Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Banyak Rencana


__ADS_3

Saat ini, mereka berdua, Rio dan Elisa, sudah sampai di kampus.


"Malam pak," sapa Rio pada Security yang berjaga.


"Eh, mas Rio. Malam juga. Ada apa ya, kok malam-malam datang ke kampus? tidak ada kegiatan malam kan hari ini?"


Security, bertanya pada Rio, perihal kedatangannya ke kampus malam hari. Dia, Security, tidak mengetahui jika sedang ada kegiatan malam di kampus. Jadi, dia sedikit kaget saat Rio datang, bersama dengan Elisa.


"Gak ada kok Pak. Saya, cuma mau ambil mobil. Tadi Saya tinggal, karena mengantar teman ke rumah sakit, dengan mobilnya," jawab Rio, menjelaskan pada Security.


"Oh gitu ya... Mangga-mangga Mas."


"Terima kasih ya Pak!"


"Sami-Sami mas Rio," jawab Security dengan mengangguk.


Rio dan Elisa, berjalan ke tempat parkir, dimana mobil Rio berada.


"Rio. Boleh pinjam handphonenya sebentar?"


"Buat apa?" tanya Rio, dengan menyerahkan handphone miliknya pada Elisa.


"Mau telpon bapak sebentar. Bolehkan?" tanya Elisa, menerima handphone yang diberikan Rio padanya.


"Kenapa gak dari tadi? makanya El, ambil saja sih handphone tadi. gak usah gengsi, nanti kapan-kapan bisa bayar atau balik handphonenya kalau Kamu ada uang atau ingin handphone yang lain."


"Hehehe, gak Rio. Sementara waktu ini, kayaknya Aku belum butuh handphone," jawab Elisa, sambil mengetuk nomer handphone milik bapaknya.


Rio, akhirnya terdiam. Dia tahu, memaksa Elisa adalah hal yang sia-sia.


Tak lama, terdengar suara Elisa yang sedang mengobrol dengan bapaknya melalui handphone milik Rio.


..."Halo bapak, ini Elisa."...


..."El. Kamu kemana saja? tidak ada kabar, tidak memberi kabar. Bapak khawatir Nduk. Dan ini, nomer baru Kamu?" ...


..."Bukan Pak. Ini punya teman Elisa. El, tidak ada handphone sementara waktu ini. Tapi, Bapak jangan khawatir, handphone milik El cuma rusak kok Pak. Nanti kalau sudah selesai di perbaikan juga bisa dipakai lagi."...


..."Syukur. Bapak hampir saja ke Jakarta Minggu depan, kalau Kamu tidak ada kabar-kabar."...


..."Iya. Maaf ya Pak. Oh ya, Bapak sehat kan?" ...


..."Iya Bapak sehat. Kamu jaga kesehatan dan jaga diri ya Nduk!"...

__ADS_1


..."Ngeh Pak. Sampun ya Pak, Elisa gak enak kalau pinjam lama-lama."...


..."Ya. Bilang terima kasih ya, dan Kamu jangan lupa kasih kabar sama Bapak kalau handphone Kamu sudah bisa di pakai lagi."...


..."Ya Pak." ...


Rio, melihat wajah Elisa yang terlihat sendu. Ada kesedihan yang terlihat pada wajahnya. Tapi, Rio tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin menambah kesedihan Elisa, jika dia sampai bertanya.


"Rio, terima kasih ya," kata Elisa, kemudian menyerahkan kembali handphone milik Rio.


Rio hanya tersenyum saja, tanpa mengeluarkan suaranya.


Saat ini, mereka sedang berada di dalam mobil, menuju ke Club malam. Rio, mengantar Elisa agar pergi berpamitan langsung ke Club dan tidak udah menghubungi mereka lewat telpon.


"Kamu yakin Rio, mau mengantar Aku ke sana, ke Club?" tanya Elisa, meragukan usul Rio.


"Yakinlah. Mengawal gadis yang sudah pandu bela diri itu hemat tenaga, tahu gak sih!"


"Ih, Kamu ini. Aku cuma bisa di laga pentas, bukan melawan preman juga Rio," kata Elisa merendah.


"Hahaha... mau lihat ah, kayak apa sih gaya Elisa kalau mengajar preman."


"Jangan sampai deh. Aku tidak mungkin bisa melawan mereka juga." Elisa mengeleng, mendengar perkataan Rio.


"Kamu kan yang mengawalku. Jadi Kamu dong, yang melawan preman jika memang ada, hehehe..."


"Aku kabur lebih dulu! Wkwkwk..."


"El. Jangan kebiasaan ngakak ya," kata Rio mengingatkan.


"Kenapa?" tanya Elisa bingung.


"Kak Aji, kakaknya Jeny, bisa-bisa kabur lihat kelakuan Kamu," jawab Rio, sambil mencibir.


"Ihsss, Aku pikir apa. Hehehe... biarin, Elisa emang begini bagaimana?"


"Ya, feminim dikit gitu, jaga image."


"Harus ya?" tanya Elisa serius.


"Gak juga, hihihi..." Rio justru terkikik geli, melihat Elisa yang serius menangapi perkataannya.


"Ihhh, Rio!" teriak Elisa, sambil mencubit lengan Rio.

__ADS_1


*****


Di rumah sakit, mama Cilla meminta pada Jeny agar pulang dan mengatakan pada omanya, jika Aji baik-baik saja. Dia tidak ingin, mami mertuanya itu, merasa khawatir dengan keadaan Aji.


"Jen. Kamu pulang ya, bilang sama oma, kalau kakak baik-baik saja. Jangan sampai oma merasa khawatir, dan drop lagi kesehatannya."


"Ya Ma. Papa gak ikut pulang?" tanya Jeny pada papanya.


"Papa menemani mama ya," jawab papa Gilang dengan tersenyum tipis. Dia tidak ingin, melihat istrinya sendirian di rumah sakit, menunggui Aji.


"Baiklah. Jeny pulang dulu kalau begitu," pamit Jeny pada mama dan papanya.


"Kak, Jeny pulang dulu ya," pamit Jeny, beralih pada kakaknya.


"Bilang sama oma, besok Kakak juga pulang. kakak tidak sakit," kata Aji, memberikan pesan untuk omanya.


Jeny, mengangguk sambil tersenyum dan pergi dari kamar pasien Aji. Dia pulang ke rumah.


"Ma. Tadi mama bilang, kalau Elisa adalah calon istrinya Aji, apa itu benar?" tanya Aji penasaran.


Mama Cilla, tidak langsung menjawab pertanyaan Aji. Dia menoleh ke arah suaminya terlebih dahulu, meminta bantuan agar bisa menjawab pertanyaan Aji.


"Begini Aji. Pagi itu mama mendengar perdebatan Kamu dan Elisa tentang keperawanannya yang sudah Kamu ambil. Begitu juga Kamu. Kamu bilang, jika Elisa sudah mengambil keperjakaanmu. Mama jadi panik, dan takut jika sejarah kita dulu akan terulang pada Kamu dan Elisa. Mama takut, Elisa akan kabur dan tidak mau menerima Kamu, apalagi jika sempai dia membawa benihmu juga, yaitu anak."


Keterangan yang diberikan oleh papa Gilang, membuat Aji memicingkan matanya. Dia tidak merasa jika, sudah melakukan semua itu. Atau karena dia benar-benar tidak ingat apa-apa, yang sudah pernah dia lakukan kemarin-kemarin bersama dengan Elisa.


"Aku tidak merasa Ma. Apa Mama sudah bicara dengan Elisa soal ini? Aku takut, jika ini hanya salah paham. Dia bisa kecewa, jika sampai terjadi pernikahan dan hanya untuk menutupi masalah itu, Elisa akan kecewa."


"Oh iya Ma. Kita seharusnya bertanya lebih dulu pada Elisa, tentang kebenarannya." Papa Gilang, setuju dengan pendapat Aji.


"Mas. Seorang gadis akan merasa malu membuka cerita semacam itu, apalagi aibnya sendiri. Aku takut, jika Elisa mengelak dan malah pergi meninggalkan Aji. Aku takut Mas, dia akan mengalami hal serupa yang Aku alami dulu."


Mama Cilla, justru berkaca-kaca dan hampir menangis saat ingat masa lalunya bersama Aji.


"Ma. Aji tidak akan melepaskan Elisa. Tapi, jika dia merasa ini hanya terpaksa bagaimana?" tanya Aji, pada dirinya sendiri.


"Baiklah-baiklah. Kita akan pikirkan ini secepatnya. Tapi kita juga harus bertanya pada Elisa agar jelas Ma. Begitu kan Aji?" tanya papa Gilang. Dia berpikir, jika kejelasan tentang apa yang istrinya dengar juga harus di ada kejelasannya juga, biar tidak ada kesalahan untuk kedepannya nanti.


"Ya Pa, Aji setuju. Sepertinya, Elisa bukan tipe gadis yang suka berbohong jika untuk masalah serius, apalagi hanya memanfaatkan situasi."


"Iya. Elisa memang seperti itu," kata mama Cilla, menyetujui perkataan yang dikatakan oleh Aji, untuk menilai karakter Elisa.


"Ya sudah. Besok saat Aji sudah di rumah, kita undang Elisa ya?"

__ADS_1


"Ya Pa. Besok Mama akan minta Jeny untuk mengajak Elisa datang ke rumah. Kita akan tanya, kejelasan tentang perdebatan kalian pagi itu di kolam belakang rumah."


Aji hanya diam dan mencoba, mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi, antara dia dan Elisa.


__ADS_2