Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Semuanya Aman


__ADS_3

Semua tempat, yang dirasa perlu untuk dipasangkan cctv sudah selesai dikerjakan. Mami Rossa tidak perlu khawatir lagi dengan keamanan rumahnya. Dia juga sudah meminta kepada teknisi cctv, untuk memasang satu lagi, di balkon lantai tiga, yang mengarah langsung ke seluruh halaman rumah bagian depan.


"Terima kasih banyak ya, mas-mas semua."


Mami Rossa mengucapkan terima kasih, setelah para teknisi itu, sudah selesai mengerjakan pekerjaan mereka.


"Sama-sama Nyonya. Kami permisi dulu," jawab salah satu dari mereka.


Tak lama, setelah para teknisi itu pergi, Aji dan Cilla mendekat ke arah tempat duduk mami Rossa yang ada di ruang tamu. Mereka berdua, ikut duduk di sofa yang lain.


"Semuanya aman Sayang," kata mami Rossa, pada Aji dan Cilla.


"Iya Mi. syukurlah kalau begitu. Cilla, jadi merasa was-was, jika apa yang dikatakan Aji itu memang benar," kata Cilla dengan wajah cemas. Dia jadi merasa tidak nyaman, seandainya memang ada mata-mata di rumah ini.


"Sudah-sudah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua bisa di lihat dari satu tempat. Dan ruangan cctv juga sudah dibagi menjadi dua. Tidak hanya ada di pos Security, tapi juga ada di ruang kantor Gilang, dekat dengan kamarnya."


"Oma. Boleh tidak, jika disambungkan juga ke layar laptopnya Aji. Biar Aji, juga bisa ikut bantu pantau Oma," kata Aji meminta ijin.


"Wah... kenapa tadi tidak bilang Sayang? Biar teknisi tadi yang menghubungkannya." Mami Rossa menyayangkan usulan Aji, yang dia pikir sudah terlambat.


"Tidak usah Oma. Biar Aji yang menghubungkannya, dengan koneksi internet saja. Nanti bisa Aji lihat juga dari handphone Aji kok," jawab Aji, sambil mengelengkan kepalanya melihat ke arah omanya itu.


"Lho, memangnya bisa?" tanya mami Rossa, dengan wajah yang ragu. Dia tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Aji. Dia tidak tahu jika Aji, bisa paham dengan semua itu.


"Ya di coba Oma. Aji juga belum tahu, bisa apa tidak kok. Hehehe..." kata Aji dengan terkekeh geli melihat wajah mami Rossa yang tampak serius memperhatikan semua kata-katanya.


"Aduh Sayang. Oma, bener-bener bangga dengan apa yang kamu pikirkan. Semoga bisa ya, misal tidak bisa, nanti minta bantuan ke ahli IT, sekalian juga Kamu bisa belajar juga."

__ADS_1


Mami Rossa tersenyum penuh kebanggaan untuk cucunya itu. Begitu juga dengan Cilla. Dia merasa sangat bahagia dan juga bangga, dengan apa yang dipikirkan oleh anaknya itu.


Cilla memeluk Aji dengan tersenyum. Dia merasa sangat beruntung, bisa mempunyai anak yang cerdas dan kreatif seperti Aji.


"Kita siap-siap untuk nanti sore ya, tapi berangkat agak siangan. Biar tidak terlambat dan tidak buru-buru juga," kata mami Rossa, mengingatkan Cilla dan juga Aji.


"Oh ya Mi. Pasti," jawab Cilla dengan mengangguk.


"Hore... Akhirnya bisa keluar juga jalan-jalan!" seru Aji kegirangan. Dia memang tidak pernah kemana-mana selama seminggu lebih, setelah keluar dari rumah sakit, akibat kecelakaan waktu itu.


"Hahaha... memang Aji mau kemana juga?" tanya mami Rossa, dengan tertawa kecil, melihat tingkah laku Aji yang kegirangan.


"Mampir Mall ya Oma! Sudah lama, Aji tidak makan burger di Mall. Kalau di rumah, buatan Mama, atau bibi, tentu rasanya beda."


"Ok cucunya Oma yang ganteng... Kita akan ke Mall juga, terus beli burger yang banyak dan besar juga. Biar Aji, bisa makan sepuasnya. Hehehe..."


"Sini peluk Oma!"


Aji melepaskan pelukan mamanya, kemudian turun dari tempat duduknya. Kini dia berganti memeluk mami Rossa, omanya.


Mami Rossa, memeluk Aji dengan erat dan sesekali mencium pipi cucunya itu. "Aji mau beli mainan juga tidak?" tanya mami Rossa, saat Aji, mencium kedua pipinya.


"Aji tidak mau mainan. Nanti kalau ada yang suka baru minta. Itu di kamar, mainan Aji jarang gunakan juga," jawab Aji memberitahu.


Cilla hanya melihat keduanya dengan tersenyum. Dia juga merasa senang bisa melihat Aji lebih sering tersenyum dan mau berbicara lebih banyak dibanding hanya diam seperti dulu. Cilla merasa, keputusan untuk menerima Gilang adalah sebuah keputusan yang tepat. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk perkembangan jiwa anaknya itu.


"Ya sudah. Kita makan yuk! Setelah itu, kita bersiap-siap untuk berangkat ke kantor EO siang ini agar sampai di sana tidak terlalu sore dan menghindari kemacetan yang terjadi saat bubaran jam pulang kantor."

__ADS_1


Cilla dan Aji mengangguk, menyetujui ajakan mami Rossa. Sekarang mereka bertiga, berjalan ke arah ruang makan.


"Mari Nyonya. Semuanya sudah siap," kata bibi mempersilahkan.


"Terima kasih Bi."


Mami Rossa mengucapkan terima kasih pada pembantunya itu. Cilla dan Aji hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya.


*****


Usai makan siang, Aji meminta ijin pada mami Rossa untuk bisa melihat layar pemantau CCTV yang berada di ruangan papanya. Dia ingin tahu, apakah semuanya berjalan dengan baik dan tidak sesuatu yang mencurigakan tertangkap kamera. Dia juga ingin mengecek, apakah semua kamera cctv itu bisa berfungsi semuanya atau ada yang macet.


"Oma. Sebelum berangkat, Aji mau lihat ke ruangan papa dulu, boleh?" tanya Aji.


"Boleh. Yuk Oma temani!" ajak mami Rossa mengandeng cucunya itu.


Cilla hanya mengikuti dari belakang. Dia juga ingin tahu, apa saja yang bisa ditangkap oleh kamera cctv itu.


Setelah naik ke lantai dua, di dekat kamar Gilang, mami Rossa membuka pintu ruangan dan melangkah menuju ke meja yang cukup besar. Di sana, ada layar yang lumayan besar untuk semua lokasi kamera cctv yang tadi terpasang dan yang lama juga. Sedangkan meja untuk kerja Gilang, ada di sebelahnya lagi.


"Bagaimana Sayang, bisa dilihat dengan baik?" tanya mami Rossa pada Aji, yang sedang serius memperhatikan semua tangkapan layar karena, satu persatu.


"Sepertinya, Aji punya mainan baru yang lebih asyik dari pada mobil-mobilan," kata Aji pelan.


Mami Rossa dan Cilla yang mendengar perkataan Aji, saling pandang dan tersenyum dengan mengelengkan kepalanya.


"Wah... Oma bakak dicuekin kalau sudah asyik begini," keluh mami Rossa, seakan-akan merasa kecewa.

__ADS_1


"Hehehe... tidak dong Oma," kata Aji. Sekarang, dia menoleh ke arah oma dan mamanya, sambil mengacungkan jari jempolnya tanda jika semuanya aman.


__ADS_2