Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kabar Dari Ponsel Rio


__ADS_3

Jeny, yang sudah selesai di rias, melihat ke belakang saat mama dan adik kembarnya datang.


"Mama," panggil Jeny dengan tersenyum, tapi tidak bergerak dari tempatnya duduk.


"Iya Sayang. Mama sudah datang ini," sahut mama Cilla, dengan tersenyum juga, melihat anak gadisnya akan segera menikah.


"Ih, Kakak cantik sekali!" seru Vero dengan mata membola.


"Biasanya gak cantik ya?" tanya Jeny dengan bibir cemberut.


"Awas, entar jadi jelek lagi tuh muka," jawab Vero cepat.


"Iya iya, Elisa dan Rio mana? Kakak Aji juga, mana dia?" tanya Jeny, melihat ke arah belakang Vero.


"Kakak nunggu kak El dan kak Rio . Masih di rumah." Biyan yang menjawab pertanyaan dari kakaknya, Jeny.


"Ma. Maksudnya apa?" tanya Jeny bingung, dengan jawaban dari Biyan.


"Kamu konsen saja dengan acara Kamu ya, tidak usah pikirkan yang lain dulu saat ini."


Mama Cilla, tidak menjawab pertanyaan dari anaknya, Jeny. Dia tidak ingin membuat Jeny cemas, karena Elisa dan Rio yang tidak ada kabarnya.


"Ji, ma... ma... ma La?" tanya Oma Rossa pada mama Cilla. Dia menanyakan keberadaan cucunya, Aji.


"Ada, masih dalam perjalanan Mi," jawab mama Cilla, menenangkan pikiran mami mertuanya itu.


"Mas," panggil mama Cilla pada papa Gilang.


"Ada apa Ma?" tanya papa Gilang, begitu sudah ada di dekat istrinya.


"Elisa dan Rio tidak datang. Mereka berdua, tidak bisa dihubungi. Aji, sedang menunggu mereka di rumah. Tapi, tadi Aku sudah minta latda Aji agar segera datang ke sini saja."


Mama Cilla memberitahu suaminya, dengan berbisik-bisik, agar tidak di dengarkan oleh yang lainnya.


"Maksudnya, mereka menghilang dan tidak bisa di telpon?" tanya papa Gilang, memperjelas maksud dari perkataan istrinya.

__ADS_1


Mama Cilla, mengangguk mengiyakan. Mama Cilla, berusaha untuk menetralkan raut wajahnya yang sedang merasa cemas.


"Kita pikirkan nanti lagi. Sekarang sudah waktunya untuk acara Jeny. Jangan sampai, berita ini terdengar olehnya, bisa-bisa dia tidak jadi menikah nanti," kata papa Gilang, mengingatkan mama Cilla.


Tak lama kemudian, acara pernikahan dengan lamarannya, berlangsung dengan khidmat. Mereka, memakai tema adat istiadat daerah, yang sudah di sepakati antara dua keluarga, keluarga papa Gilang dan dokter Dimas.


Untungnya, Aji bisa datang tepat waktu. Dia tiba di tempat acara, tiga menit sebelum di mulai.


"Kakak," sapa Biyan, begitu melihat kedatangan kakaknya, Aji.


Aji, menghela nafas panjang beberapa kali, untuk menenangkan diri dan pikirannya sendiri saat ini. Dia tidak langsung menjawab sapaan adiknya, Biyan.


"Belum mulai kan?" tanya Aji, setelah dirinya merasa lebih tenang.


"Belum. Masih satu menit lagi. Kakak, tidak apa-apa?" tanya Biyan, dengan memperhatikan kakaknya, Aji.


"Tidak apa-apa. Kakak baik-baik saja," jawab Aji dengan mengeleng.


Biyan ingin bertanya lagi, tapi sepertinya waktunya tidak memungkinkan. Dari arah gedung utama, pembawa acara, sudah memberikan salam pembuka, kemudian membacakan rangkaian acara demi acara, yang akan berlangsung nantinya.


*****


Rasa capek yang dirasakan oleh semua orang, baru terasa saat semua prosesi acara selesai.


Vero dan Biyan, langsung pergi ke kamar dulu, untuk melepaskan baju yang mereka kenakan.


"Huhfff, berat juga pakaian formal. Terasa sesak," keluh Vero sambil melepaskan jas terlebih dahulu.


Biyan mengikuti hal yang sama, tapi tidak berkomentar apapun. Dia hanya terus melangkah menuju ke arah kamar.


Mama Cilla, duduk di sofa ruang tengah. Di juga merasa sangat lelah, di tambah dengan segala pertanyaan dari Jeny, tentang tidak hadirnya dua sahabat yang selalu bersama dia setiap hari, Elisa dan Rio.


Untungnya, tadi dokter Dimas bisa mengalihkan perhatian Jeny, sehingga dia bisa mengikuti semua acara tanpa banyak bertanya lagi. Tapi, tentu saja, dia merasa sangat kecewa, karena Elisa dan Rio, benar-benar tidak hadir, hingga acara selesai. Dan sekarang, Jeny di bawa suaminya itu, dokter Dimas, langsung ke Bali untuk honeymoon.


Oma Rossa, sudah berada dikamar. Dia di urus oleh seorang perawat. Sejak Aji sudah kembali ingatannya, Oma Rossa mau di rawat orang lain, yang ditugaskan untuk menjaganya.

__ADS_1


Papa Gilang, sudah selesai urusannya dengan beberapa hal di luar. Kini dia ikut duduk bersandar di sebelah istrinya, mama Cilla.


"Sebenarnya, apa yang terjadi Sanyang?" tanya papa Gilang pada istrinya.


Mama Cilla yang sedang bersandar dengan memejamkan mata, akhirnya membuka matanya, kemudian menoleh ke arah suaminya itu.


"Yang mana Mas?" tanya mama Cilla dengan bingung, dia belum sepenuhnya mengerti, apa yang ditanyakan oleh papa Gilang.


"Elisa dan Rio?" tanya papa Gilang, memperjelas pertanyaannya.


"Aku tidak tahu Mas. Mereka kan bilang akan mampir ke rumah kalau mau berangkat. Makanya, baju dan gaun untuk mereka berdua, juga masih ada di rumah ini. Aku pikir juga mereka akan benar-benar datang, tapi ini malah tidak ada kabar sama sekali. Di telpon juga tidak bisa," jawab mama Cilla, dengan wajah cemas. Dia menjadi kepikiran, jika telah terjadi sesuatu pada Elisa dan Rio.


Aji, yang baru saja datang dari luar rumah, tidak langsung ke kamarnya. Dia ikut duduk bersama dengan mama dan papanya di ruang tengah.


"Ada kabar tentang mereka?" tanya mama Cilla pada Aji, yang sedang memegang handphonenya.


"Belum Ma. Tapi, tadi sempat ada telpon masuk yang nomernya tidak di kenal. Aji hampir angkat, tapi langsung mati. Barusan ini tadi. Aji pikir itu mereka," jawab Aji, sambil menunjukkan handphone yang ada di tangannya.


Tak lama, handphone Aji bergetar sebentar, menandakan ada notif pesan yang masuk. Saat Aji membukanya, ternyata dari nomer handphone milik Rio.


Saat Aji ingin mengatakan pada mamanya, jika ada pesan dari Rio, dia tidak jadi mengeluarkan suaranya, karena pesan itu berupa foto-foto, yang tidak layak untuk dilihat.


Aji mengerutkan keningnya. Dia berpikir jika ini adalah sebuah kesengajaan untuk menjatuhkan Elisa di depan matanya. Tapi, apa maksud dari foto-foto tersebut, Aji, belum tahu motif yang dilakukan oleh si pengirim.


Meskipun nomer ponselnya adalah milik Rio, tapi Aji yakin, jika ini bukan perbuatan Rio sendiri.


"Ma, Pa. Aji ke kamar dulu, mau mandi. Gerah," kata Aji, pamit pada mama dan papanya.


Mama Cilla dan papa Gilang, hanya mengangguk dan ikut-ikutan berdiri.


"Kita juga mau ke kamar. Mau mandi dan beristirahat. Semoga saja, tidak terjadi apa-apa pada Elisa dan Rio," kata mama Cilla penuh harap. Dia mengajak papa Gilang untuk beristirahat di kamar saja.


"Papa duluan ya," pamit papa Gilang, pada Aji yang tidak jadi meneruskan langkahnya.


Aji, mengangguk mengiyakan. Dia akhirnya kembali duduk, dan membuka pesan yang tadi hampir saja dia hapus.

__ADS_1


"Aku harus tahu, di mana lokasi handphone Rio saat ini," batin Aji, kemudian menutup matanya, dan menghela nafas panjang, untuk menenangkan pikiran dan hatinya sendiri.


__ADS_2