
Semua rencana manusia, hanya untuk jangka waktu yang pendek dan tidak bisa melampaui batas waktu. Hanya ketentuan dari Sang pencipta yang akan datang dengan pasti. Begitu juga dengan waktunya, Tuhan tidak pernah menundanya, ataupun mempercepat garis takdir yang sudah Dia tentukan.
Sama seperti yang sudah menjadi rencana keluarga papa Gilang. Mereka semua, yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke India malam ini, tidak jadi berangkat. Ini karena terjadi sesuatu yang tidak pernah merasa duga sebelumnya. Papa Gilang, tiba-tiba terkena serangan jantung saat mau pulang dari acara di kantor GAS.
Pada saat itu, papa Gilang masuk ke dalam ruangannya sendiri, sedangkan Biyan dan Vero mengikuti kakaknya, Aji, untuk berkeliling sebentar di sekitar kantor. Mereka ingin melihat-lihat tempat dan suasana yang ada di kantor papanya.
Karena Vero sudah merasa cukup lelah, dia minta pada kakaknya, Aji serta Biyan, untuk kembali ke ruangan papanya. Dia ingin minum dan beristirahat sebentar sebelum pulang.
Aji pun setuju dan mengajak ke dua adiknya itu untuk kembali ke ruangan papanya. Dia pikir, mereka semua juga harus segera pulang, karena butuh istirahat untuk perjalanan mereka nanti malam.
Tapi, begitu masuk ke dalam ruangan papanya, Vero yang pertama masuk langsung berteriak keras. "Papa. Papa!"
Aji dan Biyan yang masih ada di luar ruangan, segera masuk ke dalam. Mereka berdua ingin tahu, apa yang terjadi pada papanya, sampai-sampai Vero berteriak-teriak seperti tadi.
Keduanya, Aji dan Biyan, sama terkejutnya, saat melihat ke dalam ruangan tersebut. Di dekat meja kerja, papa Gilang tergeletak. Mulanya, Aji berpikir jika papanya pingsan. Tapi saat memeriksa denyut nadi dan lubang hidungnya, Aji menggeleng lemah. "Papa sudah tiada," kata Aji pelan, pada kedua adiknya.
"Cepat cari bantuan atau panggil security!" kata Aji, memberikan perintah pada ke dua adiknya.
Vero dan Biyan berhamburan keluar dari ruangan untuk mencari bantuan, seperti yang diperintahkan oleh kakaknya.
"Sekertaris papa kemana ini?" tanya Aji dalam hati. Tapi, karena ruangan sekretaris papa Gilang berbeda, tentunya Aji juga tidak bisa menemukan sekretaris itu dengan cepat.
Akhirnya, Aji menelpon sekretaris papanya, dan memintanya untuk segera menghubungi ambulans.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sama-sama mengikuti ambulans yang membawa papa Gilang.
Dari keterangan yang diberikan oleh sekretaris papa Gilang, Aji mendapatkan keterangan jika sebelumnya, papa Gilang menghubungi sekretaris tersebut untuk menyalin semua hasil pertemuan tadi, untuk dijadikan arsip dan juga berkas yang akan dijadikan satu dengan surat wasiat papa Gilang. Surat wasiat tersebut, sudah jadi dan ada pada pengacara keluarga.
Mendengar perkataan sekretaris papanya, tentu saja membuat Aji dan kedua adik kembarnya itu kaget. Mereka merasa bahwa, papa Gilang, sudah memiliki firasat yang akan terjadi padanya dalam waktu dekat ini.
"Kenapa papa pergi dengan cepat Kak..." Vero, bertanya dalam keadaan menangis. Saat ini mereka bertiga ada di dalam mobil, mengikuti ambulans yang membawa jenazah papanya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kita tidak pernah tahu Vero, apa yang akan terjadi di depan nanti, dan juga umur kita tidak ada yang pernah tahu, kapan dan dimana kita akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya Kita yang sabar ya," kata Aji menenangkan hati adiknya.
Biyan, sedari tadi hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Dia merasa sangat terkejut dengan kejadian papanya ini.
*****
Di rumah, mama Cilla pingsan, di saat mendapatkan kabar jika suaminya, papa Gilang masuk rumah sakit.
Tadi, Aji sudah meminta pada Vero, untuk memberikan kabar pada mamanya, hanya sebatas 'masuk' rumah sakit saja, tapi kenyataannya mama Cilla tetap saja kaget dan jatuh pingsan.
Elisa jadi panik, kemudian meminta pada bibi pembantu rumah, untuk memangil security. Dia juga menelpon suaminya, Aji
..."Halo Kak, apa yang sebenarnya terjadi?" ...
..."Tidak apa-apa. Mama mana?" ...
Aji tidak menjawab pertanyaan istrinya itu dengan yang sebenarnya terjadi. Dia justru bertanya pada Elisa dengan dimana keberadaan mamanya.
..."Ini El telpon juga mau mengabarkan kalau mama pingsang saat ini Kak."...
..."Mama menerima kabar dari Vero dan langsung jatuh pingsan tadi. Ini belum sadar juga."...
..."Panggil dokter Dimas atau siapa yang dekat. Tunggu di rumah saja. Kami pasti akan segera pulang kok, tidak lama lagi."...
..."Benar itu?"...
..."Iya. Kamu di rumah saja, nunggu mama ya."...
..."Iya Kak."...
Aji menutup panggilan telepon dari istrinya. Dia memang tidak berbohong kepada istrinya, saat mengatakan bahwa sebentar lagi akan pulang ke rumah. Sebab, jenazah papa Gilang sudah ditangani dan penyebab kematiannya juga sudah di ketahui, yaitu serangan jantung. Tapi, tak lama dia mengirim pesan singkat kepada Elisa, untuk memberikan kabar yang sebenarnya terjadi pada papa Gilang.
__ADS_1
Elisa tentunya sangat terkejut melihat pesan yang dikirim oleh suaminya itu. Dia tidak menyangka jika kepergian papa mertuanya itu secepat ini. Apalagi tadi pagi, mereka baru saja berpamitan untuk pergi ke kantor GAS, sebelum keberangkatan mereka semua ke India.
Elisa teringat dengan rencana mereka itu, kemudian Elisa membalas pesan dari Aji, agar memberikan kabar ini pada ayah angkatnya, Sangkoer Singh, yang berada di India.
Aji hanya membalas singkat, pesan yang dia kirim. "Iya."
Di rumah sakit, Aji dan kedua adiknya, melakukan semua prosedur rumah sakit untuk membawa pulang jenazah papanya. Dia juga sudah meminta pada adik-adiknya itu, untuk menghubungi Jeny dan juga dokter Dimas. Mereka diminta untuk segera datang ke rumah papa Gilang.
Pada Jeny, Vero tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi pada dokter Dimas, Vero memberikan kabar yang sesungguhnya, tentang kematian papanya. Dia meminta pada dokter Dimas, untuk menjemput istrinya, Jeny dan mengatakan yang sebenarnya dengan pelan-pelan saja. Mengingat kondisi Jeny yang sedang hamil. Jadi takutnya, akan terjadi sesuatu pada Jeny sendiri ataupun bayi yang sedang dia kandung.
Beberapa jam kemudian, mobil Aji datang bersamaan dengan mobil ambulans yang membawa jenazah papanya.
Di rumah, ternyata sudah banyak orang-orang yang datang. Baik dari pihak tetangga maupun para pegawai kantor. Karangan bunga juga sudah banyak yang berjejer rapi di halaman depan rumah dan luar rumah. Karena berita kematian papa Gilang, dengan cepat tersebar luas dari para pegawainya di kantor GAS.
Mama Cilla yang sudah siuman, menangis saat jenazah suaminya itu dikeluarkan dari dalam mobil ambulans. Dia lemas seakan tidak memiliki tenaga, kemudian kembali pingsan lagi. Elisa, jadi ikut sibuk menenangkan mama Cilla. Padahal di dalam hatinya, Elisa juga merasakan hal yang sama. Kesedihan yang dia rasakan, sama seperti dulu pernah dia rasakan. Saat di tinggal pergi oleh orang yang sangat penting dan kita sayangi. Elisa jadi teringat dengan bapaknya, yang sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Jeny, yang ternyata sudah sampai di rumah, juga menangis histeris saat melihat jenazah papanya. Dia yang tidak tahu dan belum sempat berbincang dengan papa Gilang, jadi rela dan juga tidak percaya dengan kepergian papanya itu.
"Pa. Papa belum sempat melihat cucu papa yang akan lahir. Kenapa pergi begitu cepat Pa..."
Jeny terus bertanya pada papa Gilang, seakan-akan papanya itu masih bisa mendengarkan semua perkataan dan pertanyaannya.
Sore hari, semua anggota keluarga sudah sedikit tenang dan ikhlas melepas kepergian papa Gilang. Pemakaman juga akan segera dilaksanakan. Namun, di saat jenasah papa Gilang mau di masukkan ke liang lahat, mama Cilla dan Jeny kembali menangis tersedu-sedu. bahkan, mama Cilla kembali jatuh pingsan tak sadarkan diri.
*****
Di India, tuan besar Sangkoer Singh yang baru saja mendapatkan kabar dari Aji, tentang kematian papanya, ikut merasa sedih. Tapi, kapten pesawat sudah terlanjur terbang menuju ke Indonesia, untuk menjemput keluarga Aji, sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan.
Akhirnya, tuan besar Sangkoer Singh menghubungi pihak bandara, untuk berkomunikasi dengan kapten pesawat, agar kembali lagi dan menjemput dirinya, dia sendiri akan ikut pergi ke Indonesia. Ini dilakukan oleh tuan besar Sangkoer Singh, karena dia tidak mungkin melakukan panggilan seluler jika dalam keadaan terbang.
Pihak bandara tentu saja patuh dan segera melakukan perintahnya.
__ADS_1
Tak lama, pihak bandara menghubungi tuan besar Sangkoer Singh agar datang ke bandara karena pesawat akan segera datang dalam waktu dua jam lagi.
Tuan besar Sangkoer Singh pun akhirnya bersiap untuk berangkat ke bandara dan ikut terbang ke Indonesia. Bukan untuk menjemput keluarga anak angkatnya, Aji, tapi datang karena ikut hormat dengan kepergiannya papa Gilang, papanya Aji. Hal yang tidak pernah dia sangka, jika semua rencana yang sudah mereka lakukan akan gagal untuk saat ini.