Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kejutan Tengah Malam


__ADS_3

Sebelum jam sebelas malam, ternyata Aji sudah sampai di rumah. Dia masuk sendiri dengan tenang dan menyapa semuanya, seperti biasanya, sebelum dia di tegur yang lainnya.


"Maaf Ma, Pa, dan semuanya. Aku terlambat pulang."


"Kenapa tidak memberi kabar?" tanya mama Cilla, dengan wajah cemas. Dia segera memeluk Aji dengan erat. Mama Cilla merasa takut, jika terjadi sesuatu pada anaknya itu.


"Maaf, baterai handphone Aji habis Ma."


"Jeny pikir, Kakak mencari Elisa," kata Jeny, dengan wajah kecewa. Tapi, dia juga memeluk kakaknya itu, setelah mama Cilla melepaskan pelukannya dari Aji.


"Jen," tegur papa Gilang, dengan mengeleng melihat ke arah Jeny.


Jeny, hanya meringis mendapatkan teguran dari papanya.


"Aduh!"


Tiba-tiba Aji mengaduh. Dia mengalihkan perhatian semua orang, dengan memegang perutnya. Tapi ternyata, dia juga benar-benar merasa lapar.


"Kenapa, apa ada yang sakit?" tanya mama Cilla dengan cepat.


"Lapar," jawab Aji sambil tersenyum canggung.


"Oh..."


Semua orang yang ada di ruangan itu, menghela nafas lega, karena ternyata Aji, hanya merasa lapar, dan bukan kesakitan karena yang lainnya.


"Ya sudah. Ayo, Mama siapkan makanan dulu buat Kamu," ajak Mama Cilla dengan mengandeng tangan Aji, menuju ke meja makan.


Beberapa menit kemudian, Aji sedang menikmati makan malamnya yang terlambat, bahkan ini bukan hanya makan malam, tapi juga makan siang, yang tidak dia lakukan karena mengikuti Elisa tadi. Malamnya, saat dia membeli nasi Padang untuk Elisa juga, tapi tidak sempat memakannya, karena Elisa keburu pergi ke Club, Aji membawanya keluar dan memberikannya kepada tukang becak, yang sedang mangkal tak jauh dari tempatnya memarkir mobil, di gang depan menuju ke kostnya Elisa.


"Oh ya, Elisa!"


Aji baru teringat, jika dia meninggalkan Elisa yang tertidur di mobil.


"Elisa!"


"Mana kak El?"


"Mana ada Elisa?"


Semua orang, saling pandang satu sama lainnya, sambil menyebutkan nama Elisa. Mereka semua bingung dengan perubahan wajah Aji.


"Maksud Kakak apa, mana ada Elisa?" tanya Jeny bingung.


Aji belum sempat menjawab pertanyaan dari Jeny dan juga yang lainnya, saat satu suara terdengar dari arah ruang tamu.


"Kak Aji. Jahat ihsss!"

__ADS_1


Semua orang, mengalihkan perhatiannya ke arah suara yang datang. Mereka tidak pernah menyangka, jika memang benar-benar ada Elisa saat ini.


"Elisa!"


Jeny, segera berlari menyambut kedatangan Elisa. Dia memeluk tubuh temannya itu dengan erat.


"Beneran ada Kak El?" tanya Vero pada Biyan.


"Lihat saja. Memang dia siapa?" Biyan balik bertanya.


"Kak El." Vero menjawab dengan nama yang sama.


"Ya sudah, berarti memang itu kak El," jawab Biyan datar.


"Pa," mama Cilla, menyenggol lengan suaminya.


Papa Gilang, hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.


"Jadi...?" Mama Cilla, meminta penjelasan pada Aji tentang keberadaan Elisa saat ini.


"Kak Aji jahat sekali Tante. Masak El yang cantik ini, di tinggal sendiri di dalam mobil. Kalau di culik bagaimana?"


Elisa datang ke meja makan, bersama dengan Jeny. Dia langsung cemberut, mengadu kepada mama Cilla.


Tapi, Aji pura-pura tidak mendengar suara Elisa. Dia meneruskan makannya yang tadi terpotong.


Mama Cilla dan papa Gilang, saling pandang, saat Elisa mengadukan perbuatan Aji kepadanya.


"Ver..."


"Hehehe... keceplosan Pa," kata Vero dengan cengengesan.


"Bagaimana bisa Kamu di tinggal dalam mobil sendiri?" tanya Jeny bingung, dan mau tahu yang sebenarnya terjadi.


Elisa, segera menceritakan tentang kejadian sebelum dia tertidur, dan begitu terbangun, ternyata mobil sudah berhenti, dan berada di garasi rumah ini.


"Aji..." tegur mama Cilla dengan mengeleng.


"Kakak ihssss, seneng banget ngerjain Elisa. Pantes telpon dari kita-kita diabaikan!" kata Jeny dengan dengan wajah cemberut.


"Baterai handphone Kakak habis Jen," kata Aji, membela diri.


"Iya-iya, habis!" teriak Jeny, dengan menekan kata yang terakhir.


Aji hanya diam dan meminum air putih, setelah menyelesaikan makannya. Dia berdiri, kemudian melangkah pergi dari meja makan.


"Aji mau mandi dulu Ma, Pa," pamit Aji, pada mama Cilla dan papa Gilang.

__ADS_1


Mama dan papanya, hanya mengangguk mengiyakan. Mereka berdua, ingin mendengar cerita dari Elisa, karena tidak mungkin, jika anak mereka, akan mau menceritakan kejadian ini.


"Kamu kemana saja El selama setengah bulan ini?" tanya mama Cilla, dengan wajah cemas.


"Hehehe, El kerja Tante," jawab Elisa, dengan wajahnya yang berhias senyuman khas miliknya, nyengir kuda.


"Kerja, dimana, kerja apa?" tanya mama Cilla dan Jeny bersamaan.


"Kompak bener?" kata Vero berkomentar, karena mendengar pertanyaan dari mama dan kakaknya itu.


"Bisa diam tidak!" bentak Jeny, karena merasa terganggu dengan komentar Vero.


Vero, hanya meringis dan tidak lagi berkata-kata.


"El, ayok lanjutin lagi ceritanya," kata Jeny, meminta kepada Elisa agar menceritakan tentang kegiatannya selama menghilang.


"Aduh Jen, nanti lagi ya, Aku lapar juga ini. Apa Aku tidak ditawari untuk makan gitu?"


Elisa, justru mengalihkan perhatian semua orang agar tidak memintanya untuk bercerita tentang banyak hal. Dia tidak mau, jika papa Gilang ataupun mama Cilla sampai tahu, jika tadi dia dan Aji, sempat...


"Ya sudah makan dulu El, jangan melamun terus. Tadi Aji datang juga katanya lapar. Sama kayak Kamu ini," kata mama Cilla, membuyarkan lamunan Elisa. Mama Cilla, mengambil satu piring, kemudian diserahkan kepada Elisa, "ayo makan yang banyak El," kata mama Cilla, mempersilahkan Elisa untuk makan terlebih dahulu.


Elisa jadi tersadar dari lamunannya. Dia mengangguk, mengiyakan tawaran mama Cilla. "Terima kasih Tante," ucap Elisa, dengan tersenyum tipis.


"Vero, Biyan. Pergi tidur!"


Papa Gilang, menyuruh anak-anak kembarnya, untuk segera pergi tidur, sebab, besok masih harus pergi sekolah.


"Papa. Vero masih ingin mendengar cerita dari kak El. Belum ngantuk juga ini," rengek Vero dengan melebarkan matanya agar terlihat terang dan tidak mengantuk.


"Tidur Sayang. Besok pagi susah untuk bangun, jadi terlambat lho!"


Sekarang, mama Cilla yang menegur keduanya. Dia mengeleng, meminta Vero agar tidak lagi membantah perintah papanya.


"Iya deh..."


Akhirnya Biyan dan Vero, beranjak dari tempat duduknya, dan melangkah menuju ke kamar mereka.


"Jen. Ajak Elisa beristirahat. Kalau mau cerita-cerita, besok lagi saja. Masih ada banyak waktu untuk kalian bercerita. Sekarang sudah hampir pagi," kata papa Gilang, memperingatkan Jeny.


"Iya Pa," jawab Elisa dengan tersenyum.


"Ayuk Ma. Kita juga beristirahat. Besok, Papa ada metting pagi-pagi lho," ajak papa Gilang dengan mengandeng tangan istrinya itu.


Papa Gilang, mengajak mama Cilla, untuk beristirahat dan tidur. Dia tidak ingin, besok terlambat bangun besok pagi.


"Iya Mas. Jen, jangan lupa, cepat tidur ya." Mama Cilla, kembali mengingatkan Jeny.

__ADS_1


"Iya Ma."


Jeny, hanya mengiyakan permintaan mamanya. Tapi tidak tahu, jika nanti sudah berada di dalam kamar, berdua dengan Elisa. Dia pastikan, untuk mengorek semua cerita dari Elisa, karena sudah membuat dirinya dan juga Rio, kelimpungan mencari keberadaannya yang menghilang begitu saja.


__ADS_2