Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Persiapan Pesta


__ADS_3

Mami Rossa datang tidak lama kemudian. Dia langsung turun dari mobil dan mencari keberadaan Cilla.


"Cilla. Cilla, kamu dimana?"


"Oma. Mama ada di kamar," jawab Aji dari arah meja makan.


"Oh, cucu Oma. Sini peluk, Oma kangen Aji!"


Mami Rossa merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Aji yang mendekat ke arahnya.


"Hem... Mama masih tidur?" tanya Oma, setelah melepas pelukannya pada Aji.


"Masih," jawab Aji cepat dengan menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua, mami Rossa dan juga Aji, melangkah menuju ke arah kamar tidur Cilla.


"Ma. Oma sudah datang," kata Aji membangunkan mamanya.


"Em... Iya Sayang. Maaf ya, Mama jadi tidak bisa bantu-bantu untuk persiapan acara pesta ulang tahun kamu nanti malam."


Cilla, bangun dengan wajah yang terlihat pucat. Dia masih merasa pusing karena siklus bulanannya.


"Ini minum obat dulu, biar pusing dan sakit perutnya berkurang."


Mami Rossa menyodorkan bungkus plastik, berisi obat pada Cilla. Dia duduk ditepi ranjang, mengecek kondisi tubuh dan suhu tubuh Cilla.


"Sudah mendingan Mi. Cuma tinggal mulesnya saja yang belum berkurang," kata Cilla, dengan wajah menahan sakit.


"Ya sudah. Habis minum obat tidur lagi. Nanti kalau waktu makan siang, Mami bangunin. Biar Mami yang awasi kerjaan di luar."


"Terima kasih Mi," kata Cilla mengangguk.


"Yuk Aji, kita keluar. Biar mama kamu bisa tidur nyenyak lagi. Entar malam bisa ikut pesat dan tidak sakit lagi."


Mami Rossa mengajak Aji, untuk keluar kamar. Aji pun mengangguk setuju dengan ajakan omanya itu.


*****


Drettt...


Drettt...


Drettt...


Handphone milik mami Rossa bergetar di dalam tasnya. Mami Rossa segera mengambil handphone tersebut dan melihat, siapa yang menghubunginya saat ini.


"Papa Sayang," kata mami Rossa pada Aji, yang ada di sebelahnya.


"Angkat Oma!" pinta Aji pada omanya.


"Ganti video call saja ya!" usul mami Rossa.


Aji menganguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh omanya itu. Dia memang sudah menunggu telepon ataupun video call dari papanya sedari pagi.


..."Halo Gilang!"...


..."Halo Mi. Sudah sampai?"...

__ADS_1


..."Iya. Ini ada Aji. Tapi Cilla lagi sakit. Dia pusing sedari pagi katanya. Makanya Mami cepat-cepat datang dan membawa obat untuknya."...


..."Sakit apa Mi?"...


..."Biasa, siklus bulanan wanita."...


..."Oh. Tidak apa-apa kan Mi? Kalau masih sakit, biar Dimas ke sana sekarang dan tidak menunggu nanti malam."...


..."Tidak apa-apa. Sudah minum obat kok. Dia sekarang tidur lagi."...


..."Syukurlah kalau begitu. Ini Gilang akan selesaikan kerajaan dulu, habis itu langsung ke sana."...


..."Iya hati-hati. Tidak usah khawatir. Di sini Mami dan Aji, akan pantau langsung kok."...


..."Hahaha... Baiklah. Tapi Gilang kangen sama Aji dan Cilla Mi."...


..."Nanti kan juga ketemu? Ini sama Aji dulu ya!"...


Mami Rossa, menyerahkan handphonenya pada Aji. Dia beralih pada bibi dan memberikan instruksi, agar bisa menyediakan berbagai macam makanan untuk acara nanti malam.


..."Hai Pa!"...


Sekarang Aji yang sedang melakukan video call dengan Gilang, papanya.


..."Hai jagoannya Papa!"...


..."Sudah siap untuk nanti malam ya?"...


..."Sudah dong Pa!"...


..."Ok Sayangnya Papa. Jaga mama ya! Papa akan segera datang nanti!"...


Sambungan video call terputus. Aji menunggu omanya yang masih ada di dapur bersama dengan bibi.


"Sudah Sayang?" tanya mami Rossa, begitu kembali ke tempat Aji.


"Sudah Oma. Ini!"


Aji menyerahkan handphone milik mami Rossa. Sekarang mereka berdua membicarakan tentang acara nanti malam.


*****


Senja datang untuk menutup cerita di pagi hari. Dia akan membuat cerita baru pada waktu malam. Pembatas antara nyata, harapan dan juga impian setiap insan yang ada di bumi ini.


Cilla yang sudah merasa lebih baik, keluar dari dalam kamar, setelah selesai mandi. Dia mencari keberadaan anaknya, Aji.


"Bi. Aji di mana?" tanya Cilla, pada bibi yang dia temui.


"Sepertinya ada di teras samping tadi, bersama dengan nyonya," jawab bibi memberitahu.


"Oh, terima kasih ya Bi," kata Cilla dengan tersenyum. Dia melanjutkan langkahnya untuk mencari anaknya, Aji.


Di teras samping rumah, Aji sedang duduk bersama mami Rossa. Mereka sedang mengawasi orang-orang yang hampir selesai mengerjakan semua persiapan pesta ulang tahun untuk Aji.


"Mi. Maaf ya, Cilla malah tidur seharian tadi," kata Cilla meminta maaf.


"Tidak apa-apa Sayang. Kamu tidak perlu merasa sungkan dan bersalah. Wajarlah, kamu kak masih usia produktif."

__ADS_1


"Mama sudah mandi ya? Aji malah belum ini," kata Aji melihat dirinya sendiri, yang belum mandi.


"Hehehe... sedari tadi asyik ngobrol sama Oma ya Sayang, sampai lupa waktu."


"Ya sudah. Mandi yuk!" ajak Cilla pada Aji.


"Oma. Aji mau mandi dulu ya," kata Aji berpamitan.


Mami Rossa mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum melihat kedua orang yang akan segera resmi, menjadi anggota keluarganya itu.


"Mami Rossa, ini baju-baju untuk den Aji dan non Cilla, masih ada di bagasi mobil tadi. Mau taruh di mana?" tanya pak supir memberitahu.


"Oh iya Pak. Sampai lupa Saya. Sini!"


Mami Rossa, meminta tas berisi baju untuk Aji dan Cilla, yang akan mereka pakai nanti malam.


"Semoga Diyah dan yang lain tidak telat nanti," kata mami Rossa berharap.


*****


Selepas magrib, Gilang sampai di Villa. Tapi dia langsung menuju kamar dan tidak menemui Cilla ataupun Aji terlebih dahulu.


Rombongan mbak Diyah dan karyawan toko yang lain, juga baru datang, disusul staf kantor GAS yang diundang oleh Gilang.


Tidak lama kemudian, tuan Adi, dokter Dimas dan juga komandan polisi datang bersama. Mereka sekarang sedang bercengkrama di halaman depan, yang sudah di dekorasi sedemikian rupa untuk acara pesta ulang tahun Aji, malam ini.


"Diyah sini!"


Mami Rossa memanggil mbak Diyah agar mendekat ke arahnya.


"Iya Mi," jawab mbak Diyah, begitu ada di dekat mami Rossa.


"Mana teman kamu yang penata rias?" tanya Mami Rossa.


"Oh iya, bentar Mi!"


Mbak Diyah ketempatnya duduk tadi, kemudian berbisik pelan pada temannya. Keduanya kini berjalan ke arah mami Rossa. "Ini Mi, orangnya!" kata mbak Diyah memperkenalkan temannya itu pada mami Rossa.


"Ya sudah. Sekarang ikut Mami!"


Mbak Diyah dan temannya mengangguk, dan mengikuti langkah mami Rossa, menuju ke kamar Cilla.


Tok... Tok... Tok!


Pintu kamar Cilla di ketuk dari luar. Cilla yang sedang bersiap meminta Aji untuk membuka pintu, "Sayang. Tolong bukain pintunya!"


Aji menurut. Dia membuka pintu kamar. Dari balik pintu yang terbuka, tampak mami Rossa dan mbak Diyah bersama satu orang lagi, yang Aji tidak kenali.


"Halo Cilla!" sapa mbak Diyah pada Cilla.


"Mbak Diyah!" pekik Cilla kaget, dengan kedatangan sahabatnya itu.


"Kejutan kan? Masih ada kejutan lainnya lho!" kata mbak Diyah, yang membuat Cilla merasa penasaran.


"Apa Mbak?" tanya Cilla tidak sabar.


"Kejutan kok tanya, gak bakal Aku jawab jugalah!"

__ADS_1


Mami Rossa dan temannya mbak Diyah, tersenyum penuh arti. Aji melihat mereka semua, kemudian ikut tersenyum juga. Sepertinya Aji sudah tahu apa yang sedang direncanakan untuk pesta ulang tahunnya malam ini.


__ADS_2