
"Cctv rumah, Maksud Kamu?" tanya om Wahyu. Dia merasa penasaran, dengan apa yang dikatakan oleh Gilang padanya.
"Iya. Ada sebuah tangkapan kamera cctv, yang memperlihatkan semaunya," kata Gilang menjelaskan.
Pak supir dan om Wahyu terlihat saling melirik satu sama lainnya. Mereka juga mencoba mengalihkan perhatian mereka dari Gilang ke tempat lain. Mereka terlihat tidak fokus dengan apa yang dikatakan oleh Gilang selanjutnya.
"Mungkin Om tahu, apa maksud dari potongan video ini," kata Gilang melanjutkan penjelasannya tadi. Dia juga kembali menunjukkan layar handphone miliknya pada om Wahyu.
Om Wahyu, menerima kembali handphone tersebut. Dia melihat dengan jelas, apa yang terlihat di layar handphone milik Gilang tersebut.
Saat ada percakapan yang terdengar, pak supir terbelalak kaget. Dia tidak menyangka jika percakapan waktu itu tertangkap kamera cctv. Di tidak tahu, jika di bagian garasi mobil, sudah terpasang kamera cctv, dengan kecanggihan teknologi terbaru, sehingga suara yang ikut tertangkap kamera, bisa terdengar dengan jelas.
"Bagaimana? Apa ada yang bisa menjelaskan padaku?" tanya Gilang datar.
Pak supir terlihat pucat, sedangkan om Wahyu tertunduk tanpa mampu menjawab pertanyaan dari Gilang, keponakan itu.
"Om. Jika ada masalah, om bisa bicara dengan Gilang atau mami, seperti biasanya. Kenapa kali ini, Om jadi berbeda. Ada apa?" tanya Gilang datar. Dia masih mencoba menahan diri untuk tidak melakukan tindakan apapun, termasuk emosinya yang sedang naik.
"Maaf Gilang. Om... Om tidak bisa menerima perkataan mami kamu waktu itu," jawab om Wahyu, dengan masih menundukkan wajahnya.
"Perkataan mami yang mana?" tanya Gilang penasaran.
Akhirnya, om Wahyu menceritakan tentang kejadian sebulan yang lalu, saat dirinya datang bersama dengan anaknya yang masih ada di bangku kuliah semester empat.
Saat itu, om Wahyu meminta bantuan agar bisa dipinjami uang untuk biaya anaknya yang akan ikut tour keluar negeri bersama teman-teman satu gengsnya. Tentu saja alasan itu ditolak mami Rossa. Bahkan, mami Rossa menasehatinya, agar tidak terlalu memanjakan anak gadisnya tersebut.
"Dikmas. Kamu jangan terlalu memanjakan dia. Masa kuliahnya masih panjang dan perlu biaya. Buat apa jalan-jalan keluar negeri? Mending uangnya buat bayar kuliah atau ongkos bikin tugas. Besok kalau sudah lulus dan bisa kerja, bisa nabung baru jalan-jalan ke luar negeri. Itu lebih baik, dari pada pinjam uang buat hal yang tidak ada manfaatnya."
Nasehat dari mami Rossa, membuat om Wahyu merasa tersinggung. Dia merasa direndahkan dan diremehkan. Apalagi anak gadisnya itu, menangis sepanjang jalan, karena gagal tidak jadi jalan-jalan ke luar negeri, bersama dengan satu gengsnya.
Itulah sebabnya, om Wahyu ingin mencelakai mami Rossa. Kebetulan juga saat itu, dia bersama dengan Cilla dan Aji. Mereka berdua, terlihat bahagia, dimata om Wahyu. Dia berpikir, jika Cilla dan Aji memanfaatkan keadaan. Dengan menikahi Gilang, dan juga menjadi keluarga Aji Saka.
Om Wahyu, meminta bantuan supir Gilang, yang memang masih ada hubungan keluarga diantara mereka. Dan secara kebetulan, saudaranya itu adalah supir pribadi yang tahu banyak tentang keseharian mereka, keluarga Gilang.
"Maaf tuan," kata pak supir meminta maaf. Dia menundukkan kepalanya, dan tidak berani menatap ke arah Gilang.
"Dia tidak bersalah Gilang. Ini murni om yang bersalah. Jika kamu ingin melaporkan kepada polisi, jangan Dia. Om saja," kata om Wahyu memohon.
Pak supir awalnya menolak memberikan berbagai informasi pada om Wahyu. Tapi karena selalu di iming-iming uang, akhirnya mau juga.
__ADS_1
"Karena Om mengaku tanpa ada bantahan. Gilang tidak akan melaporkan kejadian ini pada posisi. Justru Gilang sudah meminta pada pihak kepolisian dan pengacara untuk menghentikan penyidikan kasus kecelakaan kemarin. Tapi jika ini terjadi lagi, Gilang tidak akan memaafkan om Wahyu. Hukum akan tetap berjalan. Dan ingat Om, mami tidak mengetahui semua ini. Jadi, Om Wahyu tidak usah khawatir, jika mami akan menghentikan bantuan bulanan untuk keluarga Om."
"Tapi anak dan calon istrimu?" tanya om Wahyu terlihat khawatir.
"Tenang Om. Mereka berdua orang baik. Justru merekalah yang meminta Gilang, untuk menegur Om secara baik-baik dan tidak mengadu ke mami. Mereka juga tidak asal menerima Gilang, dan masuk keluarga Aji Saka. Justru Gilang, yang harus berjuang agar mereka mau menerima Gilang kemarin-kemarin. Jadi, Om jangan menganggap mereka memanfaatkan keadaan ini."
Om Wahyu terlihat mengganguk-anggukan kepalanya. Dia merasa sangat bersalah dengan semua yang terjadi. Dia juga tahu sedikit tentang Aji serta Cilla dari istri sepupunya itu. Kini, dia semakin yakin, jika Aji memang bukan anak kecil biasa, yang tidak bisa berbuat apa-apa.
*****
"Sayang... jagoan Papa!"
Gilang berteriak memanggil anaknya, begitu masuk ke dalam rumah.
"Tumben teriak-teriak. Ada apa?" tanya mami Rossa dengan kening berkerut.
"Aji mana Mi?" tanya Gilang.
"Ada di kamar. Tadi katanya mau mandi," jawab mami Rossa dengan menunjuk ke arah kamar Cilla.
"Hem..."
"Banyak sekali Gilang?" tanya mami Rossa heran.
"Buat Aji. Bisa di bagi juga dengan yang lain," jawab Gilang, dengan menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Mami kebagian juga ini?" tanya mami Rossa menggoda anaknya.
"Dapat dong Mi," jawab Gilang.
"Wah... bisa saingan berat Aji ini. Hehehe..."
Mami Rossa malah terkekeh sendiri, membayangkan jika dirinya akan bersaing dengan Aji, cucunya, saat makan burger.
"Hehehe... Mami ada-ada saja!"
"Sore Pa," sapa Aji dari arah belakang.
"Sore jagoannya Papa... udah wangi nih!" seru Gilang dengan mencium pipi anaknya itu.
__ADS_1
"Mas. Mandi dulu!" cegah Cilla dengan suara pelan.
"Aku masih wangi Honey. Gak mandi seharian juga tetap wangi. Kalau tidak percaya boleh cium kok!" kata Gilang dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Heleh..."
Cilla merespon dengan datar, pernyataan yang Gilang katakan.
"Hahaha..."
Gilang, justru tertawa lepas, mendapatkan respon Cilla yang acuh.
"Kalau tidak percaya, ayok cium!"
Gilang masih saja menggoda Cilla. Tapi segera ditepuk oleh Aji pada bagian pahanya. "Pa!" kata Aji menegurnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Gilang, beralih pada anaknya.
Aji tidak menjawab. Dia hanya menunjuk pada Omanya, yang terus mengeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan dirinya.
"Hehehe... cuma bercanda Mi," kata Gilang, dengan membentuk huruf V pada kedua jarinya.
"Sana mandi! Setelah itu, kita akan segera membahas acara wedding yang sudah semakin dekat."
"Siap Mi!"
Gilang menjawab dengan cepat dan suara keras. Dia begitu bersemangat, saat wedding yang sudah ada direncanakan semakin mendekati hari H.
Akhirnya, Gilang pergi juga ke kamarnya, untuk membersihkan diri.
Cilla dan Aji, ikut duduk bersama dengan mami Rossa, menikmati burger yang tadi dibawakan oleh Gilang.
"Banyak sekali Mi?" tanya Cilla kaget, saat melihat burger yang banyak.
"Kata Gilang, biar Aji makan dengan puas. Boleh juga kok dibagikan ke yang lain," jawab mami Rossa memberitahu.
"Oh... Aji, bisa bagi ini ke bibi dan pak Security?" tanya Cilla pada anaknya.
"Siap Ma!"
__ADS_1
Aji jadi bersemangat. Dia beranjak dari tempat duduknya dan membagikan burger kepada bibi dan juga Security, yang berjaga di sekitar rumah mereka.