Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Nasehat Dan Pesan Bapak


__ADS_3

Tiga hari kemudian, bapaknya Elisa, sudah membaik. Selama tiga hari ini juga, Elisa dan Aji ada di rumah sakit, menemani bapaknya.


"Pak, tidak lama lagi, Elisa wisuda. Bapak cepat sembuh ya, biar bisa datang ke acara wisudanya Elisa," kata Elisa, memberikan kabar baik pada bapaknya.


"Syukurlah. Kamu akhirnya bisa menyelesaikan kuliah dan akan segera wisuda. Jangan lupa, berterima kasih pada suami Kamu itu, yang sudah banyak membantu dan selalu mendukung kegiatan Kamu selama ini."


"Iya Pak, pasti. Doakan Elisa agar tetap bisa bersama dengan kak Aji dan cepat dapat momongan ya Pak. El ingin bisa hamil, saat sudah selesai kuliah dan wisuda, agar bisa fokus pada kehamilan Elisa nanti." Elisa, kembali bercerita tentang keinginannya untuk kedepannya nanti.


"Iya, Bapak selalu berdoa yang terbaik untuk Kamu El. Kamu jangan sampai membuat suami Kamu itu marah dan kesal dengan sikap Kamu ya?" kata bapaknya, memberikan nasehat.


"Njeh Pak. Elisa akan ingat semua pesan Bapak." Elisa, mengangguk patuh pada nasehat-nasehat yang diberikan pada bapaknya.


"Istirahatlah. Bapak juga mau beristirahat dulu."


Elisa mengangguk, saat bapaknya bilang ingin beristirahat dan memintanya untuk beristirahat juga.


Setelah memperbaiki posisi selimut bapaknya, Elisa berjalan ke arah sofa, dimana suaminya sedang mengerjakan pekerjaan kantornya, di tempat menunggu pasien.


"Kak," panggil Elisa pendek.


Aji mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Elisa.


"Aku, mau beristirahat sebentar. Jika ada sesuatu yang bapak perlukan, bangunkan El ya," pesan Elisa, sambil membenahi bantal kecil yang ada di sofa, di sebelah suaminya itu.


"Ya sini, beristirahatlah dulu," jawab Aji, menepuk-nepuk sofa yang ada di sebelah.


Setelah Elisa tertidur, dan bapaknya juga sepertinya sudah ikut tertidur juga, Aji melanjutkan pekerjaannya. Tapi, tak lama kemudian, bapaknya memangil dirinya, agar mendekat ke arah tempat tidur pasien.


"Nang, Aji." Bapaknya Elisa, memangil Aji, saat dilihatnya Elisa tidur di sofa tunggu.


( Nang, sebutan untuk anak laki-laki, lawan dari Nduk, yang biasa digunakan orang Jawa )


"Ya Pak," sahut Aji, kemudian berjalan mendekat ke tempat tidur bapaknya.


"Terima kasih yo Nang, Kamu sudah menjaga Elisa. Bapak pesan, jangan sampai dia menangis. Bapak percaya dengan Kamu. Bapak titip anak Bapak ya," kata bapaknya panjang, dengan suara yang lemah.


"Pak. Itu sudah kewajiban Aji. Elisa adalah istrinya Aji, jadi Bapak tidak perlu khawatir ya," jawab Aji, dengan tersenyum dan mengangguk pasti. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya ingin bapaknya sampaikan.

__ADS_1


"Iya, Bapak tahu itu. Kalau dia ada salah, tegur dia dengan baik dan pelan. Jangan Kamu keras padanya, karena dia sendiri sebenarnya sudah keras, meskipun sebenarnya rapuh."


Aji, mendengarkan semua nasehat bapak mertuanya itu. Dia merasa, ada sesuatu yang akan terjadi, meskipun Aji juga tidak yakin dengan pemikirannya sendiri.


"Njeh Pak," jawab Aji, menirukan ucapan orang-orang Jawa jika menjawab patuh.


Bapak terlihat tersenyum dengan wajah yang lebih tenang. Dia mengangkat tangan untuk meraih tangan Aji, menantunya.


"Maaf ya, jika Bapak banyak salah dan merepotkan selama ini," kata bapak lagi, pada Aji untuk kesekian kalinya.


Aji, hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin bapaknya itu sampaikan, hingga dia melihat monitor pendeteksi denyut jantung.


Mata Aji terbelalak, karena dia sedari tadi tidak sadar jika bapaknya sedang dalam keadaan kritis. Berarti, semua kata-kata yang diucapkannya tadi, adalah sebuah pesan terakhir untuk dirinya, agar bisa menjaga anaknya, Elisa, yang notabene adalah istrinya sendiri.


Dengan gerakan cepat, Aji menekan tombol pasien, untuk memangil tim dokter dan juga perawat.


"El, Sayang bangun!" teriak Aji, memangil Elisa, agar cepat bangun.


Dengan terkejut, Elisa membuka mata, karena belum pernah mendengar suara Aji yang keras, saat memanggil namanya.


"Ad... ada apa Kak..." tanya Elisa dengan gugup. Tapi, dia tidak melanjutkan pertanyaannya, karena melihat Aji, yang sibuk di depan ranjang pasien, dimana bapaknya sedang terbaring dalam keadaan lemah.


Elisa berteriak keras, bertepatan dengan datangnya dokter dengan dua perawat yang mengikuti dari arah belakang.


"Silahkan tunggu di luar ya Mbak, Mas."


Seorang perawat, meminta pada Elisa dan Aji, untuk menunggu di luar, agar mereka bisa melakukan tugasnya dengan lebih baik.


"Bapak..."


Aji, memeluk Elisa dari arah samping, dan menuntunnya ke luar dari kamar pasien bapaknya.


"Kita tunggu di luar. Biar dokter bisa merawat bapak dengan baik," ajak Aji, menenangkan istrinya itu.


"Tapi... tapi, bapak bisa sembuh kan Kak?" tanya Elisa, dengan berderai air mata.


"Kita berdoa yang terbaik untuk bapak ya," jawab Aji, masih dengan memeluk Elisa.

__ADS_1


Elisa mengangguk. Dia kini terdiam dalam pelukan suaminya, meskipun isakan tangisnya masih terdengar sesekali.


Beberapa menit kemudian, dokter keluar dengan wajah menunduk. Aji, yang melihatnya, sudah tahu dan paham, apa yang sedang terjadi pada bapak mertuanya itu.


"Maaf, Kami sudah berusaha, tapi Tuhan lebih sayang dengan beliau." Dokter, berkata memberitahu kabar pasien dia tangani.


Elisa, kembali menangis dalam pelukan suaminya. Sekarang, Aji menuntun Elisa, masuk ke dalam untuk melihat jenazah bapaknya, sebelum dibersihkan oleh tim dari rumah sakit.


"Sayang, jangan sampai air matamu, membuat bapak sedih di alamnya." Aji, berpesan pada Elisa, agar tidak menangis terlalu berlebihan. Padahal, dia sendiri juga menangis, meskipun tanpa suara, hanya air mata yang mengalir tanpa dia sadari.


*****


Rumah Elisa, sudah penuh dengan para pelayat. Para tetangga dan sanak saudara, baik yang dekat maupun yang jauh, mulai berdatangan, ikut berduka dan memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah bapaknya Elisa.


Aji, juga sudah memberikan kabar pada mana dan papanya di Jakarta, agar busa datang melayat almarhum besannya.


..."Bapak sudah tiada Pa."...


..."Innalilahi... dikuburkan kapan?"...


..."Sore ini Pa."...


..."Papa dan mama akan segera datang, tapi tidak janji bisa tepat waktu dan bisa ikut dalam upacara penguburan."...


..."Iya Pa, tidak apa-apa. Hati-hati."...


Aji, kembali sibuk dengan persiapan penguburan jenazah bapaknya Elisa.


Saat malam hari, dan acara dia sudah selesai, Elisa membawa kertas yang dia temukan di kamar bapaknya. Dia sudah membaca pesan yang ada di kertas itu. Pesan itu, ditulis bapaknya, sekitar seminggu yang lalu, dan ada di laci, tempat biasa bapaknya menyimpan kacamata.


"Mbah, bapak minta Mbah tetap ada di rumah ini dan tidak usah kembali pulang. Mbah juga sudah tidak ada sanak saudara di desa Mbah. Jadi rumah ini, juga rumahnya Mbah."


Elisa, berkata pada Mbah yang sudah menjaga bapaknya selama ini, sejak bapaknya itu masih kecil, dan jadi pengasuhnya juga saat dia masih balita dulu.


"Tapi Nduk, Mbah tidak ada yang di jaga lagi. Mbah juga tidak bisa meneruskan usaha bapak Kamu itu. Lalu bagaimana nasib tenun itu nanti?" tanya Mbah, yang tidak tahu menahu urusan pabrik tenun dan sebagainya.


"Nanti, akan di urus paklek. Dia sudah di beri amanat bapak dari sebulan yang lalu. Mungkin, bapak sudah ada firasat, jadi dia tidak ingin semuanya jadi ikut kacau saat dia tinggalkan."

__ADS_1


Simbah mengangguk sambil menangis. Dia juga tidak tahu, kemana akan pergi, jika dia sudah tidak dibutuhkan di rumah ini lagi. Untungnya, keluarga Elisa adalah orang-orang yang baik dan memperlakukan dirinya seperti saudara sendiri.


__ADS_2