
Keesokan harinya, semua sudah bersiap-siap untuk pulang. Bahkan kebanyakan barang milik Gilang sudah dibawa pulang kemarin, sama pembantu rumah tangga yang datang berberes. Kini yang ada hanya tinggal barang-barang Cilla dan juga Aji.
Mereka masih harus menunggu dokter yang akan datang, untuk memeriksa kondisi terakhir Gilang sebelum pulang. Tapi yang ditunggu-tunggu belum juga menampakkan diri.
"Dokternya mana sih Mi?" tanya Gilang dengan wajah gusar.
"Bentar lagi. Mungkin masih ada pasien yang harus dia periksa. Lagian kamu ini kenapa sih? Kan tinggal pulang saja, gak akan lama lagi kok," jawab mami Rossa dengan heran melihat tingkah anaknya yang sudah dewasa tapi kadang masih saja manja kepadanya.
"Cilla. Besok-besok jangan heran ya kalau tiba-tiba Gilang manjanya melebihi Aji. Itu sisi lain yang tidak diketahui oleh orang lain," kata mami Rossa memberitahu Cilla.
Cilla hanya tersenyum di kulum, sedangkan Gilang tersenyum masam mendengar perkataan mami Rossa yang memojokkannya.
"Memangnya orang tua boleh manja Oma?" Tiba-tiba Aji yang diam sedari tadi bertanya.
"Bisa saja Aji. Tapi manjanya beda tidak sama seperti Aji." Mami Rossa menjawab pertanyaan dari cucunya itu.
"Bedanya?" tanya Aji lagi. Dia ingin tahu penjelasan yang lebih detail.
"Sayang, Aji. Kalau lagi manja minta apa?" tanya mami Rossa ingin tahu.
"Paling minta burger atau jalan-jalan," jawab Aji memberi contoh.
"Oh gitu. Besok-besok, pergi sama Oma ya! Kita beli burger sekalian jalan-jalan. Ok!" kata mami Rossa sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ok Oma!" jawab Aji cepat dengan wajah ceria.
"Aji kapan sekolah?" tanya mami Rossa teringat jika Aji tidak pernah membicarakan tentang sekolah ataupun teman-teman sekolahnya.
"Aji belum sekolah Oma," jawab Aji datar.
"Bagaimana kalau besok saat tahun ajaran baru, Aji masuk taman kanak-kanak. Nanti Oma yang antar jemput Aji?" Mami Rossa sangat antusias membicarakan sekolah pada Aji.
"Tapi Aji tidak mau. Di sana cuma bermain, mewarnai dan bernyanyi saja," jawab Aji sambil menggelengkan kepalanya.
Mami Rossa mengeryit heran dengan jawaban yang Aji berikan. Dia tidak tahu jika cucunya itu sudah bisa melakukan semua hal yang belum tentu bisa dilakukan orang dewasa.
"Mi. Aji pernah Cilla masukkan ke taman kanak-kanak tahun kemarin. Tapi dia bosan dan malah dibully teman-teman lainnya." Cilla bercerita tentang kejadian di taman kanak-kanak sewaktu Aji masuk sekolah dulu.
"Kok gitu?" tanya mami Rossa kaget.
__ADS_1
"Iya Mi. Aji itu berbeda. Dia tidak biasa belajar bersama-sama hanya dengan pelajaran biasa pada umumnya. Makanya, teman-teman Aji pada mengolok-oloknya, jika Aji itu aneh."
Cilla akhirnya menceritakan tentang Aji pada mami Rossa. Gilang yang ikut mendengarkan semua cerita Cilla mengganguk-anggukan kepalanya mengerti. tapi juga terlihat gemas dan geram.
"Makanya, Aji lebih banyak belajar sendiri di rumah. Kalau ada yang tidak bisa dia pahami dan ingin dia tanyakan, biasanya dia mencari tahu lewat internet atau bertanya langsung pada Cilla Mi."
"Oh... begitu ya. Berarti kamu itu mewarisi kecerdasan ibu kamu, Aryani Sukmajaya. Aku masih ingat jika dia itu juara lomba sains tingkat nasional. Sayangnya dia tidak mau ambil beasiswa yang ditawarkan oleh yayasan, malah memilih jurusan seni rupa. Entah ada apa dengannya saat itu. Setelah itu mami tidak tahu kelanjutan cerita perjalanan kehidupan ibu kamu Cilla."
Mami Rossa mengingat dan menceritakan, jika ibunya Cilla, teman sekolahnya dulu juga siswi yang cerdas.
"Benarkah Mi?" tanya Cilla kagum.
"Sayang, Cilla tidak mempunyai kesempatan untuk sekolah dan malah putus dijalan," kata Cilla sedih. Mengingat kejadian dimasa lalunya.
"Sudah-sudah, jangan sedih lagi. Kamu sudah bersama kami Cilla," kata mami Rossa, kemudian memeluk Cilla dengan erat. Memberikan kekuatan dan kenyamanan pada anak sahabatnya yang sudah tiada.
"Selamat pagi," sapa dokter begitu masuk ke dalam kamar rawat Gilang.
"Eh, Dokter. Pagi juga. Kami sudah menunggu-nunggu sedari tadi," kata Gilang menjawab salam dari dokter yang menanganinya.
"Maaf. Tadi ada pasien kecelakaan beruntun. Jadi perlu banyak tim dokter di IGD," kata dokter menjelaskan alasannya terlambat.
*****
Gilang yang sudah bisa berjalan sendiri tidak mau diantar oleh perawat dengan kursi roda meskipun hanya sampai di tempat parkir rumah sakit..
"Saya sudah sehat Suster. Tidak perlu kursi roda juga," kata Gilang menolak tawaran dari suster yang membantunya.
"Sudah Sus. Biarkan saja. Dia tidak mau terlihat lemah juga dihadapan para wanita seperti kita-kita ini," kata mami Rossa menggoda anaknya.
"Gilang kan sudah sehat Mi. Ngapain juga Suster mendorong kursi roda segala. Lagian Gilang itu berat!" Gilang memberikan alasan yang tidak masuk akal.
"Bilang saja malu sama Cilla," kata mami Rossa mencibir.
"Ihs... Mami. Ngapain diperjelas juga!" Gilang mengerutu karena merasa diledek mami Rossa.
"Hahaha..." Mami Rossa tertawa lepas mendengar perkataan anaknya itu.
"Wah, gagal dong saya mau tepe-tepe tuan?" Suster yang membantunya berkata dengan bergurau.
__ADS_1
"Maksud Suster?" tanya Gilang tidak mengerti.
"Tebar pesona Gilang!" kata mami Rossa menjelaskan pada anaknya itu.
"Ah... kalian," kesah Gilang tidak mengerti.
"Makanya, bacalah buku-buku romans juga. Jangan buku laporan keuangan dan modul tebal saja yang kau libas habis!" Mami Rossa mengeleng melihat anaknya yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Cilla. Besok-besok kalau Gilang tidak bisa merayu, jangan kaget ya. Dia memang lempeng kayak besi!" kata mami Rossa beralih pada Cilla yang sedang membereskan beberapa mainan Aji yang masih belum dibereskan.
Cilla pura-pura tidak mendengar dan acuh. Aji juga tidak menyahuti, dia hanya diam dan melihat ke semua orang yang ada di dalam ruangan kamar rawat papanya, Gilang.
"Wah... Sepertinya Cilla tidak peduli, Kamu bisa merayu atau tidak. Tidak masalah buat Cilla ternyata. Iya kan Cilla?" tanya mami Rossa melanjutkan acara menggodanya.
"Mami!" Gilang mengingatkan maminya.
"Iya-iya maaf. Maaf ya Cilla. Mami hanya bercanda kok. Hehehe..." kata mami Rossa terkekeh.
Setelah selesai dan semuanya beres. Mami Rossa memanggil supir untuk membantunya membawa beberapa barang milik Cilla dan Aji.
"Nanti, bapak antar Gilang pulang ke rumah. Saya akan antar Cilla dan Aji untuk pulang ke apartemen," kata mami Rossa memberikan penjelasan pada supirnya.
"Siap Nyonya!" jawab supirnya cepat.
"Mami yakin membiarkan Cilla dan Aji sendiri di apartemen. Gilang tidak bisa menemani dan menemui mereka seperti biasanya lho Mi, sepertinya kemarin-kemarin."
"Tidak apa-apa. Kan ada Mami yang bisa menggantikan posisi Kamu sementara waktu," jawab mami Rossa datar.
"Ah Mami," keluh Gilang kecewa.
"Kenapa?" tanya mami Rossa ingin tahu.
"Kan hampir dua minggu ini kami bersama terus Mi. Kami sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Gilang takut jika Aji ataupun Cilla kangen sama Gilang Mi." Gilang berbisik pelan ditelinga maminya.
"Halah... Itu sih kamu!" Mami Rossa menjawab cepat dan menepuk pundak anaknya agar tidak terlalu kepedean.
"Jangan terlalu pede ya! Siapa tahu Cilla tidak mau dan tidak pernah merasa kangen sama kamu," kata mami Rossa berbisik juga di telinga Gilang.
"Ihs... Mami!" kata Gilang dengan wajah masam.
__ADS_1