Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Biar Diproses Sesuai Hukum


__ADS_3

Mobil dokter Hendrawan memasuki area parkir rumah sakit sekitar pukul lima sore. Dia yang merasa tidak nyaman saat ini, harus memaksakan diri untuk bisa menemui mami Rossa ataupun Gilang. Semua itu demi anak-anaknya yang tumbuh tanpa banyak perhatian dan juga control darinya. Dia lebih banyak fokus ke perkembangan kliniknya saja.


"Semoga mami Rossa ataupun Gilang bisa memaafkan mereka berdua. Meskipun jalur hukum tetap berjalan, setidaknya jika mereka memberikan maaf, itu bisa meringankan tuntutan untuk anak-anakku."


Dokter Hendrawan menghela nafas panjang sebelum keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju dalam rumah sakit. Dia harus bisa melakukan semua itu, meskipun dia juga harus menanggung malu.


Tapi ternyata keberuntungan masih menjauh darinya. Saat tiba di kamar rawat Gilang yang kemarin dia datangi, ternyata kamar itu sudah kosong dan juga rapi.


"Berarti benar mereka sudah pulang, atau aku selisih jalan ya tadi, sewaktu ada perjalanan ke sini?"


Dokter Hendrawan berpikir jika dia selisih jalan sewaktu datang ke rumah sakit ini, sedangkan mami Rossa dan juga Gilang tidak tahu, jika dia akan datang untuk menemui mereka.


"Ah, susah juga untuk mendapatkan maaf itu," kata dokter Hendrawan pada dirinya sendiri.


"Jika bukan demi anak-anakku, aku tidak akan pernah mau melakukan semua ini. Membuang-buang waktu dan tenaga saja!" Dokter Hendrawan mengeluhkan posisi yang dia alami sekarang ini.


Dokter Hendrawan bergegas untuk keluar dari rumah sakit dan kembali ke tempat parkir. Setelah masuk ke dalam mobil, dia mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi mami Rossa. Dia ingin tahu, apakah mami Rossa sudah sampai di rumah atau belum.


Beberapa kali panggilannya tidak tersambung. 'Mungkin mami Rossa sedang dalam perjalanan,' pikir dokter Hendrawan. Tapi dokter Hendrawan tidak pantang menyerah. Dia mencoba menelpon sekali lagi dengan handphonenya. Tak lama, panggilannya tersambung dan di jawab oleh mami Rossa.


..."Halo. Sore Dokter," sapa mami Rossa saat mengangkat telpon dari dokter Hendrawan....


..."Sore Mami Rossa. Sedang ada dimana?" tanya dokter Hendrawan pada mami Rossa....


..."Aku ada di rumah," jawab mami Rossa dengan suara datar....


..."Baru sampai?" tanya dokter Hendrawan ingin tahu. Sebab sedari siang sampai sore dia ada di rumah mami Rossa....


..."Tidak. Sudah dari siang," jawab mami Rossa lagi....


..."Saya menunggu mami dari siang sampai sore. Tidak ada mami?" tanya dokter Hendrawan heran....


..."Di rumah mana?" tanya mami Rossa biasa saja....

__ADS_1


..."Di rumah utama," jawab dokter Hendrawan, kemudian dia baru sadar jika rumah mami Rossa tidak hanya satu. Bisa jadi dia dan juga Gilang pulang ke rumah yang lainnya....


..."Oh..." mami Rossa tidak merespon dengan baik atas jawaban yang diberikan oleh dokter Hendrawan....


..."Saya mau ketemu dengan mami dan juga Gilang." Dokter Hendrawan meminta ijin....


..."Lain kali saja ya Dok. Kami sedang butuh istirahat dan tidak ingin di ganggu dulu," jawab mami Rossa berterus terang agar tidak berbelit-belit lagi....


..."Baiklah. Terima kasih kalau begitu," jawab dokter Hendrawan dengan nada kecewa....


Panggilan telpon ditutup, kemudian dokter Hendrawan segera menghidupkan mesin mobilnya dan kembali pulang ke kliniknya dengan perasaan kecewa.


*****


Saat itu, mami Rossa baru saja mau naik ke atas bersama dengan Aji. Belum sampai masuk lift, handphone miliknya bergetar. Saat mau menerima panggilan telepon, mami Rossa akhirnya tahu jika dokter Hendrawan akhirnya menghubunginya. Dia juga tadi sudah tahu jika dokter keluarganya itu, menunggunya di rumah dari bibi pembantu rumah tangganya.


Mami Rossa yakin jika dokter Hendrawan punya maksud tertentu saat ini, sehingga berusaha untuk menemuinya dan juga Gilang, terkait kasus anak-anaknya.


"Jangan memaksaku untuk berbuat lebih jahat lagi, dari apa yang kalian lakukan pada anak-anakku," guman mami Rossa pelan.


"Siapa Oma?" tanya Aji penasaran.


"Oh tidak apa-apa. Bukan siapa-siapa," jawab mami Rossa gugup. Dia tidak ingin Aji mengetahui permasalahan orang-orang dewasa yang lebih rumit dan kompleks.


"Kita naik yuk! Papa sama Mama pasti sudah menunggu kita," ajak mami Rossa pada Aji.


Mereka berdua segera masuk dan naik keatas, menemui Gilang dan juga Cilla yang kebingungan mencari keberadaan mereka berdua.


*****


"Mami. Kalau mau pergi kasih kabar atau pesan, kan kita jadi gak khawatir Mi. Untung pihak resto memberitahu jika ada mami dengan Aji disana."


Gilang langsung protes, begitu mami Rossa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Mana makanannya Mi?" tanya Gilang pada mami Rossa yang diam dan tidak menjawab protesnya.


"Kamu marah pa tanya makanan?" tanya mami Rossa datar.


"Keduanya," jawab Gilang, kemudian menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Aji. Mama khawatir Sayang," kata Cilla pada anaknya.


"Tadi Aji sama Oma turun ke bawah. Waktu mau ajak mama dan papa, ternyata masih tidur dengan nyenyak. Ya sudah, kita pergi sendiri ke resto buat makan. Sudah lapar juga Aji ma!"


Keterangan yang diberikan oleh Aji, membuat Cilla merasa malu dan tidak berani bertanya lagi. Sedangkan Gilang menatap ke arah mami Rossa dengan canggung.


"Tuh denger kan! Lagi nyenyak tidur dan asyik pegangan tangan, ngapain mami gangguin," kata mami Rossa mencibir Gilang, anaknya yang masih berwajah serba salah itu.


"Terus makanan pesanan Gilang mana? Aku juga sudah lapar Mi. Cilla juga pasti sudah merasa lapar juga," tanya Gilang tidak sabar.


"Nanti diantar. Mungkin sebentar lagi," jawab mami Rossa memberitahu.


"Hemm... masih menunggu lagu," keluh Gilang, sambil menahan laparnya.


Taka lama kurir resto datang dengan membawa pesanan yang Gilang mau.


"Cilla. Tolong atur di meja makan ya. Terus kamu sama Gilang buruan makan biar gak kelaparan kayak cinta kalian!"


Mami Rossa meminta tolong pada Cilla, tapi dengan nada bercanda. Dia sepertinya senang sekali menggoda Gilang ataupun Cilla dari kemarin-kemarin.


"Mami. Jangan digodain terus Cilla. Nanti malah dia gak nyaman ada disekitar kita lho!" Gilang memperingatkan maminya itu.


"Oh ya. Tadi ada Telpon dari Dokter Hendrawan. Dia ingin menemui kita. Mungkin untuk bicara soal anak-anaknya itu. Kalau Mami sih malas untuk memberi keringanan ataupun maaf dengan mudah. Biar anak-anak itu belajar dan berpikir panjang jika ingin melakukan sesuatu."


"Kapan Mi?" tanya Gilang ingin tahu.


Barusan, saat mami mau naik kesini. Bahkan kata bibi, dia juga sudah menunggu lama di rumah. Mungkin dia pikir kita akan pulang ke rumah sesuai rencana. Untungnya, Mami ikut usul Aji dan kita pulang ke apartemen ini."

__ADS_1


"Gilang tidak bisa memaafkan mereka begitu saja. Biar pihak polisi yang akan memproses kasus ini sesuai hukum yang ada."


Mami Rossa menganguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Gilang, anaknya itu.


__ADS_2