Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Semua Ada Waktunya


__ADS_3

Semuanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Begitu juga dengan rumah besar Gilang. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya dan tanggung jawabnya.


Aji sudah bersiap-siap. Begitu juga dengan Cilla, mamanya. "Mama gugup?" tanya Aji, saat melihat mamanya yang sedang tidak fokus dalam satu arah pandangan.


"Hem..."


Cilla tidak segera menjawab pertanyaan anaknya itu. Dia menghela nafas panjang dan memejamkan matanya untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri.


"Jika Mama gugup, coba lihat Aji," pinta Aji pada mamanya.


Cilla menurut. Dia masih diam dan belum berkata apa-apa. Tapi kini dia menatap ke arah anaknya itu, dengan intens.


"Coba Mama ingat. Apa kebahagiaan yang Mama inginkan selama ini?" tanya Aji pada mamanya.


"Melihat senyum Aji setiap saat," jawab Cilla dengan tersenyum.


Kini Aji ikut tersenyum. Dia memeluk mamanya dengan erat. "Senyum Mama, juga kebahagiaan buat Aji," kata Aji, masih dalam keadaan memeluk mamanya.


"Terima kasih Sayang. Mama bahagia, dengan adanya Aji, yang selalu bisa membuat Mama tersenyum selama ini."


"Aji juga senang, bisa melihat Mama senang dan tidak lagi harus pergi setiap hari. Pulang sudah sore, kadang malam dalam keadaan yang sudah capek," kata Aji, mengingat kehidupan sehari-hari mereka berdua waktu itu.


"Maaf ya Sayang," kata Cilla, dengan mata berkaca-kaca, saat mengingat semua yang sudah dia lewati, bersama dengan anaknya itu selama ini.


Cilla kembali memeluk Aji. Menumpahkan segala macam perasaannya saat ini. Aji, anak yang tidak pernah dia harapkan waktu itu. Tapi, menjadi salah satu tujuan dan semangatnya, untuk tetap bisa bertahan hidup selama ini.


*****


"Ayok, semuanya sudah siap?" tanya mami Rossa pada semua pegawainya, Bibi dan para pembantu rumah.


"Sudah Nyonya..."


Mereka semua, menjawab secara serempak. Seakan-akan sedang dikomando dan diberikan aba-aba.


"Kalian akan bebas tugas selama pesta, karena ada pihak EO yang sudah menghandle smua keperluan, termasuk keamanan. Kalian bisa ikut menikmati makanan dan pesta juga. Tapi tetap ikut berjaga-jaga, jika ada sesuatu yang terjadi ya!"


Semuanya mengangguk mengerti. Mereka semua ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh majikannya itu.


"Kalian bisa masuk ke dalam mobil yang ada. Supir tetap bertugas ya, hehehe..." pesan mami Rossa pada para supirnya.


Kini, semua orang sudah masuk ke dalam mobil. Cilla dan Aji, juga sudah ada di mobil yang ada di bagian paling depan urutan kedua, bersama dengan mami Rossa. Gilang, ada di dalam mobil terdepan, didampingi om Wahyu dan tuan Adi.


Kini, iring-iringan mobil itu, melaju dengan pelan menuju ke arah gedung yah sudah dipersiapkan.

__ADS_1


*****


Suasana pesta pernikahan Gilang dan Cilla sangat meriah tapi tetap teratur.


Tadi, tamu undangan yang hadir, melakukan semua prosedur yang sudah ada di dalam undangan pernikahan yang mereka pegang. Baik saat masuk ke dalam gedung, maupun waktu akan naik ke panggung, untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Jadi keamanan tetap terjaga dengan baik.


Para tamu undangan, terkagum-kagum dengan pasangan pengantin yang baru saja naik ke atas panggung pelaminan. Banyak sekali yang berkomentar dengan kekaguman mereka itu.


"Wah... taun Gilang, gagah sekali!"


"Cantik banget pengantinnya. Pantes saja, tuan Gilang tidak mau melepaskannya."


"Cocok ya mereka?"


"Anaknya ganteng deh. Coba anakku cewek, tuan Gilang aku ajak besanan besok!"


"Keren ya?"


"Salut lho. Perjalanan panjang cinta mereka tidak biasa."


"Aku mau dong kayak mereka juga."


"Hush. Mereka ada insiden terlebih dahulu!"


"Jangan lihat bahagianya yang sekarang. Lihat perjuangan yang wanitanya bersama anaknya. Iya kalau bernasib baik sama kayak dia, kalau kebalikannya?"


"Ahhh... Suka dengan pestanya!"


Berbagai macam komentar yang baik dan buruk terdengar dari beberapa orang. Tentunya, mereka juga punya cara pandang sendiri untuk kisah Gilang dan Cilla. Tidak semua orang bisa paham dan mengerti bagaimana susahnya dan perjuangan yang dilakukan dimasa lalu.


Aji, diam dan tidak banyak bergerak. Dia duduk di dekat mamanya. Dia hanya memperhatikan satu persatu, tamu undangan yang hadir.


Mami Rossa, sibuk dengan urusannya, bersama dengan tamu-tamunya juga. Dia mengundang teman-teman arisan, dan juga sesama pengusaha di Mall yang dia kenal.


Semua orang, menikmati suasana pesta yang nyaman dengan hiburan yang ada. Banyak artis yang ikut memeriahkan acara pesta Gilang, sehingga suasana tetap meriah.


"Capek ya Honey? Mau minum?" tanya Gilang, menawari Cilla.


Cilla hanya mengangguk dan tersenyum malu. Dia memang merasa haus, tapi sepertinya kesulitan untuk berjalan, dengan gaun pengantin yang dia kenakan.


"Aji, Sayang. Mau minum juga tidak?" tanya Gilang menawari Aji.


"Tidak Pa. Aji bisa ambil sendiri," jawab Aji cepat sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Pesta terus berlanjut, hingga waktu yang sudah ditentukan sesuai kesepakatan yang dibuat bersama. Semua tamu undangan, turut berbahagia dengan pesta pernikahan Gilang dan Cilla.


*****


"Hufhhhh... Capek sekali," kata Gilang mengeluh.


"Memang Kamu saja yang capek? Kita semua juga capek Gilang!"


Mami Rossa, mengeleng mendengar perkataan Gilang. Sedangkan Gilang, hanya cengengesan dengan tersenyum canggung, karena merasa tidak enak, sudah diprotes maminya itu.


"Aji juga capek Pa."


Kini, Aji gantian yang mengeluh kepada Gilang. Cilla hanya mengangguk dengan tersenyum ke arah anaknya itu. Tapi, Gilang mengerling dengan tersenyum miring.


"Awas. Kalian sedang capek. Bisa gak optimal, mending istirahat dan besok saja mulai main," kata mami Rossa, mengingatkan keduanya, Gilang dan Cilla.


Gilang mengaruk-garuk keningnya sendiri, tidak ada komentar. Cilla tersenyum tipis dengan menundukkan wajahnya, karena merasa malu. Sedangkan Aji, melihat keduanya dengan wajah bingung dan bertanya-tanya. "Ma. Tidak ada apa-apa kan? Aji mau susu hangat. Terus kita tidur ya, capek!"


Gilang menoleh cepat ke arah Aji yang sedang merajuk. Dia seakan kalah start dengan anaknya itu.


"Kok..."


Gilang tidak melanjutkan kata-katanya, saat melihat ke arah Cilla yang mendelik padanya, meskipun tidak lama, karena Cilla sudah kembali meladeni Aji, yang sedang ingin dibuatkan susu hangat.


"Hahaha... bener kan kata mami!" ejek mami Rossa pada Gilang.


"Ah.. Mami," kata Gilang ikutan merajuk seperti Aji.


"Apa? Kamu mau tidur bareng Mami, sama kayak Aji! Kan Kamu juga sering minta ditemani kalau mau tidur, dulu!"


"Aduh, Mami! Jangan buka kartu dong!" rengek Gilang dengan suara pelan. Padahal Cilla juga masih bisa mendengarnya.


"Jadi Cilla. Selamat untuk repotnya mengurus dua bayi. Kalau yang kecil sih, bisa ikut mami bantu atasi, tapi yang besar, Mami angkat tangan ya!" kata mami Rossa dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Aji, mau tidur bareng Oma tidak? Nanti Oma kasih sesuatu deh..." rayu mami Rossa pada Aji.


Aji tampak berpikir sebentar, kemudian mengangguk sambil tersenyum. "Boleh Ma?" tanya Aji pada mamanya.


"Boleh banget Sayang. Tiap malam juga boleh. Tapi Aji harus belajar tidur sendiri ya, biar nanti kalau sudah punya Adek kecil tidak kaget dan sudah terbiasa," kaya Gilang penuh semangat.


Cilla tersenyum dengan menundukkan wajahnya. Sedangkan mami Rossa mengeleng melihat tingkah anaknya itu.


"Tapi Aji mau malam ini tidur sama Mama. Besok saja ya Oma, Aji tidur sama Oma!" kata Aji memberitahu.

__ADS_1


Mami Rossa dan Cilla, terkikik geli melihat wajah Gilang yang memerah karena malu dengan semua yang sudah dia usahakan.


__ADS_2