
"Mama..."
Mama Cilla, terisak bahagia, saat mendengar suara Aji, yang sedang memangil dirinya. Bukan hanya sekali, tapi sudah dua kali panggilan. "Sayang. Benarkah ini nyata? Ah, Syukurlah, akhirnya Kamu sadar juga, Sayang..." ucap mama Cilla penuh rasa syukur.
Mama Cilla, memeluk Aji yang masih dalam keadaan terbaring di tempat tidur. Dia tersedu penuh haru, melihat anaknya itu, telah sadar dan mengingat dirinya.
"Mama. Aji di mana ini Ma?" tanya Aji bingung. Dia tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan banyak sekali orang-orang yang tidak dia kenali.
"Kamu di rumah sakit Sayang," jawab papa Gilang, dari arah belakang mama Cilla.
"Papa," panggil Aji, pada papanya, Gilang.
"Ya. Ini Papa," kata Gilang mengiyakan, sambil mengangguk dan juga tersenyum, menatap ke arah anaknya itu.
"Kakak," panggil Jeny dengan beruarai air mata.
Tapi sepertinya, Aji masih belum sepenuhnya pulih. Dia belum mengingat semua orang-orang terdekatnya, yaitu keluarganya.
"Ma. Dia siapa?" tanya Aji pada mamanya, sambil menunjuk Jeny, dengan dagunya.
Jeny, mengerutkan keningnya. Dia bingung, kenapa kakaknya itu, tidak mengenali dirinya, yaitu adiknya sendiri. Padahal tadi, dia langsung mengenali mama dan juga papanya.
"Kak. Ini Jeny, adik kakak," kata Jeny, berusaha untuk mengingatkan Aji, tentang dirinya.
Aji, mengerutkan keningnya bingung dan memegang kepalanya yang terasa berat. Dia merasa sakit lagi, pada area kepalanya.
"Jen. Sabar ya. Aji belum pulih benar. Dia masih belum sepenuhnya kembali ke memory yang dulu pernah dia lewati. Mungkin ada beberapa hal yang tidak dia ingat saat ini. Nanti akan Aku pelajari dan coba cari solusinya ya," kata Dokter Dimas, menenangkan Jeny, yang berada di sampingnya.
Jeny, mengusap air matanya yang menetes. Dia tersenyum mendengar perkataan dari Dokter Dimas. "Iya Om. Jeny ngerti. Kakak sudah ketemu dan bisa kembali pada keluarga saja, Jeny sudah sangat bersyukur. Dan ini juga berkat usaha dari om Dimas. Terima kasih ya Om," kata Jeny dengan menatap ke arah Dokter Dimas, yang masih intens memperhatikan, semua pergerakan dan tingkah laku Aji, yang baru saja sadar.
"Iya, sama-sama. Ini kan sudah tugas Om, dan demi calon kakak ipar juga," jawab Dokter Dimas, sambil tersenyum jahil pada Jeny.
__ADS_1
Jeny tidak menjawab. Dia hanya diam tapi, tetap tersenyum juga.
"Jen. Oma. Tadi Jeny di cari oma. Sepertinya, oma tahu, jika kakak Kamu akan sadar, makanya meminta mama datang mencarimu," kata mama Cilla, mengingat bahwa Oma Rossa, ada di kamar sebelah.
"Iya Ma. Jeny, ke kamar Oma dulu," jawab Jeny, kemudian memutar tubuhnya, menuju ke kamar sebelah.
"Mas, Mbak. Saya periksa Aji dulu ya," kata Dokter Dimas, meminta ijin, pada mama Cilla dan juga papa Gilang, kemudian melangkah lebih dekat ke arah tempat tidur Aji.
"Oh ya Dok, silahkan."
Mama Cilla, mundur beberapa langkah. Kini, dia memeluk tubuh papa Gilang, dari arah samping. "Mas. Aji Mas. Dia ingat mamanya ini Mas," kata mama Cilla dengan suara bergetar. Dia terisak bahagia, dengan semua yang terjadi malam ini.
"Iya Honey. Kamu adalah Mama yang hebat. Aji tidak mungkin melupakan dirimu," jawab papa Gilang, dengan mengusap-usap lengan istrinya, yang berada di dalam pelukannya.
Tuan besar Sangkoer Singh dan paman Ranveer, hanya diam saja, menyaksikan sendiri bagaimana pemuda itu mengenali keluarganya sendiri, tanpa di arahkan, tanpa di tanya, dan tanpa paksaan juga.
*****
"Ji, sad... ar?" tanya Oma Rossa, terbata-bata. Dia menitikkan air mata, terlebih dahulu, sebelum Jeny sempat berkata yang lainnya lagi, untuk bercerita.
"Liat, Om... ma li..liat," pinta Oma Rossa, agar Jeny, membawanya ke kamar sebelah, untuk melihat cucunya, Aji.
"Apa kak? Kak Aji sudah sadar?" tanya Vero, yang sudah terbangun lebih dulu.
"Iya Ver. Kakak Sudja sadar, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Vero cepat. Dia menatap ke arah kakaknya, Jeny, dengan penuh tanda tanya.
"Kak Aji, tidak mengenali Kakak. Tidak tahu, apakah kalian juga dikenali atau tidak," jawab Jeny, dengan sedih. Dia kembali menitikkan air matanya.
"En... at Ji," kata Oma Rossa lagi, meminta Jeny, untuk membawanya ke kamar sebelah.
__ADS_1
"Iya. iya Oma. Yuk Ver, bantu kakak," ajak Jeny pada adiknya.
"Bi. Bangun Bi. Biyan!" panggil Vero pada kembarannya yang susah dibangunkan.
"Hem... apa?" tanya Biyan masih dalam keadaan terpejam.
"Bangun. Kakak sudah sadar," jawab Vero pada Biyan.
"Hah, yang benar?" tanya Biyan, langsung membuka matanya.
"Makanya, jangan molor mulu!" kata Vero dengan nada kesal.
"Ayok buruan!" ajak Jeny, pada kedua adik kembarnya itu.
Mereka bertiga, membantu Oma Rossa, untuk duduk di kursi roda, kemudian mendorongnya ke kamar sebelah, untuk menemui Aji, yang baru saja sadar dari hilang ingatannya.
*****
"Adik ipar, lihatlah. Itu semua akibat dari obat yang kamu racik, tanpa membuat penawarnya. Itu bisa berakibat fatal. Lalu, bagaimana dengan keadaan anakku, di sana?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, dengan nada marah.
"Kamu tega sekali, memisahkan Aku dan anakku. Begitu juga dengan pemuda itu. Kamu, sebagai ahli obat, harusnya bisa membantu orang-orang yang membutuhkan, bukannya memanfaatkan keahlian dan kepintaranmu itu, untuk memenuhi keegoisan semata. Itu bisa berakibat fatal. Aku tidak akan melepaskan dirimu begitu saja. Lihat, jika Kamu sampai tidak bisa membuat Vijay kembali seperti semula, Kamu dan keluargamu, akan menyesalinya, seumur hidup."
Paman Ranveer, hanya diam, dengan menundukkan kepalanya. Dia tahu, semua yang dia lakukan adalah salah. Tidak akan ada yang bisa membelanya. Apalagi, semua yang dia lakukan ini, adalah dengan kesengajaan dan berencana.
"Kita akan segera kembali ke India. Tapi Aku akan pastikan, bahwa pemuda itu, dalam keadaan baik-baik saja. Aku sudah menelpon dokter klinik, untuk membuang semua tabung infus, yang tersedia, karena sudah Kamu racuni. Aku menelpon pemasok infus untuk menggantinya. Aku juga sudah meminta Dokter, untuk memberikan penawar racun itu. Dan akan segera meneliti, penawarnya. Aku tidak perlu dirimu lagi. Aku pastikan, Kamu akan membusuk di penjara!"
Tuan besar Sangkoer Singh, mengeluarkan semua kekesalan yang dia rasakan sejak tadi malam. Dia merasa sangat marah dan juga kesal pada adik iparnya itu.
"Maaf Kak," kata paman Ranveer, masih dengan kepala tertunduk.
"Semua kaya maafmu itu, sudah terlambat. Jika ini tidak terkuak, bagaimana nasib anakku, Vijay Singh? Dia akan terus koma dalam kesia-siaan. Dan itu, akibat ulah pamannya sendiri!" ucap tuan besar Sangkoer Singh, dengan menunjuk muka paman Ranveer.
__ADS_1
"Dasar Kamu, tidak tahu di untung. Tidak tahu malu, tidak punya belas kasih. Tidak punya perasaan!" umpat tuan besar Sangkoer Singh, dengan melayangkan tinjunya pada paman Ranveer.