
Di tempat parkir kantor polisi.
Lily yang diantar oleh papanya, dokter Hendrawan, datang memenuhi panggilan polisi, terkait kasus penculikan terhadap Aji dan juga mamanya, Cilla.
"Pa. Apakah Lily bisa bebas?" tanya Lily sebelum masuk kedalam kantor polisi. Mereka berdua masih berada di area parkir.
"Papa tidak tahu. Tapi setidaknya, jika kamu bersikap kooperatif, hakim di pengadilan nantinya akan mempertimbangkan untuk keringanan yang di minta oleh pihak lawyer. Kamu harus bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh penyelidik dan tidak boleh berbeda-beda. Ingat, jawaban yang kamu berikan bisa menentukan nasibmu di pengadilan nantinya."
Dokter Hendrawan memberikan penjelasan dan dorongan semangat untuk anaknya, Lily. Dia harus bisa bisa menahan diri untuk tidak melakukan perlawanan pada keluarga Aji Saka. Keluarga yang sudah dia kenal baik sedari dulu. Apalagi keluarga mami Rossa itu, banyak memberikan bantuan pada kliniknya yang sudah berkembang dan maju saat ini.
"Kak Candra bagaimana Pah?" tanya Lily lagi, mengenai posisi kakaknya yang menjadi tersangka tapi masih berada di rumah sakit.
"Sama. Kalian sama-sama menjadi tersangka utama dan menjadi terdakwa di pengadilan nanti, untuk kasus ini. Tapi justru kamu yang Papa khawatirkan. Biasanya, dalang dari suatu kejahatan mendapatkan hukuman yang lebih berat dibanding sang pelaku. Tapi papa harap mami Rossa bisa sedikit mempunyai rasa belas kasih untuk kita."
Dokter Hendrawan berharap jika mami Rossa akan membatalkan gugatan dan memaafkan kedua anaknya itu. Tapi dengan cepat, dokter Hendrawan mengeleng karena itu tidak mungkin. Dia menyadari jika semua ini adalah kesalahan yang terbesar dalam hidupnya. Salah mendidik anak-anaknya yang tumbuh dengan kebebasan untuk memilih dan menentukan pilihan mereka sendiri tanpa campur tangannya sebagai orang tua.
"Pah. Lily takut," kata Lily merajuk.
"Papa tidak bisa berbuat banyak Lily. Semua memang kesalahan kalian. Cinta membuat kalian buta dan tidak berpikir dengan jernih." Dokter Hendrawan mengelengkan kepalanya beberapa kali tanpa melihat ke arah Lily, anaknya.
__ADS_1
"Jika Lily dibebaskan dari tuntutan ini, Lily rela pindah dari Indonesia dan tidak akan kembali lagi Pah. Lily mau di Jepang saja!"
Lily mengatakan niatnya untuk pergi menjauh dari semua hal yang berhubungan dengan Gilang. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang. Bukankah di Jepang kehidupan percintaan bisa lebih bebas dan tidak banyak aturannya seperti di Indonesia? Lily berpikir jika dia lebih cocok di luar negeri dari pada hidup di Indonesia yang memiliki hukum dan peraturan sosial yang lebih besar dibanding hukun negara. Dia tidak ingin menjadi sorotan media dan menjadi pergunjingan masyarakat, apalagi yang mengenal keluarganya.
"Aku juga akan usulkan pada kak Candra untuk tidak menetap di Indonesia. apalagi mengingat pribadinya yang melenceng itu. Dia tidak cocok sama sekali di Indonesia Pah," kata Lily melanjutkan kata-katanya yang tadi.
"Apa kamu tidak berpikir untuk kembali pada pola pikir Indonesia yang asli? Apa kalian pikir semudah itu melarikan diri dari semua tanggung jawab sosial? Lily Kamu harus bisa berubah dan mengatasi semua emosi yang sesaat itu." Dokter Hendrawan, papanya Lily menasehati anak gadisnya yang keras kepala.
*****
POV Dokter Hendrawan.
Aku memulai karir Dokter dengan modal nekad. Aku yang dulu hanya memiliki modal kecil, berusaha dengan mendirikan sebuah klinik kecil yang ada di pinggir jalan raya. Ini menguntungkan juga dengan letaknya yang strategis. Jika ada kecelakaan atau hal yang mendadak saat perjalanan, orang-orang pasti berlari mencari klinik terdekat. Begitulah kira-kira pendapatku waktu itu.
Pada suatu sore, aku kedatangan pasien yang baru saja menikah. Mereka berdua baru pulang dari haneymoon dan kelelahan dalam perjalanan. Sang istri pingsan, kemudian buru-buru dilarikan ke klinik terdekat, dan kebetulan klinik terdekat itu milikku.
Begitulah awal mulanya aku berkenalan dengan keluarga Raden Aji Saka dan istrinya. Beberapa hari kemudian, mereka berdua kembali datang ke klinik dan mengatakan jika ingin memiliki dokter pribadi untuk keluarga mereka, Raden Aji Saka yang baru saja memulai kehidupan baru bersama dengan istrinya.
Akhirnya, aku diminta untuk menjadi dokter pribadi mereka. Aku tentu saja sangat kaget tapi juga merasa senang. Aku tidak menyangka, jika mereka mempercayakan kesehatan keluarga kecil mereka padaku. Mungkin juga itu disebabkan oleh letak klinikku yang lebih dekat dengan rumah mereka yang mirip dengan istana.
__ADS_1
Aku menjalani semua perkerjaan yang biasanya diklinik Setiap harinya. Aku juga dengan sigap dan tanggap jika ada panggilan telepon dari keluarga Raden Aji Saka.
Mereka banyak membantuku dalam mengembangkan klinik. Bahkan, mereka juga memberikan sumbangan untuk pembangunan klinik agar lebih besar dan cepat berkembang. Apalagi saat aku baru saja menikah dan ingin membeli rumah. Merek mereka ikut sibuk mencari-cari rumah yang cocok untuk kamu, aku dan istriku, mamanya Candra.
Tapi semuanya tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan. Kebahagiaan keluarga kami kandas saat kami sudah memiliki anak, Candra.
Istriku yang seorang model tidak mau melepaskan kariernya, bahkan dia juga jarang berada di rumah. Kami sering berantem dan cek-cok yang tidak berarti, tapi membuat kami membesarkan masalah hingga berakibat perceraian.
Anak kami, Candra, yang biasa diasuh oleh pengasuh tidak mau ikut dengan mamanya. Dia lebih suka berada di rumah Gilang, anaknya Raden Aji Saka. Mungkin karena keduanya, Gilang dan Candra, anak-anak yang kesepian, sama-sama anak tunggal. Jadi merasa senang saat ada teman bermain.
Mami Rossa, mamanya Gilang, juga tidak keberatan jika Candra datang dan bermain bersama anaknya. Kadang-kadang, Candra malah menginap juga di rumah mereka.
Tapi sesuatu hari, Candra di paksa mamanya untuk ikut dirinya. Dia membawa Candra ke Amerika. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, sebab, Candra dimenangkan oleh mamanya saat di pengadilan, di hari terakhir persidangan perceraian kami.
Setahun kemudian aku menikahi gadis Jawa keturunan Jepang. Setelah dua tahun, kami di karunia anak perempuan yang sangat cantik dan berkulit putih. Itulah sebabnya, istriku, mamanya Lily, menyusulkan dengan nama Lily. Aku pun setuju saja.
Setelah usia sekolah SMA, Lily berangkat ke Jepang dan sekolah di sana. Dia dirawat dengan keluarga mamanya yang berada di Jepang. Itulah sebabnya, aku tidak bisa mengontrol dirinya, baik emosi maupun pergaulannya sehari-hari. Begitu juga dengan kakaknya, Candra, yang hidup di Amerika. Aku benar-benar meras bersalah dengan kesalahan yang mereka lakukan selama ini dalam pergaulan sehari-harinya. Semua itu karena aku yang tidak banyak waktu untuk mereka.
Lily dan Candra Memnag hidup di benua yang berbeda, tapi berkat kemajuan teknologi, mereka bisa berhubungan lewat telepon ataupun media sosial. Bukankah itu baik?
__ADS_1
Tapi kesalahan terbesarku adalah, tidak pernah menyadari jika keduanya memiliki kelainan, terutama Candra. Dan kasus yang sedang di hadapi oleh anak-anakku ini, semuanya akibat dari kesalahan yang aku miliki. Lalu bagaimana caranya aku memperbaiki semua kesalahan ini?
POV Dokter Hendrawan end.