Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Ngidam


__ADS_3

Taman di sekitar kampus yang sekarang Rio berada, tidak terlalu besar, jika di banding dengan taman kampus yang dulu, sewaktu masih berada di Indonesia. Tapi, penataan tanaman dan bangku-bangku taman yang rapi, membuat mata tetap merasa nyaman untuk memandangnya. Apalagi, tempat ini adalah yang paling rindang dibanding tempat lain yang ada di kampus ini.


Sekarang, Rio sedang duduk berdua, dengan Rachel ditanam. Orang yang tadi secara tidak sengaja, bertubrukan dengan Rio, saat berjalan


"Aku tidak tahu, jika ada berita seheboh itu, padahal Aku datang saja belum." Rio, masih tetap tidak percaya dengan apa yang dia lihat tadi, di berita kampus yang ada di handphone miliknya Rachel.


"Begitulah kira-kira kampus ini jika ada mahasiswa luar biasa, yang datang dari Indonesia. Apalagi secara fisik, Kamu tidak kalah dengan aktor-aktor laga, meskipun kurang berisi, karena terlalu kerempeng."


Begitulah para gadis-gadis luar, yang tidak malu membicarakan soal penampilan lawan jenis secara langsung. Mereka lebih terbuka secara umum, dan tidak ada basa-basi terlebih dahulu. Mungkin karena perbedaan pandangan antara pemikiran orang-orang Asia, terutama Indonesia dengan orang-orang barat atau Amerika secara umum.


Rio, yang belum terbiasa dengan pergaulan bebas secara garis besar, jadi tersipu malu, meskipun bisa dengan mengatasi raut wajahnya menjadi datar lagi.


"Aku harus berhati-hati dengan situasi pergaulan di luar. Bisa-bisa, pulang aku bukannya pintar malah penyakitan!" kata Rio, dalam hati. Memperhatikan dirinya sendiri agar lebih fokus belajar daripada bergaul yang tidak ada manfaatnya bagi masa depan dirinya sendiri.


"Kamu bisa menghubungi Aku jika ada masalah. Aku termasuk mahasiswi populer di kampus. Jadi tidak akan ada yang berani macam-macam juga denganmu, jika kamu dekat denganku setelah ini."


Rachel, kembali berkata dengan tersenyum, memberikan jalan pada Rio, agar bisa mengandalkan dirinya jika ada masalah-masalah yang dihadapi nanti.


"Thank you Rachel," jawab Rio pendek. Dia tidak ingin memberikan banyak harapan pada gadis-gadis yang dia temui di luar negeri ini. Dia kesini, dengan tujuan untuk bisa fokus belajar dan melupakan Elisa, bukan untuk bersenang-senang dan memuaskan dirinya saja.


Rachel kembali tersenyum melihat perilaku Rio. Ini membuatnya semakin penasaran dengan mahasiswa baru tersebut. Berbeda sekali dengan cowok-cowok yang sedang dia dekati sebelumnya. Cepat merespon, dan juga tidak terkesan dingin seperti Rio sekarang ini.


"Aku akan berusaha untuk mendapatkan dia. Aku jadi merasa tertantang untuk menaklukkan hatinya," batin Rachel, membulatkan tekad dalam hati.


*****


Jeny, yang sekarang sedang hamil muda, sering juga mengalami ngidam.

__ADS_1


Hari ini, pagi-pagi sekali, saat bangun tidur, dia sudah kepingin makan soto Betawi. Padahal biasanya, rumah makan dan resto yang menyajikan soto Betawi baru akan buka sekitar jam sembilan pagi.


Dokter Dimas, sudah kelimpungan mencari tahu, kira-kira, dimana dia bisa mendapatkan soto Betawi yang diinginkan istrinya itu, sepagi ini. Masih pukul lima pagi sekarang.


"Nunggu nanti ya Sayang, jam sembilan. Biasanya warung depan sana baru buka soto Betawi_nya," kata dokter Dimas, menenangkan istrinya yang ngambek, karena tidak bisa mendapatkan soto yang dia inginkan.


"Maunya sekarang Om!" rengek Jeny kesal.


"Haduh, yang lain ya. Nasi uduk, ketoprak atau bubur ayam saja. Pasti banyak mangkal di depan sana, atau nunggu mereka lewat dengan gerobaknya?" Dokter Dimas, mencoba untuk memberikan beberapa alternatif pilihan makanan, yang biasa ada pagi-pagi.


"Maunya soto Betawi. Bukan yang lain!"


"Bikin ya, minta tolong dibuatkan bibi. Bagaimana?" tanya dokter Dimas, ingat jika bisa minta bantuan pembantu rumah, untuk membuatkan soto Betawi.


"Tidak mau. Maunya beli. Hiks... hiks... hiks!"


"Tapi Sayang, sepagi ini belum ada yang buat. Jika ada, kebanyakan juga sotonya bukan soto Betawi. Bagaimana, mau ya soto yang lain?"


"Maunya anak Kamu soto Betawi Om. Masak Kamu tega melihat dia ngiler besok kalau lahir," jawab Jeny memelas.


Dokter Dimas, menghela nafas panjang beberapa kali, untuk membuat dadanya yang terasa sesak jadi sedikit lega. Dia tidak tahu jika hamil muda dengan kondisi ngidam seperti sekarang ini, bisa membuat sesak nafas dan darah naik.


"Padahal, Aku sudah tahu jika hamil muda ada fase ngidam yang merepotkan seperti ini, tapi kenapa Aku merasa jika, pada kenyataannya tidak semudah saat belajar dan mendengarkan dokter-dokter kandungan memberikan penjelasan. Ini benar-benar diluar dugaan. Apalagi jika yang mengalami hal ini, istriku sendiri. Aku, mau tidak mau harus bisa mengatasi juga."


Dokter Dimas, malah membatin dengan apa yang dia rasakan saat ini. Menghadapi wanita yang sedang ngidam itu banyak tantangan dan harus bersabar.


Jeny, yang melihat suaminya melamun, semakin kesal karena tidak segera dituruti.

__ADS_1


"Om Dimas!" teriak Jeny dengan nada tinggi, karena melihat suaminya itu malah melamun, dan tidak pergi mencari soto Betawi, yang dia inginkan.


"Eh, iya-iya. Aku pergi segera," jawab dokter Dimas, yang segera bangkit dari tempat tidur, kemudian pergi mencari tahu dimana kira-kira soto Betawi itu bisa ditemukan sepagi ini.


"Aku bisa minta tolong siapa ini?" tanya dokter Dimas dalam hati.


Dokter Dimas, mengeluarkan sepeda motor dan tidak memakai mobil. Dia pikir akan lebih mudah jika naik sepeda motor, dari pada mobil yang akan susah untuk keluar masuk gang, untuk mencari soto Betawi yang diinginkan istrinya itu.


Dia pikir, rumah-rumah makan penduduk yang tinggal di daerah padat atau sekitarnya, sudah ada yang menyajikan makanan khas itu, dibandingkan dengan rumah makan besar atau restoran yang tentunya belum buka sepagi ini. Mereka, rumah makan dan restoran, biasanya buka jam sembilan pagi.


"Maaf Pak. Tahu ada warung yang ada menu soto Betawi pagi-pagi begini di mana ya Pak?" tanya dokter Dimas, pada supir angkot yang dia temui di jalan area perumahannya. Dia pikir, supir biasanya tahu, di mana warung-warung makan yang buka dan menu-menunya juga.


"Pagi-pagi sekali kok cari soto Betawi lho Mas. Apa ada yang ngidam ya? hehehe..." supir angkot itu, bisa menebak apa yang sedang terjadi pada orang didepannya, yang sedang bertanya sekarang, yaitu dokter Dimas.


"Wah, kok tahu Pak?" tanya dokter Dimas malu, karena ketahuan oleh supir angkot, jika dia sedang mengalami situasi yang rumit untuk sebagian suami, yang istrinya sedang ngidam.


"Hahaha... Saya pernah mengalami situasi seperti ini Mas. Yang sabar ya," jawab supir angkot tersebut.


"Hehehe... iya Pak."


"Mas bisa cari di pasar sana. Dekat apotik yang pojok pasar. Ada gerobak dorong yang jual soto Betawi. Tapi enak kok, gak kalah dengan rumah makan besar. Yang jual asli orang Betawi juga." Supir angkot, memberitahu dimana dokter Dimas, bisa menemukan soto Betawi yang diinginkan istrinya.


"Wah, terima kasih banyak Pak. Semoga lancar rejekinya," kata dokter Dimas dengan wajah cerah. Akhirnya, dia bisa memenuhi keinginan istrinya, Jeny.


"Sama-sama. Terima kasih. Semoga, istri dan anaknya sehat ya Mas. Sabarnya di banyakin, karena istri yang sedang ngidam tidak tahu bagaimana susahnya memenuhi keinginan mereka. Tahunya mereka hanya mendapatkan apa yang dia inginkan, kalau tidak, biasanya ngancam dengan anaknya ngiler besok-besok kalau lahir. Hahaha... ada-ada saja ya fase orang hamil."


Dokter Dimas, hanya meringis mendengar perkataan supir angkot yang memang ada benarnya juga.

__ADS_1


__ADS_2