
Mami Rossa mendengarkan semua cerita anaknya, Gilang, dengan rasa yang campur aduk.
Ada rasa kesal, marah, kecewa, sedih dan juga takut. Mami Rossa tidak pernah menyangka jika semuanya itu akibat dari kisah cinta Gilang bersama dengan kekasihnya yang dulu.
Gilang tidak pernah memberitahu tentang kejadian yang sebenarnya di apartemen Sidney sana. Dia cuma bilang pada maminya jika sudah putus dan tidak lagi ada hubungan dengan kekasihnya itu. Tapi penyebab utamanya, Gilang tidak pernah mengatakan dengan jujur.
Mami Rossa merasa bersalah atas kejadian itu. Mami Rossa juga merasa bersalah karena, dia juga yang terus mendesak Gilang untuk segera menikah, tanpa mau tahu sebabnya mengapa anaknya itu tidak juga mau berumah tangga. Bahkan, mami Rossa juga mengenalkan Gilang pada semua gadis anak dari teman-temannya yang berkelas. Dia pikir, Gilang menyukainya.
Gilang menghela nafas panjang setelah selesai bercerita tentang kisah cintanya yang dulu hingga berakibat pada Cilla malam itu. Tapi setelah kejadian malam itu, Gilang tidak lagi memiliki keinginan untuk bermain-main dengan gadis ataupun wanita yang lain. Dia keluar masuk dari Club satu ke Club yang lainya hanya bermaksud untuk mencari keberadaan Cilla. Dia pikir Cilla akan terpuruk dan mengambil jalan pintas untuk biaya hidupnya.
Ternyata dugaan Gilang selama ini salah. Justru dia menemukan Cilla yang ada di toko maminya, dan dia adalah karyawan lama disana. Gilang merasa bodoh dan menyia-nyiakan waktunya selama ini.
"Maafkan Gilang Mi. Gilang memang brengsek, tapi Gilang sudah tidak lagi melakukan semua itu. Gilang ingin menebus semua kesalahan Gilang dimasa yang lalu."
Mami Rossa diam dan tidak bisa mengeluarkan suaranya untuk mengomentari semua cerita anaknya itu. Dia tidak pernah menyangka jika kisah perjalanan cinta anaknya serumit itu. Tidak semudah saat mendirikan perusahaan GAS miliknya. Keberhasilan yang dicapai dalam karir ternyata tidak dibarengi dengan kesuksesan kisah cintanya. Sungguh tragis.
"Cilla. Apa yang diceritakan oleh Gilang benar?" tanya Mami Rossa pada Cilla. Kini dia beralih menatap ke arah Cilla dan tidak menghiraukan anaknya yang sudah memberikan kode agar tidak bertanya apa-apa pada Cilla.
Cilla diam dan tidak menjawab. Wajahnya juga tertunduk dan tidak berani menatap ke arah mami Rossa.
Mami Rossa menghela nafas panjang dan memejamkan matan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia seakan-akan tidak memercayai semua yang dia dengar, jika itu bukan dari mulut anaknya sendiri. Gilang memang acuh dan terkesan dingin. Tapi dia tidak mungkin berbohong pada maminya sendiri.
"Mami tidak tahu harus berkata apa setelah tahu semua ini. Mami tidak pernah menyangka jika kamu setega itu Gilang..." Keluh mami Rossa pada anaknya.
"Kamu kenapa juga diam Cilla? Kenapa kamu tidak melaporkan pada polisi atas kejadian itu, atau kamu bisa lapor ke mami untuk minta bantuan," tanya mami Rossa beralih pada Cilla yang masih menundukkan kepalanya sedari tadi.
"Ah, Mami pusing mendengar semua cerita ini. Benar-benar tidak disangka."
__ADS_1
Mami Rossa beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah kamar anaknya, Gilang. Di dalam sana, ada Aji, cucunya sendiri yang tidak pernah dia ketahui keberadaannya dan juga kebenarannya.
"Maaf ya, jika ada perkataan mami yang tidak mengenakkan hati. Mungkin mami juga sama kagetnya kayak aku kemarin-kemarin."
Gilang mencoba menenangkan Cilla yang sedang dalam keadaan cemas. Gilang tahu jika Cilla belum siap bertemu dengan maminya ataupun pihak keluarganya yang lain.
"Aku akan buktikan dan bawa bukti itu untuk membawa kalian masuk ke dalam keluargaku. Percayalah, aku akan berusaha dan berjuang untuk kalian."
Kata-kata Gilang ibarat oase di tengah padang pasir bagi Cilla. Tapi dia juga takut jika oase itu hanyalah fatamorgana untuknya. Cilla tidak mau terjebak pada perasaannya sendiri yang belum tentu benar, dan ada pada tempatnya.
"Jangan meragukan kata-kataku ini Cilla. Aku akan tetap berjuang untuk kalian. Cobalah untuk percaya padaku mulai sekarang ini."
Gilang berkata lagi dengan suara yang ditekan, mencoba meyakinkan Cilla agar bisa percaya padanya. Gilang benar-benar tidak mau kehilangan Aji dan juga Cilla.
*****
Aji mengeliat beberapa kali untuk membuat badannya terasa lebih nyaman. Dia mulai membuka matanya perlahan dan mengedip-ngedipkan matanya untuk bisa melihat seseorang yang sedari mengelus rambut dan juga pipinya dengan gerakan pelan dan juga lembut.
"Mama..." Aji memanggil mamanya. Dia tidak menemukan mamanya seperti biasanya jika bangun tidur di rumahnya sendiri.
"Eh, Aji sudah bangun. Maaf ya jika sentuhan Oma membuat Aji terusik dan tidak nyaman untuk tidur," kata mami Rossa pada Aji yang melihatnya dengan mata memicing. Dia seperti pernah melihat wanita paruh baya yang ada di dekatnya saat ini.
"Ini Oma sayang. Maaf ya, kemarin di toko Oma tidak mengenalimu. Ah, sungguh Oma kesal dan kecewa sama papamu." Mami Rossa melanjutkan kata-katanya yang tadi.
Aji mencari-cari kacamata miliknya. Tapi ternyata dia tidak menemukan barang tersebut. Dia menoleh ke sembarang arah untuk mencari benda tersebut.
"Aji cari apa? Cari papa?" tanya mami Rossa merasa yakin jika cucunya itu sedang mencari keberadaan anaknya. Gilang.
__ADS_1
"Kacamata Aji mana?" tanya Aji tanpa menjawab pertanyaan dari mami Rossa.
"Kacamata?" mami Rossa bingung dan ikut menoleh ke sembarang arah untuk memastikan keberadaan benda yang dicari-cari oleh Aji.
"Tidak ada sayang," kata mami Rossa mengeleng ke arah Aji. Dia sudah ikut mencarinya, tapi kacamata yang di cari Aji tidak juga ketemu.
"Oma tanya mama atau papa dulu ya di luar. Mungkin mereka tahu kok!"
Setelah berkata demikian, mami Rossa beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah luar kamar.
Di sofa tempat mereka bertiga tadi, tampak Gilang yang diam-diam terus saja mengamati wajah Cilla. Sedangkan Cilla sendiri tetap diam dan menunduk.
Mami Rossa mengelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya, Gilang dan juga Cilla, yang seperti ini. Padahal tadi mami Rossa pergi ke kamar itu untuk memberikan kesempatan pada keduanya
"Gilang, Cilla, dimana kacamata milik Aji?" tanya mami Rossa mengagetkan keduanya.
"Eh, tidak tahu Mi," jawab Gilang cepat sambil mengeleng.
"Emmm, ada dikamar sebelah. Apa Aji sudah bangun?" tanya Cilla pada mami Rossa.
"Iya. Aji bangun dan mencari-cari kacamata. Memangnya dia pake kacamata? Kemarin pas ketemu di toko dia tidak memakai kacamata kan?" tanya mami Rossa bingung.
"Iya Mi," jawab Cilla pendek.
"Aji baru keluar dari rumah sakit Mi. Dia sakit pada matanya. Itulah sebabnya, dia harus memakai kacamata terlebih dahulu untuk pemulihan selama masa penyembuhan."
Gilang menerangkan pada maminya tentang kondisi Aji saat ini.
__ADS_1
"Sakit mata?" tanya mami Rossa mengulang Pertanyaannya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Gilang sekarang ini.