
Aji tersenyum senang saat mama dan juga omanya berpamitan. Dia tidak merasa sedih karena ditinggal sendiri di rumah. Ini memang permintaannya sendiri. Dia sedang tidak ingin pergi kemana-mana.
Dengan bersenandung tidak jelas, Aji melangkah ke arah kamar, setelah mobil yang ditumpangi oleh mamanya dan omanya, keluar gerbang. Aji ingin melihat beberapa berita yang tadi dibicarakan oleh mamanya bersama dengan omanya. Begitu juga saat omanya menerima telpon dari papanya, Gilang.
"Den Aji tidak mau makan?" tanya bibi menghentikan langkah Aji yang ingin pergi ke kamar.
"Nanti saja Bi. Aji belum lapar. Tapi kalau boleh minta tolong, buatkan susu hangat saja."
"Baik Den. Nanti Saya bawakan ke dalam kamar," jawab bibi pembantu pada Aji.
"Terima kasih Bi. Aji tunggu saja. Aji mau langsung minum kok," kata Aji memberitahu.
"Oh, begitu ya... Baiklah," jawab bibi pembantu dengan wajah berseri.
Bibi pembantu merasa senang, bisa berbincang dengan anak majikannya, yang katanya sangat pintar, apalagi wajah Aji juga tampan untuk ukuran anak seusianya.
"Den Aji umur berapa?" tanya bibi pembantu mengajak Aji mengobrol.
"Bentar lagi genap lima tahun Bi."
"Wah... Bakal ada pesta dong di rumah, atau mau di hotel?" tanya bibi bersemangat.
"Kenapa harus pesta?" tanya Aji heran dengan pertanyaan bibi pembantu.
__ADS_1
"Kan den Aji anaknya tuan Gilang. Pasti akan ada pesta besar, ada banyak tamu serta hadiah buat den Aji." Bibi pembantu masih berseri-seri mengatakan apa yang sedang dia pikirkan.
"Aji tidak suka pesta Bi," jawab Aji datar.
"Lho, kenapa? Biasanya anak-anak suka dengan pesat ulang tahun dan juga hadiah kado yang banyak," kata bibi lagi menceritakan tentang kisah anak-anak yang lain.
"Iya. Tapi Aji tidak suka."
Aji masih tetap mengatakan jika tidak menyukai pesta. Mungkin karena kehidupan sehari-hari dirinya yang dulu, tidak terbiasa dengan banyak orang, yang membuatnya menjadi anak yang pendiam dan terkesan dingin serta acuh terhadap lingkungan sekitar.
Bibi pembantu diam, setelah mendengar perkataan Aji yang tetap mengatakan jika tidak menyukai pesta ulang tahun yang mewah. Bibi merasa aneh, tapi kemudian menepis pikiran yang negatif. Dia berpikir jika orang-orang yang pintar mempunyai pemikiran sendiri dan memiliki prinsip yang tidak sama dengan kebanyakan orang. Mungkin anak tuan mudanya ini, termasuk diantara salah satu dari mereka itu.
Susu hangat sudah jadi dan ada di hadapan Aji. Bibi pembantu menemaninya dengan duduk berhadapan dengan Aji.
"Tidak ada Bi. Aji tidak ingin apa-apa. Habis minum susu, Aji mau tidur saja di kamar. Bibi bisa melanjutkan pekerjaan Bibi dan tidak perlu khawatir dengan Aji."
Bibi pembantu hanya mengangguk, mendengar perkataan Aji. Dia berpikir jika anak kecil majikannya itu terlalu dewasa dalam berpikir dan bertindak. Tidak sewajarnya seperti anak-anak yang lainnya. Mungkin inilah keistimewaan Aji, anak tuan mudanya yang baru ditemukan, setelah sekian lama tidak diketahui keberadaannya.
*****
Aji masuk ke dalam kamar setelah selesai meminum susu hangatnya. Dia tadi sudah berpamitan pada bibi, dan juga berpesan, agar tidak dibangunkan jika dia tidak bangun sendiri.
Bibi pembantu hanya mengangguk dan tersenyum pada Aji. Dia tidak lagi bertanya dan mencari tahu tentang apa yang ingin dilakukan oleh tuan kecilnya itu.
__ADS_1
Aji sudah berada di dalam kamar. Dia membuka laptop kemudian menghubungkannya dengan handphone miliknya. Tak lupa, Aji memakai kacamata anti radiasi yang selalu ada di dekat handphone miliknya.
Setelah menunggu beberapa menit kemudian, Aji mulai membuka beberapa berita terbaru, terkait PT Sekar Jagad yang tadi dibicarakan oleh mamanya tadi pagi.
Aji tersenyum melihat keberhasilannya, mencekal PT Sekar Jagad yang sedang proses pengajuan ijin beroperasi. Tapi bukan itu yang membuat Aji merasa senang dan juga bahagia. Dia merasa sangat bahagia bisa membantu papanya, agar terhindar dari kasus ilegal, jika sampai menjalin hubungan kerjasama dengan PT Sekar Jagad, karena pemiliknya yang akan tersandung kakus penyelundupan heroin di antara bisnis emasnya yang sukses di Amerika Serikat.
Sekarang Aji mencari berita di Amerika, terutama konfirmasi dari FBI tentang terkuaknya kebenaran bisnis Sekar, yang terkenal sebagai desainer perhiasan emas. FBI menyebutkan jika, keberhasilan kasus ini juga karena adanya informasi dari salah satu hancker Misterius yang memberikan semua bukti keterlibatan Sekar dalam bisnis ini. Dari penjelasan yang diberikan sang hacker, heroin-heroin itu disembunyikan di dalam emas batangan yang mereka kirim dan juga terima dari pemasok yang bergabung dengan beberapa anggota mafia besar di Amerika dan Eropa. Luar biasa!
Sekarang, Aji kembali masuk ke sistem, yang kemarin dia pakai untuk masuk ke perusahaan perhiasan milik Sekar yang ada di Amerika Serikat. Dia ingin tahu, apakah ada keterlibatan Candra di antara kasus Sekar Mayangsari, secara Candra juga berdomisili dan menjadi warga negara Paman Sam tersebut.
Dari penelusuran struktur organisasi dan pegawai yang ada di perusahaan Sekar, tidak ada nama Candra di sana. Berarti mereka tidak ada hubungannya dan tidak terkait satu sama lainnya.
Struktur kepemimpinan perusahaan perhiasan emas Sekar, dipimpin langsung oleh Sekar. Sedangkan untuk pemasaran dan periklanan merangkap sebagai bendahara kas perusahaan tertera nama Eko Julianto.
Aji mencoba untuk menulis nama Eko Julianto dalam pencarian data. Di laman identitas pengusaha sana tertera jika, Eko Julianto adalah mantan suami Sekar Mayangsari, yang saat ini tidak ketahui keberadaannya.
Eko Julianto juga menjadi buron FBI karena ternyata, dialah yang mengatur dari awal soal keterlibatan perusahaan perhiasan miliknya dan Sekar, untuk bisa menjadi mitra para pemasok heroin di berbagai negara Eropa dan juga Amerika Serikat. Mereka berdua, Eko dan juga Sekar, termasuk dalam kategori mafia narkoba berkedok desain perhiasan emas, karena merasa tidak akan dicurigai oleh aparat penegak hukum. Lihai sekali mencari peluang bisnis.
Aji tersenyum lega melihat semua berita itu. Kini papa dan mamanya tidak akan mengalami gangguan lagi dengan adanya Sekar yang sudah merencanakan kepulangan ke Indonesia jauh-jauh hari. Justru sekarang ini, Sekar menjadi tawanan FBI karena kejahatan yang dia lakukan selama ini. Tinggal menunggu waktu untuk mencari keberadaan Eko Julianto yang belum ditemukan sampai saat ini.
Aji menonaktifkan semua akun dan website miliknya. Dia juga mematikan handphone dan juga laptop setelah semuanya dia simpan dengan baik.
"Waktunya untuk tidur," kata Aji Dengan tersenyum senang karena keberhasilan saat ini.
__ADS_1
Tak lama, aji pun terpejam dalam kedamaian dan mimpi indahnya.