
Waktu sudah berganti malam. Ruang tengah sudah sepi sedari sebelum magrip tadi. Para pembantu rumah tangga sibuk menyiapkan makanan, untuk makan malam majikan mereka nanti.
Aji yang sudah selesai mandi dan rapi masih duduk di tepi ranjang. Dia menuggu mamanya yang sedang berada di kamar mandi. Dia mengamati kamar tamu yang besar dan terlihat mewah ini. Tidak jauh beda dengan kamar yang ada di apartemen kemarin.
Aji menghitung jika luas kamar ini adalah, sama dengan rumah kontrakan milik tuan Adi, yang dia tempati dulu bersama dengan ibunya.
"Kenapa orang-orang kaya selalu rumit ya tempat tinggalnya?" pikir Aji yang mulai bertanya-tanya dalam hati.
"Aji."
Lamunan Aji buyar saat mamanya datang dan memangil namanya. Dia menoleh dan menatap ke arah mamanya dengan penuh tanda tanya, "Apa Ma?" Tapi akhirnya Aji bertanya juga.
"Kenapa melamun Sayang?" tanya Cilla pada anaknya itu.
"Tidak ada apa-apa Ma. Aku hanya mengamati kamar ini agar tidak salah masuk nanti," jawab Aji asal.
"Ada-ada saja Kamu ini," kata Cilla mengeleng, mendengar jawaban anaknya itu.
"Bisa saja kan Ma. Rumah ini besar sekali, dengan banyak ruang dan kamar juga. Belum lantai atas dan samping. Semoga saja Aji tidak kesasar!"
"Mana mungkin anak Mama kesasar hem?" tanya Cilla tidak percaya dengan penjelasan Aji, anaknya yang cerdas itu.
Tapi sepertinya Aji memang tidak ingin melanjutkan pembahasan tentang rumah papanya, Gilang Aji Saka.
"Boleh lihat handphone Aji Ma!"
Aji meminta ijin untuk melihat handphone miliknya yang sudah lama tidak dia buka.
Cilla tersenyum dan mengambil handphone milik Aji yang berada di dalam tas miliknya. "Ini handphonenya," kata Cilla, dengan menyerahkan handphone tersebut di depan Aji.
"Terima kasih Ma," kata Aji saat menerima handphone tersebut.
"Mau lihat apa Sayang?" tanya Cilla pada anaknya itu.
"Cuma lihat perkembangan jualan kemarin Ma. Pesanan untuk barang yang terakhir, sudah terkirim semua belum, kan kasihan pembeli, kalau sudah terlanjur tansfer uang barangnya belum diterima sampai sekarang. Aji nanti jadi tidak enak kalau mau nawarin barang-barang lagi."
Cilla menganguk setuju, dengan perkataan Aji yang sudah terbiasa dengan para pembeli, yang kadang kala komplain juga dengan berbagai alasan. Ini memberikan pelajaran juga buat Aji, agar tetap berhati-hati dan bertanggung jawab atas segala barang yang dia tawarkan kepada para calon pembeli.
"Aji tertarik untuk menawarkan barang apa lagi untuk produk lokal?" tanya Cilla ingin tahu.
__ADS_1
"Belum nemu Ma. Terakhir kemarin itu kan kain songket. Tergantung minat pembeli juga sih. Lagipula yang sering tertarik dengan produk lokal seperti itu kan customer luar, sedangankan Aji tidak terlalu besar juga membuat jaringan ke luar negeri. Takutnya tidak tertangani dan Aji malah keteteran jika sudah benar-benar jalan. Mungkin jika Aji Sudja besar nanti, itu beda lagi Ma."
Cilla memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Aji sudah terlalu banyak membantunya. Bahkan Aji yang masih berumur belum genap lima tahun ini bisa mengahasilkan uang untuk kebutuhan dan tabungan mereka. Sungguh, Cilla merasa sangat bersyukur dan beruntung dengan adanya Aji dalam hidupnya, meskipun kehadirannya banyak mengalami penderita, dan juga mengeluarkan air mata kesedihan.
"Terima kasih Sayang. Dengan kehadiran dirimu, Mama kuat menjalani semua kerikil ya h hadir dalam hidup Mama."
Aji ikut memeluk mamanya dengan erat. Dia tidak ingin melihat kesedihan di mata mamanya, Cilla.
"Sudah Ma. Aji janji, apapun yang terjadi, Aji tidak akan pernah meninggalkan Mama."
Keduanya saling berpelukan tanpa sadar jika pintu sudah di ketuk sedari tadi.
Tok...
Tok...
Tok...
"Cilla. Aji!"
Mami Rossa yang mengetuk pintu kamar tamu, tidak mendapatkan perhatian Aji dan Cilla yang sedang berada di dalam kamar. Padahal sebenarnya mereka berdua sedang berpelukan saat ini.
Mami Rossa mencoba memanggil mereka lagi. Tapi sepertinya mereka masih hanyut dalam perasaan saling berbagi kasih sayang sehingga tidak memperhatikan keadaan yang ada di sekitar mereka.
Ceklek!
Akhirnya, mami Rossa membuka pintu dan mencoba melihat ke dalam kamar tamu tempat Aji dan Cilla berada.
Ternyata, mami Rossa melihat keduanya saling berpelukan dan tidak melihat kearahnya. Mami Rossa mengeleng melihat tingkah keduanya yang tetap tidak sadar jika ada orang masuk ke dalam kamar mereka.
"Aji. Cilla," panggil mami Rossa saat sudah berada di dekat mereka.
"Eh, Mami."
"Oma," kata Aji yang masih berada dalam pelukan mamanya, Cilla.
"Kalian kenapa?" tanya mami Rossa bingung saat melihat Cilla yang sedang menghapus air matanya yang belum sempat mengalir.
"Tidak kenapa-kenapa Mi."
__ADS_1
Cilla mengeleng dengan cepat agar mami Rossa tidak lagi bertanya. Aji jaya diam dan tidak menjawab pertanyaan omanya itu.
"Sedari tadi Oma panggil-panggil lho. Tapi Aji tidak mendengar juga ya?" tanya mami Rossa dengan melihat ke arah Aji.
Aji hanya mengeleng. Dia meletakkan handphonenya dan turun dari tepi tempat tidur.
"Ada apa Oma?" tanya Aji ingin tahu, kenapa dia di cari omanya itu.
"Waktunya makan malam. Aji tidak lapar? Mama Cilla juga pasti sudah lapar kan?"
"Oh iya. Sudah malam ya Oma?" tanya Aji membenarkan.
"Ya ini sudah malam Sayang. Yuk!"
Mami Rossa mengajak Aji dan Cilla keluar dari dalam kamar dan menuju ke tempat makan. Di sana sudah duduk menunggu Gilang dengan tersenyum kearah mereka yang baru datang.
"Malam Sayang..."
Gilang menyapa dengan sebutan Sayang, entah untuk siapa, Aji atau Cilla, atau untuk keduanya.
Cilla menunduk malu saat merasa jika sapaan itu juga untuknya. Sedangkan Aji mengangguk dan menjawab sapaan papanya itu, "malam juga Papa."
"Yuk makan. Setelah itu aji minum obat. Tadi siang belum sempat minum obat kan?" tanya Gilang memperingatkan.
"Iya. Aji sudah ketiduran," jawab Aji membenarkan.
"Ya sudah. Yuk kita mulai makan. Aji mau lauk apa?" Aji yang sengaja duduk dekat mami Rossa, omanya, seperti ingin mendapat perhatian dari omanya itu. Dia juga sengaja agar mamanya lebih dekat dengan papanya, Gilang.
"Ayo, makan yang banyak ya!" kata mami Rossa pada Aji yang sudah siap dengan makanan yang ada di piringnya.
"Siap Oma!"
"Kamu juga makan yang banyak Cilla," kata mami Rossa mengingatkan Cilla.
Cilla hanya mengangguk mengiyakan perkataan mami Rossa untuknya. Dia mengambil makanan, hanya yang ada di depan matanya saja.
"Ini?" tanya Aji dengan menyodorkan piring ikan bakar pada Cilla.
Cilla mengeleng. Dia tidak mau repot membersihkan duri-duri ikan bakar, sebab itu memerlukan waktu yang lama dan bisa-bisa dia akan menjadi lebih lama makannya, apalagi ada Gilang yang tidak mungkin merepotkan juga nantinya.
__ADS_1
"Aku yang mau. Tapi kamu yang suapin ya," kata Gilang menjelaskan pada Cilla, dengan piring ikan bakar yang dia pegang sekarang ini.