
Perjalanan dari India ke Indonesia, ternyata tidak berpengaruh terhadap bayi mereka. Ka Singh, tetap anteng dan tidak rewel. Dia hanya akan menangis jika sedang lapar dan ingin menyusu, atau popoknya basah karena pipis.
Satu perawat di bawa dari India. Tuan besar Sangkoer Singh, tidak mau ambil resiko, apalagi terjadi sesuatu di perjalanan mereka ini. Dia begitu over protektif terhadap cucunya itu, Ka Singh. Toh pesawat yang membawa mereka, akan kembali lagi ke India, setelah para awak pesawat beristirahat sejenak, jadi para pegawai yang ikut dalam penerbangan mereka itu, akan ikut kembali ke India nantinya. Tapi tidak dengan dia bodyguard yang selalu ikut serta dalam kegiatan tuan besar Sangkoer Singh, jika sedang berada di luar negeri.
Tuan besar Sangkoer Singh, ada bodyguard dengan tugasnya masing-masing. Ada yang khusus untuk dirinya jika hanya berada di India saja, tapi ada yang ikut dia jika sedang berada di luar India. Mereka itu berbeda-beda dan memiliki kemampuan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan tuan besar Sangkoer Singh, karena bodyguardnya itu, sama seperti assiten pribadi juga baginya.
Selama penerbangan mereka yang terjadi hampir empat belas jam, tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta, Elisa begitu bersemangat ketika akan turun dari pesawat. Dia berharap jika ini bukan mimpi lagi.
"Kakak. Kita beneran sudah berada di Indonesia?" tanya Elisa menyakinkan diri sendiri dengan bertanya pada suaminya.
"Iya Sayang, Kita sudah sampai di Jakarta. Apa Kamu pikir Kamu sedang bermimpi dan masih berada di atas ranjang di kamar rumah Ayah yang ada di India sana?" tanya Aji, sambil mencubit hidung istrinya itu.
Elisa nyengir kuda. Dia menolehkan kepalanya ke arah ayah Sangkoer Singh, kemudian berkata, "Ayah, terima kasih untuk perjalanan ini. Untuk Elisa, ini merupakan kado yang istimewa setelah melahirkan Ka Singh."
Tuan besar Sangkoer Singh, tersebut mendengar perkataan menantunya itu. Dia akhirnya tahu, jika Elisa benar-benar merasa rindu dengan tanah airnya ini. Indonesian.
Dia juga maklum, karena Elisa tidak pernah meninggalkan Indonesia sebelumnya. Apalagi mereka di India dalam waktu yang lama, bahkan sampai Elisa hamil dan melahirkan juga. Jadi, bisa dimengerti jika dia begitu bersemangat dan bahagia saat menginjakkan kakinya lagi di Indonesia.
Selamat datang di Indonesia lagi Elisa," kata mama Cilla, sambil memeluk menantunya itu dari arah samping.
Elisa mengangguk dan tersenyum pada mama Cilla. Dia merasa sangat senang karena bisa menghirup udara Jakarta lagi, meskipun tidak ada bedanya di Jakarta maupun India sana, yang penting bagi Elisa, dia bersama dengan suaminya, ditambah dengan Ka Singh juga sekarang ini.
Mereka bersama-sama turun dari pesawat. Papa Gilang, sudah menghubungi Jeny dan juga dokter Dimas, agar menyuruh para supir yang ada di rumah untuk menjemputnya di bandara malam ini. Mereka tiba di bandara Jakarta pagi hari, sekitar pukul setengah empat pagi.
"Bagaimana dengan Ka Singh? dia baik-baik saja kan?" tanya papa Gilang, menanyakan tentang keadaan cucunya, yang kembali terlelap tidur, setelah tadi sempat menangis saat pesawat mendarat.
"Iya Pa. Dia baik-baik saja. Ayah Sangkoer Singh, benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan ini dengan sangat baik." Elisa, menjawab pertanyaan papa Gilang, dengan tersenyum ke arah ayah Sangkoer Singh juga.
__ADS_1
Tuan besar Sangkoer Singh, yang merasa disebut namanya oleh Elisa, jadi menoleh ke arah menantunya. Dia ikut tersenyum melihat Elisa yang sedang tersenyum kearahnya saat ini.
Akhirnya, mereka semua naik ke dalam mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka. Jeny dan suaminya tidak ikut menjemput, karena perkiraan mereka tiba saat dini hari dan Jeny dalam keadaan hamil. Ada balita juga yang harus dia perhatikan.
Jeny dan suaminya, dokter Dimas, serta anak mereka yang masih balita, sedang menunggu kedatangan semuanya di rumah papa Gilang. Mereka dengan sengaja menginap supaya bisa menyambut kedatangan Aji dan Elisa bersama dengan Ka Singh juga.
Vero juga sudah menantikan kedatangan mama dan papanya. Dia merasa kesepian karena tidak ada orang lain di rumah. Hanya para pembantu dan tukang kebun serta supir-supir saja, yang kadang dia lihat ada di rumah. Dia jadi merasa bosan. Tapi sekarang, dia tidak akan kesepian lagi, karena mama dan papanya akan tiba, bersama dengan kakak dan juga istrinya bersama dengan keponakannya yang masih bayi, yaitu Ka Singh.
*****
Di rumah papa Gilang, semua orang merasakan kebahagiaan, dengan kedatangan Aji dan Elisa bersama dengan anaknya, Ka Singh. Para pegawai di rumah, juga ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh keluarga majikannya itu.
Jeny juga sudah menyiapkan box bayi untuk anaknya Elisa, yang merupakan keponakannya juga. Dia begitu bersemangat untuk bisa menggendong Ka Singh. Padahal dia sendiri juga memiliki anak balita.
"Ah, Tante jadi senang melihat kedatangan Kamu Sayang!" teriak Jeny dengan mata berbinar-binar. Dia menciumi pipi Ka Singh, setelah melepas pelukannya pada Elisa, sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Ya begitulah. Tegang, sakit dan deg-degan lah pokonya. Kakak tuh ikut-ikutan tegang, dan dia juga ikutan sakit karena Aku pegang erat saat mengejan. hehehe..." Elisa, bercerita pada Jeny, tentang keadaannya saat melahirkan kemarin.
"Jen, Elisa baru saja datang. Biarkan dia beristirahat dulu. Nanti atau kapan-kapan Kamu masih bisa mengajaknya bercerita tentang banyak hal," kata mama Cilla, yang memperingatkan anaknya. Dia merasa khawatir dengan keadaan Elisa yang baru saja melahirkan dan ikut dalam perjalanan panjang ini. Elisa pastinya merasa capek tapi tidak enak jika langsung pergi ke kamar.
Jeny tersenyum canggung, saat mendengar teguran dari papanya. Dia jadi sadar, jika itu memang benar. Dia juga akan merasa capek jika pulang dari perjalanan, apalagi Elisa saat ini.
Akhirnya, mama Cilla yang pamit untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Ini karena selain dia merasa sangat capek, siang nanti, dia akan pergi ke kantor polisi, dimana anaknya Biyan sedang ditahan.
"Silahkan beristirahat tuan besar Sangkoer Singh. Kamar Anda sudah disiapkan. Saya pamit beristirahat sebentar," kata mama Cilla, pada tuan besar Sangkoer Singh yang masih duduk bersama dengan Aji, entah sedang membicarakan tentang apa.
"Aji, nanti tolong tunjukkan dan antar tuan besar Sangkoer Singh ke kamar ya," pinta mama Cilla pada anaknya, Aji.
__ADS_1
"Iya Ma," jawab Aji pendek.
Tuan besar Sangkoer Singh, hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar perkataan mama Cilla, yang kemudian melangkah pergi.
"Oh ya, anggap rumah sendiri Tuan. Maaf jika tidak sama seperti rumah Anda di India. Semoga Anda betah di sini," kata papa Gilang, yang ikut berdiri untuk pergi ke kamar. Dia berpamitan juga untuk beristirahat, sebelum nanti pergi ke kantor polisi.
Papa Gilang menyusul istrinya ke kamar. Elisa juga berpamitan untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Dia pergi ke kamar diantar Jeny yang masih mengendong Ka Singh. Dokter Dimas, masih berada di rumah sakit, dan akan datang nanti begitu jam tugasnya selesai.
Kamar tidur untuk tuan besar Sangkoer Singh, sudah dipersiapkan dari kemarin. Sekarang, Aji mengajaknya untuk masuk dan membiarkan ayah angkatnya itu untuk beristirahat.
"Mari Ayah. Aji tunjukkan kamarnya. Maaf, kamarnya tidak sebesar punya ayah di India. Semoga Ayah tetap merasa nyaman di sini," kata Aji, kemudian berdiri diikuti oleh tuan besar Sangkoer Singh yang hanya tersenyum sambil mengangguk, mendengar perkataan anak angkatnya itu.
*****
Siang hari, saat mama Cilla dan papa Gilang datang ke kantor polisi, ada Miss Yeti yang juga sudah ada di kantor polisi, dimana Biyan ditahan. Dia menengok kekasih belianya itu setiap hari, dengan membawa makanan untuk Biyan dan juga untuk beberapa polisi yang bertugas.
Di saat papa Gilang bersama dengan pengacaranya, sedang berbicara dengan polisi, mama Cilla mengajak miss Yeti untuk berbicara di luar ruangan. Dia ingin menyampaikan sesuatu pada kekasih anaknya itu.
"Maaf Yeti. Kami bukannya menyalahkan dirimu dalam kasus Biyan. Tapi, Kami berharap Kamu busa mengerti keadaan Biyan. Dia masih sekolah dan akan menjalani ujian akhir minggu besok. Biarkan dia berkonsentrasi pada sekolah dulu, dan juga biarkan dia bergaul secara normal."
Mama Cilla membicarakan tentang Biyan dengan miss Yeti. Mama Cilla ingin, kekasih anaknya itu bisa mengerti jika Biyan masih anak-anak dan tidak pantas untuknya.
Miss Yeti hanya tersenyum, mendengar perkataan mama Cilla. Dia paham permasalahan yang dihadapinya saat ini. Apalagi dengan profesinya yang tidak benar dimata semua orang.
"Saya sudah memintanya untuk pergi menjauhi segala tentang Saya Tante. Sejak Saya diperkenalkan oleh Biyan pada Tante, untuk pertama kalinya pagi itu. Tapi Biyan mengancam akan berbuat nekad, dan Tante sendiri tahu, bagaimana wataknya Biyan yang tidak diketahui oleh orang banyak. Dia bisa lebih nekad dari perkiraan kita semua. Saya juga sering menemaninya belajar kok, meskipun Saya tidak pernah sekolah tinggi, tapi Saya sadar, jika pendidikan itu sangat penting. Apalagi Biyan bukan anak yang bodoh juga. Tante tidak perlu khawatir. Setelah ini selesai, Saya akan pergi jauh tidak akan pernah menemui Biyan lagi."
Mendengar jawaban dari Miss Yeti, mama Cilla sedikit lega, meskipun ada banyak tanda tanya besar di dalam hatinya saat ini.
__ADS_1