
"Wah, yang tadi di lamar kak Aji," ledek Rio, saat perjalanan pulang dari rumah papa Gilang.
"Heh, tidak jadi tuh!" jawab Elisa dengan cepat dan wajah yang kesal.
"Aduh, gagal dong. Nikah saja sana Aku kalau begitu. Hahaha..." kata Rio lagi, sambil tertawa lepas.
"Ih, Rio..." rengek Elisa dengan mencubit lengan Rio.
"Hahaha..." Rio, justru tertawa terbahak-bahak, melihat Elisa yang sedang kesal.
"Kita makan dulu ya, sebelum ke armada bus?" tanya Rio, menawari Elisa.
"Tapi, tadi kan sudah makan Rio, di rumah Jeny," jawab Elisa mengingatkan.
"Oh, sudah ya? Aku pikir Kamu butuh amunisi, untuk tenaga ngambekmu itu, hehehehe..." Rio, tidak bosan-bosannya meledek Elisa yang sedang kesal.
"Malas ah ngomong sama Kamu!"
Elisa, mengerucutkan bibirnya dengan kesal, kemudian bersedekap sambil bersandar di sandaran kursi mobil.
"Maaf-maaf. Abisnya Kamu itu aneh, coba Kamu tadi tidak usah tanya pada mamanya Jeny, alasannya kenapa ingin menikahkan segera antara Kamu dan kak Aji. Kan bisa langsung tuh tadi, Kamu sih pakai Acra tanya-tanya segala," kata Rio, menjelaskan tentang permasalahan ngambeknya Elisa saat ini. Dia tahu, karena hal inilah yang membaut Elisa kesal sedari tadi.
"Ya Aku harus tanyalah. Aku pikir, itu alasan mamanya Jeny, agar bisa membantu Aku dalam masalah keuangan yang sedang Aku alami ini." Elisa, mengatakan hal yang dia pikirkan sebelumnya.
"Dan ternyata karena salah paham? Aku pikir Kamu beneran sudah tidak..."
"Ihsss, gak usah di bahas juga kali!" potong Elisa cepat, saat Rio ingin mengulangi lagi apa yang menjadikan mama Cilla salah paham dengannya dan juga Aji.
"Tapi beneran El, Aku hampir pingsan tadi pas dengar alasannya," kata Rio, dengan wajah serius.
Elisa, tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Rio.
"Hufh... untungnya, kak Aji memang benar-benar mau menikahi Kamu, bukan hanya karena kesalahpahaman yang terjadi. Kan Kamu jadi gak begitu malu El." Rio, kembali membahas tentang bagaimana cara Aji, menutupi rasa malu, yang dialami Elisa tadi.
"Tapi, apa benar itu dari hati kak Aji? Aku takut Rio, jika dia hanya ingin menolongku dari rasa malu akibat mamanya yang salah paham."
__ADS_1
Kini, Elisa justru ragu dengan perasaan Aji padanya. Dia tidak yakin, jika Aji benar-benar ingin menikahinya.
"Gampang El. Jika sampai kak Aji itu bohong, ya sudah jauhi saja. Kamu bisa terima Aku kan sebagai gantinya?" tanya Rio, menenangkan Elisa.
"Rio. Maaf, jangan bahas itu lagi. Aku tidak mau, Kamu jadi pelarianku saja. Aku harap, Kamu mengerti itu. Aku doakan, semoga nanti, Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari Aku yang tidak sempurna ini."
Elisa, mengatakan itu semua karena tidak ingin melihat Rio, terus berharap kepadanya. Dia tidak mau, membuta Rio, memiliki harapan yang tidak bisa dia berikan.
"Maaf El. Aku tidak tahu, apa yang Aku rasakan sekarang ini. Tapi, Aku ikut bahagia jika melihatmu bahagia seperti tadi. Tapi, Aku merasa kesal, saat tahu, apa alasan yang sebenarnya."
Elisa, melihat wajah Rio dari arah samping. Rio tampak lebih serius dari pada biasanya. Elisa, jadi merasa bersalah karena mengabaikan perasaan Rio selama ini. Tapi, mau bagaimana lagi, dia benar-benar hanya menganggap Rio sebagai sahabat atau bisa jadi saudara, karena dia memang anak tunggal di rumahnya.
*****
Rio, melihat Elisa yang sibuk di kantor armada bus milik ayahnya. Armada baru ini, dia yang mengurusnya, sekaligus sebagai awal dia belajar bisnis dari ayahnya yang pengusaha jasa angkutan umum antar kota.
"Bos muda, ada tawaran untuk pariwisata ke Bali dari yayasan sekolah di daerah Depok. Mereka butuh sekitar tujuh bus. Bagaimana bos, bisa bikin proposal untuk pengajuannya dalam waktu seminggu ini?" salah satu asistennya, melaporkan hasil penawarannya, ke beberapa yayasan pendidikan di daerah Depok.
"Bisa. Nanti tolong rincian dan juga nama sekolahnya ya di catat. Aku akan segera buatkan secepatnya."
"Baik Bos. Eh, itu ada asisten abru cantik, pacar Bos ya?" tanya anak buahnya lagi.
"Ah masa sih?" tanya orang tadi lagi, dengan tidak percaya.
"Tanya saja sana sama orangnya," jawab Rio datar.
"Waduh, gak berani mendekat Saya Bos. Aku pikir tadi pacar Bos, kan selama ini tidak ada cewek yang dekat sama Bos."
"Sudah sana, balik kerja," perintah Rio pada anak buahnya itu.
"Siap Bosku!"
*****
Dia hari kemudian, Aji yang sudah merasa sehat dan tidak mengeluhkan apa-apa lagi, datang ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian beberapa tahun yang lalu, saat terjadi pembajakan pesawat terbang yang dia tumpangi.
__ADS_1
Aji, didampingi pengacara keluarga dan juga pihak penerbangan, serta beberapa orang dari keluarga korban, datang untuk memberikan keterangan tentang ciri-ciri para mafia tersebut. Dia juga menyebutkan dimana markas para mafia itu berada.
"Baiklah. Nanti, pihak kepolisian kita di Indonesia, akan bekerja sama dengan pihak luar negeri, untuk penyelidikan lebih lanjut. Terima kasih atas laporannya. Kami akan segera menangani kasus ini lagi."
Aji, yang sudah selesai dengan urusannya di kantor polisi, segara berangkat ke kantor GAS. Di sana, dia sudah di tunggu papanya.
Saat memasuki gedung, Security yang tidak mengenal siapa Aji, segera menghentikan langkahnya.
"Maaf Mas. Ada perlu apa ya?" tanya Security yang bertugas di pintu masuk. Mungkin karena penampilan Aji yang tidak memakai pakaian formal, seperti para eksekutif muda lainnya.
Aji, hanya memakai kemeja biasa dengan celana jins dan kacamata bacanya. Dia tidak membawa tas kerja, atau semacamnya yang menunjukkan jika dia orang kantoran. Dia hanya seperti orang biasa yang membawa handphone dan kunci mobil ditangannya.
"Saya mau bertemu dengan tuan Gilang," jawab Aji menjelaskan maksud kedatangannya ke kantor GAS.
"Apa sudah ada janji dengan beliau?" tanya Security dengan menyelidik.
"Apa perlu ada janji terlebih dahulu, jika ingin bertemu dengan papa?" tanya Aji, mengerutkan keningnya.
"Papa, siapa papa yang anda maksudkan?" tanya Security itu lagi. Dia tidak percaya begitu saja, dengan apa yang dikatakan oleh Aji. Apalagi, tadi dia juga melihat jika mobil yang dibawa Aji hanya sedan biasa dan bukan mobil mewah atau sport seperti layaknya anak seorang pengusaha besar.
"Tuan Gilang, adalah papa Saya, jawab Aji datar."
Aji, segera melakukan panggilan telepon untuk papanya Gilang, karena Security yang berjaga tidak percaya dengan apa yang dia katakan tadi.
..."Halo Pa. Aji sudah ada di depan pintu, tapi Security tidak mengijinkan Aji masuk Pa."...
..."Kenapa?"...
..."Tidak tahu."...
..."Baiklah. Tunggu ya, Papa akan segera datang."...
..."Aji tunggu Pa."...
Aji, menutup panggilan teleponnya untuk papa Gilang. Dia menuggu kedatangan papanya itu, untuk menjemput dan menjelaskan kenapa Security yang berjaga di kantornya ini.
__ADS_1
"Paling Kamu cuma pura-pura telpon ya, biar Saya percaya?" tanya Security itu dengan ragu.
"Tunggu saja Pak. Papa Gilang, akan datang sendiri ke sini," jawab Aji datar.