Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Merasakan Muntah Juga


__ADS_3

Rumah sakit milik tuan besar Sangkoer Singh, berada tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Masih ada di satu komplek, yang memang miliknya pribadi. Meskipun demikian, dia harus menggunakan mobil jika ingin ke rumah sakit tersebut, karena jaraknya bisa ditempuh dengan mobil dalam waktu sepuluh menit. Jika harus berjalan kaki, tentu saja itu hal yang tidak pernah dia lakukan. Karena jaraknya tetap jauh juga.


Begitu juga dengan para dokter yang sewaktu-waktu bisa dipanggilnya ke rumah. Mereka juga akan mengunakan mobil, karena jika berjalan kaki, akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.


Pagi ini, sesuai dengan rencana yang sudah ada, Aji dan Elisa akan pergi ke rumah sakit, untuk memeriksakan kondisi tubuhnya dan juga kandungan Elisa. Ditambah lagi dengan melakukan test untuk kesehatan ayah Sangkoer Singh, yang minta oleh dokter kemarin.


Elisa dan Aji sudah bersiap-siap dan ada di ruang makan. Mereka akan sarapan pagi terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Ayah belum keluar dari kamar Bibi Lasmi?" tanya Aji pada bibi Lasmi, yang menyediakan berbagai macam jenis makanan untuk sarapan pagi mereka.


"Sepertinya belum Tuan muda. Tapi, tadi sudah sempat keluar dari kamar, tapi cuma sebentar. Hanya meminta Saya, untuk menyiapkan menu makan saja. Ini permintaan tuan besar tadi," jawab bibi Lasmi, sambil menunjuk ke piring saji yang berudu bubur tepung beras, tapi dicampur dengan kuah kare yang kental.


Elisa, meringis membayangkan makan bubur dengan kuah bumbu kare yang menyengat. Dia malah ingin muntah saat membayangkan rasanya, tapi dia masih bisa menahan diri, agar tidak sampai muntah di meja makan.


"Kak. El mau ke kamar mandi dulu ya," kata Elisa, berpamitan. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan cepat menuju kamar mandi yang ada di dapur, karena kamar mandi itu yang terdekat dari tempat mereka berada.


Karena Elisa berjalan sambil menutup mulutnya, bibi Lasmi merasa khawatir. Dia mengikuti langkah kaki istri dari tuan mudanya itu ke kamar mandi. Apalagi saat dia mendengar suara Elisa yang sedang muntah-muntah. Bibi Lasmi semakin merasa khawatir dengan kondisi Elisa.


Tapi, itu terjadi tidak lama. Elisa tidak lagi muntah, dan tidak ada suara apapun dari dalam kamar mandi. Namun, beberapa saat kemudian, terdengar lagi suara muntah dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Nyonya. Nyonya tidak apa-apa?" tanya bibi Lasmi, dari luar pintu kamar mandi. Dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Elisa yang muntah-muntah. Apalagi saat ini sedang hamil muda dan baru pagi ini bibi Lasmi melihat Elisa muntah, biasanya tidak pernah terjadi.


Aji, sudah berdiri di belakang bibi Lasmi. Dia juga terlihat khawatir dengan keadaan istrinya, Elisa. "Bibi Lasmi kembalilah, biar Aji yang menunggunya," kata Aji, meminta pada bibi Lasmi agar bisa kembali ke meja makan dan menyelesaikan pekerjaannya saja.


"Baik Tuan muda," jawab bibi membungkuk dan berjalan mundur dari hadapan Aji.


Beberapa saat kemudian, Elisa tampak keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya terlihat pucat, karena banyak cairan tubuh yang dia keluarkan melalui muntahannya tadi. Dia berjalan dengan pelan-pelan.


"Kamu tidak apa-apa Sayang?" tanya Aji, begitu Elisa sudah benar-benar ada di luar kamar mandi.


"Tidak apa-apa Kak. Tadi El, pas lihat bubur yang disajikan dalam kuah kare kenapa jadi neg ya, dan akhirnya muntah beneran?" tanya Elisa heran. Dia mulai terbiasa dengan makanan dan bumbu-bumbu yang tidak sama seperti yang ada Indonesia. Tapi, pagi ini dia seperti di waktu awal datang. Ada perasaan yang tidak biasa saat tersaji makanan yang tidak biasa dia lihat.


Elisa hanya menanggapi perkataan suaminya itu dengan tersenyum tipis. Dia seakan-akan tidak lagi ada tenaganya, hingga Aji menuntunnya untuk kembali berjalan menuju ke meja makan. Dia sana, sudah ada tuan besar Sangkoer Singh, yang duduk menunggu kedatangan mereka berdua.


"Menantu kenapa?" tanya ayah Sangkoer Singh, yang ikut merasa khawatir juga melihat keadaan Elisa yang lemas.


"Dia muntah-muntah Yah. Mungkin masanya dia mengalami morning sickness. Tadi, dia lihat bibi Lasmi menyajikan bubur untuk Ayah dengan kuah kare. Tidak tahu kenapa tiba-tiba dia merasa neg dan akhirnya ya gitu," kata Aji menerangkan.


"Oh, bubur ini ya! Kalau begitu Ayah akan memakannya di kamar saja," ujar Sangkoer Singh dengan beranjak dari tempat duduknya. Dia ingin berjalan ke arah kamar, untuk bisa menikmati bubur kesukaannya jika sedang sakit.

__ADS_1


"Yah. Ayah tidak perlu ke kamar untuk makan bubur tersebut. Elisa akan ke dapur untuk menggoreng tempe kemulan saja. Elisa ingin makan tempe itu pagi ini," kata Elisa, mencegah ayah Sangkoer Singh agar tetap duduk di tempatnya.


"Kami mau tempe kemulan Sayang?" tanya Aji sambil memegang tangan Elisa.


Elisa mengangguk, tapi tidak jadi berdiri. Dia menunggu perkataan Aji selanjutnya, yang mungkin ada keinginan lain, yang bisa dilakukan oleh Elisa sekarang juga.


"Biar bibi Lasmi atau yang lain. Ada juga kok masih keturunan orang Indonesia juga di sini jadi pembantu, jadi dia pasti tahu makanan itu. Biar mereka, yang lain juga bisa belajar masak tempe kesukaan Kamu itu, biar Kamu tidak perlu repot-repot untuk menu sarapan paginya. Mereka akan selalu sediakan untukmu nanti."


Sekarang, Elisa paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Aji, memintanya agar tidak masuk ke dapur. Karena hal ini tidak disukai oleh ayah angkatnya itu, Sangkoer Singh. Dapur adalah area mutlak para pelayannya di rumah. Jadi tidak ada urusannya dengan para majikan. Ini dilakukan oleh tuan besar Sangkoer Singh, agar para pelayan tidak merasa di mata-matai, atau di campuri urusan pekerjaannya. Biar mereka tenang dan tidak merasa di awasi juga. Elisa lupa, jika Aji pernah mengatakan masalah ini padanya, saat baru saja datang ke rumah ayah Sangkoer Singh, waktu itu.


Akhirnya, Aji memangil bibi Lasmi dan memintanya untuk memberikan yg tugas pada pelayan yang lainnya, agar membuat tempe kemulan, seperti yang diinginkan Elisa.


"Tempe kemulan itu seperti apa Tuan muda?" tanya bibi Lasmi, yang belum paham nama makanan yang disebutkan oleh Aji tadi.


"Tempe yang di kasi tepung dan dibumbui Bi. Ada pelayan yang tahu kok, yang dari keturunan orang Indonesia itu bisa buat. Kemarin sudah pernah Aji kasih tahu, jika sewaktu-waktu istriku ini memintanya. Di Indonesia, dia lebih suka sarapan dengan itu, dari pada yang lainnya."


Bibi Lasmi mengangguk paham. Itu artinya, besok-besok, menu untuk sarapan pagi harus ada tempe kemulan, seperti yang diinginkan oleh istri dari tuan mudanya.


Tuan besar Sangkoer Singh, tersebut mendengar permintaan Elisa pada Aji, dan akhirnya Aji meminta bantuan pada bibi Lasmi. Tuan besar Sangkoer Singh juga paham dengan maksud Aji, kenapa Elisa di larang masuk area dapur. Biasanya, wanita hamil memiliki kepekaan terhadap bau-bau aneh yang tercium dari aroma bumbu dapur. Padahal, dapur pusatnya bumbu berada. Tadi saat mencium bau kare saja Elisa sudah muntah, apalagi dengan bau-bau bumbu dapur yang banyak di sana. Aji pasti takut, jika Elisa tidak akan tahan dan malah muntah-muntah lagi seperti tadi.

__ADS_1


"Dia memang cerdas. Bisa membuat alasan yang tepat, tapi tidak bisa dibantah oleh istrinya itu," kata tuan besar Sangkoer Singh dalam hati. Memuji kecerdasan Aji, yang juga cepat tanggap terhadap situasi yang ada, demi keselamatan istrinya, Elisa.


__ADS_2