
Seminggu sudah Elisa ada di Indonesia. Dia merawat Ka Singh sendiri, tanpa baby sitter. Jika dia sedang repot, paling cuma minta tolong pada bibi pembantu atau mama mertuanya, yaitu mama Cilla.
Aji, disibukkan dengan mengejar skripsi akhirnya, supaya bisa ikut wisuda tahun ini. Jadi, dia bertambah sibuk lagi dengan seringnya dia ke Tangerang untuk memantau pembangunan Mension ayah Sangkoer Singh, yang dipercayakan kepadanya.
Jeny, kadang kala datang bersama dengan anaknya untuk menemani Elisa. Dia diantar dokter Dimas, suaminya, sekalian berangkat ke rumah sakit untuk bertugas.
Seperti pagi ini, dia datang pagi-pagi karena dokter Dimas sekalian jalan dan dia ada jadwal operasi pagi hari.
"Pagi Sayangnya Tante," sapa Jeny, begitu sampai di teras depan rumah dan melihat Elisa yang sedang berjemur bersama dengan Ka Singh, anaknya.
"Pagi juga Tante Jeny. Wah, bertambah cantik saja nih Bumil," tegur Elisa, menjawab sapaan Jeny pada anaknya.
"Hahaha... nyindir nih! bukannya tambah berisi ya?" tanya Jeny, sambil memperhatikan kondisi badannya sendiri. Anaknya Jeny, sedang di gendong baby sitter_nya.
"Wah, bukan Aku lho ya yang ngomong. Hahaha..."
Elisa ikut tertawa lepas, melihat Jeny yang pada akhirnya cemberut, menyadari perubahan bentuk tubuhnya sendiri yang sudah tampak berisi, karena kehamilannya yang kedua ini. Apalagi, dia juga masih harus mengurus anaknya yang pertama, meskipun dibantu oleh baby sitter juga.
"Entah ya El. Aku gak bisa kontrol diri nih, untuk kehamilan yang kedua. Jadinya ya beginilah."
Jeny, mengeluhkan bentuk tubuhnya yang sudah tidak lagi singset seperti dulu lagi. Di juga menceritakan tentang nafsu makannya yang naik drastis di kehamilan keduanya ini, tidak sama seperti waktu pertama kali dia hamil dulu.
Elisa, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar semua cerita dari Jeny. Dia pikir, itu hanya sebuah alasan belaka untuk melampiaskan rasa capek dan tidak lagi memperhatikan penampilan. Jeny pasti berpikir jika itu tidak mempengaruhi apa-apa untuk kehidupan keluarganya, misalnya tentang pandangan dari sudut dokter Dimas sendiri.
Elisa memberikan pandangannya terhadap penampilan Jeny, yang sekarang. "Seharusnya, Kamu tetap memperhatikan penampilan Kamu Jen. Bagaimana pun juga, dokter Dimas bekerja di tempat umum, yang banyak bertemu dengan orang-orang. Banyak juga perawat muda dan pasien muda yang dia temui. Yahhh, meskipun kita tidak bisa berpikir negatif terhadap dokter Dimas, ini sangat manusiawi lho Jen."
Jeny terdiam mendengar perkataan Elisa, yang memang ada benarnya. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu, karena dia pikir dokter Dimas tidak mungkin tergoda dan pindah ke lain hati.
"Namanya manusia Jen. Apalagi dokter Dimas itu meskipun sudah berumur, dia masih terlihat muda dan gagah. Bisa jadi, ada wanita lain yang nekad. Kan dulu, Kamu juga dengar sendiri, waktu Kak Aji ada di rumah sakit dan masih amnesia. Ada perawat yang menggodanya juga, karena tidak tahu, jika Kamu adalah calon istrinya dokter Dimas."
Elisa mengingatkan Jeny dengan kejadian waktu dulu, saat Aji di rawat di rumah sakit dan ingatannya belum pulih benar.
Jeny mengangguk, mengingat kejadian itu lagi. Sekarang dia jadi berpikir, kalau handphone suaminya yang selalu terkunci itu ada rahasia yang tidak dia ketahui.
"Tapi ini hanya saran Jen. Kamu jangan langsung berpikir bahwa dokter Dimas melakukan 'permainan' di belakang Kamu ya!" kata Elisa, kembali mengingatkan Jeny.
__ADS_1
"Iya El. Aku tahu kok. Terima kasih ya, sudah diingatkan. Aku kan bisa waspada dan harus hati-hati, apalagi ini Aku sedang hamil muda. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kehamilanku dan juga pada diriku sendiri. Tapi, Aku juga tidak mau jika Uda Dimas 'bermain-main' yang tidak-tidak dibelakang nantinya. Kau juga sadar, jika penampilanku sekarang ini tidak menarik. Bisa jadi dia akan bosan nanti, jadi Aku harus mulai berpikir untuk mengubahnya. Meskipun hamil, Aku kan masih bisa modis ya?"
"Nah itu, masih bisa lah. Kamu kan punya bentuk tubuh yang bagus sebenarnya. Coba Kamu perhatikan. Mama Cilla saja masih singset seperti itu, masak Kamu kalah. Ayo Jen, jaga keharmonisan keluarga dengan bentuk tubuhmu yang terjaga. Kamu harus menjaganya sebelum ada yang merusak."
Perbincangan antara Elisa dan Jeny ini tidak asal saja. Ini dilakukan Elisa, karena dia pernah memergoki dokter Dimas sedang sibuk dengan handphonenya, dan terkejut saat di sapa. Tanpa sadar, dokter Dimas menjauhkan handphone miliknya dari jangkauan Elisa, agar Elisa tidak bisa melihat pesan-pesan yang dia kirim atau terima. Jadi inilah yang membuat Elisa merasa ada yang tidak beres dengan dokter Dimas.
"Wah, sedang membicarakan tentang apa? Sepertinya seru."
Mama Cilla muncul dari dalam rumah. Dia menegur keduanya, karena sedari sibuk berbincang, dan Jeny jadi lupa untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Hehehe... biasa Ma. Namanya juga dua sahabat. Apalagi kita sudah lama ya tidak berbincang santai seperti ini?" Jeny mengatakan alasannya pada mama Cilla.
Elisa hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar jawaban Jeny pada mama Cilla. Dia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Karena dia juga tidak menceritakan semua tentang dokter Dimas pada suaminya, Aji. Dia tidak ingin, kecurigaannya itu menjadi masalah baru untuk keluarganya Jeny ataupun untuk keluarga mertuanya itu.
"Ya sudah. Mama mau ke toko dulu ya," kata mama Cilla, berpamitan pada anak dan menantunya. Dia pergi bersama dengan supir, untuk mengecek toko baju yang ada di mall.
Setelah mama Cilla pergi, Jeny kembali berbincang-bincang dengan Elisa. Tapi kali ini, mereka berdua sudah berpindah ke dalam rumah karena panas matahari sudah semakin panas dan itu tidak baik untuk berjemur, apalagi untuk Ka Singh yang masih bayi.
"Oh ya El. Kamu tahu tidak tentang kabarnya Rio?"
"Rio? Dimana dia sekarang?" tanya Elisa, yang memang tidak tahu kabar Rio sejak dia menikah dengan Aji.
"Dia bertunangan dengan cewek bule, teman kuliahnya. Namanya Rachel atau siapa ya, lupa Aku," jawab Jeny, kemudian mengambil handphonenya yang ada di dalam tas. Dia mencari-cari media sosial milik temannya, yang kemarin menge_post foto tentang Rio.
"Ini dia," kata Jeny, sambil menunjukan layar handphone tersebut pada Elisa.
Elisa memicingkan mata melihat dengan jelas foto yang ada di layar handphone tersebut. Dia tersenyum lebar, setelah melihatnya.
"Ah, syukurlah. Akhirnya Rio bisa menemukan tambatan hatinya. Meskipun harus jauh-jauh dari luar negeri, tapi itu sudah bagus. Cantik kok. Oh ya, kapan pernikahannya?" tanya Elisa memastikan.
"Kurang tahu juga. Ini tidak ada keterangannya. Waktu Aku tanya via pesan pribadi, temanku juga jawab tidak tahu."
Elisa menarik nafas panjang. Dia pikir, Rio sudah tidak ingin diketahui kabarnya oleh siapapun yang berkaitan dengan dirinya.
"Apa Aku terlalu egois ya dulu?" tanya Elisa pelan, seakan-akan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maksudnya El?" tanya Jeny tidak paham dengan pertanyaan Elisa tadi.
"Iya, Aku kan tahu kalau Rio itu suka sama Aku. Tapi Aku tidak peduli dan juga tidak menanggapinya. Aku justru sering bercerita tentang kak Aji padanya. Aku jadi seakan-akan paling jahat dan hanya memanfaatkan kebaikannya saja."
Jeny menggeleng beberapa kali mendengar perkataan Elisa.
"Bukan El. Dia kan sedari awal sudah tahu, jika Kamu hanya menganggapnya sebagai teman dan sahabat. Kamu juga sudah berterus terang jika Kamu sukanya dengan kakakku, kak Aji. Jadi Kamu tidak seharusnya merasa bersalah. Kalau masalah hati memang susah sih dijabarkan."
Elisa tersenyum canggung karena ingat semua hal tentang Rio. Sahabatnya yang pergi ke luar negeri, setelah merasa patah hati padanya.
"Semoga Kamu menemukan kebahagiaan yang Kamu cari selama ini Rio," doa Elisa dalam hati, untuk sahabatnya Rio.
"Bu. Si neng nangis. Dia tidak mau tidur sama Saya. Maunya ditidurkan sama Ibu."
Baby sitter melapor pada Jeny, jika anaknya yang masih balita tidak mau tidur jika bukan dirinya sendiri yang menemani tidur.
"Oh iya mbak."
Akhirnya Jeny pamit juga pada Elisa, untuk pergi ke kamar, menidurkan anaknya terlebih dahulu. "El Aku ke kamar dulu ya.
Elisa hanya mengangguk. Dia berdoa untuk kebahagiaan semua orang-orang yang ada di dekatnya, termasuk untuk sahabatnya, yang saat ini masih ada di luar negeri sana, yaitu Rio.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa di depan nanti. Aku berharap Jeny juga selalu berbahagia dengan keluarganya."
Tut Tut Tut
Elisa melihat ke arah suara. Ternyata itu adalah handphone miliknya Jeny, yang tadi dia pegang untuk menunjukkan fotonya Rio, dan sekarang tertinggal di meja ruang tengah. Ada satu notif pesan yang berisi sebuah foto, tapi blur jadi tidak jelas dilihat Elisa. Pesan itu dari nomer yang tidak dikenal.
Elisa mencoba untuk membukanya. Dia merasa penasaran dengan pesan tersebut, tapi tidak bisa, karena dia tidak tahu sandi yang dipakai Jeny untuk handphone miliknya.
"Duh dikunci lagi. Foto apa ya? kok tidak jelas. Tapi sepertinya itu dua orang yang sedang..."
"El, maaf lihat handphone Aku tidak ya?"
Dari arah belakang, Jeny memangil Elisa dan menanyakan keberadaan handphone miliknya yang tertinggal.
__ADS_1