
Malam baru saja mengantikan sore hari. Menutup cerita untuk hari ini, dan menggantinya dengan berbagai mimpi dan keinginan yang akan di wujudkan esok hari.
Aji, baru saja selesai mengerjakan sesuatu di komputer. Dia tadi, sudah meminta Elisa agar pulang mengunakan jasa taksi online. Dan sampai sekarang, Elisa malah belum juga sampai di apartemen.
Akhirnya, Aji mencoba untuk menghubungi istrinya itu. Untungnya, panggilan darinya, cepat di angkat oleh Elisa.
..."Ya Kak."...
..."Dimana?"...
..."Di Mall."...
..."Kok di Mall?"...
..."Iya. Ini di ajak Jeny, lihat-lihat perlengkapan bayi. Dia minta Elisa temani tadi."...
..."Kenapa tidak kasih kabar dulu? Kakak pikir Kamu kenapa-kenapa."...
..."Hehehe... maaf. Keasyikan sama Jeny ini."...
..."Di Mall mana?"...
...Di Mall XXX."...
..."Lho, itukan Mall yang ada di lantai dua apartemen ini?"...
..."Emang iya. Hihihi..."...
..."Ya sudah, Kakak susul!"...
Panggilan terputus. Aji segera bersiap untuk menyusul Elisa yang ada di lantai dua, bersama dengan adiknya, Jeny.
Beberapa menit kemudian, Aji sudah sampai di Mall yang disebut Elisa. Dia mengedarkan pandangannya mencari ke bagian peralatan bayi, seperti yang tadi dikatakan oleh istrinya itu.
"Kak!"
Dari arah samping, ada seseorang yang memangil dirinya.
__ADS_1
"Hemmm..."
Aji hanya menanggapinya sekilas, kemudian berjalan ke tempat istrinya berada. Tak jauh dari tempat Jeny, yang tadi memanggil namanya.
"Sayang..." sapa Aji, sambil memeluk Elisa dari arah belakang.
"Kakak! bikin kaget saja, ihsss..." seru Elisa, mendapat perlakuan seperti tadi dari suaminya. Wajahnya juga memerah karena malu, dilihat oleh beberapa pengunjung yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Kamu ini, kebiasaan tidak kasih kabar. Ini nih, yang bikin Kakak was-was jika tidak dekat dengan Kamu."
Elisa, meringis mendengar perkataan suaminya yang terkesan over protektif terhadap dirinya.
Jeny, yang tadi menyapa kakaknya terlebih dahulu, jadi merasa keki, karena merasa bersalah dengan keberadaan Elisa yang tidak memberikan kabar terlebih dahulu pada suaminya itu. Kakaknya sendiri, Aji.
"Lain kali jangan diulangi lagi ya!" pesan Aji pada Elisa.
Elisa mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia merasa tidak enak hati pada Jeny, yang diam dan tersenyum canggung, melihat ke arah mereka berdua.
"Maaf Jen. Kakak Kamu ini memang sedikit aneh ya? hehehe..." Elisa berkata dengan nyengir kuda pada Jeny. Dia tidak ingin, Jeny merasa bersalah karena telah mengajaknya mampir ke Mall ini, sebelum memberikan kabar pada Kakaknya, Aji.
"Maaf Kak. Aku yang memaksa Elisa untuk ikut tadi." Jeny, akhirnya mengatakan bahwa dialah yang memang bersalah dengan mengajak Elisa tanpa minta ijin kepadanya.
Jeny terdiam, mendengar nasehat dari kakaknya itu. Dia berpikir jika apa yang dikatakan oleh kakaknya memang benar. Dia yang terbiasa bebas, karena tidak di kekang suaminya, jadi merasa bersalah karena tidak memikirkan hal sedetail itu.
"Iya Kak. Maaf," kata Jeny dengan menunduk.
"Tadi sudah makan belum?" tanya Aji, mengalihkan perhatian adiknya dari rasa bersalah.
"Belum," jawab Jeny datar.
"Ayok. Kita makan di apartemen saja. Kakak sudah masak tadi," ajak Aji, pada adiknya, Jeny.
Elisa, tersenyum dan mengangguk pada Jeny. Memberikan kode agar tidak menolak tawaran kakaknya sendiri.
"Tidak apa-apa, Jeny ikut makan malam bersama kalian berdua?" tanya Jeny, dengan ragu.
"Kenapa? jangan khawatir jika makanan tidak cukup. Jika kurang, Kakak bisa masak lagi kok."
__ADS_1
Jeny, meringis saat mendengar perkataan kakaknya. Dia jadi merasa iri dengan sahabatnya, Elisa, yang mendapatkan kakaknya, Aji, sebagai suaminya. Ternyata, dibalik semua perilakunya yang terkesan over protektif, kakaknya itu sangat perhatian dan romantis. Meskipun jadi tidak nyaman, tapi semua yang dilakukan kakaknya ada benarnya juga.
Sekarang, mereka bertiga makan malam di apartemen. Aji, menyiapkan makanan untuk kedua wanita yang dia sayangi. Adiknya, Jeny dan istrinya, Elisa.
"Kamu tidak ada pantangan yang di larang kan, saat hamil?" tanya Aji, pada Jeny.
"Pantangan, maksud Kakak?" tanya Jeny bingung.
"Maksud Kakak, misalnya ada kelainan dari kandungan atau diri Kamu sendiri, sehingga dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan tertentu saat hamil seperti sekarang ini."
Jawaban Aji yang terdengar lebih tahu banyak seputar dunia kesehatan, terutama untuk wanita hamil, membuat Jeny mengerutkan keningnya.
"Kakak tahu banyak soal ini?" tanya Jeny ingin tahu.
"Kakak dulu yang menjaga mama saat hamil Kamu, karena papa sibuk dengan urusan bisnis yang sedang dia kembangkan. Makanya, Kakak lebih banyak baca artikel tentang ibu hamil dan bayi."
"Oh... hehehe. Kakak kak memang jenius ya? bisa tahu banyak hal," kata Jeny, kagum dengan kecerdasan kakaknya itu.
"Bukan begitu juga Jen. Yang penting kita fokus pada satu hal, itu akan lebih mudah kita ingat daripada banyak hal yang dipikirkan. Itu akan membuat konsentrasi jadi bercabang dan kita tidak bisa fokus lagi." Aji, memberikan penjelasan pada Jeny.
Elisa tersenyum, melihat keadaan yang ada di depan matanya kali ini. Keakraban yang terjalin antara kakak beradik itu patut untuk diacungi jempol. Meskipun kadang ada juga konflik yang terjadi, tapi mereka berdua cepat mengatasinya, sehingga tidak berlarut-larut.
"Oh ya, om Dimas masih sibuk di rumah sakit?" tanya Aji, pada adiknya, tentang suaminya, dokter Dimas.
"Iya, seharian ini dia cuma meneleponku tiga kali. Ada banyak pasien yang harus dia tanggani."
Jeny jadi sedih, mengingat kesibukan suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis dalam.
"Sudah Jen. Itu memang sudah jadi pekerjaan dan tangung jawabnya untuk merawat pasien. Kamu yang sabar ya," kata Elisa memberikan dukungan kepada Jeny, agar tidak lagi bersedih hati.
"Iya. Tidak apa-apa. Kemarin pagi, dia sudah Aku buat kesusahan karena Aku ngidam soto Betawi yang susah di dapat saat masih pagi-pagi, sekali, subuh-subuh itu. Hehehe... jadi geli kalau ingat wajahnya yang tampak lelah. Apalagi Aku cuma makan beberapa sendok saja."
Elisa yang belum mengalami masa ngidam, karena memang belum hamil, membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka, jika orang ngidam bisa membuat orang menjadi susah seperti yang diceritakan oleh Jeny.
"Masa sih Jen? wah parah Kamu!" sahut Elisa dengan mengeleng.
Aji, yang lebih banyak tahu tentang wanita hamil, karena ikut mendampingi mamanya, mama Cilla, yang dulu hamil dan ngidam juga, hanya diam mendengarkan saja. Tapi, dia tidak tahu juga, seandainya Elisa, istrinya itu, nanti hamil. Apakah sama juga, mengalami masa ngidam, atau tidak. Karena ada sebagian kecil wanita hamil yang tidak mengalami ngidam , dan justru suaminya, yang mengidam.
__ADS_1
Kata orang, jika yang mengalami ngidam itu yang laki-laki atau suaminya, akan lebih susah lagi mengatasinya. Entahlah, Aji juga tidak tahu. Dia hanya berharap agar Elisa bisa secepatnya hamil dalam waktu dekat.