
Di villa Sentul, Aji dan Cilla menghabiskan waktu bersama dengan berbagai macam aktivitas.
Mereka hanya berdua saja, ditemani bibi pembantu dan dua orang Security. Mami Rossa dan Gilang, pulang sehari setelah acara lamaran malam itu. Dokter Dimas dan tuan Adi, balik ke Jakarta pagi harinya, setelah selesai. Mereka hanya menginap semalam saja.
"Mami balik ke Jakarta dulu sama Gilang. Kamu dengan Aji di villa ini dulu ya, sekalian berlibur. Besok waktu ulang tahun Aji, kami akan datang untuk merayakannya bersama."
Mami Rossa mengatakan itu pada Cilla, pada saat berpamitan. Mami Rossa meminta Cilla ada di villa, karena takut jika mereka, Gilang dan Cilla, khilaf, apalagi sekarang mereka sudah resmi bertunangan.
"Mami akan mengatur hari pernikahan kalian setelah ulang tahun Aji besok."
Mami Rossa, mengatakan apa yang ingin dia rencanakan, untuk pernikahan Gilang dengan Cilla.
"Cilla nurut saja sama Mami. Cilla tidak tahu, menyiapkan apa-apa juga buat semua itu," kata Cilla pasrah, dengan apa yang akan mami Rossa lakukan, untuk pernikahannya nanti.
"Ya sudah. Mami juga akan pasrahkan urusan itu pada WO nantinya. Biar mereka yang urus semuanya."
"Iya Mi. Cilla ngikut saja," kata Cilla dengan tersenyum tipis.
"Tidak disangka, anak sahabat Mami akan jadi mantunya Mami." Mami Rossa memeluk Cilla.
Mami Rossa juga merasa senang karena semua bisa terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan. Dia merasa bersyukur, bisa mendapatkan Cilla, yang juga anak dari sahabatnya yang sudah lama meninggal.
"Terima kasih ya Mi. Cilla jadi bisa menemukan sosok mama dalam diri Mami."
Mereka berdua berpelukan dengan penuh kasih sayang dan rasa yang sama, berbahagia.
"Yuk Mi!"
Gilang, yang sudah bersiap mengajak mami Rossa untuk segera naik ke mobil.
"Aji. Sayang. Baik-baik sama mama di sini ya!" Mami Rossa berpamitan pada cucunya, Aji.
"Iya Oma," jawab Aji pendek.
"Mami balik dulu ya Cilla," pamit mami Rossa lagi pada Cilla.
"Iya Mi. Hati-hati," jawab Cilla, dengan suara bergetar karena terharu.
Setelah mami Rossa masuk kedalam mobil, Gilang menghampiri anaknya. "Papa pulang ke Jakarta dulu. Aji, baik-baik ya jaga mama!" kata Gilang, berpesan pada anaknya itu.
"Siap Pa!"
Aji menjawab, dengan mengacungkan jari jempolnya, dan juga mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Hehehe... Gitu dong jagoan Papa!"
Gilang juga ikut mengacungkan jari jempol pada Aji.
Setelah selesai berpamitan pada Aji, Gilang mendekati Cilla. "Honey. Jaga hati kamu ya, buat Aku. Jangan rindu, katanya rindu itu berat. Jadi katakan saja jika rindu itu datang," kata Gilang, berpesan pada Cilla.
"Bisa saja kamu Mas," jawab Cilla dengan tersipu.
"Lho, kok jadi manggil Mas?" tanya Gilang heran, saat mendengar panggilan 'Mas' dari Cilla.
"Aku malu manggil Sayang. Apalagi kalau ada Aji," kata Cilla beralasan.
"Oh gitu ya, Hehehe...."
__ADS_1
*****
"Ma. Aji mau manjat pohon Jambu. Boleh kan Ma?" tanya Aji, saat ada di teras samping, yang ada banyak pohon buahnya.
"Memang Aji bisa?" tanya Cilla ingin tahu. Dia tidak pernah melihat Aji, memanjat pohon apapun selama ini.
"Belajar Ma. Kan Aji anak cowok. Jadi harus bisa manjat juga kan?"
"Hem... Boleh. Tapi hati-hati ya!"
"Hore... Aku mau belajar memanjat!"
Aji, berteriak senang mendengar perkataan mamanya yang memberinya izin. Dia segera berlari ke arah pohon jambu, yang banyak cabangnya, sehingga dengan mudahnya dia memanjat untuk naik ke atas.
Cilla beranjak dari tempat duduknya, dan mengikuti langkah Aji, menuju ke arah pohon jambu.
"Ma. Mama lihat!"
Aji bersorak kegirangan, saat berhasil naik ke pohon jambu yang tidak terlalu tinggi dan banyak cabangnya.
"Hati-hati Sayang!"
Cilla berteriak mengingatkan Aji, agar tetap berhati-hati karena belum terbiasa memanjat pohon.
"Ma. Adem Ma di sini," kata Aji memberitahu mamanya jika angin membuatnya menjadi lebih nyaman.
"Boleh ambil jambu gak Ma?" tanya Aji melihat-lihat buah jambu yang banyak bergelantungan.
"Ambil yang terdekat dan sudah masak ya!" jawab Cilla dengan suara keras, agar Aji bisa mendengar, dari tempatnya di atas pohon jambu.
Sepertinya Aji bersemangat. Dia baru pertama kali ini memanjat pohon. "Ternyata asyik juga di atas sini. Anginnya juga sejuk," kata Aji menikmati apa yang dia rasakan saat ini.
"Kalau sudah dapat jambu, cepat turun ya!"
Suara mamanya terdengar lagi di telinga Aji. Padahal, dia masih ingin berada di atas pohon.
"Sebentar lagi Ma," jawab Aji sambil memetik jambu.
"Eh. Bagaimana cara membawanya turun?" Aji berguman bingung, saat jambu yang dia petik tidak ada tempat menampungnya.
"Ma. Tangkap jambunya ya!"
Aji meminta Cilla, mamanya, menangkap jambu yang dia petik di atas.
"Mama tidak bisa Sayang. Sudah turun saja! Nanti bisa minta tolong pada bapak Security, untuk mengambilkan jambu itu."
"Ah, Mama..."
Akhirnya, Aji turun juga. Dia menurut saja apa yang dikatakan oleh mamanya, Cilla. Dia juga tidak mau membuat mamanya khawatir, saat dia ada di atas pohon.
"Aji bisa kan Ma, manjat pohonnya?" kata Aji pamer, dengan keberhasilannya dalam memanjat pohon.
"Iya. Aji kan memang pinter," jawab Cilla mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Besok lagi ya Ma!" pinta Aji. Sepertinya dia mendapat mainan baru dengan belajar memanjat pohon.
"Boleh. Tapi Aji harus tetap berhati-hati dan tidak terlalu tinggi juga," jawab Cilla mengiyakan permintaan anaknya itu.
__ADS_1
"Iya Ma," jawab Aji sambil tersenyum dan memeluk mamanya.
"Terima kasih ya Ma. Aji sayang Mama."
"Mama juga sayang Aji."
"Non. Non Cilla. Den Aji, makan siangnya sudah siap!"
Dari arah pintu samping, bibi memanggil-manggil. Memberitahu jika makan siang sudah siap disediakan.
"Iya Bi. Sebentar," jawab Cilla, kemudian mengajak Aji untuk segera masuk. "Yuk Sayang! Kasihan bibi kalau nunggu kita."
"Iya Ma. Ayok!" jawab Aji, sambil membawa beberapa jambu yang tadi dia petik, dan dia taruh di saku celananya.
*****
Saat sedang makan siang, Cilla mendapatkan panggilan telepon dari Gilang.
..."Halo Honey!"...
..."Hai Mas."...
..."Sedang apa?"...
..."Ini makan, sama Aji dan bibi."...
Selama berada di villa, bibi memang menemani makan bersama. Itu juga karena permintaan Cilla dengan pemaksaan juga. Tadinya bibi pembantu merasa sungkan, untuk bisa makan semeja dengan calon istri tuan mudanya, tapi Cilla tetap memaksa juga.
..."Oh. Bisa video call gak? Aku kangen."...
Kini panggilan telepon beralih menjadi panggilan video call.
..."Hai Sayang. Jagoan Papa!"...
..."Halo Pa. Tadi Aji belajar naik pohon. Aji bisa lho Pa!"...
Aji, menceritakan tentang pengalaman pertamanya, saat belajar naik pohon pada papanya, Gilang.
..."Oh ya? Hebat dong!"...
..."Iya dong, Aji!"...
..."Hahaha... Tapi tetap hati-hati ya!"...
..."Siap Pa!"...
..."Papa kangen nih sama Aji, sama mama juga."...
..."Papa kesini kapan?"...
..."Dua hari lagi. Padahal Papa pengen banget ketemu Aji."...
..."Ketemu Aji, apa Mama?"...
..."Hahaha... Sayang tahu saja sih!"...
Cilla tersenyum malu-malu mendengar perkataan antara Aji, anaknya, dengan papanya, Gilang, calon suaminya itu.
__ADS_1