Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Pembalut Wanita 2


__ADS_3

Acara belanja yang dilakukan oleh mami Rossa dan Cilla sudah selesai. Kini mereka berdua berjalan kembali ke atas. Tapi saat baru saja sampai di depan lift khusus untuk naik ke atas, mereka bertemu dengan bibi, pembantu rumah tangga, yang baru saja datang dengan membawa kotak makan yang dia bawa dari rumah.


Sebenarnya, bisa saja masak di dalam apartemen. Tapi untuk sarapan pagi, bibi selalu membawanya dari rumah utama, agar majikannya itu tidak terlalu lama menunggu. Semua itu dia lakukan karena peralatan masak di rumah utama dengan yang ada di apartemen berbeda jauh. Tentunya lebih lengkap yang ada di rumah utama.


"Maaf Nyonya. Jalanan di hari libur bukannya lengang malah macet total tadi," kata bibi memberitahu, kenapa dia sampai terlambat untuk datang ke apartemen.


"Iya tidak apa-apa Bi," jawab mami Rossa maklum.


Supir yang mengikuti bibi meminta batang belanjaan yang dibawa mami Rossa dan Cilla.


"Barang bawaannya biar saya yang bawa Nyonya," kata oak supir meminta.


Mami Rossa menyerahkan barang bawaannya, kemudian supir juga meminta barang bawaan yang di pegang Cilla. Tapi Cilla mengeleng, menolak permintaan pak supir.


"Tidak apa-apa Pak. Biar Saya bawa sendiri," kaya Cilla dengan tersenyum.


"Tidak apa-apa Nona," kata pak supir.


"Kasih saja Cilla," kata mami Rossa pada Cilla.


Dengan terpaksa, Cilla menyerahkan barang belanjaan yang dia pegang. Meskipun barang bawaannya hanya sedikit dan juga ringan.


Semuanya masuk kedalam lift yang sudah terbuka, kemudian naik ke atas, menuju ke penthouse tempat Gilang berada.


Setelah semuanya sampai dan masuk ke dalam, bibi segera menuju ke arah dapur dan menyiapkan sarapan pagi yang sudah lewat karena kemacetan yang dia alami tadi. Sedangkan pak supir membawa barang-barang yang dia bawa di ruang tengah. Kini mami Rossa duduk melepasal lelah, dan Gilang masih dengan kesibukan yang tadi, menatap layar laptopnya memeriksa semua laporan kantor yang dia tinggalkan dalam jangka waktu lama, sejak dia di rawat di rumah sakit, karena operasi perutnya yang tertembak oleh pistol Candra.


"Saya taruh mana Nyonya?" tanya pak supir pada mami Rossa.

__ADS_1


"Eh, sini saja Pak!" jawab mami Rossa menunjuk ke meja di depannya.


Supir menganguk patuh, dan meletakkan semua barang bawaannya diatas meja, kemudian dia berjalan lagi menuju ke dapur. Membantu bibi yang sedang berberes.


"Nyonya, sarapan sudah siap!" Bibi memberitahu mami Rossa dengan membungkuk sedikit.


"Iya Bik. Terima kasih," jawab mami Rossa menganguk.


"Gilang. Sarapan dulu yuk!" ajak mami Rossa pada anaknya, Gilang.


"Hem... Bentar Mi. Dikit lagi selesai," jawab Gilang sambil menekan tombol enter untuk menyimpan data laporannya.


"Mami panggil Cilla dulu," kata mami Rossa, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah kamar tidur Cilla.


"Cilla. Aji masih tidur?" tanya mami Rossa saat sudah berada di dalam kamar, dan melihat Aji yang masih tertidur pulas.


"Kita sarapan dulu yuk! Aji biar nanti pas bangun tidur saja," ajak mami Rossa pada Cilla.


"Iya Mi," jawab Cilla, kemudian dia merapikan selimut Aji terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat tidur Aji dan mengikuti ajakan mami Rossa untuk sarapan pagi.


Gilang ternyata sudah duduk di meja makan dan menunggu mereka berdua, untuk sarapan pagi yang sudah terlambat ini.


"Aji masih tidur?" tanya Gilang pada Cilla.


"Masih," jawab Cilla pendek, kemudian menarik kursi untuk tempatnya duduk yang berada di samping Gilang.


Tadi, mami Rossa sengaja duduk terlebih dahulu di kursi yang ada di depan Gilang, agar Cilla bisa duduk di samping anaknya itu. Sedangkan kursi yang ada di samping mami Rossa sudah berpindah di tempat lain, dan sedang di duduki oleh pak supir, yang sedang membantu bibi menyiapkan menu makanan untuk makan siang.

__ADS_1


Cilla duduk dengan tidak nyaman di samping Gilang. Dia merasa gugup juga berada terlalu dekat dengan orang yang akan segera menikahinya itu.


Dengan perasaan yang tidak menentu, Cilla ikut menikmati makanan yang sudah disediakan oleh bibi untuk mereka semua. Dia juga yang paling terakhir menyelesaikan makannya, karena Gilang sudah kembali ke ruang tengah, untuk melanjutkan pekerjaan yang dia tinggalkan tadi. Di meja makan hanya tinggal Cilla dan mami Rossa.


"Cilla. Berusahalah untuk bersikap biasa di depan Gilang. Dia akan menjadi suamimu dalam waktu dekat ini. Atau kamu mau mami ajak ke Psikiater Sayang? untuk mengatasi rasa takut dan trauma yang mungkin belum hilang dari hatimu."


"Psikiater?" tanya Cilla kaget, kemudian dia mengeleng dengan ragu.


"Tidak apa-apa Cilla. Psikiater bukan hanya untuk pasien yang mengalami ngangguan kejiwaan berat. Psikiater itu dokter spesialis untuk menangani masalah gangguan emosional ringan juga, seperti rasa ketakutan yang tidak kamu sadari seperti ini. Mami perhatian, kamu perlu perawatan itu Cilla. Itu untuk ketenangan jiwa dan pikiranmu. Mungkin semua itu tanpa kamu sadari juga. Tapi akan lebih baik jika ditangani sebelum kalian berdua menikah, agar tidak ada kendala di kemudian hari."


Cilla mengerti apa yang dikatakan oleh mami Rossa. Dia juga tidak tahu, kenapa selalu merasa gugup dan takut saat berada di dekat Gilang. Mungkin apa yang dikatakan oleh mami Rossa ada benarnya juga.


"Baiklah Mi. Cilla ikut apa yang menurut Mami baik, untuk Cilla nantinya," kata Cilla menurut.


"Nah, begitu dong! Nanti Mami tanya ya ke teman-teman Mami, untuk rekomendasi dokter mana yang bagus dan tidak terlalu jauh juga dari sini."


Mami Rossa tersenyum senang mendengar persetujuan Cilla, dengan ajakan yang dia tawarkan. Dia berharap mereka, Gilang dan Cilla, bisa menjalani kehidupan keluarga yang normal kedepannya nanti.


"Mi... Mami! Ini apa?"


Tiba-tiba Gilang berteriak memanggil mami Rossa dari ruang tengah, tempatnya berada saat ini.


Tentu saja mami Rossa dan Cilla kaget, kemudian segera berdiri dan berjalan menuju ke tempat Gilang berada. Mereka berdua berpikir, telah terjadi sesuatu pada Gilang ataupun luka yang ada diperutnya.


"Ada apa Gilang?" tanya mami Rossa bingung melihat ke arah anaknya itu.


Cilla melotot kaget melihat apa yang sedang di pengang oleh Gilang saat ini. Gilang sedang memegang satu pak besar pembalut wanita yang tadi dia beli bersama dengan mami Rossa. Cilla merasa serba salah untuk menjawab pertanyaan Gilang, yang bingung dan membolak-balik barang yang dia pegang itu.

__ADS_1


Mami Rossa terkikik geli melihat tingkah anaknya yang besar tapi tidak tahu apa itu pembalut wanita. Dia juga mengeleng melihat ke arah Cilla yang sedang bingung dengan wajah merahnya. "Pasti Cilla sangat malu sekarang ini," kata mami Rossa dalam hati.


__ADS_2