
Keadaan rumah kembali sepi, saat malam mulai beranjak larut. Semuanya sudah berada di dalam kamar masing-masing. Mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah karena seharian melakukan aktivitas.
Aji juga sudah tertidur pulas sedari tadi. Cilla, yang belum juga bisa tidur menjadi gelisah sendiri. Dia akhirnya turun dari tempat tidur, mengambil gelas di meja, kemudian keluar dari dalam kamar. Dia menuju ke dapur untuk mengisi gelas air putih yang sudah kosong.
Tapi Cilla tidak melanjutkan langkahnya. Dari arah tempat dia berdiri, tampak Gilang yang juga sedang mengisi gelas untuk air minumnya.
Saat Cilla, hampir saja berbalik arah untuk kembali masuk ke dalam kamar, Gilang sudah terlebih dulu memergoki dirinya dan memanggil namanya. "Cilla. Tunggu," panggil Gilang cepat sebelum Cilla menghilang dari balik pintu kamar.
Cilla yang sudah terlanjur kepergok oleh Gilang, mau tidak mau harus memutar tubuhnya lagi. Dia menunduk, menunggu kedatangan Gilang yang mendekat kearahnya.
"Kenapa tidak jadi? Mau ambil air minum kan?" tanya Gilang pada Cilla.
Cilla hanya mengangguk mengiyakan. Dia tidak berani menatap wajah Gilang, dengan penerangan ruangan yang sudah tidak lagi terang.
"Sini," ajak Gilang pada Cilla.
Gilang meminta gelas yang berada ditangan Cilla. Ternyata, gelas yang tadi diisi oleh Gilang berada di atas meja makan.
Cilla membiarkan Gilang mengambilkan air putih untuknya. Dia masih terdiam di tempatnya berdiri. Tapi Gilang memanggilnya lagi. "Sini Honey," kata Gilang meminta Cilla untuk mendekat dan duduk di kursi makan.
Cilla menurut. Dia akhirnya duduk di kursi yang ada didepan Gilang.
"Kamu tidak bisa tidur ya?" tanya Gilang menebak.
Cilla melihat Gilang sekilas. "Bagaimana bisa dia tahu?" tanya Cilla dalam hati.
"Aku tahu. Kamu tidak bisa tidur. Kamu gelisah dan berpikir tentang hubungan kita kan?" Gilang kembali menebak.
Cilla masih diam dan tidak menjawab semua pertanyaan dari Gilang. Dia tidak tahu, bagaimana bisa Gilang mengetahui semua yang dia rasakan saat ini.
"Aku tahu Honey. Aku tahu kamu gelisah dan tidak nyaman dengan keberadaan kita yang serumah tapi belum juga terikat secara resmi. Aku juga ingin segera meresmikan hubungan ini, tapi Aku tidak mau jika Kamu belum merasa yakin."
Gilang menjeda kata-katanya. Dia ingin melihat, bagaimana reaksi dari Cilla, setelah mendengar semua yang dia katakan tadi.
Tapi sepertinya Cilla bekuk bisa menjawab. Dia hanya diam dan tidak juga mengatakan sesuatu.
"Honey. Aku tidak akan memaksa, tapi Aku tetap berharap, Kamu bisa menerima semua kenyataan, bahwa Aku adalah jodohmu." Gilang berkata dengan yakin.
Cilla menatap ke arah Gilang sekilas, kemudian kembali menunduk. Dia belum berani mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.
"Aku akan menunggu jawabanmu tidak lama lagi."
__ADS_1
Gilang berdiri, setelah mengatakan kalimatnya yang terakhir. Gilang meninggalkan Cilla yang masih duduk di kursi makan.
"Tidurlah. Aku juga akan berusaha untuk bisa terpejam dan mendengar jawaban setuju darimu, meskipun itu lewat mimpi."
Cilla tertegun sejenak mendengar perkataan Gilang. Dia merasa jika tidak bisa mengatakannya, karena suaranya seakan tidak bisa keluar jika sedang ada di dekat Gilang.
"Apa yang harus aku lakukan?" kata Cilla dalam hati.
"Aku tidak berani menjawab iya. Aku juga tidak bisa menolaknya," kata Cilla lagi, di dalam hati.
Cilla mengambil nafas panjang dan memejamkan matanya. Membuang rasa ragu yang masih ada di dalam hatinya.
*****
Hari ini, persidangan Candra kembali digelar. Akan ada pembacaan tuntutan hukum untuk Candra atas kepemilikan senjata api dan upaya mencelakai korban penculikan.
Begitu juga dengan Lily. Dia dituntut atas perbuatannya yang memberikan usulan pada Candra atas kasus penculikan terhadap Aji dan juga Cilla.
"Semoga mereka bisa kooperatif dan tidak lagi ada drama, sehingga sidang ini tidak lagi bertele-tele."
Gilang berharap, jika semuanya bisa berjalan dengan lancar dan tidak lama. Dia tidak ingin, semua yang sudah dia rencanakan bersama dengan Aji dan juga mami Rossa, gagal, hanya karena jadwal sidang yang terus tertunda.
"Iya. Mami juga mau semuanya bisa dipercepat. Mami bosan harus ke pengadilan terus. Semoga saja dokter Hendrawan juga bisa menasehati anak-anaknya itu."
"Apa Kamu tidak mengatakan apa-apa pada Cilla, tentang rencana kita kemarin itu?" tanya mami Rossa pada Gilang.
"Tidak dong Mi. Kan ini rahasia kita. Kejutan buat dia. Masak Gilang bilang-bilang juga sih," jawab Gilang dengan cepat.
"Mami pikir Kamu tidak sabar dan bilang duluan sama dia," kata mami Rossa datar.
"Tidak. Kejutan ya kejutan," kata Gilang tegas.
"Syukurlah. Padahal mami ingin secepatnya lho!"
"Gilang apalagi Mi," kata Gilang tidak mau kalah.
"Halah... Itu sih emang yang Kamu mau," kata mami Rossa mencibir perkataan anaknya itu.
"Hehehe..."
Gilang terkekeh kecil mendengar sindiran maminya yang benar adanya.
__ADS_1
"Sudah. Ayok berangkat. Sepertinya Cilla dan Aji sudah siap," ajak mami Rossa pada Gilang.
Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi tampak keluar dari gerbang rumah dan melaju menuju ke jalan raya untuk menghadiri sidang.
*****
Persidangan berjalan dengan lancar. Semuanya bisa diatasi dengan baik oleh para pengacara dan juga jaksa penuntut.
Hakim akan membacakan keputusannya, dua hari kedepan. Ini yang membuat Gilang dan juga kubunya merasa kecewa. Sepertinya, sidang terkesan diulur-ulur saja.
"Kenapa tidak sekalian tadi sih dibacakan keputusannya?" tanya mami Rossa gemas.
"Waktunya sudah habis Mi," jawab Gilang datar.
"Hem... Sepertinya membuang waktu saja ikut persidangan yang seperti ini."
Mami Rossa merasa kecewa. Tapi dia juga tidak bisa protes, karena itu sudah menjadi ketentuan dan peraturan yang berlaku di setiap persidangan. Ada waktunya dan tidak semaunya.
"Kita langsung berangkat sekarang ya Pa?"
Tiba-tiba, Aji bertanya pada Gilang. Mami Rossa yang hampir saja lupa, menepuk keningnya sendiri. Sedangkan Gilang mengedip-ngedipkan sebelah matanya untuk memberikan kode pada Aji.
"Ok," kata Aji paham.
"Ada apa Sayang?" tanya Cilla bingung dengan apa yang dikatakan oleh Aji, anaknya itu.
"Tidak apa-apa Ma," jawab Aji penuh dengan teka teki.
"Ada apa sih Mi?" tanya Cilla ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa Cilla. Nurut saja sama Bos-bos yang di depan," kata mami Rossa, menyebut kedua laki-laki beda usia yang duduk didepan.
Gilang yang sedang mengemudi, dan ada Aji yang duduk sendiri, di kursi yang ada disampingnya.
Cilla dan mami Rossa duduk dibelakang. Mereka sengaja tidak membawa supir, sebab supir dan para pembantu menyiapkan pesta kejutan untuk Cilla di villa milik Gilang yang ada di daerah Sentul, Bogor.
Semuanya memang diam dan tidak memberitahu pada Cilla, dengan adanya pesta kejutan untuknya nanti.
***
Doakan TK, bisa secepatnya mendapat kabar untuk event berikutnya ya gaes 😍😍😍
__ADS_1