Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Sakit Perut


__ADS_3

Elisa terbangun dari tidur, saat hari sudah malam, sekitar pukul setengah sepuluh malam. Dia merasa lapar, karena tadi memang belum sempat makan, apalagi saat mencicipi masakannya sendiri yang ternyata tidak enak sama sekali.


Kini, dia melihat ke arah samping, di mana tadi Aji juga tidur bersama dengannya. Tapi, ternyata Aji sudah tidak ada di tempat tidur.


"Kakak," panggil Elisa. Dia pikir, Aji sedang ada di kamar mandi.


"Kakak!" panggil Elisa lebih keras, karena tidak ada sahutan.


Karena Aji tidak juga menyahuti, Elisa segera turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah kamar mandi, untuk memeriksa. Tapi, kamar mandi kosong, tidak ada Aji di dalam sana.


"Kemana dia? kakak kan masih sakit, masak kerja lagi sih," gerutu Elisa, dengan kebiasaan suaminya yang lupa waktu jika sudah bekerja dengan serius.


Akhirnya, Elisa keluar dari kamar. Dia mencoba mencari Aji ke ruangan kantor, tapi kosong juga.


Lamat-lamat terdengar suara alat-alat dapur yang sedang di pakai untuk memasak dari arah dapur. Sepertinya, Aji ada di sana.


"Kakak!" panggil Elisa dengan keras.


Di dapur, Elisa melihat Aji, yang sedang memasak. Bahkan, di meja makan, sudah ada beberapa jenis makanan yang sudah siap.


Aji menoleh, dan tersenyum. "Sini, duduklah dulu," kata Aji dengan menunjuk ke meja makan, agar Elisa duduk menunggu dirinya.


"Kakak masak semua ini?" tanya Elisa tidak percaya, melihat hidangan yang tersedia di meja.


"Siapa lagi?" tanya Aji enteng.


"Kakak kan sakit, ngapain masak-masak. Sudah malam juga ini Kak," kata Elisa mengingatkan.


"Kakak mau kasih surprise, pada istriku, yang sudah membawakan obat paling mujarab tadi. Kenapa malah sudah bangun terlebih dulu, kan belum Kakak bangunkan?"


"Hehehe... tahu saja sih, kalau Aku lapar," sahut Elisa, sambil meringis tidak enak hati.


"Iyalah, kan Kamu juga belum makan sejak pulang dari kampus. Langsung ngurusin Kakak yang demam dan masak juga kan tadi? terus malah jadi obatnya sendiri. Hahaha..."


"Ihsss..."


Elisa mencibir ledekan suaminya itu. Dia mau beranjak dari tempat duduknya, tapi di cegah oleh Aji. "Mau kemana?" tanya Aji yang sudah selesai dan mematikan kompor listriknya.


"Mandi. Tadi kan Elisa belum mandi. Kakak sih," jawab Elisa malu-malu, mengingat kejadian tadi.


"Tidak usah mandi. Makan dulu," ucap Aji, sambil meletakkan piring yang dia bawa dengan hasil masakannya yang terakhir.


"Tapi, tidak enak makan romantis ini dengan bau badan Kak. Biar Aku mandi sebentar ya?"


"Kalau begitu, sekalian pakai gaun yang seksi ya," jawab Aji, dengan mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Kakak ihsss, genit."


"Hahaha..." Aji tertawa lepas, melihat ekspresi wajah istrinya yang sudah tidak lagi seperti dulu, semuanya dan cuek.


Elisa yang sudah pergi ke kamar, untuk mandi terlebih dahulu, berkata dalam hati, "kak Aji itu, terkesan dingin dan misterius jika di lihat oleh orang lain di luar, tapi kok beda lagi ya kalau sudah berdua denganku? apa dia punya dua sisi, atau memang begitu wataknya? ah, jadi bingung. Tapi tak apalah, mungkin itu memang sisi lain dari sifatnya yang asli, dan itu patut Aku syukuri. Dia tidak pernah marah, meskipun Aku tidak bisa masak. Dia tetap perhatian, meskipun Jeny menilai jika itu over protektif. Aku senang-senang saja diperlakukan seperti itu. Ah, Kak Aji... Aku jadi makin cinta deh."


*****


Pagi yang cerah, terasa lebih sempurna untuk dinikmati oleh orang-orang yang mempunyai perasaan bahagia. Mereka memandang segala hal dari sisi baiknya, tanpa melihat kekurangan yang ada.


Jalanan Jakarta yang tampak selalu sibuk dan padat, terdapat banyak sekali orang-orang yang tidak mempunyai perasaan bahagia, menjalani kehidupan mereka.


Kadang, caci maki harus terdengar di jalan yang sedang ada kemacetan, serta ketidak nyamanan. Mereka adalah termasuk orang-orang yang tidak sabar, serta mempunyai penilaian yang kurang baik terhadap suatu kondisi yang sedang di hadapi.


Jeny, yang sedang menyetir mobilnya sendiri menuju ke apartemen, karena dia ada janji untuk menjemput Elisa, merasakan rasa sakit di bagian perutnya.


"Aduh, kenapa ya perutku. Tadi kan makan seperti biasa, minum susu juga."


Jeny mengeluhkan perutnya yang sedang tidak baik-baik saja.


Akhirnya, dia menepikan mobilnya terlebih dahulu, kemudian mengambil handset, sebelum menelpon suaminya.


..."Halo Om."...


..."Perut Jeny, kenapa terasa sakit?"...


..."Sakit? sakit bagaimana?" tanya dokter Dimas panik....


..."Ya pokoknya sakit Om!"...


..."Kamu ada di mana sekarang?"...


..."Jalan menuju ke apartemen Kakak."...


..."Ya sudah. Kamu bisa lanjut apa diam di situ saja, Om akan hubungi Aji, dan meminta tolong untuk membawamu ke rumah sakit ya!"...


..."Ah, tidak usah. Aku saja yang ke sana."...


..."Yakin masih bisa?"...


..."Iya bisa. Sudah ya Om."...


..."Iya, hati-hati Sayang. Kabar-kabar ya kalau sudah sampai."...


Sambungan telpon terputus. Jeny, melanjutkan perjalanan ke arah apartemen kakaknya, Aji.

__ADS_1


Begitu sampai, Jeny menekan bel dengan cepat.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Pintu lift khusus itu terbuka. Aji yang menyambutnya di depan pintu masuk.


"Kak, Elisa mana?" tanya Jeny dengan wajah meringis, seperti menahan sesuatu.


"Kamu kenapa Jen?" tanya Aji khawatir. Dia tidak menjawab pertanyaan adiknya itu dengan keberadaan istrinya sendiri, Elisa.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar Kak," kata Jeny, meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi.


"Ya sudah. Itu yang ada di dapur atau kamar sebelah ada kan?" Aji menawari adiknya untuk memilih kamar mandi yang dia inginkan.


Akhirnya, Jeny berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dapur, karena jangkauannya lebih dekat dari tempat dia berdiri.


Aji, mengikuti dari arah belakang, tapi berhenti di dapur dan beralih ke lemari penyimpanan makanan. Dia membuat teh hangat untuk Jeny.


Elisa muncul dari dalam kamar. Dia mencari-cari keberadaan Aji, yang tadi pergi keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Kak," panggil Elisa, sambil mengedarkan pandangannya mencari suaminya.


"Aku ada di dapur Sayang!" sahut Aji dari arah dapur.


"Lho, tadi siapa yang datang?" tanya Elisa bingung, karena tidak ada orang lain lagi, selain suaminya sendiri.


"Jeny," jawab Aji pendek.


"Mana dia?" tanya Elisa bingung, karena tidak melihat adanya Jeny sekarang ini.


"Tuh!"


Aji, menunjuk ke arah kamar mandi, yang ada di sebelahnya berdiri, dengan dagu. Dia juga memegang perutnya sendiri, untuk memberitahu Elisa, jika Jeny sedang sakit perut.


"Kakak tahu dari mana kalau Jeny sakit perut? dia itu sedang hamil Kak, apa benar cuma sakit perut?" tanya Elisa memastikan. Dia merasa khawatir dengan keadaan Jeny.


"Iya. Tadi om Dimas kasih pesan ke Kakak. Bilang kalau Jeny mengeluhkan perutnya saat berada di jalan menuju ke sini. Di suruh ke rumah sakit, tapi sepertinya sakitnya itu tidak ada hubungannya dengan kehamilannya secara langsung. Ini hanya panggilan alam saja."


Aji, menjelaskan tentang apa yang sedang dirasakan adiknya, Jeny, saat ini.


"Kamu tenang saja. Dia juga akan segera keluar sebentar lagi," ucap Aji dengan tenang. Dia meletakkan gelas, berisi teh hangat, yang dia buat untuk adiknya, Jeny, yang sedang sakit perut.

__ADS_1


__ADS_2