Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Wajah Yang Berbeda


__ADS_3

Aji, menunggu kedatangan papanya dengan wajah datar. Dia hanya diam tanpa melakukan apapun.


"Aji," panggil papa Gilang, begitu sampai di pintu masuk, tempat dimana Aji berada, karena di tahan oleh Security dan tidak boleh masuk ke dalam kantor papanya sendiri.


"Papa," sahut Aji, dengan cepat.


Security terkejut, dan melongo melihat kebenaran yang nyata, ada di depan matanya. Tadi Security, tidak percaya jika Aji adalah anak dari pemilik perusahaan GAS, tempatnya bekerja ini, karena wajahnya yang tidak sama, atau mirip dengan papa Gilang.


"Maaf Tuan. Saya tidak mengijinkan dia masuk, karena Saya pikir dia berbohong." Security meminta maaf atas kesalahannya itu, kemudian berkata kepada Aji, "maafkan Saya tuan Muda. Saya benar-benar tidak tahu."


Aji, hanya mengangguk dan tersenyum pada Security tersebut tanpa berkata apa-apa.


Tapi, berbeda dengan papa Gilang. Dia justru yang menenangkan Security tersebut, agar tidak merasa bersalah karena sudah menghadang Aji, untuk masuk ke dalam kantor.


"Tidak apa-apa. Kami memang tidak mirip lagi, karena anak Saya ini, harus menjalani operasi pada wajahnya. Jika Kamu melihat acara berita yang ada di sosial media atau televisi, mungkin akan tahu apa penyebabnya. Tapi, tak masalah Pak. Bapak hanya menjalankan tugas. Terima ya," kata papa Gilang, menjelaskan pada Security kantornya.


"Ya sudah. Ayok!" ajak papa Gilang pada Aji, agar mengikuti dirinya.


"Ya Pa," jawab Aji pendek, kemudian ikut melangkah masuk ke dalam kantor GAS. Aji, hanya mengangguk saja, saat melewati Security.


"Tadi bagaimana urusan di kantor polisi?" tanya papa Gilang sambil berjalan ke arah ruangannya.


"Ternyata beritanya dulu, semua penumpang dan awak pesawat terbang itu meninggal dunia semua ya Pa. Dan kotak hitam pesawat, juga hilang. Mungkin itu bukan karena hilang, tapi ikut hancur bersama dengan pesawatnya."


Aji, mengatakan analisanya, yang mungkin saja terjadi saat itu. Dia juga tidak tahu berita apa-apa, saat bersama para kawanan mafia itu.


Setelahnya, Aji juga ikut tuan besar Sangkoer Singh, menjadi Mr Vijay Singh, karena hilang ingatan. Apalagi, begitu dia sadar dan pulih, langsung di minta belajar banyak hal tentang perindustrian tekstil dan garmen.


"Kamu ingat dengan orang yang menolong dan mengubah wajahmu itu?" tanya papa Gilang dengan menunjuk wajah Aji.


"Samar-samar saja Pa. Tapi, Aku bisa ingat namanya. Tuan besar Sangkoer Singh. Begitu orang-orang menyebutnya," jawab Aji mengingat nama orang yang menabraknya sekaligus menjadi penolongnya juga.


"Ya, dan anaknya yang Kamu gantikan posisinya adalah Mr Vijay Singh. Sekarang, dia sudah sadar dari komanya. Dalam masa pemulihan dia. Mungkin, jika kalian berdua bersama, orang akan mengira jika kalian adalah saudara kembar. Karena, ada sebagian wajahnya yang sekarang ini ada pada Kamu."


Papa Gilang, menerangkan tentang tuan besar Sangkoer Singh dan anaknya, Mr Vijay Singh, pada Aji.

__ADS_1


"Mama dan Papa, berencana untuk pergi ke India, menjenguk Mr Vijay Singh, nanti setelah acara Jeny dan dokter Dimas. Sekalian Kita juga berterima kasih kepada tuan besar Sangkoer Singh, karena telah membawamu ke Indonesia, meskipun itu tanpa sengaja, karena pekerjaan kamu saat itu sebagai tim audit di beberapa perusahaan garmen di Asia ini. Papa merasa bersyukur, karena itu sl semua adalah bagian dari rencana Tuhan, untuk kita kembali bertemu dan berkumpul lagi. Untungnya, Jeny juga tanggap terhadap kehadiranmu saat itu."


Papa Gilang, menepuk-nepuk bahu Aji. Dia berharap, semua itu berlalu dan tidak ada lagi terjadi hal yang tidak pernah diinginkan kedepannya nanti.


"Ya Pa. Nanti, kalau Aji sudah masuk kantor membantu Papa, Aji juga mau meneruskan kuliah di Indonesia saja. Ambil kelas karyawan, biar gampang."


Papa Gilang, mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aji. Dia yakin, jika anaknya itu, bisa mengatasi kesulitan untuk waktu yang akan dia jalani saat sudah ikut bekerja, dan kuliahnya.


Meskipun, Aji bisa bekerja tanpa formalitas ijasah apapun, tentunya, papa Gilang ingin Aji mendapatkan pengalaman yang lebih baik di kampusnya nanti.


"Papa yakin, Kamu bisa mengejar ketinggalan pelajaran apapun itu," kata papa Gilang, memberikan semangat dan dukungan pada anaknya, Aji.


"Terima kasih Pa. Maaf, dulu Aji menentang larangan Papa, saat Aji ikut beasiswa ke Jerman. Dan justru, kini Aji harus mengulang semuanya dari awal lagi."


"Tidak apa-apa. Kamu bisa kembali lagi dengan selamat saja, Papa sudah merasa sangat bersyukur dan bahagia Sayang."


Aji, memeluk papanya, untuk mengurangi rasa bersalahnya yang dulu, saat dia tidak mendengarkan larangan papanya saat mengikuti test beasiswa ke Jerman.


Tiba-tiba, mereka berdua dikagetkan dengan bunyi handphone milik papa Gilang. Setelah melepaskan pelukannya dari Aji, papa Gilang, mengambil handphone miliknya yang ada jd atas meja kerjanya.


"Siapa Pa?" tanya Aji, yang tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh papanya tadi.


"Panjang umur dia, baru saja tadi kita ngomongin soal tuan besar Sangkoer Singh kan? ini orangnya telpon," jawab papa Gilang dengan menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan teleponnya.


..."Halo tuan besar Sangkoer Singh, apa kabar di India?" ...


..."Halo tuan Gilang. Kabar baik di sini, bagaimana di Indonesia sendiri?" ...


..."Baik. Kami semua baik, dan sekarang Aji, sudah bisa mengingat semuanya, termasuk anda Tuan." ...


..."Oh ya, syukurlah kalau begitu. Aji anak yang kuat. Dia cerdas dan pasti bisa sembuh. Maaf, Aku mengganti wajahnya yang dulu, karena Aku tidak tahu bagaimana wajah aslinya waktu itu."...


..."Dia ada bersamaku saat ini, apa Tuan mau bicara dengannya?" ...


..."Ah, Aku sangat rindu dengannya. Bagaimana kalau panggilan ini, Aku ganti dengan video call saja?" ...

__ADS_1


..."Usul yang bagus. Boleh saja."...


Tak lama, panggilan telpon antara tuan besar Sangkoer Singh dan papa Gilang, berganti menjadi video call, agar lebih jelas melihat wajah Aji.


..."Hai ayah."...


..."Aji. Anakku, apa kabar?" ...


..."Baik Yah. Aku sehat dan sekarang sedang berada di kantor Papa."...


..."Ayah ingin ajak Vijay ke Indonesia nanti, jika dia sudah sehat. Kalian harus bertemu."...


..."Tentu Yah. Aku menantikan hari itu."...


..."Beri kabar pada Ayahmu ini. Jika ada waktu, datanglah berkunjung ke rumah Ayah. Kamarmu, masih sama seperti terakhir kalinya Kamu tinggalkan."...


..."Benarkah? Lalu, Mr Vijay Singh, ada di kamar mana?" ...


..."Dia minta di kamar sampingnya. Dia ingin sekali bertemu denganmu."...


..."Aku tidak sabar Yah."...


..."Baik. Nanti, tunggu waktu yang tepat ya! Ayah mau pergi dulu."...


..."Ya Yah. Salam buat Mr Vijay Singh."...


Video call terputus. Aji, tersenyum melihat ke arah papanya, Gilang.


"Bagaimana Tuan besar Sangkoer Singh?" tanya papa Gilang.


"Aku, mendapatkan Ayah di India. Orang yang sama baiknya dengan Papa. Tapi sayangnya, kebaikan itu disalahgunakan oleh paman Ranveer."


Aji, juga ingat siapa paman Ranveer. Orang yang telah memberikan obat, hasil racikannya, untuk meracuni otak Mr Vijay Singh, dan juga dirinya, selama menjadi Mr Vijay Singh dulu.


... ...

__ADS_1


__ADS_2