
Apa yang kamu rasakan, saat kejadian yang tidak pernah kamu bayangkan, menakutkan dan mengerikan, tiba-tiba saja terjadi?
Sesuatu yang terjadi itu, tidak hanya hal yang akan membuat perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga mengorbankan semua orang yang kamu sayangi.
Padahal, semua itu terjadi bukan karena kesalahan dan juga keinginanmu. Di usia yang masih sangat muda kamu merasakan semua hal itu. Dan itu harus kamu tangung sendiri sepanjang masa.
Mungkin semua itu yang dirasakan Cilla selama ini. Meskipun dia diam dan tidak pernah mengeluhkannya, semua terpendam dan mengendap dipikiran alam bawah sadarnya Cilla.
Di mulai dari meninggalnya ibu kandung, saat usianya masih terlalu kecil, kemudian hidup berdua saja dengan ayahnya, Wildan Bayu. Merasakan manisnya kasih sayang palsu dari Dian Anita, ibu tiri Cilla, meskipun hanya sesaat di usia remaja, kebangkrutan ayahnya, kemudian ayahnya jatuh sakit dan perubahan sikap ibu tirinya yang ternyata seorang pemabuk dan penjudi. Dan yang paling besar dan tidak bisa dilupakan begitu saja adalah, satu kejadian yang akan mengubah hidupnya, dan tidak akan pernah dia lupakan sepanjang sejarah perjalanan takdirnya.
Malam dimana semuanya terjadi, tanpa Cilla ketahui sebelumnya, bahwa dirinya ternyata telah dijual oleh ibu tirinya sendiri, Dian Anita.
Kejadian yang mengubah sejarah pada dunia remaja seorang Cilla Andini. Gadis ceria yang tidak pernah mengeluh dan selalu semangat menjalani hari-harinya, meskipun tidak lagi bergelimang harta dan kasih sayang orang-orang terdekatnya.
Tidak ada air mata yang menetes saat Cilla selesai bercerita. Di depan psikolog yang menanganinya. Mami Rossa dan Aji, yang ikut menemaninya, menunggu di luar ruangan. Cilla sendirian masuk, sehingga bisa bebas menceritakan apa yang selama ini dia rasakan, tanpa bisa dia ceritakan kembali pada orang lain. Meskipun tadi dia juga sulit untuk memulai awal ceritanya.
"Jadi apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?" tanya psikiater pada Cilla, setelah selesai bercerita.
"Saya tidak tahu. Saya belum yakin dengan perasaan Saya sendiri. Entah apa yang sedang Saya rasakan, semuanya masih terasa ragu," kata Cilla mengatakan isi hatinya sendiri.
Psikiater tersebut menganguk mengerti, dengan apa yang sedang dirasakan oleh Cilla saat ini. Dia tentu memahami, jika tidak semua orang bisa dengan mudah mengatakan isi hatinya. Apalagi orang seperti Cilla, yang telah mengalami banyak hal dalam kehidupannya, meskipun dalam usia yang belum matang dengan sebenarnya. Cilla dewasa dan menjadi orang tua sebelum waktunya.
"Lalu apa pendapatmu tentang orang-orang yang sekarang ini dekat dan juga mendukungmu?" tanya psikiater itu lagi, setelah terdiam sejenak.
"Mereka semua baik dan sayang pada Saya. Begitu juga dengan anak Saya. Tapi Saya masih ragu, apakah itu karena adanya anak Saya, atau karena Saya sendiri. Apakah perasaan Saya ini egois Dok?"
__ADS_1
Cilla bertanya tentang apa yang dia rasakan saat ini. Perasaan yang ingin diakui tanpa adanya embel-embel sebagai mamanya Aji, anak dari Gilang Aji Saka.
Mendengar penuturan dan pertanyaan dari Cilla, psikiater itu semakin paham apa yang dirasakan Cilla sebenarnya. Perasaan yang sebenarnya wajar, sering juga dirasakan oleh setiap orang, yang tentu saja ingin diakui secara pribadi dan bukan karena sesuatu yang mengikutinya. Seperti misalnya, dia anaknya siapa, keluarga siapa, tapi perasaan yang ingin di akui sebagai sosok tunggal. Terdengar egois tapi begitulah kira-kira apa yang kebanyakan orang tidak sadari.
Kadang orang-orang disekitar kita yang tidak menyadari hal semacam itu. Mereka tidak peduli dengan perasaan seseorang yang tidak bisa menerima dirinya sendiri, seperti Cilla yang. Tanpa Cilla sadari, dia tidak bisa menerima perasaannya sendiri karena faktor-faktor di atas tadi. Merasa ragu dengan apa yang dikatakan orang lain terhadap dirinya.
Apakah ada diantara kalian yang merasakan hal seperti itu?
*****
Cilla keluar dari ruangan dengan tersenyum lega. Apalagi saat melihat Aji yang tertidur pulas di pangkuan mami Rossa.
"Maaf Mi. Menunggu lama, sampai-sampai Aji tertidur begitu," kata Cilla dengan wajah cemas.
"Tidak apa-apa Cilla. Tadi Aji sudah bosan bermain-main dengan kelerengnya. Dia menguap, makanya Mami suruh dia tidur saja," kata mami Rossa menenangkan Cilla yang terlihat cemas. Mungkin karena takut jika Aji merepotkan mami Rossa.
"Tidak apa-apa Cilla. Mami juga masih kuat kok," cegah mami Rossa dengan mengelengkan kepalanya.
"Aji berat lho Mi," kata Cilla mengingatkan.
"Kamu pikir Mami tidak kuat ya?" Mami Rossa mengangkat tubuh Aji agar nyaman saat berada di gendongannya.
"Eh, ternyata memang berat. Dan Aku jadi benar-benar terlihat tua, hehehe..."
Mami Rossa akhirnya menyerahkan Aji pada Cilla. "Maaf ya Cilla. Mami ternyata memang sudah tua ya!" kata mami Rossa menyadari jika dia sudah tidak lagi muda, dan juga tidak sekuat dulu.
__ADS_1
Cilla tersenyum menanggapi perkataan mami Rossa yang sedang bercanda. "Tapi Mami tetap masih cantik kok," kata Cilla memberikan sanjungan.
"Hehehe... nenek-nenek cantik dong jadinya," kata mami Rossa meledek dirinya sendiri.
Keduanya sama-sama tersenyum geli mendengar perkataan mereka yang terdengar aneh. Ingin menghibur satu sama lainnya untuk mengisi kekosongan obrolan karena Aji yang masih tertidur.
"Yuk. Kita mau ketemu dengan dokter Hendrawan setelah ini."
Mami Rossa mengajak Cilla untuk keluar dari ruang tunggu, di klinik psikiater yang berada di lantai dua rumah sakit yang mereka datangi.
"Oh ya Cilla. Tadi tidak diberikan resep apa-apa sama dokter?" tanya mami Rossa mengingatkan Cilla.
"Tidak Mi. Kata dokter Cilla tidak memerlukan obat. Cilla hanya harus bisa menguasai perasaan, saat berada di situasi yang Cilla belum bisa menerimanya secara lepas. Hanya butuh waktu saja katanya."
Jawaban Cilla membuat mami Rossa menyimpulkan, jika Cilla bisa menerima Gilang, hanya saja waktu yang singkat belum bisa menetapkan hatinya.
"Syukurlah kalau begitu. Mami senang mendengarnya. Itu artinya kamu hanya membutuhkan waktu dan kebiasaan yang membuat kamu merasa yakin."
Cilla menganguk mengiyakan perkataan mami Rossa. Dia sendiri merasa memang itulah yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini..
Kini mereka sudah sampai di pelataran parkir rumah sakit. Supir yang sedang tidur-tiduran, segera bersiap dan membuka pintu, untuk para majikannya itu.
"Kita langsung pulang atau kemana dulu Nyonya?" tanya supir pada mami Rossa.
"Kita ke klinik dokter Hendrawan ya Pak!"
__ADS_1
"Baik Nyonya," jawab supir patuh.
Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, pak supir segera menghidupkan mesin mobil dan meluncur ke luar dari area parkir rumah sakit. Mereka menuju ke klinik, tempat praktek dokter Hendrawan. Meskipun mami Rossa tidak menghubunginya terlebih dahulu, untuk membuat janji temu.