
Kita tidak pernah tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang. Kita hanya bisa melihat dari apa yang tampak di depan mata kita. Dan kebanyakan dari kita, hanya menilai seseorang, juga dari apa yang terlihat, tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya. Karena itulah yang bisa kita lakukan.
Padahal, belum tentu apa yang terlihat itu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Bisa jadi, itu hanya sebuah rekayasa, seperti yang sering kita lihat dan dengar dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik seperti televisi.
Semua bisa di edit, direncanakan, bahkan sebuah hubungan juga ada yang cuma main-main editan semata.
Manusia itu memang kadang-kadang terlalu lucu dan aneh, untuk semua kejadian. Mereka pikir apa yang terjadi dalam kehidupan ini hanya permainan semata, seperti yang mereka inginkan. Padahal, semua itu tentunya ada efek lain dari buah perbuatan yang dilakukan. Baik dan buruk, pasti akan ada kejadian yang mengikutinya dibelakang nanti.
Sama seperti yang saat ini terjadi pada keluarga Jeny. Apa yang kemarin di lihat Elisa dan Jeny, akhirnya terungkap juga tidak lama kemudian.
Seminggu sudah berlalu. Jeny dan Elisa masih bersemangat untuk membuat penampilan Jeny bisa modis dan semakin menarik, meskipun perutnya terus saja membuncit.
Tapi, semangat Jeny untuk tetap bisa mempertahankan keutuhan keluarganya tidak membuatnya mengeluh. Dia tetap menjalankan kegiatan dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dan istri yang baik di rumah.
Dokter Dimas juga berperilaku seperti biasanya jika mereka sedang berdua atau ada di tengah-tengah keluarga yang lain. Bahkan, dokter Dimas memuji istrinya, Jeny, yang sekarang terlihat berbeda dengan kehamilan keduanya ini.
"Kamu makin hot saja sih Mi. Mungkin hormon kehamilan Kamu yang sekarang lebih baik ya," kata dokter Dimas suatu malam, setelah mereka selesai melakukan 'ritual' malam hari.
"Masa sih Da. Perasaan Uda saja mungkin," jawab Jeny sambil tersenyum mendengar pujian dari suaminya.
"Iya Sayang. Kamu juga terlihat seksi, meskipun perutnya tetap saja besar, tapi itu tidak membuat keseksian Kamu pudar," kata dokter Dimas lagi. Dia benar-benar menyadari betul, perubahan yang terjadi pada istrinya, Jeny.
"Wah, benarkah? terima kasih Uda. Mungkin anak Kamu ini ingin melihat mami dan papi_nya tetap bersama dan berbahagia."
Jeny mengatakan semua itu, dengan sedikit memberikan sindiran untuk suaminya itu. Tapi, sepertinya dokter Dimas tetap anteng dan tidak ada perubahan karena tidak merasa tersindir.
Jeny jadi curiga, jika semua yang terjadi kemarin itu hanya sebuah karangan dan rekayasa belaka, untuk menghancurkan keharmonisan keluarga mereka.
"Hahaha, bisa jadi. Uda jadi makin sayang nih sama Mami. Semoga anak kita yang kedua ini cowok ya Mi, biar komplit. Kan sudah ada cewek," kata dokter Dimas, sambil memeluk Jeny yang ada disampingnya, karena tadi mereka berdua berbaring saling berhadap-hadapan.
Jeny mengangguk dalam perlukan suaminya. Dia merasa bahagia karena ternyata tidak ada yang berubah dari dokter Dimas. Dia juga berterima kasih pada Elisa, sahabat sekaligus kakak iparnya itu, karena dari semua nasehat-nasehatnya, Jeny tidak salah langkah, hanya karena terperdaya oleh sebuah pesan dan foto yang tidak jelas.
Dia lain pihak, dokter Dimas merasa bersalah. Dia hampir saja terperdaya oleh rayuannya perawat muda yang masih magang dan ada di tim_nya, jika sedang ada operasi atau pembedahan di ruang operasi.
__ADS_1
Dokter Dimas masih bisa bernafas lega, karena dengan cepat dia memutuskan bahwa tidak akan meladeni semua rayuan dan pesan dari perawat tersebut. Dia tidak mau, rumah tangga yang dia perjuangan hancur hanya karena pihak ketiga, yang tidak tahu, bagaimana rasanya berjuang untuk bisa membangun sebuah keharmonisan rumah tangga.
Dia berjanji pada dirinya sendiri, untuk lebih berhati-hati dalam memilih teman, dan bergaul, meskipun itu ada di dalam lingkungan pekerjaan yang dia jalani selama ini, karena godaan akan datang setiap waktu. Itu semua hanya tergantung dari dirinya sendiri yang bisa mengatasi semua godaan yang datang padanya. Mau menanggapi atau menolaknya.
*****
..."El, Aku sudah mengetahui keberadaan perawat itu. Dia ternyata hanya perawat magang yang menginginkan nilai baik untuk kelulusannya. Tapi, caranya yang tidak baik itu malah membuatnya mendapat nilai buruk dari Uda."...
Jeny, menelpon Elisa saat dokter Dimas sudah berangkat ke rumah sakit pagi hari.
Elisa, yang baru saja mengantarkan Aji ke luar rumah, untuk berangkat ke kantor GAS, jadi tersenyum dan mengucapkan syukur.
..."Syukurlah kalau begitu Jen. Kamu juga selamat ya, tidak langsung naik pitam saat itu juga. Semoga kedepannya kalian bisa terus bersama dan bisa menjadi sebuah keluarga yang berbahagia serta bisa melalui segala macam godaan. Semoga Aku juga sama seperti itu juga."...
Elisa juga berharap, agar keluarganya bersama dengan Aji, jauh dari cobaan orang ketiga. Dia tidak ingin mengalami hal yang sama seperti kasus kebanyakan orang.
..."Oh ya El, besok-besok temani Aku ke salon ibu hamil ya. Aku ingin tetap tampil cantik meskipun tidak dengan berdandan yang berlebihan."...
..."Iya. Yang penting, Kamu harus tetap berpikir positif ya, biar anak Kamu juga tetap sehat dan tumbuh kembang dengan baik."...
..."Hahaha... itu karena Kamu mau, kalau Kamu nya tidak mau ya tidak mungkin juga jadi lebih baik."...
Akhirnya mereka membicarakan tentang hal yang biasa, dan tidak lagi membahas tentang masalah keluarga masing-masing.
"Asyik bener nih, sedang berbicara dengan siapa, Jeny ya?" tanya mama Cilla menebak. Dia jadi penasaran karena Elisa berbicara melalui telepon tapi dengan tertawa-tawa senang. Hal yang jarang dilakukan oleh Elisa, jika bukan dengan orang yang sangat dekat dengannya.
"Eh iya Ma. Ini Jeny, mau ngajakin ke salon besok." Elisa memberitahu mama Cilla, dengan rencana ajakan adik iparnya itu.
"Oh, bagus itu. Biar tidak stress karena memikirkan kehamilan saja. Hehehe... mama ikut ya!" Mama Cilla justru ingin ikut serta,.saat mereka berdua pergi ke salon besok.
"Mama mau ikut juga?" tanya Elisa memastikan. Dia antusias melihat mama Cilla yang masih terlihat muda dan modis, padahal sudah jadi nenek-nenek sekarang ini.
"Gak apa-apa kan ya? Mama ikut deh, kan bedak juga tidak ada kerjaan. Mama jadi suntuk kalau kalian tunggal. Ka Singh di ajak saja, besok ajak satu bibi untuk jagain dia," jawab mama Cilla, dengan memberikan usulan agar Ka Singh bisa dia ajak juga.
__ADS_1
"Wah ide bagus Ma. El bisa tenang dan tidak kepikiran tentang Ka Singh, karena dia ikut dan tidak ditinggal di rumah."
Akhirnya mereka berdua sepakat untuk pergi ke salon bersama dengan Jeny juga. Elisa segera memberikan pesan pada Jeny, agar besok bisa datang terlebih dahulu ke rumah, supaya mereka bisa pergi bersama-sama dari tempat yang sama.
*****
Di jalan, Aji yang sedang menyetir mobil sendiri, harus berhenti, karena ada kecelakaan yang terjadi di depan sana. Kemacetan akibat kecelakaan tersebut membuatnya mau tidak mau harus ikut berhenti juga.
"Duh, hari ini jadwal tidak hanya ada di kantor GAS, tapi ada ke Tangerang juga. Mau lihat pembangunan Mension ayah. Tinggal pengecoran atap saja sama nanti pembangunan akhir untuk finishing cat."
Aji bergumam seorang diri di dalam mobilnya. Dia merasa jika kemacetan ini akan lebih lama lagi, karena polisi baru saja datang, untuk evakuasi dan juga mengatur jalan yang sudah terlanjur macet dan tidak beraturan.
Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon via video call istrinya, Elisa.
..."Halo Sayang!"...
Aji langsung menyaps istrinya, begitu sambungan video call di terima. Dia bisa melihat wajah Elisa yang ternyata sedang berbicara dengan mamanya, mama Cilla.
..."Hai Kak. Masih di jalan?"...
Elisa bertanya keberadaan posisi Aji, karena melihat masih berada di dalam mobil.
..."Iya. Macet Sayang. Ada kecelakaan di depan sana. Dan polisi baru saja datang. Jadi daripada bosen nunggu, Kakak hubungi Kamu saja, sekalian mau lihat Ka Singh. Sedang apa dia sekarang?" ...
..."Ini sama omanya dia." ...
Elisa, mengarahkan kamera handphone miliknya pada anaknya, Ka Singh, yang sedang ada dipangkuan mama Cilla.
..."Hati-hati Aji. Di jalan banyak kejadian kecelakaan. Lihat sekitar juga, dengan kendaraan yang ada. Fokus dengan setir juga."...
Mama Cilla, memberikan nasehat pada anaknya, Aji. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada anak-anaknya, termasuk Aji yang sudah berkeluarga sendiri.
..."Iya Ma. Terima kasih atas perhatiannya. Aji melanjutkan perjalanan lagi ya. Peluk cium untuk Ka Singh."...
__ADS_1
Aji berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Video call terputus, dan mama Cilla pun tersenyum melihat anaknya yang begitu perhatian pada istri dan anaknya. Dia berdoa, untuk kebahagiaan keluarga anak-anaknya, termasuk Jeny juga.
Begitulah orang tua. Mereka selalu berharap dan berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya. Yang pastinya, mereka tidak ingin melihat sesuatu terjadi pada mereka. Mereka selalu berpikir, jika anak-anak tetaplah anak-anak, meskipun usia mereka sudah tidak lagi anak-anak, bahkan sudah sama seperti dirinya sendiri, mempunyai sebuah kehidupan keluarga yang berdiri sendiri. Tapi orang tua akan selalu melihat dengan mata yang sama terhadap anak-anaknya itu.