem..."
Aji berguman tidak jelas. Setelah itu, dia mencari mamanya.
"Ma. Mama!"
Aji memanggil-manggil mamanya. Tapi, mamanya tidak menyahut juga. "Mama kemana ya?" tanya Aji dalam hati.
"Bi. Lihat mama?" tanya Aji, pada bibi yang dia temui di dapur.
__ADS_1
"Kayaknya tadi masuk ke dalam kamar Den," jawab bibi pembantu.
"Oh. Terima kasih Bi," kata Aji, kemudian berlalu menuju ke kamarnya.
"Ma. Mama?" panggil Aji lagi.
"Ya Sayang. Mama ada di dalam!"
Cilla menyahut panggilan Aji, dari dalam kamar. Aji, masuk dan menemukan mamanya yang sedang berbaring.
"Mama kenapa?" tanya Aji, saat melihat mamanya yang sedang berbaring.
Aji tidak pernah melihat mamanya tidur jika belum waktunya tidur siang. Dan sekarang, bukan waktunya tidur siang, sebab, bibi pembantu, baru saja menyiapkan makan siang nanti.
"Mama pusing Sayang. Jadi mama tiduran saja."
"Oh. Mama pusing kenapa?" tanya Aji ingin tahu. Dia jarang mendengar namanya mengeluh karena pusing.
"Mama sedang dapat tamu. Jadi mama agak pusing," jawab Cilla memberitahu Aji.
"Tamu? Tamu yang datang tadi kan semuanya pembantu rumah Oma. Ada di luar Ma," kata Aji heran dengan jawaban mamanya tadi.
"Bukan. Bukan itu maksud Mama. Mama dapat siklus bulanan, jadi badan Mama merasa agak pusing. Aji mau ikutan tidur sini?"
Cilla mencoba menjelaskan pada Aji, tentang apa yang dia rasakan saat ini. Tapi sepertinya, Aji masih terlalu kecil, untuk bisa paham apa yang dia katakan barusan.
"Ambil di laci Sayang. Tadi juga kayaknya ada telpon. Tapi Mama belum sempat lihat."
Aji menuju laci meja yang ada di samping tempat tidur. Dia membukanya dan mengambil handphone miliknya. Dia juga mengambil handphone milik mamanya, kemudian melihat siapa yang menelepon mamanya tadi.
"Oma Ma," kata Aji memberitahu mamanya.
"Coba telpon balik Sayang. Ada apa Oma menelpon?"
"Ya Ma," jawab Aji sambil menekan tombol untuk memanggil nomor handphone omanya.
..."Halo Cilla!"...
..."Oma, ini Aji."...
..."Eh, Sayang. Mama mana?" ...
..."Mama lagi pusing. Katanya baru dapat tamu bulanan."...
..."Oh, begitu ya. Pantes tidak diangkat tadi."...
..."Ada apa Oma?" ...
__ADS_1
..."Oh. Tidak apa-apa Sayang. Tadi Oma cuma mau kasih kabar, kalau Oma sudah ada di jalan menuju villa."...
..."Beneran Oma? Asyek..." ...
..."Aji mau dibawakan apa?" ...
..."Tidak ada Oma. Aji hanya kangen sama Oma."...
..."Aduh... Cucu Oma, manis sekali!"...
..."Oh ya. Tolong bilang sama Mama, nanti Oma bawakan obat buat mama ya!"...
..."Iya Oma."...
Sambungan telepon Aji dengan mami Rossa terputus. Aji tersenyum senang, sebab omanya itu akan segera datang.
"Ma. Oma sudah ada di jalan menuju ke villa ini. Nanti Oma akan bawakan juga obat untuk Mama."
Aji memberitahu pada mamanya, Cilla, tentang apa yang dikatakan oleh mami Rossa tadi.
"Iya Sayang. Terima kasih ya. Mama mau tidur lagi. Aji kalau mau ikut tidur sini," kata Cilla, sambil menepuk-nepuk tempat tidur disampingnya.
"Aji mau keluar saja. Mau lihat om-om dan bibi yang sibuk di luar."
"Ya. Jangan rewel dan buat kekacauan ya!"
"Ya Ma," jawab Aji pendek.
Tak lama Aji sudah ada diluar lagi. Dia sedang memperhatikan orang-orang yang sibuk menghias villa untuk acara nanti malam.
"Den Aji mau susu?" Bibi menawari Aji.
"Tidak Bi. Terima kasih. Nanti, kalau Aji mau, bisa buat sendiri kok," jawab Aji, menolak tawaran bibi.
"Atau mau puding?" tanya bibi, menari lagi.
"Boleh, tapi jangan terlalu banyak ya Bi," jawab Aji mengiyakan tawaran bibi.
Kini Aji makan puding, sambil membuka handphone miliknya, di meja makan. Dia sendirian, karena bibi melanjutkan pekerjaannya.
Aji membuka-buka informasi tentang tamu bulanan yang tadi dikatakan oleh mamanya. Dia merasa belum paham dengan keterangan yang diberikan oleh Cilla, mamanya.
"Oh. Jadi tamu bulanan itu hanya datang pada cewek. Tidak terjadi pada cowok ya," Aji berkata sendiri, setelah membaca artikel tentang tamu bulanan yang tadi dikatakan oleh mamanya.
"Wah. Ternyata susah juga jadi cewek. Tiap bulan harus menderita karena datang bulan. Apalagi ada juga yang sampai pingsan karena sakit yang luar biasa."
Aji terus membaca artikel tersebut. Dia kini menjadi semakin Sayang pada mamanya.
__ADS_1
"Kasihan Mama. Tiap bulan harus merasa pusing karena datang bulan. Tapi mama kuat ya, bisa tetap tersenyum terus meskipun sedang merasa pusing."