
Dari luar rumah, terdengar suara-suara orang yang sedang mengobrol, sehingga Aji mencoba untuk menajamkan pendengarannya. Dia juga melihat ke arah ayah Sangkoer Singh, untuk memastikan jika tebakannya tadi memang benar. Tapi, ayah Sangkoer Singh, tidak sedang melihat kearahnya saat ini.
"Ayok," ajak ayah Sangkoer Singh, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Dia mengajak Aji, untuk keluar rumah dan menyambut tamu yang sudah datang.
Aji pun menurut. Dia ikut berdiri dan berjalan menyusul langkah ayahnya, yang sudah melangkah terlebih dahulu tadi.
Saat pintu di buka tuan besar Sangkoer Singh, tampak tamu yang datang membawa koper dan juga tas jinjing.
"Mama!" sapa Aji kaget dengan kedatangan mamanya, mama Cilla.
"Sayang," sapa mama Cilla, kemudian memeluk anaknya, Aji. Dia menitikkan air mata haru, karena sudah lama tidak berjumpa dengan anaknya itu. Meskipun sebulan yang lalu, saat Vijay Singh meninggal, mama Cilla dan papa Gilang juga ikut datang datang ke India, tapi rasakan itu sudah sangat lama sekali. Sama lamanya, seperti keberadaan Aji selama di India ini.
"Sebuah kejutan yang manis," kata ayah Sangkoer Singh, kemudian menyalami papa Gilang dan memeluknya ala laki-laki. Ternyata papa Gilang, juga ikut datang bersama dengan istrinya, mama Cilla.
Mereka berdua, di undang khusus untuk datang ke India, oleh tuan besar Sangkoer Singh, karena tahu jika Aji dan Elisa sedang merindukan mereka. Tuan besar Sangkoer Singh, ingin memberi hadiah kejutan pada anak dan menantunya itu dengan kedatangan kedua orang tua mereka dari Indonesia. Mungkin, jika bapaknya Elisa masih ada, dia juga akan ikut di ajak ke India. Sayangnya, bapaknya Elisa, sudah meninggal dunia.
Aji berganti memeluk papanya, setelah melepas pelukannya pada mama Cilla. Dia juga merindukan papanya. Papa Gilang, yang selalu mendukungnya selama ini.
Sebuah kejutan yang benar-benar tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia pikir, sebelum mendengar percakapan di luar tadi, tamu yang dimaksud oleh ayah angkatnya itu adalah para petinggi perusahaan, yang akan membahas masalah saham serta modal usaha yang akan dikembangkan lagi menjadi sebuah pabrik atau usaha lainnya. Ternyata, diluar dugaan Aji sendiri. Dia ingin segera membangun Elisa, agar bisa ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini dia rasakan.
"Aji ke kamar dulu Ma. Mau bangunin Elisa. Dia baru saja tertidur. Maklum, hamil tua membuatnya kesusahan saat mau tidur," pamit Aji pada mama Cilla.
"Biar Mama yang bangunkan dia. Dia pasti akan terkejut dan senang dengan kejutan Mama juga."
Mama Cilla, justru mempunyai keinginan untuk membangunkan sendiri menantunya itu. Dia ingin melihat ekspresi wajah Elisa sekarang, yang sedang hamil tua dan kaget dengan keberadaan dirinya malam ini di rumah tuan besar Sangkoer Singh. Mungkin saja, Elisa akan berpikir jika dia sedang bermimpi. Mama Cilla, jadi tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana Elisa saat bangun nanti.
Aji hanya mengangguk, menyetujui usulan dari mamanya. Dia akhirnya mengantarkan mama Cilla sampai di dalam kamar. Dia ikut menunggu, sampai istrinya itu terbangun.
"El. Sayang, bangun. Ini Mama datang Sayang." Mama Cilla, mengusap-usap lengan menantunya, supaya cepat terbangun.
Elisa tampak menggeliat. Dia mengubah posisi tidurnya yang miring, untuk berganti posisi ke arah yang lain, masih dengan posisi miring juga. Dia tidak mungkin telentang karena itu akan membuatnya susah bernafas, akibat perutnya yang sudah membesar.
"Elisa Sayang, mama Cilla ini," kata mama Cilla, berusaha untuk membangunkan Elisa sekali lagi.
__ADS_1
"Kakak. Mama kok datang di mimpi Elisa. Apa dia ingin datang ke sini ya? mau lihat cucunya lahir nanti," tanya Elisa pada Aji, tapi masih dalam keadaan terpejam. Dia pikir, dia sedang bermimpi dan menanyakan tentang mimpi itu pada suaminya.
"El, ini bukan mimpi."
Mama Cilla yang menjawab pertanyaan dari mimpi Elisa.
Elisa mencoba membuka mata. Dia menajamkan pendengarannya dan juga penglihatan matanya, supaya cepat sadar dari mimpi dan tidurnya.
Saat Elisa benar-benar sudah sadar jika ini bukan sebuah mimpi, dia berusaha untuk bangun dari tidurnya. "Kakak," panggil Elisa, sambil melihat ke arah suaminya yang ada di samping mama Cilla.
"Mama. Ini benar-benar Mama?" tanya Elisa, saat Aji membantu dirinya bangun dari posisi tidur.
Mama Cilla menggangguk sambil menepuk-nepuk punggung tangan Elisa. "Iya ini Mama datang Sayang," jawab mama Cilla dengan wajah berseri-seri. Dia merasa sangat senang bisa melihat menantunya itu dalam keadaan sehat meski perutnya, membuatnya kesusahan untuk bergerak.
Elisa dan mama Cilla berpelukan. Mereka menangis bersama dengan rasa haru yang datang. Menumpahkan rasa bahagia yang sedang mereka rasakan saat ini.
Diam-diam, Aji juga ikut menitikkan air mata haru, melihat Elisa, istrinya, yang berpelukan dengan mamanya. Mereka berdua, adalah wanita-wanita yang dia sayangi, termasuk Jeny, adik perempuannya yang sedang hamil lagi saat ini.
"Bagaimana kabar Mama?" tanya Elisa, begitu pelukannya terlepas.
"Sehat kok Ma. Cucu Mama juga sehat, sering nendang-nendang juga. Hehehe..."
Mama Cilla, ikut tertawa senang mendengar jawaban dari Elisa. Dia juga mengelus-elus perut Elisa, menyapa cucunya yang masih berada di dalam perut menantunya itu.
"Sayangnya Oma, Kamu sehat-sehat ya di dalam. Semoga lahir nanti sehat, lengkap dan normal. Mama Kamu ingin, bisa merasakan jadi ibu yang sempurna dengan melahirkan secara normal."
Mama Cilla berkata, seperti sedang berbicara pada bayi yang ada didepannya saja. Padahal, hanya perut Elisa yang dia pegang.
Tapi, saat ada pergerakan dari dalam perut Elisa, mama Cilla terkejut. Dia tertawa senang karena merasa jika, cucunya itu benar-benar mendengarkan perkataannya tadi.
"Wah, dia benar-benar menendang ya El. Pasti kandang-kandang sakit?"
Elisa, hanya mengangguk sambil nyengir, karena saat ini, pergerakan bayi yang ada di dalam perutnya semakin kencang.
__ADS_1
Aji, yang melihat keadaan Elisa jadi merasa khawatir. Dia pikir Elisa sedang kesakitan karena mau melahirkan.
"Sayang, apa ini sudah waktunya?" tanya Aji, yang lupa jika waktu perkiraan Elisa melahirkan masih dua minggu lagi.
"Belum Kak, masih lama," jawab Elisa sambil nyengir, menahan perutnya yang sedang kencang akibat pergerakan anaknya.
"Mungkin hanya mules atau apa itu yang kontraksi palsu?" tanya mama Cilla, berargumen dengan apa yang dirasakan oleh Elisa saat ini.
"Braxton Hicks Ma. Kontraksi palsu yang sering terjadi, dan ini normal terjadi pada wanita hamil yang sudah mendekati masa persalinan. Tapi tidak bisa diabaikan juga, karena itu tanda-tanda jika waktunya melahirkan semakin dekat," jawab Aji, menjelaskan pada mama Cilla.
Mama Cilla, melihat Elisa yang sudah tidak lagi meringis kesakitan seperti tadi. Dia akhirnya mengajak Elisa untuk keluar dari kamar, melihat papa Gilang yang ikut datang juga bersamanya tadi.
"Jadi papa juga ikut Ma?" tanya Elisa memastikan.
"Iya, papa ikut juga. Tuan besar Sangkoer Singh, mengatakan jika Kamu mau melahirkan dan ingin kami ikut menunggu juga, jadi papa menyelesaikan semua pekerjaan yang ada di kantor secepatnya dan menyerahkan pada asistennya. Dia begitu bersemangat, untuk bisa datang dan melihat cucunya lahir."
Mama Cilla juga bercerita, tentang Biyan dan kembarannya Vero, yang tadinya mau ikut datang juga ke India. Sayangnya, Vero dan Biyan sedang mengahadapi ujian akhir seminggu lagi, jadi mereka berdua tidak jadi ikut.
Aji, jadi ingin bertanya pada mamanya, tentang perkembangan Biyan yang sedang berobat. Tapi akhirnya tidak jadi. Aji lupa, jika dia masih pura-pura tidak tahu, tentang masalah kelainan yang diderita adik kembarnya itu. Terutama Biyan. Dia hanya bisa mengikuti perkembangan Biyan dari jejak media sosial milik Biyan yang terlihat normal-normal saja selama dia tinggal.
Suasana di ruang tamu, menjadi ramai. Elisa menyalami papa Gilang, kemudian memeluknya sebentar, karena perutnya sedang terasa di tendang dari dalam lagi.
"Ouwwww..."
Elisa meringis dan memegang perutnya. Aji, yang merasa khawatir, segera menuntun Elisa agar duduk di sofa.
"Kenapa dia Aji?" tanya papa Gilang, yang ikut melihat Elisa meringis kesakitan. Dia pikir, menantunya itu akan segera melahirkan.
"Mungkin cucu Papa ingin menyapa opanya juga," jawab Aji dengan bergurau, yang membuat semua orang tertawa senang, mendengar jawabannya tadi.
Begitu juga dengan Elisa yang ikut tersenyum bahagia, mendapatkan kejutan malam ini. Dia tersenyum dan mengangguk ke arah ayah Sangkoer Singh, menyatakan terima kasih atas semua yang sudah dia lakukan untuk kebahagiaannya kali ini.
Aji juga melakukan hal yang sama seperti Elisa. Dia menggenggam tangan istrinya, sambil tersenyum melihat ke arah ayah angkatnya itu.
__ADS_1
Tuan besar Sangkoer Singh, hanya mengangguk saat melihat Elisa dan Aji tersenyum ke arahnya. Dia merasa jika usahanya itu berhasil. Dia berharap, Elisa akan melahirkan dengan semangat yang baru, karena adanya papa Gilang dan mama Cilla, yang ikut menungguinya nanti.