
Elisa terbelalak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Aji. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan perlakuan seperti ini.
Tapi sepertinya, Aji juga sama kagetnya. Dia segera melepaskan bibirnya dari bibir Elisa, kemudian pura-pura tidak pernah melakukan apapun.
Aji dan Elisa, sama-sama terdiam dan melihat ke arah yang berbeda. Mereka berdua, sama-sama canggung, sebab ini adalah pertama kalinya untuk mereka berdua, yaitu berciuman dengan bibir. First Kiss.
"Ehmmm..."
Aji, tidak meneruskan kalimatnya. Dia tidak tahu, harus berkata apa untuk kejadian tadi.
Hal yang sama juga terjadi pada Elisa. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa, dan juga tidak bisa bergerak. Seluruh badannya, terasa kaku dan tidak bisa digerakkan dari tempatnya.
Tok, tok, tok!
"Mbak... mbak Lisa!"
Dari luar kamar, berdengar seseorang memanggil Elisa. Dia menjadi terjingkat, karena kaget.
Aji, melihat ke arah Elisa dengan maksud bertanya, "Siapa?" dan sepertinya, Elisa juga mengerti arti pandangan Aji, yang seakan-akan sedang bertanya kepadanya, "Dia tukang ojek langganan, untuk pergi dan pulang kerja di Club," kata Elisa, menjelaskan.
"Bilang sama dia, kalau Kamu tidak berangkat malam ini." Aji memberikan perintahnya.
Elisa mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan Aji, "maksud Kakak?" tanya Elisa pada akhirnya. Dia tidak tahu, apa yang akan dilakukan Aji, setelah kejadian tadi.
"Kamu tidak dengar, apa yang Aku katakan tadi? atau Aku yang harus menemui tukang ojek itu, dan mengatakan jika mulai malam ini, Kamu tidak lagi bekerja di Club malam?" Aji, menantang Elisa.
Tentu saja, Elisa tidak ingin ada gosip yang beredar mengatakan jika Elisa sedang berada di dalam kamar berdua-duaan dengan cowok. Bisa-bisa, malam ini juga, dia akan di usir dari kostnya ini.
"Tidak. Kakak, kalau masih mau di sini, tidak apa-apa. Aku berangkat dulu!"
Elisa dengan gerakan cepat, segera berlari keluar dari dalam kamar dan menarik tangan tukang ojek agar segera berangkat mengantarkan dia ke tempat kerjanya.
Tukang ojek yang tidak tahu apa-apa, tentu terkejut dengan tingkah Elisa yang sedang terburu-buru. "Kenapa Mbak? tadi Saya nunggu di depan gang, Mbak Lisa gak muncul-muncul. Ya Saya samperin," ucap tukang ojek memberikan penjelasan, kenapa dia sampai datang ke kostnya Elisa.
"Iya gak apa-apa. Tadi Saya ketiduran. Ayok, buruan Mas. Saya sudah telat!"
__ADS_1
*****
Aji, tidak tahu apa yang dia lakukan tadi. Dia seakan-akan tidak sadar jika sudah mencium bibir Elisa. Dia hanya gemas, mendengar perkataan Elisa yang terus bicara dan membantahnya.
"Terus kenapa sekarang malah Aku di tinggal sendiri di kamarnya, masak iya Aku menunggu dia lagi sampai dia pulang kerja?" tanya Aji, bingung dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Oh iya, Club malam tempat Elisa kerja apa namanya?" Aji baru ingat, kalau dia tidak tahu nama Club, tempat Elisa bekerja.
Di saat Aji mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja, dia melihat tanda pengenal karyawan Club, yang tentunya ada alamat lengkapnya juga. Aji pun tersenyum, melihat apa yang dia temukan kali ini.
"Aku tetap bisa menemukan keberadaanmu El. Awas saja, kali ini Aku tidak akan melepaskan dirimu begitu saja!" kata Aji mengancam, dalam hati.
Akhirnya, Aji keluar dari kamar kost Elisa. Untung malam ini, kost itu sepi, jadi tidak ada yang melihat Aji, saat keluar. "Hufh... kayak maling saja Aku ini," kata Aji, dengan mengelengkan kepalanya berkali-kali.
Aji, berjalan ke tempat tadi dia memarkirkan mobilnya, di gang depan, sebab, gang masuk tempat kost Elisa terlalu kecil, untuk ukuran mobil.
"Aku akan meminta pemilik Club, untuk mengeluarkan Elisa, jika dia tidak mau menurut untuk keluar sendiri," guman Aji, begitu sampai di tempat mobilnya terparkir.
Tak lama, mobil Aji melaju ke arah kota, dimana Club malam tempat Elisa bekerja berada.
*****
"Tumben sekali telat, ada apa? apa ban motor ojeknya bocor lagi?" tanya Mr Toni, menebak alasan yang sama, seperti yang dikatakan tukang ojek, malam kemarin saat terlambat menjemput Elisa sepulang dari kerja.
"Bu... bukan Mr. Saya... Saya ketiduran," jawab Elisa gugup. Dia mencoba menenangkan diri, dengan menghirup udara sebanyak mungkin, kemudian melepaskannya dengan perlahan-lahan.
"Ya sudah. Tadi Aku pikir Kamu tidak masuk. Lagian, sekarang ini sudah jam sembilan lho, nangung juga Kamu masuknya. oh ya, mana kartu pengenalmu?"
Elisa kaget, dia meraba lehernya dan memeriksa saku bajunya. "Hehehe, lupa Mr," jawab Elisa dengan nyengir kuda, saat mendengar teguran secara tidak langsung dan juga pertanyaan tentang kartu identitas karyawan miliknya.
"Maaf Mr," ucap Elisa lagi, sambil menunduk.
"Tidak perlu menegurnya. Mulai malam ini, dia tidak lagi bekerja di Club ini. Dia akan segera menikah dengan Saya!"
Tiba-tiba, dari belakang Elisa, Aji muncul dan bicara mendahului Mr Toni, yang akan berbicara lagi untuk menegur Elisa. Aji, juga menunjukkan kartu identitas karyawan milik Elisa kepada Mr Toni.
__ADS_1
Mr Toni, dan Elisa sama-sama terkejutnya, kemudian melihat ke arah Aji dengan tanda tanya besar.
"Siapa Anda?" tanya Mr Toni curiga.
"Tanya Elisa," jawab Aji datar. Wajahnya, terlihat tanpa ekspresi sama sekali, melihat ke arah Mr Toni.
Mr Toni berbalik arah, melihat ke arah karyawan itu, Elisa. "Siapa dia mis Lisa?" tanya Mr Toni ingin tahu.
"Dia... dia kak Aji." Elisa menjawab pertanyaan Mr Toni, dengan gugup.
"Maksudnya hubungan Kamu. Apa benar dia calon suamimu?" tanya Mr Toni, dengan menekan kata, suamimu.
"Bu.. bukan begitu Mr. Dia..."
"Dia tidak akan mengakui, jika Saya calon suaminya." Aji memotong perkataan Elisa, sebelum Elisa menjelaskan tentang Aji, pada Mr Toni.
"Kenapa?" tanya Mr Toni, beralih pada Aji. Dia pikir, tidak mungkin ada cewek yang berani menolak cowok seperti orang yang berada di depannya saat ini. Yang mengaku-ngaku sebagai calon suaminya Elisa.
"Lihat saja. Dia tidak bisa bicara dengan cepat dan jelas, untuk mengatakan bahwa Saya adalah calon suaminya. Itu karena dia tidak ingin orang tahu, kalau dia sebenarnya sudah memiliki calon suami. Apa itu sebuah kerugian untuk Club ini?"
Mr Toni, mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan Aji barusan. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Aji.
"Mis Lisa. Sebaiknya Anda pulang saja dan selesaikan masalah Anda berdua. Saya tidak ingin, dia membuat keributan di Club ini."
Mr Toni, menyarankan kepada Elisa, agar bisa menyelesaikan permasalahannya dengan Aji, cowok yang datang secara tiba-tiba itu.
"Tapi Mr..."
"Cukup. Saya tidak mau ikut campur masalah pribadi, dan tidak mau jika ada keributan yang membuat Club ini jadi sorotan pengunjung lainnya," ucap Mr Toni, memotong perkataan Elisa, yang akan menjelaskan bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya.
Kini, Elisa hanya bisa menghembuskan nafas panjang, untuk bisa menguasai emosinya, akibat ulah Aji.
Elisa, berjalan dengan cepat, meninggalkan tempatnya, dimana Mr Toni tadi menghadangnya, sebelum masuk dan bekerja. Dia terus berjalan tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Dia, tidak akan kembali bekerja di sini!"
__ADS_1
Aji, berkata kepada Mr Toni, dengan suara di tekan.
"Wah El. Sayang sekali, jika sampai Kamu menolak cowok seperti dia," guman Mr Toni, melihat kepergian mereka berdua dari hadapannya.