Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kado Buat Aji


__ADS_3

Pesta sudah selesai. Para tamu undangan juga sudah kembali ke Jakarta lagi. Tinggal tuan rumah dan para pembantu yang masih tinggal di villa Sentul.


Mami Rossa, meminta kepada seluruh pembantu rumah, untuk membersihkan sisa-sisa pesta besok pagi saja. Dia tahu, jika semua orang pasti capek setelah pesta ini, begitu juga pembantu-pembantunya, yang sudah bekerja keras, dalam suksesnya acara malam hari ini.


"Sudah Bi, Pak, besok lagi beres-beresnya. Kalian pasti juga capek. Biarin saja, tinggalkan saja," kata mami Rossa, meminta para pembantunya untuk beristirahat.


"Iya Nyonya. Tapi nangung ini. Kalau yang berat biar besok lagi."


"Ya sudah kalau begitu. Yang penting, kalian semua juga harus segera beristirahat dan pergi tidur!" kata mami Rossa mengingatkan.


Semua pembantu, mengangguk patuh. Mami Rossa kembali lagi ke dalam kamarnya. Tapi begitu sampai di dalam kamar, dia menemukan Cilla yang sedang bingung karena mau memindahkan Aji ke kamarnya sendiri.


"Kenapa Cilla?" tanya mami Rossa ingin tahu, apa yang membuat Cilla kebingungan.


"Ini Mi," kata Cilla, menunjuk Aji yang sedang tidur, sambil memeluk kado besar yang belum dibuka.


"Oh, itu tadi dari Mami. Tapi kata Aji, tidak mau buka, nanti saja sama mama, katanya." Mami Rossa memberitahu pada Cilla dengan kotak kado yang ada disebelah Aji.


"Oh... Cilla pikir, Aji tidak mau lepas dari kotak kado itu," kata Cilla dengan tersenyum tipis, karena perkiraannya salah.


"Honey... Mami!"


Dari arah luar kamar, Gilang memanggil-manggil Cilla dan mami Rossa.


"Kami ada di dalam kamar," jawab mami Rossa.


"Oh, kirain pada kemana," kata Gilang dengan tersenyum lega. Dia masuk, kemudian duduk di kursi, yang ada di dekat ranjang kamar mami Rossa.


"Ada apa dengan Aji, Honey?" tanya Gilang pada Cilla, tentang Aji yang sedang tidur tapi memeluk kotak kado yang besar.


"Aku mau pindahan Aji ke kamarku, tapi dia sedang memeluk kado dari mami. Aku takut jika dia terbangun dan mencari kado itu," jawab Cilla dengan wajah cemas.


"Tadi dia tidak mau buka kado itu lebih dulu," kata mami Rossa.


Akhirnya, mami Rossa menjelaskan pada Gilang, jika tadi Aji, bilang pada mami Rossa, akan membuka kado itu bersama-sama dengan papa dan juga mamanya.


"Hem... gini saja, Aku pindahin Aji ke kamar. Honey, Kamu bawa kadonya. Nanti kalau paginya dia bangun panggil Aku, nanti kita bisa ikut lihat sewaktu dia buka kado itu. Iya kan Mi?"

__ADS_1


Gilang memberikan usulan pada Cilla. Dia juga meminta pendapat pada mami Rossa, bagaimana sebaiknya.


"Iya begitu juga boleh. Atau kamu yang tidur di kamar ini, dan Mami yang tidur di kamar kamu? Tapi, Gilang tetap tidur di kamarnya sendiri!" Mami Rossa memberikan usulan yang lain.


"Bagaimana ya...?" Cilla mencoba untuk berpikir.


"Bagaimana kalau kita tidur rame-rame saja Mi? Kan tempat tidur Mami juga besar. Mami dan Cilla tidur di ranjang, barengan sama Aji, aku tidur di sofa itu, atau bisa gelar karpet juga?"


Gilang mencoba memberikan jalan tengah. Dia juga tidak bisa tidur sendiri, jika hatinya masih ingin terus bersama dengan Cilla.


"Ih Kamu ini! Tidak-tidak. Kami akan tidur bareng, tapi Kamu tetap tidur di kamar sendiri," kata mami Rossa menolak usulan anaknya itu.


"Hahaha.. aman-aman Mi," kata Gilang membela diri.


"Tidak-tidak. Kamu harus sabar Gilang. Tidak lama juga ihs!" Mami Rossa, tetap menolak usulan dari Gilang.


Cilla hanya tersenyum geli, melihat perdebatan antara mami Rossa dan calon suaminya itu, Gilang.


"Honey, bantuin rayu mami ya," pinta Gilang pada Cilla.


Tapi sepertinya, Cilla juga sepemikiran dengan mami Rossa. Dia mengeleng dengan usulan tersebut. Dia tidak mau, jika ada sesuatu yang nantinya bisa terjadi, meskipun ada mami Rossa dan juga Aji di kamar ini. Apalagi jika ada orang lain yang melihatnya. Bisa dipastikan jika akan ada omongan yang tidak enak untuk didengar, sebagai bahan gosip dan bisa menjadi fitnah juga.


"Iya deh, nurut."


Akhirnya, Gilang keluar dari dalam kamar mami Rossa dengan wajah lesu dan menunduk.


Di dalam kamar, mami Rossa dan Cilla melakukan tos bersama. Mereka berdua tersenyum geli, melihat kepergian Gilang, yang seperti orang sedang kalah perang.


"Sama Gilang itu harus lunak dan lembut, tapi juga harus bisa tegas juga Cilla. Ingat itu ya!" kata mami Rossa mengingatkan Cilla.


"Iya Mi," jawab Cilla dengan tersenyum tipis.


*****


Pagi harinya, Aji bangun terlebih dahulu sebelum mami Rossa dan mamanya, Cilla. Dia melihat sekeliling, dan ternyata dia ingat, jika ini adalah kamar omanya. Dia juga melihat jika omanya dan mamanya masih tertidur.


"Berarti, mama ikut tidur di kamar Oma," kata Aji dalam hati.

__ADS_1


"Kadoku?"


Aji tidak menemukan kotak kado miliknya yang semalam. Dia kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Saat menemukan kotak kado ada di atas meja, Aji tersenyum sendiri. Dia merasa tidak sabar ingin membukanya segara.


"Tapi mama masih tidur. Pasti papa juga masih tidur di kamarnya," kata Aji lagi, pada dirinya sendiri.


"Ma. Mama..."


Aji, mencoba untuk membangunkan mamanya. Dia menggoyang-goyangkan tubuh mamanya, agar cepat terbangun.


"Hem..."


Cilla belum sadar betul dari tidurnya, saat merasa jika ada seseorang yang mengguncangnya.


"Ma. Sudah pagi," kata Aji memberitahu.


"Hem... sudah pagi ya," kata Cilla, dengan membuka matanya perlahan-lahan.


"Pagi Sayang," kata Cilla, begitu matanya sudah benar-benar terbuka lebar.


"Kenapa Mama ikut tidur di kamar oma?" tanya Aji ingin tahu.


"Mama mau pindahin Aji ke kamar, tapi oma dan papa usul jika Mama saja yang ikut tidur di sini," jawab Cilla memberitahu anaknya, Aji.


"Oh. Aku pikir karena Mama takut tidur sendiri di villa ini. Hehehe..." l kata Aji dengan terkekeh geli.


"Hush. Apa sih!"


Cilla menutup mulutnya sendiri, dan Aji juga melakukan hal yang sama.


"Kita bangunkan oma dulu, atau kita pindah ke kamar kita Sayang?" tanya Cilla pada Aji.


"Mama bangunkan oma dulu, biar tidak mencari-cari kita nanti. Aku akan pergi untuk membangunkan papa. Aku mau buka kado dari oma, bareng sama Mama dan juga papa. Di kamar ini juga tidak apa-apa."


"Baiklah. Ayuk!"

__ADS_1


Mereka berdua, berbagi tugas. Cilla membangunkan mami Rossa, sedangkan Aji, keluar dari kamar, menuju ke arah kamar papanya, Gilang. Dia akan membangunkan papanya, agar bisa ikut membuka kotak kado yang besar, kado dari omanya. Mami Rossa.


Aji sudah tidak sabar ingin melihat, kado apa yang diberikan oleh omanya, mami Rossa, untuk hadiah ulang tahunnya yang ke lima.


__ADS_2