
Dokter Dimas sudah selesai memeriksa keadaan Biyan. Dia mengatakan, jika Biyan tidak apa-apa. Dia hanya perlu beristirahat supaya tenang dan tidak berpikir yang macam-macam.
Tadi dokter Dimas sudah memberikan obat penenang untuk Biyan, sehingga dia sekarang tertidur pulas di kamarnya.
Aji menghela nafas panjang, begitu juga dengan papa Gilang dan mama Cilla. Mereka bertiga, adalah orang-orang yang tahu betul bagaimana keadaan Biyan yang sesungguhnya.
"Aku mau beristirahat sebentar Kak," kata Elisa pad Aji.
"Iya, ayok Aku antar." Aji pun mengantar Elisa pergi ke dalam kamar, bersama dengan Ka Singh.
Jeny, yang sedang beristirahat di kamar bersama dengan anaknya, keluar mencari keberadaan Elisa.
"Uda, Elisa ke mana?" tanya Jeny pada suaminya, dokter Dimas.
"Baru juga masuk ke dalam kamar, diantar sama Aji tadi," jawab dokter Dimas, sambil menunjuk ke arah kamar Aji.
"Wah, sayang sekali. Padahal Aku mau menunjukkan sesuatu," ucap Jeny sambil menunjukkan layar handphonenya pada dokter Dimas.
Dengan kening mengkerut, dokter Dimas melihat ke arah layar handphone tersebut. Dia tidak mengenali siapa yang mau ditunjukkan oleh istrinya itu.
"Siapa?" tanya dokter Dimas, karena dia tidak tahu apa maksud Jeny mau menunjukkan orang itu pada Elisa.
"Rio," jawab Jeny sambil tersenyum lebar.
"Rio... Rio. Rio... yang teman Kamu kuliah dulu?" tanya dokter Dimas mengingat teman istrinya yang katanya pindah kuliah ke luar negeri, setelah Elisa menikah dengan Aji, kakaknya Jeny.
"Iya betul Uda, Rio yang itu." Jeny berkata dengan senang, karena suaminya, mengingat salah satu dari temannya saat kuliah dulu.
"Kenapa dia?" tanya dokter Dimas ingin tahu.
Akhirnya Jeny bercerita tentang Rio pada suaminya itu. Dia juga ingin menceritakan tentang Rio ini pada Elisa, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Elisa keburu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
"Besok saja ceritanya ke Elisa. Dia butuh istirahat yang banyak. Dia kan baru datang dan keadaan tubuhnya yang baru saja melahirkan tidak sekuat biasanya. Ka Singh juga butuh istirahat untuk penyesuaian diri pada suhu di Indonesia."
Jeny akhirnya menuruti perkataan suaminya. Dia kembali masuk ke dalam kamar dan tidak lagi menegang handphonenya. Dia juga ingin beristirahat untuk acara Ka Singh nanti malam.
Tuan besar Sangkoer Singh yang masih mengobrol dengan papa Gilang dan di ruang tamu, diminta untuk beristirahat sebentar agar nanti malam tidak mengantuk. Apalagi juga butuh istirahat untuk perjalanannya ke China besok.
Jadwal tuan besar Sangkoer Singh ke China yang seharusnya di lakukan hari ini, ditunda hingga besok sore. Selain dia ingin menghadiri acara cucunya, Ka Singh, dia juga merasa perlu istirahat. Begitu juga dengan semua awak pesawat yang saat ini sedang beristirahat di hotel yang ada di bandara. Kecuali perawat yang ikut kemarin. Perawat itu diminta langsung kembali ke India pagi tadi, setelah beristirahat sebentar di hotel. Perawat tersebut ikut penerbangan umum, yang ditanggung oleh tuan besar Sangkoer Singh.
Sekarang, semua orang beristirahat untuk memulihkan tenaganya untuk acara selamatan Ka Singh nanti malam.
Vero, yang baru saja datang dari arah anak tangga, jadi bingung karena tidak ada orang yang akan bisa di ajak bicara. Akhirnya, dia ke teras samping untuk melihat orang-orang ayahnya, yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara nanti malam. Dia hanya memperhatikan saja, tanpa ikut campur dalam pekerjaan tersebut.
"Wah, ternyata banyak juga yang harus dipersiapkan ya. Padahal hanya acara selamatan saja."
Vero jadi antusias melihat mereka bekerja. Dia juga ada ide untuk membuat sesuatu yang bisa membuat usaha sendiri suatu hari nanti.
"Aku akan membuat usaha sendiri, semacam EO yang ada sekarang. Tapi ini hanya untuk acara selamatan bayi. Kan itu tidak terlalu sering dan tidak banyak menghabiskan waktu. Begitu juga dengan orang-orang yang diperlukan. Tidak terlalu banyak, dan ini bisa jadi kerjaan sampingan saja. Hehehe... bisalah dihandle kapan saja."
"Biyan harusnya menghabiskan waktu dengan berpikir tentang bagaimana cara menghasilkan uang, dan tidak bergaul terlalu sering di club. Kalau cuma sesekali tidak apa, sama seperti Aku juga. Tapi, dia kan ikut pengobatan di psikiater juga, masa tidak ada efeknya sama sekali sih? ah, mungkin beda kasus dengan_ku."
Vero jadi banyak berpikir tentang kembarannya sendiri, yaitu Biyan. Dia pikir, Biyan yang pendiam itu memiliki sisi hati yang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Termasuk dirinya sendiri, yang kata orang, kembaran itu punya hubungan yang sangat kuat, sehingga tahu apa yang dirasakan satu sama lainnya. Tapi kenyataannya, Vero tidak se_peka itu pada Biyan.
"Apa Aku kurang peka ya pada Biyan? Aku tidak pernah tahu, apa yang dia rasakan. Aku juga tidak tahu, apa yang sebenarnya dia inginkan. Dia terlalu misterius untuk semua orang. Atau bisa jadi, dia sendiri juga tidak tahu, apa yang sebenarnya dia inginkan. Hemmm..."
Vero terus berpikir tentang Biyan. Dia jadi melamun dan tidak sadar jika ada Aji di sampingnya.
"Apa yang sedang Kamu pikirkan Vero," tegur Aji, yang sudah duduk di samping adiknya itu.
"Eh, emhhh... Kakak! Bikin kaget saja. kapan datangnya?" Vero benar-benar terkejut dengan kedatangan Aji yang tidak dia sadari.
"Hehehe... Makanya jangan melamun saja. Untungnya tidak kesambet," jawab Aji dengan terkekeh kecil.
__ADS_1
"Tidak melamun Kak. Cuma tidak ada orang yang bisa diajak ngobrol. Kan pada istirahat di kamar, jadi ya... Vero lihat mereka-mereka saja," kata Vero sambil menunjuk ke arah orang-orang yang sedang sibuk di depannya sana.
"Jika ada sesuatu yang ingin Kamu bicarakan, bicara saja pada Kakak. Maaf ya, setelah Kakak menikah, Kakak jadi tidak begitu perhatian pada kalian semua. Kakak juga mengalami amnesia, sehingga waktu bersama dengan Kamu dan Biyan jadi sedikit. Seharusnya, Kakak tidak pergi menjauh, tapi memperhatikan bagaimana kemauan Kalian. Kita bisa bicara dari hati ke hati. Dan sepertinya, ini akan lebih baik daripada Kakak harus pergi menjauh lagi, hanya karena ingin kalian menjalani hari-hari yang baik dan normal. Nyatanya, itu semua tidak ada hasilnya. Malah Biyan jadi semakin parah seperti itu kan?"
Vero mengerutkan keningnya bingung, saat mendengar perkataan kakaknya, Aji. Dia berpikir jika kakaknya ini, sudah mengetahui semua tentang mereka berdua. "Tapi dari mana kakak tahu?" tanya Vero dalam hati. Dia tidak pernah mengatakan apapun pada kakaknya, Aji. "Apa mungkin mama ya?" tanya Vero lagi, menebak-nebak jika mamanya yang menceritakan tentang keadaan mereka berdua pada Aji.
"Kenapa? apa Kakak salah bicara?" tanya Aji, saat melihat adiknya, Vero, terlihat heran tapi hanya diam saja.
"Kakak tahu apa?"
Akhirnya, Vero memancing kakaknya Aji, untuk menjelaskan tentang maksud dari perkataan yang tadi.
"Ah, Kakak lupa kalau sebenarnya Kakak tidak tahu apa-apa. Hemmm... tapi sudahlah. Sebaiknya kamuijuga beristirahat. Kakak akan menunggu mereka bekerja."
Aji tidak jadi mengatakan bahwa dia sudah tahu semuanya. Dia pikir, Vero bisa malu dan akan berubah sikapnya jika ada di depannya, atau di depan Elisa. Jadi, dia meneruskan pura-pura tidak tahu saja.
"Kak. Vero memang tidak sepintar Kakak. Tapi, Vero juga tidak terlalu bodoh dengan mendengar perkataan dari Kakak yang tadi. Vero pikir, Kakak sudah tahu semua. Tapi dari siapa Kakak tahu?" tanya Vero berterus terang pada Aji.
Akhirnya, Aji menceritakannya kepada Vero bagaimana dia bisa tahu kebenaran tentang keadaan Biyan. Bahkan dirinya juga.
Vero menundukkan kepalanya saat mendengar cerita dari Aji. Dia tidak pernah berpikir, jika kakaknya itu, sampai berkorban untuk pergi jauh dari keluarganya bersama dengan istrinya juga, hanya untuk melihat dia dan Biyan kembali normal.
Dia pikir, alasan Aji untuk bisa mendapatkan obat penawar kesuburan benihnya adalah benar adanya. Ternyata semua itu hanya sebuah alasan belaka. Vero jadi merasa bersalah karena mempunyai pikiran yang tidak biasa pada istri dari kakaknya Aji, yaitu Elisa.
"Maaf Kak," ucap Vero pendek. Dia masih menunduk dan tidak berani menatap wajah kakaknya, Aji.
"Ini bukan kesalahanmu. Hati tidak ada yang tahu bagaimana yang sedang terjadi, apalagi tentang perasaan yang tidak ada matematika_nya. Dan mungkin, Elisa memang berbeda. Kakak saja bisa langsung jatuh hati padanya, apalagi kalian yang sering melihatnya sejak dulu. Yang salah hanya waktu dan perbedaan usia kalian. Apalagi sekarang, Elisa sudah jadi kakak ipar kalian, istriku. Jadi kalian harus bisa mengendalikan diri dan perasan itu."
Vero mengangguk mengiyakan perkataan Aji. Doa sadar, jika tidak seharusnya mempunyai perasaan yang berbeda dengan Elisa. Dia tahu jika itu tidak akan mungkin juga, itulah sebabnya dia ingin pergi kuliah ke Jepang. Selain memang itu adalah cita-citanya, dia juga ingin melupakan perasannya sendiri secara perlahan-lahan.
"Biyan kenapa tidak ada keinginan pergi kuliah ke luar negeri ya?" tanya Vero dalam hati. Dia tidak tahu, jika Biyan sudah memiliki teman bergaul sendiri yang tidak diketahui oleh pihak keluarganya, termasuk Vero. Kembarannya Biyan.
__ADS_1
Dia sudah terlalu jauh dalam pergaulan. Tanpa diketahui oleh pihak keluarga, termasuk Vero sendiri sebagai kembarannya.