Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Ajakan Tanpa Paksaan


__ADS_3

Elisa benar-benar turun ke lantai bawah, tapi bersama dengan Aji. Mereka berdua berjalan dengan pelan agar Aji bisa tetap tegak berdiri. Meskipun dia sudah sehat, tapi karena seharian ini hanya tidur-tiduran saja, ini membuat kakinya sedikit lemas saat turun dari tempat tidur dan tangga. Mereka berdua, ingin melihat keadaan ayah Sangkoer Singh yang tadi pagi juga sedang tidak sehat.


Bibi Lasmi, yang kebetulan belum tidur dan sedang datang dari arah depan mereka berdua, menyapa dan bertanya tentang keadaan Aji, tuan muda_nya itu.


"Tuan muda sudah sehat benar? Kenapa harus turun dari tempat tidur, mau ada keperluan apa?" tanya bibi Lasmi, dengan wajah cemas dan khawatir karena melihat Elisa yang masih harus memegangi tubuh suaminya supaya tidak miring dan jatuh.


"Sudah Bibi Lasmi. Saya ingin melihat keadaan ayah. Apa dia sudah tidur?" tanya Aji ingin tahu, karena bibi Lasmi yang merawat ayahnya, Sangkoer Singh


"Tadi, saat Bibi meninggalkan kamarnya, Tuan besar sudah lebih baik. Dia juga mau makan, meskipun berada di dalam kamar saja. Dia ingin segera sehat lagi, dan bisa melihat kebahagiaan kalian berdua Tuan muda. Dia ingin tetap sehat, saat anak Tuan muda lahir nanti. Hanya itu semangat hidupnya saat ini. Tadi saat Bibi tinggal, tuan besar belum tidur. Dia juga memakan makanan yang baru saja Saya bawakan," jawab bibi Lasmi, memberitahu keadaan psikis tuan besar Sangkoer Singh.


Aji, menghela nafas panjang. Dia merasa terharu, saat mendengar jawaban dan perkataan bibi Lasmi tentang ayah angkatnya itu. Dia merasa, jika perhatian dan kasih sayang yang diberikan Sangkoer Singh padanya, lebih dari sekedar anak kandung pada umumnya. Dia patut bersyukur untuk semua itu. Kegagalan dirinya untuk pergi ke Jerman, membawanya pada tuan besar Sangkoer Singh secara tidak sengaja. Dan itu juga mengubah kehidupannya tanpa dia sadari sendiri.


"Apa dia ada pesan sebelum Bibi keluar?" tanya Aji lagi, karena dia tidak mau mengangu istirahat ayahnya, Sangkoer Singh.


"Tadi Tuan cuma berpesan jika Saya boleh pergi dari kamarnya dan kembali besok untuk mengambil dan membereskan peralatan makan malamnya itu," jawab bibi Lasmi, sesuai dengan yang tadi di dengar dari tuannya.


Sekarang, Aji jadi ragu, saat ingin melanjutkan rencananya dengan masuk ke kamar ayahnya, untuk melihat keadaan dan kondisi kesehatannya juga.


Elisa, melihat ke arah suaminya, yang terlihat ragu, untuk meneruskan langkah ke depan, ke kamarnya ayah Sangkoer Singh, atau kembali ke atas, ke kamarnya sendiri.


"Kak," panggil Elisa sambil menatap wajah suaminya itu. Dia ingin memastikan apakah keputusan yang akan diputuskan oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Kita lihat saja dulu. Aku ingin sekali melihat keadaan ayah," jawab Aji dengan tersenyum tipis.


Bibi Lasmi terkejut, Tadi, tuan besar_nya juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Aji, tuan mudanya itu. Tuan besar Sangkoer Singh, sebenarnya ingin sekali melihat keadaan anaknya, tapi karena sudah malam, dan dia tidak enak hati pada menantunya itu, akhirnya dia hanya bisa bertanya-tanya tentang keadaan Aji pada bibi Lasmi. Sepertinya, tali hubungan darah antara tuan besar Sangkoer Singh dengan tuan muda Aji, sudah tidak bisa diragukan lagi oleh bibi Lasmi. "Ini berkah dari dewa," kata bibi Lasmi dalam hati. Mensyukuri apa yang di lihat dalam keluarga tuan besar_nya.


Sekarang Aji dan Elisa, melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar ayah Sangkoer Singh.


Tok, tok, tok!


"Yah. Ayah sudah tidur?" tanya Aji, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar.


"Buka saja Nak, Ayah belum tidur," jawab ayah Sangkoer Singh dari dalam kamar.


Clek!


"Apa kedatangan Aji menganggu istirahat Ayah?" tanya Aji, begitu sudah berada di dekat ayahnya. Dia duduk di tepi ranjang, dekat dengan posisi ayah Sangkoer Singh, yang sedang berbaring.


"Sini menantu, duduklah. Ambil kursi kecil itu, jika Kamu tidak nyaman duduk di tepi ranjang," kata tuan rumah besar Sangkoer Singh, pada Elisa, yang hanya berdiri saja di dekat Aji. Tidak jauh dari tempat tidurnya, memang ada kursi kecil yang tidak berat, jika harus di angkat oleh Elisa yang sedang dalam keadaan hamil.


Elisa mengangguk. Dia menuruti perkataan ayah angkat dari suaminya itu. Tapi, Aji lebih dulu berdiri dan mengangkat kursi tersebut untuknya. "Terima kasih Kak," ucap Elisa, saat Aji sudah meletakkan kembali kursi tersebut tak jauh dari tempatnya berdiri, yaitu ada di depan duduknya Aji, dekat dengan tempat tidur.


"Semoga dewa akan selalu memberkati kalian berdua, begitu juga dengan anak-anak kalian nanti," kata tuan besar Sangkoer Singh, berdoa untuk kebahagiaan keluarga anak angkatnya, Aji.

__ADS_1


Aji dan Elisa, mengangguk dan tersenyum melihat ayahnya itu. Mereka merasa senang, karena ayahnya sudah lebih baik daripada tadi pagi.


"Lalu, apa rencana Ayah besok? apakah jadi ke rumah sakit, atau menunggu dokter yang membuat jadwal?" tanya Aji, memastikan rencana ayahnya itu, agar dia juga bisa memberikan saran yang baik untuk kesehatannya juga.


"Ayah akan datang ke rumah sakit, tapi saat ayah merasa benar-benar sehat. Ayah rasa, ini tidak terlalu penting. Hal yang biasa jika hanya pusing saja Nak," jawab tuan besar Sangkoer Singh, mencoba untuk menenangkan hati anak dan menantunya.


Tapi ternyata, Aji dan Elisa memiliki pemikiran yang berbeda dengan ayahnya itu. Mereka berdua, ingin mengajak serta tuan besar Sangkoer Singh, untuk pergi ke rumah sakit memeriksakan diri. Mereka akan membuat alasan yang tepat, agar tuan besar Sangkoer Singh tidak merasa di paksa untuk pergi ke rumah sakit melakukan test dan cek up.


"Tapi rencananya besok siang, Aji dan Elisa mau pergi ke rumah sakit Yah. Kami ingin memeriksakan kehamilan Elisa, dengan USG 4D. Apa Ayah tidak ingin ikut melihat bagaimana keadaan anak kami, yang masih ada di dalam kandungan Elisa?" tanya Aji, memberikan tawaran untuk ayahnya itu. Ini adalah alasan yang tepat, untuk mengajak tuan besar Sangkoer Singh, agar mau pergi ke rumah sakit juga tanpa harus terkesan dipaksa.


"Oh begitu ya. Baiklah, ayah akan ikut dan sekalian saja untuk periksa. Biar Ayah juga ada yang menemani ke rumah sakit, dan ini akan sangat membahagiakan Ayah. Ah, sepertinya Ayah sudah tidak sabar ingin melihat calon bayi kalian berdua. Dia pasti sehat dan tumbuh kembang dengan baik."


Aji, tersenyum mendengar perkataan dan doa dari ayah Sangkoer Singh. Dia beralih kepada Elisa, yang sedang tersenyum penuh haru, karena diperlakukan seperti anak sendiri oleh ayah angkat suaminya itu.


"Jadi, Ayah akan ikut kami besok?" tanya Aji sekali lagi, untuk memastikan bahwa ayahnya itu, tidak berubah pikiran.


"Iya, Ayah akan ikut kalian berdua besok untuk periksa ke rumah sakit," jawab tuan besar Sangkoer Singh pasti.


Sekarang, Aji dan Elisa pamit untuk kembali ke kamar. Mereka berdua juga akan beristirahat, agar besok bisa bangun dalam keadaan yang lebih baik lagi.


"Kami kembali ke kamar Yah. Ayah tidurlah dengan nyenyak, dan besok bangun dengan lebih ringan lagi kepalanya." Aji Berpamitan, kemudian menyingkirkan kursi yang dipakai istrinya duduk, ke tempatnya semula.

__ADS_1


Mereka berdua, berjalan keluar dari dalam kamar. Namun, sebelum Aji menutup pintu dia mengucapkan selamat malam untuk ayahnya terlebih dahulu.


"Selamat malam Yah. Selamat tidur."


__ADS_2