Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Aji Menyimpan Rasa


__ADS_3

Esoknya, Aji benar-benar minta pulang. Dia tidak ingin berada di rumah sakit lebih lama lagi.


"Om. Aji, kan tidak sakit. lagi pula, Aji kemarin hanya terbentur bemper mobil, dan itu justru membawa keberuntungan karena Aji bisa ingat semuanya kan?"


Aji, meminta pada dokter Dimas, agar mengijinkannya untuk pulang ke rumah. Dia benci bau dan keadaan rumah sakit.


"Nunggu dokter bagian syarat ya, Aku tidak memberikan keputusan," jawab dokter Dimas, memberikan penjelasan.


"Om. Lagian kasihan papa dan mama. Mereka sedang memikirkan pesta Om dan Jeny juga, Aku gak mau menambah kekhawatiran mereka Om," rengek Aji, dengan wajah serius.


"Oh iya. Tapi, kalau Aku mau jadi adik ipar Kamu, kenapa Kamu masih memanggil Aku dengan sebutan Om?" tanya dokter Dimas bingung.


"Biarin. Suka-suka Aji_lah. Lagian siapa juga yang mau punya adik ipar, tapi gak bisa di ajak kerjasama!" jawab Aji cepat dengan wajah kesal.


"Ji. Kamu tahu tidak, wajah Kamu itu, sudah tidak seratus persen sama seperti dulu. Ada wajah Mr Vijay Singh, yang nempel di wajah Kamu. Pantes saja, Kamu jadi ngeselin ya!" sahut dokter Dimas, meledek.


"Hah, yang bener Om?"


"Lihat saja," jawab dokter Dimas, sambil menyodorkan kamera handphonenya, agar Aji bisa berkaca.


"Waduh, kok jadi gak keren lagi ya Om?"


"Justru lebih keren yang sekarang, ada bau-bau India atau timur tengahnya, gak cuma Indonesia saja," komentar dokter Dimas, sambil menahan tawa.


"Ah, Om ngeledek nih!" rengek Aji, dengan kesal.


"Oh ya, mama sama papa mertua kemana?" tanya dokter Dimas, dengan celingak-celinguk mencari keberadaan mama Cilla dan papa Gilang.


"Huh, sedari tadi juga gak ada. Mereka sedang ke ruangan dokter syaraf. Minta untuk segera memeriksa, biar Aku bisa cepat pulang!"


"Aji," sapa mama Cilla, begitu masuk ke dalam kamar pasien Aji, karena pintu tidak di tutup oleh dokter Dimas, jadi mereka, mama Cilla dan papa Gilang, bisa langsung masuk tanpa membuka pintu terlebih dahulu.


"Bagaimana Ma, Pa?" tanya Aji, tidak sabar untuk segera pulang dari rumah sakit ini.

__ADS_1


"Iya, sebentar lagi dokter akan datang kok. Kamu bilang saja, apa yang Kamu rasakan saat ini nantinya ya," jawab mama Cilla, memberitahu pada Aji.


Aji hanya mengangguk saja, dan tidak lagi bertanya. Dia merasa tidak nyaman, dan juga bosan, terlalu sering berada di rumah sakit.


Tak lama kemudian, dokter syaraf yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Dia segera melakukan pemeriksaan terhadap Aji, dan bertanya-tanya apa yang dikeluhkan oleh Aji saat ini.


"Tidak ada Dok. Saya merasa baik-baik saja," jawab Aji cepat.


"Hem, baiklah. Bisa pulang hari ini, tidak apa-apa. Tapi, jika ada sesuatu yang terjadi setelah ini, segera datang ke rumah sakit untuk periksa lebih lanjut ya!" pesan dokter syaraf tersebut.


Aji mengangguk mengiyakan. Dia tidak sabar untuk segera pulang dan beristirahat di rumah saja.


"Dokter Dimas. Saya pikir, obat yang kemarin itu masih perlu diberikan pada pasien, karena racun-racun yang sudah terlanjur menyebar, tidak kita ketahui apakah sudah bersih secara keseluruhan atau belum. Semoga saja, tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak kita inginkan."


"Baik Dok, terima kasih," jawab dokter Dimas sambil mengangguk, pada teman seprofesinya itu.


"Terima kasih dokter," kata mama Cilla dan papa Gilang berbarengan.


Mama Cilla, papa Gilang dan dokter Dimas, mengangguk sambil tersenyum mengiringi kepergian dokter syaraf yang memeriksa Aji. Begitu juga dengan Aji, yang segera turun dari ranjangnya.


"Kalau begitu, ayo Ma, Pa, kita pulang!" ajak Aji, pada mama dan papanya.


"Dim, terima kasih banyak ya," ucap papa Gilang pada dokter Dimas.


"Terima kasih ya dtok, maaf sering merepotkan jadinya." Mama Cilla, juga ikut mengucapkan terima kasih pada dokter Dimas.


"Om. Aku tunggu di rumah ya!" kata Aji, sebelum mencapai pintu untuk keluar dari kamar.


"Eh, maksudnya?" tanya dokter Dimas bingung.


"Ck. Masa gak peka adik ipar ini," sahut Aji, dengan tersenyum miring.


Papa Gilang, dan mama Cilla tertawa kecil mendengar perkataan Aji, yang penuh isyarat pada dokter Dimas. Sedangkan dokter Dimas, harus berpikir keras agar bisa mencerna apa kata Aji kepadanya tadi.

__ADS_1


"Sudah Dimas. Tidak usah dipikirkan. Kami tunggu Kamu besok ya di rumah. Kan kemarin gagal, gara-gara Aji yang harus masuk ke rumah sakit ini. Kasih Kamu, jadi tertunda terus acaranya."


"Oh... iya-iya Mas Gilang, eh papa mertua!" sahut dokter Dimas, kemudian meralat sebutannya untuk papa Gilang.


*****


Elisa, yang semalam sudah pamit di Club tempatnya bekerja dulu, kini ganti mau berpamitan ke mini market. Dia sudah siap, merapikan kostnya yang akan dia tinggalkan juga. Tadi, dia sudah memberitahu pada yang punya kost, jika dia akan pergi dan tidak lagi bisa melanjutkan kost di tempatnya.


Sekarang, dia menunggu Rio, yang sudah berjanji untuk menjemputnya juga.


Sekitar jam sepuluh pagi, Rio benar-benar datang. Elisa juga sudah siap di teras dengan dua tas besarnya yang berisi pakaian dan barang-barang pribadinya.


"Sudah siap El?" tanya Rio, saat melihat dua tas yang ada di samping tempat duduknya Elisa.


"Ya. Aku juga sudah pamit sama yang punya kost, dan menyerahkan kuncinya juga. Makanya Aku tunggu di luar."


"Ya sudah yuk!" ajak Rio, kemudian membantu Elisa membawa dua tasnya.


"Satu-satu Rio, berat. Sini, biar Aku bawa yang satunya," kata Elisa, melarang Rio membawa semua tasnya.


"Seberat apa sih? masih berat rinduku padamu selama ini El," sahut Rio, sambil mencibir.


"Huh. Dasar di bilang berat juga ngenyel. Awas gak kuat Aku gak mau bantuin!" kata Elisa, tidak menggubris perkataan Rio yang ditujukan untuknya.


"Ya gampang itu, tinggal di lempar saja. Hehehe..." sahut Rio cengengesan. "Segini saja mah kecil..." sambung Rio cepat.


"Rio. Jangan bilang seperti tadi lagi. Aku gak suka, karena itu akan membuatku seakan-akan menjadi cewek paling jahat di dunia ini. Apalagi, Aku menerima semua bantuan darimu. Aku jadi kayak memanfaatkan perasaan Kamu saja," Elisa, berkata dengan menundukkan wajahnya. Dia, sebenarnya tidak ingin merepotkan Rio. Tapi dia juga sadar, jika dia nekad menuruti ego dan keinginan seperti kemarin, itu semua tidak membuatnya menjadi lebih baik dari yang sekarang ini.


"El bicara apa sih Kamu! Aku becanda doang kali El! Maaf, kalau Aku keterlaluan dengan perkataanku."


Elisa mengeleng, saat mendengar penjelasan dari Rio. Dia tahu, hatinya sendiri seperti dicubit, saat tadi Rio mengatakan isi hatinya, meskipun dengan nada bercanda.


"Maafkan Aku Rio," kata Elisa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2