
Gilang merasa sangat kaget, saat keluar ruangan sudah ada banyak sekali orang-orang yang menunggunya.
Para pencari berita, wartawan dan reporter TV, sudah menunggu dirinya untuk diwawancarai. Mereka semua, mencari berita terbaru tentang kasus PT Sekar Jagad yang sedang menjadi trending topik. Apalagi pemiliknya, yang berada di Amerika Serikat, menyatakan jika pernah memiliki hubungan khusus dengan Gilang di masa lalu.
"Lalu apa ada kaitannya dengan penculikan wanita dan anak yang sekarang dekat dengan anda tuan?"
"Apakah benar anda terlibat kasus yang terjadi dengan PT Sekar Jagad?"
"Siapa sebenarnya Sekar?"
"Dimana wanita dan anak yang menjadi korban penculikan dari kasus yang disidangkan?"
"Tuan Gilang. Tolong berikan konfirmasi dari semua pemberitaan yang sedang terjadi terhadap anda sekarang ini?"
Gilang pusing mendengar semua pertanyaan demi pertanyaan mereka semua. Dia tidak tahu harus menjawab apa dan yang mana lebih dulu.
"Maaf Mbak-mbak, Mas-mas. Saya tahu ini adalah pekerjaan kalian semua. Tapi tolong, jangan membuat berita yang melenceng dari fakta. Meskipun itu mendongkrak popularitas berita yang kalian buat, itu akan menimbulkan fitnah jika tidak sesuai dengan fakta yang ada."
Gilang mencoba menasehati para pencari berita, agar tidak membuat berita terbaru yang tidak-tidak tentang bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi, baik terkait kasus penculikan dengan kasus PT Sekar Jagad.
"Kedua kasus itu tidak ada hubungannya sama sekali. Jadi jangan kalian kaitkan ya!"
Gilang kembali memperingatkan dengan tegas, jika kedua kasus itu berbeda.
"Lalu Sekar Mayangsari yang menjadi sorotan pihak FBI di Amerika Serikat sana bagiamana?" tanya salah satu dari para pencari berita tersebut.
"Kasus PT Sekar Jagad, tidak ada kaitannya dengan Saya. Ini murni kasus mereka sendiri. Jika pemiliknya mengatakan pernah memiliki hubungan dengan Saya, itu hanya masa lalu. Bukankah semua orang juga punya masa lalu? Dan itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan kehidupan Saya sekarang ini. Semua sudah berakhir sekitar sepuluh tahun yang lalu."
Keterangan yang diberikan Gilang membuat mereka mengangguk mengerti, tapi ada juga yang tidak puas dan ingin mengupasnya menjadi berita yang bisa memiliki nilai jual.
"Lalu wanita dan anak yang menjadi korban penculikan ini, apa ada kaitannya dengan Sekar juga? Apakah ada dendam pribadi dari penculikan?"
"Iya benar. Apakah itu ada kaitannya Tuan?"
Semua orang yang sedang mengelilingi Gilang menjadi bersemangat lagi untuk bertanya. Sedangkan mami Rossa, Cilla dan juga Aji, belum juga berani keluar dari ruangan tersebut. Mereka masih menunggu di balik pintu.
__ADS_1
"Mi. Bagaimana ini?" tanya Cilla dengan wajah cemas.
"Gilang sedang menanggani mereka semua. Kita tunggu saja," jawab mami Rossa.
"Harusnya, papa ajak menjawab pertanyaan dari mereka sambil berjalan. Jadi depan pintu bisa kosong dan kita bisa keluar, begitu para pencari berita itu mengerubuti papa."
Mami Rossa dan Cilla mengangguk sebagai tanda setuju dengan perkataan yang diucapkan oleh Aji.
"Wah, betul itu Sayang. Mungkin papa Sudja terlanjur terjebak diantara kerumunan mereka," kata mami Rossa membayangkan situasi yang tadi dialami oleh Gilang, anaknya itu.
"Terus bagaimana ini?" kata Cilla pada anaknya, Aji.
"Bagaimana kalau telpon papa? Bilang saja minta sambil jalan agar mereka bisa mengikuti langkah papa," usul Aji dengan wajah yang tampak sedang berpikir.
"Ya sudah. Oma coba telpon papa Kamu ya!"
Akhirnya, mami Rossa mencoba menghubungi anaknya, Gilang, agar bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Aji, cucunya itu.
Diluar ruangan, dimana Gilang masih sibuk menjawab pertanyaan dari para wartawan dan pencari berita lainnya, telpon di saku jasnya bergetar. Gilang segera memeriksa dan bingung saat ada nama mami Rossa di layar handphone miliknya.
Gilang meminta waktu pada orang-orang yang mengerumuninya untuk bisa bersabar terlebih dahulu.
..."Halo Mi!" ...
..."Gilang. Jangan berdiri saja di depan pintu. Sambil jalan kemana gitu, biar kami bisa keluar dari ruangan ini."...
..."Oh iya Mi. Baiklah."...
Panggilan terputus, kemudian Gilang memasukkan kembali handphone miliknya ke dalam saku jas.
"Kita sudah kan wawancaranya, atau mau sambil jalan? Saya mau kembali ke kantor. Ada tamu yang sedang menunggu," kata Gilang memberikan alasan.
"Tuan Gilang. Jawab pertanyaan kami yang tadi? Dimana wanita dan anak yang menjadi korban penculikan itu? Yang katanya, mereka berdua adalah orang terdekat anda saat ini."
Ternyata, para pencari berita itu lebih jeli dan teliti. Mereka semua bisa saja memberikan pertanyaan dan ulasan yang bisa dikait-kaitkan.
__ADS_1
"Mereka ada. Tapi tidak disini," jawab Gilang dengan tersenyum. Dia juga kembali melangkah, seperti yang diminta oleh mami Rossa.
"Tapi, apakah benar mereka berdua itu adalah anak dan calon istri dari tuan Gilang?"
"Berarti dia janda dong? Siapa dia?"
"Jika itu benar, akan ada, di mana para wanita dan gadis-gadis, yang mengagumi anda, patah hati secara bersamaan nanti."
"Hahaha..."
Gilang tertawa mendengar perkataan salah satu dari mereka yang mengikuti langkahnya. Dia mengeleng mendengar kata-kata itu.
"Apa kabar itu benar Tuan?" tanya mereka lagi.
"Doakan saja ya!" kata Gilang berdiplomasi.
"Ah, itu bukan jawaban Tuan. Kami butuh yang pasti!"
"Ya, tunggu waktu yang tepat. Saya pasti akan memberi kabar jika itu sudah pasti."
Gilang, lagi-lagi menjawab pertanyaan dari para pencari berita dengan tidak pasti dan mengambang. Tentu saja ini malah membuat mereka semakin penasaran dan memburunya dengan berbagai pertanyaan yang lainnya.
Tapi sepertinya, yang dilakukan oleh Gilang membawa keberuntungan buat mami Rossa, Cilla dan juga Aji. Mereka bertiga, keluar dari ruangan tersebut dengan tenang tanpa harus bersembunyi. Mereka memang bisa tenang, tapi tetap saja mereka harus berhati-hati dan bersikap seolah-olah tidak ada hubungannya dengan Gilang dan bisa melangkah secepatnya, agar bisa sampai di tempat parkir dan masuk kedalam mobil tanpa halangan lagi.
"Ma. Memang begitu ya kerjaan mereka? Mengejar-ngejar papa?" tanya Aji saat sudah berada di area parkir pengadilan.
"Ya begitulah Sayang. Tapi tidak hanya pada papa, mereka juga akan melakukan hal yang sama pada nara sumber yang menjadi target pemberitaan."
Cilla menjawab pertanyaan anaknya itu dengan sejelas-jelasnya. Dia ingin, Aji juga tahu bagaimana kinerja para pemburu berita.
"Kenapa sampai seperti itu Ma?" tanya Aji lagi.
"Karena mereka ingin mendapatkan berita yang bisa membuat para pembaca penasaran, sehingga berita mereka laku. Mereka mendapatkan hasil dari situ. Kalau tidak ada berita yang terbaca, mereka bisa rugi."
"Oh begitu ya Ma. Pantas saja berita-berita yang ada selalu dengan judul yang heboh, dan membuat orang ingin tahu. Padahal kadang tidak ada kaitannya sama sekali."
__ADS_1
"Hehehe... itu hanya trik Sayang," jawab Cilla terkekeh, karena anaknya itu ternyata jeli juga dalam membaca situasi yang ada di beberapa berita di media.